Tempat Bercerita

Minggu, 20 Oktober 2019

Bernostalgia Sambil Menikmati Promo Kartu Kredit BCA


Pertama kali saya makin suka baca buku yaitu pada tahun 2012, atau lebih tepatnya ketika saya masih SMA. Buku Kisah Lainnya, yang berisi tentang biografi atau kalau saya bilang cerita-cerita di dalamnya adalah kumpulan cerita perjalanan hidup dari masing-masing personil Peterpan (sekarang NOAH), buku tersebut yang membuat  saya makin  tertarik untuk membaca jenis-jenis buku lainnya. Saya masih ingat, saya bersama dua orang teman dengan tidak sengaja membeli buku tersebut di toko buku bekas ketika sedang mencari buku-buku pelajaran sekolah dengan harga yang  lumayan mahal bagi dompet seorang pelajar. Berbeda dengan sekarang, semenjak punya kartu kredit, saya membeli buku harus nyari diskonan dulu, sekaligus nambah koleksi buku yang belum dibaca, untungnya sekarang beli buku di Gramedia makin mudah sekaligus banyak diskon kalau pake promo kartu kredit BCA. Jadi gak rugi-rugi banget kalo seandainya buku yang dibaca tidak memenuhi ekspektasi.

Yang sempat terekam. 2012.

Saya jadi mengingat masa lalu, tentang bagaimana saya menemukan hobi saya, yaitu membaca yang kemudian berlanjut ke hobi lain, seperti menulis. Tidak terasa sudah 7 tahun sejak pembelian buku Kisah Lainnya, sampai sekarang saya masih mengingat momen tersebut meski untuk beberapa bagian samar-samar ingatannya seperti hampir terhapus. Mungkin dengan menulis ini saya akan mengingatnya lagi. Saya pun kadang heran sendiri, ‘kok jadi gampang lupa begini ya?’ Dan untuk mengingatnya, terkadang saya mencoba menceritakannya lagi dengan cara menulis di sebuah jurnal atau sesekali di blog. Mungkin untuk bagian ini memang perlu diperjelas.

Tahun 2012, waktu itu di Bandung. Bus Study Tour kami melaju dari Cianjur menuju Garut lalu kemudian berakhir di Bandung. Perjalanan yang cukup panjang. Kami memutuskan untuk menginap di GGM (Gelanggang Generasi Muda) untuk semalam.

Malam  itu cuaca di Bandung cukup dingin dan sedang gerimis, tapi saya dan teman-teman malah main ke luar, ada yang pergi ke mall, ada yang pergi ke Gramedia yang ada disebrang jalan, dan ada juga yang memilih untuk tidur lebih dulu. Kalau saya, karna tidak ingin melewatkan momen langka itu, saya lebih memilih untuk berjalan-jalan ke luar bersama beberapa orang teman. Beberapa diantaranya adalah perempuan, dan salah satunya malah jadi pacar saya waktu itu. Jadi ingat.

Kami sampai di Gramedia, memilih beberapa buku pelajaran, tapi mata saya malah asik melirik-lirik bukunya Kahlil Gibran, entahlah sampai sekarang buku-bukunya Kahlil Gibran malah belum ada satupun yang saya beli.

‘Jadinya kamu beli buku apa?’ kata Tia yang waktu itu menemani saya memilih buku, dan beberapa teman lain juga sibuk memilih buku-buku. Tia adalah teman yang kemudian jadi pacar saya selama satu minggu. Nanti saya jelaskan kenapa hubungan kami sesingkat ini.

Sebagai seseorang yang saat itu paling malas baca, apalagi buku pelajaran, saya jadi bingung sendiri mau beli buku apa, mentok-mentok bacaannya ya cuma komik si Petruk & Gareng, itupun bacaan waktu SD, komik milik bapak saya. ‘Kayaknya kita balik aja yuk, bingung mau beli apa.’ kata saya menjawab pertanyaan Tia.

Saya dan Tia kemudian berpisah dengan teman-teman lain, ini seperti konspirasi, saya sengaja ditinggalkan berdua oleh teman-teman.

Sambil berjalan kembali ke tempat di mana rombongan kami menginap, saya mengajak Tia ke beberapa tempat, untunglah waktu itu banyak penjual makanan di sepanjang jalan ketika kami hendak balik lagi. Jadi saya bisa menghangatkan badan dengan makanan dan minuman yang hangat.

Karena saya orangnya memang gak pernah tau cara untuk bikin romantis suasana, saat itu saya malah membelikan Tia satu gelas bandrek. Saya pikir minuman tersebut bisa membuat kami sedikit lebih hangat selain dengan cara berpegangan tangan atau sekadar berpelukan.  Kami berjalan menelusuri pinggiran kota, menimati bandrek dan sekantong bala-bala (gorengan). Entahlah, selain sedang jatuh cinta, saat itu saya juga sedang merasa kelaparan.

Setelahnya, kami kembali ke penginapan, dan ternyata teman-teman lain masih asik mengobrol, ada yang mengobrol di kursi depan pintu kamar, ada yang di tangga dan ada yang sibuk pacaran juga. untunglah saat itu ponsel-ponsel keren tidak banyak seperti sekarang, jadi dunia anak SMA masih asik-asiknya, tidak melulu menunduk menatap ponsel untuk sekadar menunggu notofikasi Instagram masuk.

Saya dan Tia pun ikut nongkrong dengan beberapa teman, dan duduk di anak tangga gedung GGM. Saya tidak peduli akan cerita teman-teman lain, saya hanya fokus melihat Tia yang sedang memakai jaket dan syal bertuliskan Bobotoh Persib, rambutnya terurai, sedikit basah karena sebelumnya sempat tekena gerimis di perjalanan, dan tawanya pecah ketika mendengar salah satu teman yang sedang bercerita hal konyol. Saat itulah perasaan suka itu muncul tiba-tiba. Dan saya harus mengungkapkannya secepat mungkin. Masa remaja, tidak lagi memikirkan banyak hal selain jatuh cinta.

Saya pun  mengajak Tia kembali turun, membelikannya es krim agar dia mau jadi pacar saya. Entah ajaran dari mana tiba-tiba saya membelikannya es krim untuk kemudian memintanya menjadi pacar saya.

Tapi ternyata itu berhasil. Saya resmi memiliki  pacar baru, di Bandung.

Besoknya, bus kami melaju lagi ke beberapa tempat; Kota Baru, Cibaduyut, BIB (Balai Inseminasi Buatan), beberapa tempat di Lembang dan beberapa tempat lain, sebagian sudah lupa nama tempatnya. Dan ada satu tempat di mana saya membeli buku Kisah Lainnya; tempat jual beli buku bekas. Lagi-lagi saya tidak tau harus membeli buku apa, tapi karena saat itu saya lagi suka-sukanya sama Peterpan, dan kebetulan mereka baru menerbitkan buku Kisah Lainnya, saya dan dua orang  teman akhirnya  memutuskan untuk mencari buku tersebut, saat itu sama sekali tidak memikirkan barangnya asli atau bajakan, yang penting saya dapat bukunya, pikir saya dalam hati.

Dekat tempat jual buku bekas. 2012 | Doc pribadi.

Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan buku tersebut, masih dalam keadaan baru, dan ternyata  bukan buku  bajakan, di dalamnya terdapat juga CD Instrumental dari lagu-lagu Peterpan. Selain mendapat pengalaman yang seru dan juga pacar baru, akhirnya saya bisa punya salah satu karya dari band favorit saya. Istimewa. Buku pertama yang benar-benar pengen di beli.

Setelahnya, Cibaduyut adalah tempat persinggahan terakhir kami di Bandung, saya dan Tia yang sebelumnya berbeda bus akhirnya negosiasi kepada salah satu teman untuk  bertukar tempat duduk, selain pulang-pulang bahagia, sebenarnya saya juga takut kalau duduk bareng pacar, takut mabok. Bisa-bisa kejantanan saya tiba-tiba hilang kalau si pacar tau bahwa saya ini mabokan. Tapi untungnya, saya bisa tahan sampai akhir perjalanan. Aman dan tidak bikin malu pacar baru.

Beberapa hari setelahnya, saya jadi sering diomongin teman-teman di kelas sendiri maupun dari kelas lain, bahkan sampai guru yang paling saya benci saat itupun ikut-ikutan bawel ngurusin hubungan saya dengan Tia. ‘Bisa-bisanya dapet biduan, cie..’ kata salah satu guru yang mengajar di kelas saya. Saya cuma bisa diam dan tersenyum sambil mengumpat dalam hati, ‘diam kau bangsat!’.

Entah  karna bosan atau risih karna banyak yang ngomongin, ataupun merasa menyesal karena mau pacaran sama saya yang bukan siapa-siapa, hubungan  saya dan Tia pun menjadi renggang, SMS saya gak pernah dibales, telpon tidak pernah  diangkat, bahkan saat saya antar pulang naik motorpun sikapnya beda. Dan tepat pada hari ke 7 hubungan kami, dia memutuskan saya lewat telpon, meminta maaf sambil menjelaskan hal yang kurang saya pahami. Lalu perkataan ‘lebih baik kita temenan aja’ tiba-tiba keluar dari mulutnya.

Karena hubungan kami baru sebentar, saya pun tidak terlalu ambil pusing, tidak patah  hati, hanya sedikit kecewa dan kemudian berlalu begitu saja. Setelah tau kalau kami sudah selesai, orang-orang di sekitar saya seolah-olah bahagia, entahlah apa maksudnya. Tapi saya juga merasa lebih bahagia karena kembali ke kehiduapan saya sebelumnya, yang bebas tanpa perlu dituntut ini itu.

***
Jujur, sebelumnya bahkan  saya sudah lupa akan kisah ini, tapi setelah menuliskannya jadi makin jelas dan terkadang bikin senyum-senyum sendiri. Cinta remaja memang selalu menyenangkan.

Untuk beberapa bagian, rasanya ingin saya ulangi. Kalau saya punya mesin waktu, rasanya saya ingin menjemput Tia ke masa sekarang, membawanya ke beberapa tempat untuk kemudian bersenang-senang selama satu minggu. Misal, mengajaknya makan di restoran Taipan untuk menikmati Dimsum dengan  segelas teh  hangat, menikmati makanan di Bakerzin, membelikannya donat di Dunkin Donut (entah  kenapa saya memikrikan donat) atau menyuruhnya untuk memilih penginapan yang dia suka. Mungkin dia akan menanyakan pertanyaan yang sering dia tanyakan kalau mau main ke suatu tempat, ‘memang kamu punya uang banyak?’ dan tentunya saya bakalan meng-iya-kan pertanyaannya padahal saya membayarnya dengan menggunakan promo kartu kredit BCA. Tentunya tidak perlu mengeluarkan uang banyak karna pakai promo kartu kredit. Ya, jatuh cinta boleh, tapi harus pintar-pintar juga dong. O ya, kalau  kalian pensaran kira-kira ada promo apa saja, jawabannya adalah; banyak banget!! cek aja di sini https://www.cekaja.com/banks/bca/kartu-kredit/promo.

Makan malam | Pixabay.

Ah.. perjalanan ke masa lalu memang selalu menyenangkan, kita bisa melihat orang-orang yang pernah kita sayang, sekaligus menjadikan kita untuk hidup yang lebih baik lagi dari sebelumnya; tidak melakukan kesalahan yang sama, dan tentunya harus... nyari pacar baru, lagi.

Senin, 07 Oktober 2019

Kepada Pohon-Pohon Apel


Sore hari, aku melihat orang-orang banyak melakukan  kegiatan, ada yang baru pulang kerja, ada yang baru pulang mencari kerja, ada yang baru pulang sekolah, dan ada yang sedang menikmati waktu luangnya dengan berolahraga. Begitupun denganku, aku hanya ingin menikmati sabtu sore dengan seseorang yang kuharap akan mejadi kekasihku.

“Maaf ya semalem ketiduran..” Kata Mira mengabariku lewat pesan.

Aku masih tidak paham, kenapa dia harus minta maaf cuma karna telat membalas pesanku?  padahal tidak ia lakukan dengan sengaja.

Aku jadi ingat seorang teman, kenalanku beberapa bulan lalu, saat ia sedang mengalami kisah patah hati paling hebat dalam hidupnya. Katanya dalam sebuah obrolan di warung kopi; “kita bakalan sering bilang ‘maaf’ kepada seseorang ketika menganggap orang itu penting.” Dan sekarang aku malah kebingungan, soal perasaanku yang sudah jelas suka kepada Mira, tapi apakah Mira juga menyukaiku? Apakah aku begitu penting baginya?

“Enggak perlu minta maaf, namanya juga ketiduran. Ada-ada aja..” aku membalas pesannya dengan perasaan paling bingung sekaligus berbunga-bunga dan bertanya-tanya.

“Besok jadi ‘kan lari sore di Gasibu?” kataku dalam sebuah pesan,  mencoba mengingatkan lagi janji yang kubuat bersamanya, untuk lari sore di  salah satu tempat paling ikonik di Bandung. Kebetulan saja itu tidak terlalu jauh dari rumahku di Antapani, tapi mungkin lumayan jauh dari rumah Mira di Cimahi. Ah! Semoga saja dia tidak keberatan dan tidak minta dijemput.

Gasibu

“Jadi. Eh, tapi masih pada demo gak yah?” katanya, sekaligus membuatku cemas kalau-kalau masih demo, bisa-bisa rencanaku untuk menikmati sore sambil berkeringat dengannya jadi batal.

Hari Sabtu, tanggal 28 September 2019, aku sudah membulati tanggal tersebut di kalender dengan spidol merah, “Hari libur se-Bandung, khusus buat Mira.” tulisku dengan huruf kecil sebagai pengingat.

Besoknya, pada hari itu tiba, aku datang lebih dulu, sekitar jam 4 sore lewat 15 menit. Sambil menunggu kedatangan Mira yang katanya membawa motor, aku melihat-lihat sekitar, sudah banyak orang yang berlari mengitari lapangan Gasibu, di sebrangnya telihat Gedung Sate, bangunan yang biasanya aku lihat di sampul buku mata pelajaran PPKN sewaktu sekolah dasar.


Aku selalu penasaran, memangnya di dalam gedung itu ada apa? aku tidak pernah sekalipun bertanya pada seseorang. Entahlah, meskipun  aku sudah lama tinggal di Bandung, tapi tidak pernah sekalipun masuk ke dalamnya, rasannya lebih enak kalau pikiran ini terus penasaran.

Kata orang-orang, Bandung  itu tempat yang paling romantis untuk sepasang kekasih, dalam hal ini aku tidak paham, sebab beberapa kali aku dibuat patah  hati oleh seorang perempuan. Di mana romantisnya?

Kerumunan orang-orang, bising kendaraan, matahari yang mulai tenggelam dan cuaca Bandung yang sudah tidak lagi dingin membuatku melamunkan banyak hal. Sambil duduk menunggu kedatangan Mira, aku mencoba membuat satu dunia di dalam kepalaku, di dalamnya aku isi dengan banyak pepohonan dengan buah-buahannya yang siap dipetik, satu bianglala di dekat sungai yang mengalir tenang dan satu istana yang tidak terlalu megah tapi cukup untuk aku dan Mira saja yang menempatinya. Dan tidak lupa juga lapangan Gasibu kubawa masuk ke dalam duniaku itu.

“Hai..!” terlihat Mira dari arah belakang melambaikan tangan kepadaku.

“Mira, parkir di mana?” tanyaku

“Itu, keliatan.” Jawabnya sambil menunjuk motor Scoopy warna merah diparkir dekat penjual cilok. Cilok itu artinya ‘Aci dicolok’, bentuknya mirip bakso, tapi kecil-kecil,  terbuat dari bahan  aci, dan sungguh informasi ini tidak terlalu penting untuk dibahas.

“Ayo mulai, ini udah mulai gelap.” Katanya sambil berlari mendahuluiku.

Sambil berlari pelan dan mengikutinya dari belakang, aku memikirkan pertemuan pertamaku dengan Mira, mulai dari salah  masuk kelas, saat dari sekolahan kami pergi ke Sundial Iptek di Padalarang, dan sampai pada bagian awal aku bertemu dengannya di acara Pentas Seni. Saat itu aku sedang bernyanyi di pangggung yang tidak terlalu besar namun cukup bikin tegang karna ditonton banyak orang.

“You say
Going under
Not to clover
In these ays where life surrounds us...”

Setelah menyanyikannya, aku turun dari panggung, tidak ada yang tepuk tangan, tidak ada yang memberi selamat satupun. Aku tau, mungkin tidak banyak yang tau lagu itu dan mereka sama sekali tidak begitu mengenalku, aku hanya menikmatinya saja. Sampai ada satu orang menghampiriku dan berkata kalau lagu itu bagus.

“itu kamu yang bikin?” dia bertanya tentang lagu yang kubawakan.

“Bukan..” kataku membalas, “Itu lagu Sore Ze Band, judulnya Essensimo”

“Aku baru  tau...”

“Sebenernya lagu lama, tapi aku juga baru tau  lagu ini beberapa bulan lalu.” Kataku menjelaskan, yang di mana karna lagu ini kami jadi semakin akrab sampai sekarang.

“Kamu datang jam berapa?” katanya memecah ingatanku tentangnya.

“Jam  setengah lima, tapi tadi udah rame kok.”

“Haha.. lama dong nungguinnya, maaf ya.” katanya meminta maaf.

“Kebiasaan, kamu doyan banget minta maaf..”

“Ya maaf. Haha”

“Tuh kan.. lagi.” Kataku sekaligus malah bikin kami berdua tertawa sambil berlari beriringan.

Dalam putaran ke lima, kami memutuskan berhenti. Sambil mencari tempat  duduk, aku mengambil sebuah tumblr yang sebelumnya sudah diisi dengaan air mineral dan kemudian kutawarkan kepada Mira.

Secara curi-curi, aku memperhatikan caranya minum, dengan rambutnya yang pendek, keringat yang masih terlihat di lehernya, matanya yang sayu, dan satu hal yang selalu membuatku terus mengaguminya adalah senyumnya yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Aku menyukainya.


“Kamu kenapa?” Dia memergokiku saat mencuri-curi pandang sambil tersenyum.

“Ah.. gapapa. Dasar Tahu Sumedang!”

“Tahu Sumedang?” tanyanya heran, mungkin dia pikir perkataanku tidak masuk akal dan otakku sedang tidak beres.

“Iya, tahu sumedang; Wanita rambut sebahu sungguh enak dipandang”

Untuk beberapa saat dia terdiam dan menatapku tajam, tapi setelahnya dia malah tertawa, “Hahahaha, kamu ini yah, bisa aja.”

“Aku serius..” lalu aku berdiri dan berjalan ke sebuah pohon apel yang jaraknya tidak terlalu jauh, aku memetik dua buah apel dan kembali ke tempat duduk dan menyerahkan satu buah apel untuknya, dan  satu lagi untukku sendiri, “mau apel?”

“Dapat apel dari mana?” katanya bertanya.

“Dari pohon di sana..” kataku sambil menunjuk beberapa pohon buah-buahan yang jaraknya tidak telalu jauh dari tempat duduk kami.

“Aku baru tau kalo di sini banyak pohon  buah-buahan.”

Suasana sudah larut, lampu-lampu sudah menyala, kami berdua masih asik mengobrol, menceritakan banyak hal; mulai dari awal pertemuan, lalu membicarakan teman sekelas yang suka mencontek, lagu-lagu dan makanan favorit sampai pada saat tiba-tiba aku menyatakan  perasaanku padanya dengan tidak sengaja.

“hahaha, makanya aku suka sama kamu, Mira..” kataku setelah dia bilang bahwa kekurangannya  adalah banyak omong kalau sedang jalan sama orang lain. Dan hal itu seketika membuatku terdiam dan membuang muka karna terlalu malu untuk melihat wajahnya.

“Apa tadi? Suka?” aku hanya mendengar suara itu, dan tidak berani menatapnya. Dan hal tersebut membuatku memikirkan ‘ekspresi wajah seperti apa yang sedang dia gunakan saat ini’.

Karna  sudah terlanjur, aku pikir aku harus berterus terang, “Iya, maaf, aku menyukaimu sejak lama; saat kamu menyapaku di dekat panggung, ketika  kita berdua duduk di bus sekolah saat pergi ke Padalarang dan sampai saat ini aku juga  masih menyukaimu..” aku mengatakannya dengan cara muka menghadap ke tanah. Sungguh hal yang sangat bodoh.

“Hei...” kemudian  kurasakan tangannya memegang wajahku, diarahkannya wajahku untuk dipertemukan dengan  wajahnya, di sana kutemukan senyum yang sangat  manis dengan tatapan mata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dan tidak lama kemudian ia berkata, “Kamu banyak drama! Ha ha ha..”

“Maksudnya, Mira?” kataku penasaran.

“Maksudnya, malam ini, di kursi ini, di dekat lapangan Gasibu, kita resmi jadian.” Katanya yang membuatku tidak tau lagi seperti apa perasaan yang saat itu sedang kurasakan. Campur aduk.

“Sekarang aku mau buah  apel lagi.” Kata Mira.

“Tunggu di sini, aku mau memetiknya.”

Aku bangkit dari tempat duduk, berjalan ke arah pohon  apel yang tadi buahnya kupetik. Beberapa langkah aku berjalan, pohon apel itu tidak lagi ada di tempatnya, suara-suara bising  kembali terdengar, dan bunyi telpon tiba-tiba memecah pikiranku.

“Halo... kamu di mana? maaf ya aku gak bisa dateng, aku dilarang pergi, katanya di sana lagi banyak demo, kamu tau sendiri ayahku gimana, kan?” terdengar  suara Mira dari telpon, aku yakin itu memang suara Mira. “Lain kali, ya..” lanjutnya sebelum telpon berbunyi ‘bip’.

Lalu aku melihat ke arah kursi tempat tadi kami duduk berdua, tidak ada siapapun di sana, aku melihat ke arah pohon  yang buahnya kupetik, juga tidak ada, suasana jadi kacau, demonstrasi di depan Gedung Sate semakin banyak, lapangan Gasibu mulai dipadati orang-orang yang tidak aku kenal.

Tiba-tiba, dunia yang kubuat dalam pikiranku perlahan mulai memudar; pohon-pohon  apel tidak  ada, bianglala tidak  ada, istana tidak ada, Mira juga tidak ada, dan yang tersisa hanya lapangan Gasibu yang semakin ramai, dan kemudian aku tersadar, lamunanku  sudah  terlalu jauh.

Aku bangkit dari tempat duduk, melihat sekitar dan kemudian melihat jam di tangan kiriku untuk kira-kira memutuskan lebih baik pulang ke rumah, lanjut lari ditengah-tengah pendemo atau ikut-ikutan demo saja meski tidak tau apa yang sedang mereka tuntut.  Tapi setelah kulihat, jam di tangan kiriku menunjukan waktu yang membuat keputusanku lebih baik pulang  ke rumah saja; jam enam belas lewat dua puluh lima menit.

Essensimo

Selasa, 17 September 2019

Berterimakasihlah Pada Pertemuan


“Udah gak nulis lagi, Yan?” Mendengar pertanyaan tersebut, saya jadi kepikiran apakah sudah begitu lamanya saya tidak menulis? Bisa-bisanya sebuah pertanyaan malah bikin saya bertanya-tanya lagi.

Bulan Agustus lalu sama sekali gak ada tulisan baru  di blog ini, padahal biasanya, dari tahun ke tahun, hanya pada bulan Juli saja saya gak posting tulisan. Entahlah, bulan Juli sendiri sebenarnya adalah bulan di mana saya berulang tahun dan saya gak mau merayakannya; dengan cara tiup lilin, potong kue atau sampai ceplok telur busuk. Semua hal yang bersangkutan dengan hari lahir rasanya selalu menyebalkan. Ketika usia kita berkurang, kenapa malah dirayakan? Pengen cepet mati? Hebat betul pengen cepet-cepet masuk neraka; sadar diri saja, surga terlalu istimewa buat orang yang banyak dosa seperti saya, tapi kalau dipaksa masuk surga apa boleh buat. Saya gak bakalan nolak.

Sampai tulisan ini dibuat, saya masih ingat betul pertanyaan tersebut keluar dari mulut Yoga Akbar Sholihin, tapi saya gak inget di mana pertanyaan itu dia tanyakan; di Perpustakaan Nasional? Upnormal Cikini yang pertama kali saya, Aprianti Pratiwi dan Yoga datangi karena tersesat atau Upnormal Cikini yang satunya lagi? Atau mungkin saat kami berjalan ke arah mushola? Terlalu banyak tempat memang. Terserahlah saya pusing.

Pertanyaan tersebut ternyata sedikit berdampak dan terus saya pikirkan. Saya jadi ingat pada salah satu tulisan tentang pertemuan saya dengan kawan-kawan bloger beberapa bulan lalu yang sudah ditulis di blognya Yoga, pada tulisan tersebut, ada satu pertanyaan dari Haw yang ditanyakan ke Yoga soal kenapa dia gak jadian saja sama Tania—salah satu perempua yang saya pikir cukup dekat dengan Yoga dan kebetulan saya kenal juga. Bukannya gak mungkin terjadi, hanya saja saya juga tau kalau Tania sendiri sepertinya sudah memiliki pacar. Tapi bisa saja terjadi kalau saja Yoga benar-benar nembak Tania dengan kemungkinan yang akan terjadi adalah 50 banding 50 untuk urusan diterima atau tidaknya; 50 untuk diterima dan jadian, 50 lagi untuk ditolak lalu ditendangnya Yoga oleh Tania dengan jurus Taekwondo-nya.


Oke  baiklah  kita lupakan  saja soal cinta-cintaan tadi, saya pikir semua teman-teman  dalam cirlce yang kelihatannya rebel ini pada tau kalau Yoga sendiri sudah memiliki Eskapisme-nya yang lain, satu perempuan yang masih samar-samar nama dan keberadaanya dan satu perempuan yang secara kebetulan dipertemukan kembali pada saat kami nongkrong di Warunk Upnormal untuk sekadar ngomongin Sobat Gurun yang sempat ramai karena twit dan tulisan di blognya soal saling mengikuti balik di media sosial. Oke, sedikit penjelasan, Sobat Gurun di sini beda dengan apa yang sering dibahas oleh Majelis Lucu Indonesia di akun Youtube-nya. Takut salah paham. Nanti saya dicari lagi, ah.

Pertanyaan Yoga soal masih atau tidaknya saya menulis, ternyata hampir sama dengan pertanyaan yang Haw tanyakan ke Yoga soal kenapa gak jadian aja sama Tania; sama-sama jadi kepikiran. Ya, walaupun sebenarnya beda konteks, sih; Yoga dengan wanita, saya dengan  kata-kata.


Foto di atas difoto oleh Dwi, seseorang yang ketika kami masih di Perpusnas—kira-kira dua jam sebelum pindah ke Warunk Upnormal—saat Haw dan Yoga bilang kalau Dwi akan datang, saya pikir mereka sedang membicarakan Kresnoadi yang namanya juga ada embel-embel Dwi. Ha ha, bisa-bisanya saya mengira kalau mereka berdua sedang bercanda. Ketika pertama  kali bertemu, awalnya saya sempat bertanya-tanya juga, “ini Dwi mana? Kok gue gak tau?” ya meski akhirnya ketika sampai rumah baru sadar kalau ternyata saya sudah cukup lama mengikutinya di Instagram. “Dia silent reader sih, Yan” kata Yoga menjelaskan.

Awalnya saya pikir pertemuan ini hanya beberapa orang saja; saya, Yoga, Haw, Fauji, Aprianti Pratiwi dan N Firmansyah yang kebetulan sedang berada di Jakarta, setau saya urusan dia ke Jakarta cuma buat nonton konser Linkin Park dan nonton Timnas Indonesia vs Malaysia di GBK yang kalah dengan skor 2-3 dan berakhir dengan adu lempar botol. Kalau soal hal lain, saya gak tau, gak punya jadwal tournya.

Sebelum Dwi datang, jelas ini adalah pertama kalinya saya bertemu dengan N Firmansyah. Bisa dibilang, N Firmansyah sendiri masih sering bolak-balik di linimasa Twitter dan blog saya, begitupun sebaliknya. Bisa dibilang, kami masih satu circle, ya walaupun terkadang cirlce kami belaga sok asik. :3

Saat saya menghampiri Firman yang sedang asik mengobrol dengan Haw dan Yoga sambil nonton dangdutan di depan aula Perpusnas, saya langsung mengenalinya karena warna rambutnya yang oren-oren senja atau apalah namanya. Jelaslah, saya pernah melihat potongan atau warna rambutnya di akun media sosial miliknya, kira-kira begini;


Saya jadi ingat, pernah suatu kali Firman menghubungi saya via Whatsapp, kira-kira begini isi chat-nya:

Firman: “Mbak Dian”
Saya: “APA KAU! MAU MINJEM DUIT????”

Oh maaf, memang gak gitu isi percakapannya, tapi asli kalau masih ada yang memanggil saya dengan embel-embel ‘Mbak’, kadang dalam hati selalu saya hujat se-bangsat mungkin, lalu saya doakan untuk keselamatannya.

Mari kita lanjutkan;

Firman: “Mau gak berpartisipasi dalam Podcast gue?”
Firman: “Nanti gue kasih pertanyaan, terus lo jawab via voice note.
Saya: “Pertanyaan sulit?”

Saya menjawab pertanyaan tersebut keesokan harinya. Dan setelah podcast episode barunya tayang, saya dengarkan, kemudian saya baru sadar kalau ternyata saya sinis sekali, ya, bisa-bisanya saya julid sama orang lain, apalagi voice note kedua yang saya kirimkan untuk menjelaskan voice note sebelumnya agar tidak salah paham malah gak dimasukin sama Firman. “Tunggu sampai anda dihujat.” Jelas Firman. Bangsat sekali memang anda~

O ya, kalau mau dengerin lalu menghujat saya, berikut podcastnya:



Selain N Firmansyah, ini juga pertama kalinya saya bertemu dengan Dwi, jujur dari awal sampai Dwi pulang, saya sesekali masih bertanya-tanya ‘ini Dwi yang mana?’, kata Yoga memang Blogger, sempat diperjelas dengan begitu akrabnya Haw dengan Dwi. Ketika sedang makan dan sambil bergunjing, sesekali saya memperhatikan Dwi dan Haw, kedua orang yang sama-sama memiliki nama panggilan 3 huruf ini terlihat begitu akrab, dalam kepala saya terlintas pertanyaan, “Jangan-jangan mereka pacaran?” Hmmmm... Saya gak mau bergosip banyak, apalagi menanyakan langsung kepada mereka ketika sedang banyak orang. Biarlah pertanyaan itu saya simpan sendiri dan... menulisnya di blog :3

Lalu, tidak lama kemudian, kedatangan Icshan Ramadhani yang katanya sudah jarang aktif di dunia blogger ini cukup menambah ramai  suasana. Kemudian datang Kresnoadi yang sudah biasa datang yang terakhir, di saat orang lain sudah capek ngomong banyak hal, Adi—nama panggilan dari Kresnoadi—ia kemudian melanjutkan pembicaraan dengan suaranya yang lantang. Ini  mirip seperti tambahan waktu di permainan sepak bola. Gunjing terooooos!

Ah, sudahlah, pembicaraan kami malam itu tidak perlu repot-repot saya tulis di sini. Memang Sobat Gurun sempat menjadi salah satu topik pembicaraan kami malam itu, tapi maaf saja, anda masih belum sampai level trending topic buat kami, butuh 3 part untuk menjelaskan itu semua.

Salam hangat.
Difotoin abang Upnormal

Dalam  cerita: Saya, Yoga Akbar S., Hawadys, N Firmanysah, Ahmad Fauzi, Aprianti Pratiwi, Dnanoki, Ichsan Ramadhani, Kresnoadi DH dan sedikit ucapan terima kasih untuk keresahannya kepada Sobat Gurun. Hatur nuhun.

Rabu, 17 Juli 2019

Dari Sebuah Kegagalan


Setelah melamar kerja dan gagal pada interviu kedua, saya langsung menghubungi seorang teman di Kemayoran, Jakarta. Seperti biasanya, jarak selalu membuat saya enggan untuk segera pulang ke tempat kos di Cileungsi, Bogor. Apalagi baru saja menerima kenyataan yang sebenarnya tidak terlalu pahit, rasanya badan ini harus direbahkan sejenak di suatu tempat.

Saya menghubungi Hendar, teman sekampung yang kebetulan sudah tinggal cukup lama di Kemayoran, buat apa lagi tinggal di Kemayoran kalau bukan karena tuntutan untuk tetap bernapas dan hidup hedon, sekaligus menghabiskan waktu dengan cara bekerja. Begitupun dengan saya, selagi memikirkan untuk apa saya hidup lebih lama lagi, saya memutuskan untuk menjalani hidup selayaknya orang-orang kebanyakan; mencari uang, terus mencari uang dan tentu saja dengan cara bekerja, sebab untuk makan saja harus punya uang, bukan? Kecuali kau makan dengan tanah liat atau batu-batuan, kalau seperti itu cukuplah dengan tinggal di hutan, kembali lagi saja seperti manusia purba.

Saya mencoba menghubungi Hendar melalui aplikasi Whatsapp, “Pada masuk kerja?”, pesan tersebut saya kirim kepada Hendar sekitar jam 10 Pagi.

“Libur euy..” balasnya dengan tambahan kata ‘euy’ yang menunjukan bahwa jati dirinya adalah tetap orang Sunda.

“Siapa saja yang libur? Nanti saya main ke situ, sekarang lagi di Cideng.” Balas saya sambil berjalan keluar dari gedung tempat saya interviu kerja.

“Yaudah ke sini buruan. Lagi ngapain sih di Cideng, pacaran?” balasnya sekaligus memberi pertanyaan yang aneh-aneh. Lagian apa asiknya pacaran di jam 10 pagi?

“iya nih, lagi pacaran”

“Mau ditangkap Satpol PP pacaran jam segini?”

“...Si Ajun juga ada di sini.” Lanjutnya sekaligus memberi tahu saya tentang keberadaan teman saya yang sudah  lama tidak pernah bertemu. Ajun adalah teman saya sewaktu SMP. Meski banyak sekali nama Ajun di dunia ini, khususnya di Jawa Barat, saya bisa langsung mengetahui Ajun mana yang Hendar maksud, sebab Ajun sendiri adalah saudara dekat dari Hendar.

Mengingat Ajun, pikiran saya seperti kembali lagi ke masa lalu, dalam kenangan itu, saya mengingat betapa kami ini adalah dua orang yang sangat brengsek atas apa yang pernah kami lakukan pada masanya; saat sekolah, kami pernah meminta sumbangan ke adik-adik kelas padahal uangnya kami  pakai buat jajan, sering bolos bareng, pulang pergi berdua,  sampai-sampai suatu kali, kami pernah mengencani perempuan yang sama. ah... betapa brengseknya kami dulu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, brengseknya kami di masa itu, ternyata masih belum apa-apa daripada kehidupan kami di masa sekarang, di mana malah kami yang dipecundangi oleh kehidupan.

Setengah jam setelah saya selesai interviu, saya sampai di tempat kos Hendar dan Ajun. Sebelumnya saya sempat nyasar, saya pikir Hendar belum pindah dari tempat kos yang sebelumnya pernah saya kunjungi.

Karena merasa ada yang aneh sebab tempat kosnya sepi, saya mencoba bertanya kepada warga sekitar, “Hendarnya ada gak yah, bu?” tanya saya kepada salah satu warga, siapa tau ada yang kenal, pikir saya.

“Oh.. bang Hendar, udah pindah ke mes katanya.” Kata seorang ibu-ibu menjawab tidak yakin, yang diperkirakan usianya kurang lebih 55 tahunan.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mana ada tempat kerjanya memberi mes untuk karyawannya? Sebab yang saya tau dari dulu belum ada sejarahnya tempat kerja tersebut memberi mes, apalagi dengan gajinya yang tidak seberapa, tapi cukup untuk sekadar makan dua kali sehari, atau bisa untuk membeli cash motor Yamaha NMAX tapi dengan syarat kau tidak makan selama setahun.

Setelah mengetahui bahwa Hendar pindah kosan, saya pun langsung mengirim pesan lagi ke Hendar untuk menanyakan tempat kos barunya.

“Iya pindah, sini dekat si Rahmat.” Balas Hendar dengan menyebut salah satu orang yang saya kenal juga, sekaligus menjawab bahwa memang dia tidak pindah ke mes seperti yang dikatakan ibu-ibu yang sempat saya temui.

Karena saya enggak tau di mana lokasi kos barunya, saya pun segera melajukan motor ke dekat Masjid Akbar, tempat yang tidak jauh dari kos hendar sebelumnya, dan meminta untuk dijemput di sana.

Di sekitar masjid akbar, ketika hendak menurunkan standar motor, tiba-tiba dari arah kanan jalan ada orang yang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Orang tersebut langsung saya kenali dari cara berjalannya, dia adalah teman SMP saya, Ajun.

Saat Ajun menghampiri, saya merasakan banyak perubahan dari postur tubuhnya, dulu tingginya masih dibawah saya, sama rata dengan pundak, tapi untuk sekarang malah saya yang lebih pendek darinya. Perubahan lain yang lebih mencolok adalah ketika kami sampai di tempat  kosnya, karena saat itu siang bolong, dan cuaca Jakarta sangat panas, Ajun membuka baju, mungkin karena kegerahan, saat itu saya baru menyadari bahwa badannya dipenuhi dengan tato. Di dadanya tertulis sebuah kata ‘GOD SAVE ME’, di lengannya ada gambar yang entah menggambarkan apa, lalu di belakang punggungnya telukis wajah Bunda Maria.

Pikiran saya seketika muncul satu pertanyaan; ‘Apakah si kampret ini pindah agama?’

Untuk segala yang terlukis pada tubuhnya, saya belum berani bertanya.

Siang itu, di tempat kos Hendar dan Ajun, saya merasakan suhu Jakarta sangat panas sekali, padahal dua kipas sudah berputar, kipas dari arah atas yang tergantung di plafon berputar cukup kencang, dan dari kanan dekat lemari baju juga berputar meski putarannya terlihat cukup lambat. Sepertinya kalau saya lama-lama tinggal di sana bisa-bisa saya mati karena masuk angin. Tapi, seperti halnya cinta—seperti yang banyak orang katakan—mungkin lama-lama akan bisa karena terbiasa. Sama halnya dengan Ajun dan Hendar, mungkin mereka juga sudah biasa hidup dengan dua kipas disaat cuaca Jakarta sedang panas-panasnya. Ah.. untung saja panasnya udara di tempat kos saya, di Cileungsi, tidak separah Jakarta.

Selagi merebahkan badan di kasur lantai, saya banyak berbincang dengan Ajun, tentu sesekali menceritakan bagaimana kami saat sekolah dulu, dan selebihnya kami membahas apa yang terjadi pada hidup kami belakangan ini; tentang pekerjaan, kehidupan, rumah tangganya, dan tentang pilihannya untuk pergi dari rumah karena Ajun dan orang tuanya sempat berselisih.

“Ada yang bilang, cobaan terberat dalam rumah tangga itu ketika baru mempunyai anak satu, Jun. Ada aja...” kata saya berusaha untuk mendengar sekaligus memberi pendapat saat Ajun bercerita. Tentu kata-kata tersebut tidak saya dapat dari sembarang tempat, kata-kata tersebut saya dengar ketika saya dinasihati oleh tetangga kos di Cileungsi. Terkadang ada satu hal yang disampaikan kepada kita padaha hal tersebut sebenarnya untuk disampaikan kepada orang lain. Seperti kata yang saya ucapkan kepada Ajun, setidaknya saya harap itu sedikit menjawab atas keresahannya.

Mungkin saking lelahnya tubuh saya, selagi Ajun bercerita, tiba-tiba saya tertidur lelap, meninggalkan suara-suara sekitar, tentunya juga suara dari cerita hidup yang dialami oleh Ajun.

***

Ketika terbangun karena suara musik dari kamar kos sebelah, saya masih berada di atas kasur lantai berwarna hijau, kipas di plafon masih berputar, dan terlihat Ajun yang sedang menonton film hasil download dari Youtube Go di ponselnya.

“Udah jam 3 aja..” kata saya mencoba membuka percakapan sekaligus memberi tahu Ajun kalau saya masih hidup dan belum mati karena masuk angin.

Ketika tubuh masih dalam proses menyadarkan diri selepas tidur siang, saya mengingat-ingat tentang ajakan dari Ajun untuk jalan-jalan di sore hari. Entah bosan karena libur seharian cuma tiduran di kosan, atau bosan karena pikirannya yang kacau sebab merindukan istri dan anaknya yang belum berusia setahun yang ia tinggalkan di kampung, sebab Ajun harus bekerja untuk menafkahi mereka.

“Katanya mau main, Jun, ayo! Ke mana?” tanya saya mencoba mengingatkan kembali keinginannya yang ia katakan  tadi siang kepada saya.

“Iya, ayo ke Kalibata.” Jawabnya sekaligus mengatakan tujuan yang sebenarnya cukup jauh dari tempat kos di Kemayoran.

“jauh pisan..” kata saya mengeluh.

“ke kakak saya, sekaligus ketemu bapak.” Balasnya serius yang membuat saya tidak bisa menolak cuma karena alasan jarak yang lumayan jauh.

Meski badan saya masih terasa capek, saya mengantar Ajun dengan motor Beat. Berangkat jam 3 sore, saat jalanan Jakarta lumayan macet, tapi suhu udara sudah tidak terlalu panas, kami berdua mengendarai motor dengan bantuan aplikasi GPS di ponsel milik saya yang kacanya retak karena terjatuh beberapa waktu lalu.

Sekitar kurang lebih satu jam, kami sampai di lokasi; putar arah di dekat Rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC) dan memasuki gang-gang kecil untuk sampai di rumah kakaknya Ajun. Saya pun baru tau kalau Ajun punya Keluarga di Jakarta.

“Nah ini rumahnya” kata Ajun sambil menunjuk satu rumah dengan gerobak jus buah di depannya. “kita lurus dulu..” lanjutnya.

“Mau ke mana lagi?” tanya saya.

“Ke bapak..”

“Hah..?”

“Kalo Dadang itu bukan bapak saya, dia bapak tiri saya, bapak saya yang sebenarnya itu Iwan.” Kata Ajun menjelaskan, karena saya memang tahunya ayah Ajun itu Mang Dadang, begitu saya memanggilnya.

Sebelum sampai ke lokasi yang entah di mana, Ajun meminta saya untuk berhenti di depan masjid yang cukup besar. Dia lebih dulu turun, membuka sepatu dan kaos kakinya yang sebenarnya lumayan untuk menyekap seseorang sampai pingsan.

“Kita salat dulu, masih salat, kan?” ajaknya kepada saya, yang seharusnya kata-kata tersebut keluar dari mulut saya, karena saya masih penasaran dengan tato-tato di tubuhnya yang lebih memperlihatkan bahwa dia terlihat seperti sudah pindah agama.

Setelah selesai wudhu, kami berjalan ke dalam masjid, sebelum memasuki pintu, saya melihat ada beberapa bapak-bapak sedang menghitung uang dari kotak amal yang dengan sekali lihat kau sudah bisa membeli mobil kalau mengumpulkan uang dari kotak amal selama satu minggu.

sok! silahkan yang punya wilayah..” kata saya kepada Ajun, sekaligus yang saya maksud adalah ‘silahkan jadi imam’.

Nya maneh atuh, piraku aing..” balasnya dalam bahasa Sunda, yang artinya ‘ya kamu dong, masa saya..’, dan hal tersebut malah bikin kami berdua tertawa.

Selesai salat, sepertinya satu pertanyaan dalam otak saya yang sebelumnya masih saya pikirkan, akhirnya terjawab sudah, kawan lama saya ini tidaklah pindah agama, dan saya tidak perlu juga mengejeknya dengan kata-kata seperti, “Kafir, main kuy!”. Lagian, kalaupun benar pindah,  itu juga enggak perlu diributin.

Karena waktu semakin sore, kami bergegas ke tempat yang Ajun tuju, melewati lagi gang-gang kecil, melewati ibu-ibu yang sedang senam sore, dan pada akhirnya kami sampai di suatu tempat yang tidak saya duga sebelumnya, kami sampai di tempat orang-orang istirahat dari dunia untuk terakhir kalinya; pemakaman.

“Di mana sih, Jun?” tanya saya saat Ajun masih mencari-cari nama Iwan di antara banyaknya batu nisan. Beberapa batu nisan terlihat masih kokoh dengan batu bata yang sudah disemen sebagaimana makam pada umumnya, dan sebagian  batu nisan lain ada yang sekadar terlihat batu saja, bahkan ada juga yang hampir rata dengan tanah. Mungkin sebagian ada yang tertumpuk mayat-mayat baru karena tidak terurusnya pemakaman tersebut.

“gatau lupa, tolong bantuin cari yang namanya Iwan..” jawabnya sekaligus meminta saya untuk membantu mencari batu nisan bernama Iwan, ayahnya.

“Ini Jun, sebelah sini!” saya menemukannya.

Kami duduk di pinggir batu nisan, dengan nama Iwan disertai tahun meninggalnya; 2010, tertulis di sana.

Ajun mengeluarkan buku kecil dari tasnya, buku itu tertulis kata ‘Yassin’ pada sampulnya. Sebelum membaca, ia mengucap kata-kata, pelan tapi masih terdengar jelas di telinga saya. Meminta doa restu, doa untuk keluarga kecilnya, dan selebihnya tidak terdengar jelas. Dan yang saya lakukan, hanya membantu doa dengan surat Al-Ikhlas selagi ia membaca Surat Yassin.

Selesai berziarah, kami sampai di rumah  yang sebelumnya sempat Ajun tunjukan, rumah bang Irfan, yaitu kakaknya Ajun. Ada beberapa kepala keluarga di rumah tersebut, saya juga bertemu dengan neneknya Ajun yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘Abu’. Mereka sangat ramah, dan sepertinya tentang apa yang Ajun katakan sebelumnya kepada saya kemungkinan memang akan terwujud, “Saya pasti bahagia kalau tinggal di sini...” Kata Ajun dalam perjalanan tadi sebelum sampai ke rumah tersebut.

Kami banyak mengobrol, terutama bersama kakaknya, bang Irfan, yang kebetulan jadi dosen di salah satu fakultas ternama di Jakarta. Selain ‘mengintrogasi’ Ajun dan juga saya, bang Irfan juga beberapa kali membagikan kisah hidupnya, dan kisah hidup tiap orang ternyata sama saja pernah mengalami hal sulit.

Waktu berlalu singkat, dalam kesedihan yang tidak terlalu dalam yang saya rasakan karena gagal dalam mencari kerja, di sisi lain ada seseorang yang merasa lebih gagal menjadi seorang ayah. Saat kacaunya pikiran saya, saya bertemu dengan Ajun, disaat itu saya sadar, bahwa hidup pasti akan selalu dipertemukan dengan kegagalan, tapi enggak apa-apa, karena kalau enggak gagal, kita gak bakal dipertemukan dengan kata ‘coba lagi’, bukan ‘berhenti’.

Ajun. Suatu malam di pinggiran kota Jakarta.

Sekitar jam setengah sembilan malam, kami berdua pamitan kepada bang Irfan, Abu dan beberapa orang lain yang kebetulan ada di sana. Motor saya keluarkan dari gerbang rumah, dan ketika saya hendak memakai sepatu, saya baru menyadari bahwa kaos kaki saya sudah tidak lagi berada di tempatnya, dalam sepatu.

Dicari-cari enggak ketemu, dalam tas, box motor, dan tentu disekitar sepatu-sepatu lain, masih tidak ditemukan. Saya sempat kesal, tapi karena cuma kaos kaki buat apa disesali terus menerus. Kaos kaki bisa dibeli lagi, kecuali yang hilang itu seseorang yang kita sayangi sudah tidak lagi berada di dunia ini, mungkin saya juga harus bersedih untuk sementara waktu.

Begitupun dengan Ajun, saya tidak bisa menebak apa yang ia sedang pikirkan dalam kepalanya, antara bersedih atau bahagia  setelah pertemuannya dengan keluarga yang jarang ia temui.

Kaos kaki sudah saya relakan. Kami meninggalkan rumah dengan penghuninya yang ramah di suatu malam. Dalam perjalanan pulang ke kemayoran, pikiran saya kembali berputar dengan beberapa pertanyaan; apakah nanti kalau sudah berkeluarga saya akan bahagia? Pertanyaan tersebut tergambar jelas daripada pertanyaan-pertanyaan lain yang saat itu saya pikirkan, dan satu lagi pertanyaan yang terus berputar-putar dalam kepala selama dalam perjalanan pulang kembali ke kemayoran. Pertanyaan yang saya harap segera dilupakan; kira-kira ada berapa orang yang akan mengingat saya setelah saya meninggal?

Jumat, 12 Juli 2019

Cita-cita Seorang Pembalap Keong


Cita-cita saya sewaktu kecil itu pernah pengen jadi pilot, dokter atau yang dekat dengan harapan yaitu jadi guru, sekiranya itulah jawaban ketika saya masih sekolah dasar, lalu ditanya ‘kalau sudah besar cita-citamu mau jadi apa?’. Kenapa pilihan terakhir saya pengen jadi guru adalah karena yang saya tau, sewaktu saya jadi murid kayaknya kok enak banget gitu melihat seorang guru ngatur-ngatur anak kecil; ngasih PR, suruh ngapalin perkalian, potongin rambut murid yang sudah panjang sampe melewati kuping, dan masih banyak lagi, termasuk menghukum murid yang nakal dengan cara tangannya harus pegang kuping kanan-kiri sementara kaki kanannya diangkat ke arah kaki kiri. Aduh serunya...

‘CITA-CITA MACAM APA INI MALAH KAYAK JADI TUKANG BULLY!

Jujur, selain dari 3 profesi yang saya sebutkan tadi, saya enggak tau lagi harus jadi apa sebab sewaktu sekolah dasar saya sukanya main keong. Ya masa harus jadi tukang balap keong sampe gede? Sungguh kehidupan yang enggak nyambung.

'Minggir-minggir, saya duluan!'

Pada tulisan ini, saya sempat membahas betapa enaknya kalo jadi anak kecil lagi; kita (atau dalam cerita ini sebut saja saya) bisa leluasa mengutarakan perasaan yang saat itu kita rasakan, enggak mikir panjang dulu saat hendak mengambil keputusan. Misalkan; ketika saya pengen mangga, dan kebetulan saya enggak punya pohon mangga, kemudian saya mengajak temen saya buat ikutan nyolong mangga, palingan kalaupun ketahuan cuma kena tegur dan enggak terlalu dijadikan perkara dalam bertetangga.

Tapi bayangkan kalo saya nyolong mangga pada usia saya sekarang ini? Aduh! Pasti mikir-mikir lagi; takut kalo ketahuan, ketahuan nyolong mangga tetangga pasti jadi gosip sampe kampung sebelah. Soalnya saya nyolong mangganya sampe dua karung. Maklum kalo udah gede nyolongnya sekalian harus banyak, jangan setengah-setengah, nanggung bosqu~

Btw, ini kenapa harus nyolong mangga sih?

Mari kembali ke cerita awal. Semakin bertambah usia, cita-cita kita biasanya akan semakin menciut ke arah yang mungkin lebih mudah untuk dicapai (biasanya ini terjadi pada orang yang gampang tidak percaya diri—macam saya) bisa jadi cita-citanya pengen jadi pengusaha, kerja kantoran, jadi penulis buku, punya bisnis ternak lele, jadi pemain sepak bola atau seperti cita-cita saya sewaktu SMA yaitu jadi anak band. Coba bisa gak bayangin gimana saya bentuknya kalo jadi anak band?

Apa muka saya jadi mirip senar gitar? Ah.. tolong percayalah sedikit kalo saya ini bisa main gitar, soalnya dulu pas SMA saya paling rajin belajar main gitar, dan yang ngajarin saya main gitar itu saudara saya yang sudah jadi anak band duluan di sekolahnya. Percayalah, kalo kamu sekolah SMA pada tahun 2000-an pasti melihat anak band itu keren banget asli!

Tapi, setelah lulus sekolah, dan saya tidak melanjutkan pendidikan, rasanya cita-cita saya untuk jadi anak band gak bakalan pernah terwujud, lagian pas SMA saya main musik cuma setengah-setengah. Dan hal inilah yang selalu saya benci dari diri saya sendiri; melakukan segala sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh.

Dan ketika masa sekarang, ketika usia melewati angka 25, ketika saya belum menjadi apa-apa, ketika saya hanya memandang laptop dengan beberapa paragraf di atas, ketika chat whatsapp saya isinya dari grup semua, ketika saya jadi anak kos, ketika saya beberapa kali patah hati, ketika saya jauh dari orang tua, ketika betapa saya merindukan seseorang, dan ketika saya menulis ini; entah kenapa semua cita-cita yang saya sebutkan tadi malah menjadi terasa jauh? Malah yang terbayang saat ini hanya sebuah angan-angan yang seperti terbawa lari oleh keong balap.

Semakin dewasa, semakin bertambah usia, rasanya semakin sedikit keinginan kita--mksudnya saya--hanya keinginan untuk hidup bahagia, dan banyak uang; tapi kerjaan malas-malasan, bangun pagi susah, alarm nyala ditunda 5 menit kemudian. Hmm... Hidup ketika tidak menjadi apa-apa selain sedang mencoba menjadi manusia, malah semakin jadi banyak pertanyaan! Ah, jatidiri; semakin dicari malah semakin menjauh pergi...


*Terakhir untuk tulisan singkat ini. Pesan saja; tulisan ini enggak perlu dicari pesan moralnya, toh masih sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya; sekadar bercerita.

Salam Keong Mania!

Sumber gambar: https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/agatha-maria-puspandari-pudyastuti-1/unik-ternyata-ada-kompetisi-balap-lari-siput-di-inggris-c1c2

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND