YANG BIASA AJA!

Kamis, 20 September 2018

Meresahkan yang Resah


Hampir satu tahun saya kembali ke rumah tempat saya dilahirkan, di Cianjur. Di sini saya benar-benar merasa nyaman, saya bisa pergi ke manapun, mengisi kekosongan hari-hari saya. Jujur saja, diam terlalu lama di rumah sendiri adalah satu hal yang membuat saya semakin tidak ingin pergi terlalu jauh lagi, tubuh saya seperti sudah terikat lagi dengan rasa nyaman.

Di tahun-tahun sebelumnya, saat saya sibuk bekerja, saya masih bisa menulis untuk blog ini, minimal seminggu sekali, atau kalau tidak sampai seminggu, tiap bulan pasti ada saja tulisan, minimal 2 tulisan. Tapi sekarang, saat saya belum mendapatkan pekerjaan baru alias sedang menganggur, saya jarang sekali menulis, padahal kalau dipikir-pikir lagi, setiap bulannya saya sudah mengujungi beberapa tempat, dan kalau di tuliskan, itu akan menjadi cerita yang menarik. Mungkin saja. Tapi kenyataanya, kisah-kisah saya tetap saja tidak tertuliskan, hanya beberapa saja yang mampir ke blog ini. Mungkinkah karena saya bosan untuk terus menerus menuliskan cerita perjalanan? Atau mungkin juga karena saya sibuk memikirkan nasib saya yang sampai sekarang belum juga mendapatkan pekerjaan, jadi niat untuk menulis itu terhalang oleh niat saya untuk mendapat pekerjaan baru. Ah, mungkin juga saya hanya sedang malas-malasanya menulis.

Ketika saya masih tinggal di Bekasi, hampir setiap hari pasti saya menulis cerita atau apapun yang saat itu saya pikirkan, hampir setiap hari ide-ide liar itu muncul, meski tidak semua tulisan saya dipublikasikan ke blog, tapi saya tetap menulis, walaupun hanya menulis beberapa paragraf yang sebagian besar tulisan tersebut saya nikmati sendiri alias tidak sampai saya publikasikan ke blog.

Apakah saat ini saya benar-benar sedang kehabisan ide? Atau tempat yang saya tinggali sekarang tidak cocok untuk ide-ide itu muncul di kepala? Selalu saja pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul tiba-tiba. Padahal, saya selalu mencoba untuk menulis, tapi lagi-lagi, setiap saya membuka laptop, tinggal menggerakan jari-jari di atas keyboard, tiba-tiba saya hanya terdiam, memandangi satu garis lurus kecil yang berkedip-kedip di layar laptop yang sedang menunggu kata demi kata menghampirinya melalui jari-jari saya.

Sumber: Pixabay

Saya pernah menulis tentang Hal Yang Dipikirkan Ketika berkendara, di sana saya bercerita bahwa saya sering sekali mendapatkan ide tulisan ketika sedang berkendara, benar memang, bukanya fokus menyetir, saya malah memikirkan banyak hal. Tapi memang seperti itu kebenarannya, saya bisa memikirkan ide tulisan sambil tetap fokus menyetir. Ya walaupun pernah sekali nubruk gerobak tahu gejrot di pinggir jalan Kalimalang gara-gara terlalu memikirkan ide-ide liar tersebut.

Oke itu becanda.

Sebetulnya saya sering juga berkendara dari satu kota ke kota lain di Jawa Barat, dan memang benar banyak sekali ide-ide itu muncul ketika berkendara, tapi hanya terpikirkan saja, dan tidak sampai saya tuliskan atau dicatat di buku yang biasa saya bawa. Saya merasa benar-benar seperti menjadi seorang yang pemalas. Ya lagian masa saya harus repot-repot berhenti dulu untuk menulis ketika ide itu muncul tiba-tiba. Kalau ide itu muncul setiap 5 menit sekali dan langsung saya catat, bisa jadi kalau perjalanan saya dari Cianjur menuju Bekasi yang biasanya hanya 8 jam berubah menjadi 10 hari perjalanan. Kalau begitu, rumor bahwa Bekasi itu jauh akan jadi kenyataan.

Saya selalu memikirkan tentang keresahan saya yang tak kunjung datang, dan sekarang, saya malah meresahkan tentang keresahan ini, hadeuuh! benar-benar hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Jujur saja, saya masih tetap ingin terus menulis di blog ini, di sini saya bebas menyuarakan isi kepala saya ke sebuah tulisan, tulisan yang tak terbatas, saya bebas mengekspresikan apapun yang terjadi pada hidup saya di sini. Blog seperti tempat curhat terbaik bagi saya, walaupun kebanyakan yang saya ceritakan di blog ini kebanyakan aib saya dan teman-teman saya.

Kalau yang pernah mampir sebulan ke belakang ke blog ini, mungkin tau kalo blog ini template-nya berbeda. Saya mengganti template karena terinspirasi saat awal-awal ngeblog, template adalah bagian dari blog yang paling sering saya ganti. Dulu, minimal tiap 3 bulan sudah ganti template, saya pikir, kalau ganti template akan mengembalikan semangat ngeblog lagi, tapi ternyata sama saja. Makanya mulai dari sekarang saya kembalikan lagi template blog ini ke seperti sebelumnya.

Selain template, saya juga pernah memakai kata ganti orang pertama dengan saya dengan gue, aku, saya lagi, gue lagi, dan terus seperti itu, saya hanya ingin mengetahui di mana nyaman saya berada. Tapi ternyata, saya tetap tidak konsisten. Maka dari itu mulai dari sekarang, saya akan membuat penggambaran untuk diri sendiri:

Konsisten untuk tidak konsisten.

Hmmm.. iya gimana?

Kembali soal keresahan saya tadi, ternyata saya itu tipe orang yang tak bisa jauh dari keresahan. Hidup terlalu nyaman ternyata bisa membunuh kreatifitas seseorang, termasuk saya. Atau bisa dibilang, saya ini seseorang yang salah masuk kelas, saya yang seharusnya tetap di kelas resah, tiba-tiba balik lagi ke kelas nyaman. Benar-benar hidup di kelas yang beda sangatlah sulit, atau kalau menurut sang junjungan, bahwa saya ini,

Salah room kawan!

Terlalu nyaman ternyata bisa membuat seseorang resah juga, ya. manusia memang banyak maunya. Atau memang karena kurang bersyukur saja. Ckckck.

Terkadang, saya juga sangat iri dengan teman-teman lain yang dengan begitu mudahnya menulis, membuat cerita yang bagus, bahkan sampai diterbitkan di beberapa media yang cukup populer. Alih-alih tertantang untuk melakukan hal yang sama, saya malah seperti menghujat diri sendiri, “tulisan dia bagus, kok tulisan gue jelek amat ya!!” dan bla bla bla...

Tapi, setelah itu saya sadar, memikirkan kembali saat-saat pertama saya mulai menulis, saat dulu dengan bangganya menulis, dengan bahagianya membaca tulisan yang sudah dibuat dan dengan tanpa beban apapun ketika tulisan tersebut saya publikasikan di blog ini. Tidak seperti sekarang, seperti tulisan-tulisan yang saya buat, hanya sampai masuk folder khusus, dan terabaikan begitu saja.

Ternyata, hal yang sedang saya rasakan ini juga dialami oleh beberapa teman bloger saya yang lain, di mana mereka juga seolah-olah memilih-milih tulisan mana yang akan dipublikasikan dan tulisan mana yang masuk ke folder ‘tulisan sampah’ seperti yang saya buat. Padahal dulu saat awal-awal ngeblog, saya cenderung menulis langsung di blog dan tanpa mengoreksi kata demi kata ada yang typo atau tidaknya, langsung dipublikasin begitu saja.

Dalam beberapa hal, mungkin dirasakan teman-teman bloger yang lain juga, saat saya membaca tulisan saya sendiri yang dibuat beberapa tahun lalu, saat membacanya saya merasa “ya ampun ini bener nih dulu pernah nulis begini? Ya ampun jijik aku jijik pergi kamuuuu..” iya memang tidak sampai berkata seperti itu, tapi hal tersebut mungkin juga karena dulu dan sekarang sudah beda jamannya. Cara menulis kita yang dulu dan sekarang mungkin beda, cara berpikir yang beda, karena semakin hari kita semakin menemukan hal baru dan cara pandang baru.

Tapi, apa boleh buat, ketika saya merasa geli sendiri saat membaca tulisan lama yang saya buat, ya itu memang sudah seharusnya seperti itu, mungkin itu salah satu cara agar saya harus memperbaiki cara bagaimana saya menulis agar tidak terlihat alay kembali, bukan malah jadi malu kalau pernah menulis seperti itu. Atau bisa jadi, tulisan yang saya buat ini, bisa juga terlihat alay jika dibaca beberapa tahun mendatang, kan? Kita lihat saja nanti.

Lagian kan, tulisan yang sudah saya buat tersebut sekarang ini sudah menjadi arsip, arsip yang bisa kapan saja dibuka, arsip yang kapan saja siap dipelajari, arsip yang mengingatkan saya kalau saya pernah membuat diri sendiri merasa bahagia ketika menulisnya, dan arsip yang bisa dibilang mirip mantan yang sudah membuat saya patah hati, tapi saya masih bisa mengenangnya, membacanya, lalu menertawakannya. Seperti mantan  yang mengubah saya menjadi lebih baik, begitupun tulisan yang pernah dibuat, seharusnya bisa mengubah cara saya menulis agar lebih baik juga.

Mashooook pak Ekooo...!

Hmm, setelah ngalor-ngidul menuliskan ini, mungkin sudah seharusnya saya kembali lagi kepada keinginan saya yaitu, saya bukan menulis untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri.

Mashooook pak Ekooo...!

"Wooy! Salah room kawan..."

Kamis, 06 September 2018

Senin, 13 Agustus 2018

Bikin Cover Musik dan Video


Gue bareng Jamah, temen gue pas SMP dulu akhirnya bisa ketemu lagi, kami emang udah jarang banget ketemu, dan kebetulan kali ini pas ada acara kumpul-kumpul tiba-tiba kepikiran ide yang lumayan bikin repot gue. Iya, temen gue ini emang suka nyanyi, dan dia liat video-video pendek yang gue upload di Instagram, yang kemudian dia pengen lagu yang dia cover dibikinin videonya. Setelah gue jelasin kalo gue rekam dan edit video itu cuma lewat hp, tetep aja dia pengen bikin videonya. halah~

Pada hari Kamis dibulan Agustus, kami mulai merekam beberapa video, karena lokasi kami dekat dengan pantai di Cianjur Selatan, maka kami mulai merekam videonya di sana. Kalau soal lagunya, si Jamah (oke ini namanya agak gimana gitu ya, "jamah aku bang, jamaah!") dia sudah rekaman kemarin malamnya, dan rekamannya juga melalui hp samsung yang speakernya udah krebek-krebek alias hpnya kayak udah gak layak pakai, wkak~

Proses pengambilan video hanya berlangsung sebentar, kebetulan saat itu kami merekam di sore hari menggunakan hp ipun 5s milik gue, karena hari sudah sore, hasil videopun lumayan banyak semutnya.

Oke deh, gak lama-lama lagi, berikut video yang udah gue edit pake iMovie di hp dan ripuh banget ngepasin video sama lagunya, sikaaat~

Jaz - Kasmaran (Cover by Jamah Barata)


Sabtu, 30 Juni 2018

Jane


“Kita merindukannya, dan dia lebih merindukan kita”


Ayah, bisa ceritakan kembali kisah kemarin?

Tidak bosankah kau, Jane? Kalau begitu akan kuceritakan beberapa hal yang masih ayah ingat sebelum kita pergi dan melupakan semuanya, mungkin ini agak berbeda dengan yang biasa diceritakan ibumu ketika kau menjelang tidur.

Dulu, sekitar pada tahun 80-an, tentunya kau belum lahir, dan akupun masih seorang anak kecil yang sedang berbahagia dengan kehidupannya kala itu, dan belum mengetahui tempat-tempat seperti ini. Dan, dulu sekali di sana belum ada yang namanya lampu terang seperti lampu neon yg kau lihat di atas kamarmu, lampu-lampu terang di teras rumah, di pinggir jalan, dan suara-suara gaduh televisi yang masih menyala saat kau menontonnya sampai tertidur. Yang ada hanya temaram pertromak yang digantung di bilik rumah, terkadang saat tengah malam menjelang, petromak itu sudah padam terlebih dahulu, dan kau terpaksa harus menikmati gelapnya pandanganmu ketika mata masih terjaga.

Konon katanya, sekarang di sana sudah hampir berubah, semenjak ada pembangkit tenaga listrik pada tahun 1980 yg mengubah suasana kampung itu, keadaannya sampai sekarang sudah semakin lebih baik, meski di antaranya masih sama, hanya dengan penduduk yang sudah tidak kukenal lagi. Banyak orang-orang baru, mungkin karena sebagian orang menikah dengan pasangan beda kampung, kota, atau dari mana asalnya yg tiba-tiba jika aku ke sana pada tahun-tahun ini, aku hanya akan menemui anak-anak kecil yang tidak aku kenal, mungkin mereka itu buah hasil dari teman-temanku dulu yang sudah pada menikah dan menetap di sana.

Ada satu peristiwa yang masih aku ingat sampai saat ini, dulu sekali, pada tahun-tahun itu, saat listrik mulai menerangi rumah-rumah warga, di sanalah waktu-waktu paling bahagia. Aku sendiri saat itu kemungkinan berusia 4 atau 5 tahun, jelas aku ingat, karena saat itu aku sama sekali belum masuk sekolah dasar, dan harus kau tahu, dulu sekali belum ada yang namanya TK seperti sekolahmu, bisa  dibilang langsung SD.

Hal yang paling membahagiakanku saat  itu sangatlah mudah, aku dibawa kakek-nenekmu berkunjung ke tetangga yang jaraknya lumayan membuat capek ketika harus menggendongku di punggungnya. Kami  berkunjung ke rumah tetangga hanya sekedar untuk menonton televisi yang hanya berwarna hitam putih, dan rasa bahagia itu hampir sama seperti yang kau rasakan ketika aku membawamu ke bioskop untuk menonton film favoritmu. Sampai-sampai aku tidak ingin pulang sebab karena aku masih ingin menonton televisi itu, meski waktu sudah tengah malam, sampai aku tertidur, dan ketika terbangun sudah berada di rumah. Sama sepertimu yg kadang tertidur dihadapan televisi, yang kemudian aku gendong ke kamarmu, tanpa sadar.

Suasana kampung itu, ketika baru jam 7 malam, rasanya sudah sepi sekali, ketika listirk-listrik belum masuk ke desa, hanya akan merasakan kesunyian yang mungkin kau tak akan tahan jika kau baru merasakannya, sangat-sangatlah berbeda dengan suasana kota yang mulai ramai di malam hari. Di kampung itu, suara jangkrik sudah pasti terdengar, mungkin juga daun jatuhpun akan seolah berbisik di telingamu.

Dan,  ketika kau  terbangun di pagi hari, orang-orang sudah  mulai sibuk, pergi ke ladang dan sawah, karena itulah satu-satunya pekerjaan  yang menghasilkan uang,  atau sekedar untuk bertahan hidup dengan bahan pokok seadanya. Harus kau tahu, sampai sekarang keadaan tersebut hampir masih sama, tetapi juga ada banyak perbedaan lainnya.

Dan biasanya, saat sore menjelang, anak-anak seusiamu sudah bersiap untuk berangkat ke surau, karena selain mengaji, surau adalah tempat paling membahagiakan ketika aku bertemu dengan teman sebayaku, bermain apa saja  yang bisa dilakukan  di sana, sebelum suara adzan terdengar.

bahkan, aku dan ibumu sudah berteman sejak kecil, kami selalu bermain bersama, pergi ke surau, lalu bermain sepuasnya untuk menghabiskan masa kecil sebelum dewasa tiba.

ayah..
lalu bagaimana kau bisa bersama dengan ibu?

Jane, kau tahu, pertanyaanmu itu, aku ingin juga bertanya pada kakekmu tentang bagaimana dia bertemu dengan  nenek. Ha-ha

Ibumu sosok yang periang, banyak bicara, tapi bukan bicara yg omong kosong, kata-katanya selalu membuat aku semakin suka padanya, ia dewasa, memang seperti sudah seharusnya kalau seorang wanita terkadang lebih dulu dewasa dibanding laki-laki. Ibumu dan aku sebelumnya sempat tidak saling bertemu sekitar beberapa tahun, lalu, aku dan ibumu bertemu kembali di suatu tempat di Jakarta, dan kebetulan ibumu juga berada di sana, dekat dengan  tempat kerja teman ayah. Kami bertemu, lalu mengenang masa lalu, kemudian seperti ada satu tali yg mengikat kami untuk bersama. Begitulah kehidupan, selalu tidak bisa ditebak.

Apa kau merindukan ibu?

Harusnya aku sudah tidak perlu menjekaskan ini, tapi apa boleh buat, perasaanmu dan perasaanku mungkin berkata sama, kita merindukannya, Jane.

Kau lihatlah, Jane, ibumu baru pulang. Aku sangat ingin memeluknya, tubuhnya yg semakin kurus dimakan kesedihan, matanya yg terlihat sembap, hatinya yg hancur, dan aku ingin sekali menghiburnya. Padahal kita di sini, di sampingnya, tapi apa boleh buat, kita berdua hanya bisa melihat ibu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dan ibumupun tidak bisa melihat kita. Kita sudah menjadi sesuatu yang lain.

Aku merindukan ibu.

Kita merindukannya. Dan dia lebih dari merindukan kita.

_____

Sumber gambar: https://www.arah.com/article/6842/menurut-islam-bolehkah-ayah-mencium-anak-perempuannya.html

Senin, 25 Juni 2018

Rencana Perjalanan ke Dieng


Setelah beberapa bulan lalu gue memutuskan untuk resign dari tempat gue biasa bekerja, gue langsung merencanakan beberapa hal, salah satunya waktu berlibur, pergi ke beberapa tempat, menikmati hidup yg katanya sangatlah singkat. Mungkin bagi beberapa orang ini hanya buang-buang waktu, bukanya ngumpulin duit buat masa depan, cicil rumah, cicil kendaraan, terus pas udah  tua tinggal menikmatinya. Tapi, mungkin gue sedikit berbeda, gue hanya ingin menikmati waktu muda dengan menikmati keindahan alam, kemudian istriahat di waktu tua. Hahaha. Ya, walaupun sudah resign, gue enggak nganggur-nganggur amat lah, masih ada penghasilan meski enggak sebanding dengan gaji sewaktu bekerja.

O ya, sekitar setahun yg lalu gue juga sempat pergi berlibur ke Jogja, namun sayang waktu berlibur di Jogja tidaklah lama, hanya 3 hari, itupun dengan perjalanan pulang-pergi menggunakan kereta dari Jakarta. Jadi, waktu menikmati Jogja hanya sehari saja, selebihnya hanya istirahat setelah sampai, lalu istirahat sebelum pulang lagi ke Jakarta. Capek emang. :')

Kebetulan, tahun ini juga gue sudah merencanakan untuk pergi ke Jogja lagi bersama teman-teman  yg baru pulang dari Malaysia. Setelah dari  Jogja, rencananya kami juga akan langsung ke Dieng, kebetulan gue belum pernah da sangat ingin ke sana, sekali-kali lah boleh liburan terus, hehe.

Karena objek wisata di Dieng lumayan banyak, maka gue hanya merencanakan liburan ke beberapa tempat saja,  inilah salah satunya

Objek Wisata Alam  Bukit Sikunir Dieng

sumber: halodieng.com

Karena kemi berangkat ke sana sekitar bulan Agustus nanti, maka Alam Bukit Sikunir Dieng ini sepertinya cocok untuk didatangi, menurut beberapa sumber yg pernah ke sana, waktu terbaik menikmati sunrise adalah sekitar pada Bulan Juli-Agustus, di mana pada bulan-bulan tersebut merupakan musim kemarau sehingga langit akan tampak bersih dan tidak ada hujan. Atau mungkin kalau  datangnya siang hari cukup dengan menikmati keindahan dunia atas awan.

Tempat Wisata Alam Telaga Warna di Dieng

Sumber: dakatour.com

Telaga Warna memang sudah lebih dulu dikenal daripada tempat-tempat lain di Dieng, sudah sering gue lihat dari teman-teman gue yg lebih dulu datang ke sana. Telaga warna di Dieng Plateau ini terletak pada ketinggian 2000 mdpl, di mana pemandangan di tempat ini sangat indah. Telaga warna  Dieng memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan telaga atau waduk lainnya di Indonesia.


 Candi Arjuna

Sumber: lifestyle.okezone.com

Setelah setahun lalu  sewaktu di Jogja gue sempat juga mengunjungi Candi Ijo, gue jadi ketagihan untuk mengunjungi candi-candi lainnya, kebetulan di Dieng ada yg Namanya Candi Arjuna, kayaknya akan gue sempatkan untuk pergi ke sana. Siapa tau nantinya wajah gue bakalan kayak arjuna juga. Wahahaha

**
Kami sempat mendiskusikan tentang transportasi mana yg akan dipakai, karena gue tipe orang pemabuk kalau naik mobil, maka gue menyarankan kepada teman-teman lain untuk menggunakan kereta, tapi setelah dipikir-pikir lagi, naik kereta juga cukup memakan waktu yg lama, alangkah baiknya kalau pergi menggunakan pesawat, jadi waktu berlibur menjadi lumayan banyak. Ya, meski harus lebih banyak lagi menguras dompet. Untunglah bukan  dompet gue kok, Ehehe.

Karena temen-temen gue baru pulang dari Malaysia sekitar sebulan lagi, mereka malah menyuruh gue yg mengatur semuanya, mulai dari hunting tiket pesawat dan booking tempat inap.  Otomatis mulai dari sekarang hari-hari gue disibukan dengan mencari-cari tiket pesawat kemudian booking hotel sekaligus, mencari sana-sini untuk membandingkan harganya.

Rata-rata tiket pesawat dan booking hotel dijual terpisah, jadi cukup menghabiskan waktu. Setelah cek harga tiket dan hotel sana-sini, gue melihat kalau Traveloka telah membuka pemesanan tiket+hotel sebagai satu paket,  gue pun langsung mencoba untuk booking tiket+hotel sekaligus.

Karena kami berangkatnya ke Jogja terlebih dahulu, gue pun memesan tiket pesawat yg langsung ke Jogja, sekaligus mencari tempat inap untuk di Dieng nantinya, kalau di Jogja sendiri tidak perlu mencari tempat inap karena sudah ada teman yg siap menampung kami selama 3 hari di sana, hehe.

Pesan paket pesawat dan hotel Traveloka caranya sangat gampang tinggal klik ikon seperti yg sudah gue kasih tanda panah di bawah ini, kemudian lanjutkan dengan memasukan tujuan


Memanfaatkan aplikasi Traveloka, gue jadi bisa memesan tiket pesawat+hotel di manapun dan kapanpun. Selanjutnya tinggal pilih kota asal dan kota tujuan, lalu klik 'Tambah Detail Penginapan' karena gue memilih paket Tiket+Hotel.


Karena tujuan kami ke Dieng adalah untuk  liburan, maka gue memilih tempat inap yg jaraknya dekat dengan lokasi wisata seperti Dieng Plateau dan Candi Arjuna.

    

Bahkan di Traveloka ini metode pembayarannya juga banyak pilihan, mulai dari transfer bank atau melalui minimarket.

   

Setelah gue bandingkan lagi ternyata kalau pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, hematnya bisa sampai  20% tanpa kode promo apapun. Untuk kedepannya kalau mau pesan tiket pesawat+hotel tidak perlu repot-repot pesan satu-satu deh, sekarang lebih mudah karena di Traveloka semuanya bisa lebih praktis, mudah dan saving time.

Biasanya, sebelum ini gue sering banget pesan tiket pewasat dan booking hotel dipisahin, udah buang-buang waktu  banget, apalagi kalau lagi buru-buru, harus repot pesan satu-persatu, tapi sekarang di Traveloka jadi lebih gampang, dan juga lebih murah daripada pesan terpisah.

O ya, buat kalian yg mau pergi liburan juga, disarankan banget nih cobain pesan tiket pesawat+hotel melalui Traveloka ini, selain hemat waktu juga hemat uang karena tanpa kode promo apapun bisa hemat sampai 20%. Asik kan, sisa uangnya bisa digunakan buat wisata kuliner pas liburan.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND