Make a Story

Kamis, 19 April 2018

Jumat, 30 Maret 2018

Kemping di Puncak Guha Sambil Menikmati Kopi Rasa Soto


Sebenernya cerita ini terjadi sekitar awal Maret yg lalu, tapi mungkin saat itu gue lagi males-malesnya nulis, jadi baru sekarang ceritanya bisa gue tulis dan bagikan di sini. Oya! di tulisan sebelumnya gue pernah cerita kalau gue gampang gatel kalo tiap kali ketemu ulat bulu, dan sekarang, saat menulis ini, badan gue baru aja gatel-gatel karena “KAGAK TAU DARI KAPAN ITU ULAT BULU TIBA-TIBA NEMPEL DI BAJU!!”. Heuheu... gue emang cowok gampangan!! T_T

Ah udahlah, yg terjadi biarlah terjadi, sekarang mari kita lanjutkan cerita saat gue dan temen gue kemping di Garut beberapa waktu lalu. Selamat membaca...

***
Puncak Guha, Garut

Sekitar jam 4 sore di awal bulan Maret, gue bareng temen gue, Tomi namanya, dari lokasi masing-masing pergi dan menentukan titik bertemu, yg kemudian pergi ke suatu tempat yg emang beberapa hari sebelumnya udah gue datengin bareng beberapa temen yg sengaja jauh-jauh dari Jakarta buat liburan. Berlokasi di Puncak Guha, Garut Selatan, yg kebetulan  lokasinya  enggak terlalu jauh dari rumah, kira-kira hanya memakan waktu 1 jam setengah menggunakan kendaraan motor. Cianjur-Garut bukan jarak yg jauh, kebetulan gue emang tinggal di perbatasan (Cianjur Selatan), kayak Indonesia-Malaysia aja, cuma dalam bentuk daerah.

Rencana kemping ini awalnya bakalan ada 4 orang yg ikut, Gue, Tomi dan dua orang lainnya, tapi karena emang ada beberapa temen yg lagi ada kerjaan yg mungkin belum beres atau dengan kata lain emang gak niat atau dengan kata lain lagi hanyalah omong kosong belaka, jadilah yg pergi kemping hanya kami berdua, gue, Tomi dan beberapa janji palsu dari seorang teman.

Sekitar jam setengah 6 sore kami sampai di lokasi, dengan  membayar karcis 5 ribu rupiah, sudah bisa masuk dan menikmati pemandangan pantai dan senja, tapi sebelum itu, penjaga karcis mungkin curiga dengan tas yg dibawa Tomi begitu besarnya, kemudian dia bertanya,

“a, pada mau kemping?” dengan nada bicara ciri khas orang Sunda.
“i..iya..” jawab Tomi
Dengan senyuman manis penjaga karcis itu berkata lagi, “kalo gitu, satu orang jadi 10 ribu, a”

[Play: BCL – Kecewa (Skinnyfabs version)]

Dengan membayar 10 ribu per-orang, kami beserta motor masing-masing sudah bisa masuk ke area Puncak Guha, dari lokasi parkir ke lokasi hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Dan  sepanjang perjalanan, pemandangannya bagus cooooy~ kayak di new Zealand, iya emang belum pernah ke negara tersebut, tapi pas direkam terus dibagiin ke aplikasi hypstar ada yg komen gitu, “Wah bagus ya kayak di film-film, kayak di New Zealand!”.

“TAMPAR  SAJA AKU.. TAMPAR!!”

Puncak guha ini, adalah tebing di pinggir laut, lokasinya dekat dengan Pantai Rancabuaya, Garut. Garut selatan memang banyak destinasi wisata pantai, dan Puncak Guha ini menurut gue menjadi salah satu yg lumayan banyak dikunjungi. Tempatnya asik, pemandangannya keren, bisa melihat sunset dengan damai dari atas tebing sambil menikmati suara ombak. Tapi please, kalo lagi patah hati jangan sampe dateng ke sini terus tiba-tiba loncat dari tebing, gue enggak mau tempat se-keren ini jadi sarang kuntilanak nantinya.

Bung Tomi nyantai abis~

Dan ketika kami sampai di sana, yg cukup kami sesali adalah cuaca yg sedikit mendung, matahari tenggelam tertutup awan tebal, cuma bisa menikmati sedikit cahaya senja yg kurang sempurna. Halah~

Kami buru-buru mendirikan tenda, karena sudah punya pengalaman memasang tenda sewaktu kemping di Bukit Pamoyanan, Subang, gue jadi enggak terlalu bodoh-bodoh amat buat ikut bantuin Tomi pasang tenda. Setelah beberapa menit, tenda sudah jadi, gue sama tomi langsung membuka beberapa alat masak; kompor, mie, kopi, dan gas 12 kg,

“YA KAGAK LAH!!”

Maaf-maaf, yg gas 12kg tadi cuma guyon.

Disela-sela memasak nasi, kami juga sekalian masak aer (biar mateng) untuk nanti menyeduh kopi disaat-saat santai sambil ngobrol, berdua, sesama lelaki, di malam hari, hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain lagi, ditemani gerimis. Sebuah romantisme yg sangat-sangat menghawatirkan!

Cuaca yg lumayan dingin, gerimis dan ditemani gemuruh ombak pantai selatan, rasanya memang sudah waktunya untuk mengisi perut dengan yg hangat. Nasi yg kami masak sudah matang, karena persiapan seadanya, kami  bahkan sampai lupa membawa senter atau obor olimpiade, otomatis ponsel yg sudah 20% baterainya menjadi tumbal untuk cahaya malam saat itu. Bahkan yg kami makanpun  hanya sebatas pop mie campur nasi (biasalah orang Indonesia), mau masak sayur juga keadaan udah lumayan gelap, jadi kami memutuskan untuk makan seadanya.

Setelah makan, kami mendidihkan air untuk menyeduh kopi, dan... keadaan semakin memburuk saat di mana tidak ada yg membawa cangkir sama sekali,  mau pergi beli aqua gelas ke warung juga keadaannya malah lagi hujan, maka tercetuslah ide yg sangat brilian dari seorang Tomi, bahwa,

“AHA! KITA JADIKAN SAJA BEKAS POP MIE INI SEBAGAI CANGKIR KOPI!!!!” katanya bicara spontan, (kata  “AHA!” cuma tambahan aja biar seru.)

Tidak harus dipikir-pikir panjang, gue langsung membalasnya, “MANTAPPP!!! MANTAP JIWA WAHAI TEMANKUH, INI BARU NAMANYA FILOSOFI KOPI!” (yg aslinya cuma ngomong “MANTAPPP!!!”)

Kami ngobrol-ngobrol sambil ditemani kopi rasa soto, iya kopi rasa soto, bekas pop mie rasa soto kami jadikan sebagai cangkir kopi, ini beneran, mungkin kalian juga harus mencobanya di rumah, rasa ini takkan terlupakan. Mungkin ini juga bisa menginspirasi kalian yg suka jualan kopi di pinggir jalan untuk menawarkan ke pelanggan tentang rasa baru kopi sachet ini, rasanya sungguh luar biasa, saat meminumnya dijamin kalian akan merasakan pengalaman baru. Perasaan saat meminum kopi rasa soto ini seperti langsung membawa kalian melayang ke alam baka, tenggelam di lautan api neraka. Na'udzubillahimindzalik. Luar biasa! Cobalah sesekali~

Sekitar jam setengah sembilan malam disela-sela kami mengobrol sambil meminum kopi ajaib tadi, tiba-tiba datang beberapa motor ke arah dekat kami, kami kira mereka adalah tim begal dari salah satu stasiun televisi, tapi ternyata dugaan  kami salah. Kira-kira ada 6 motor, masing-masing membawa pasangan, entah membawa perempuan atau semuanya laki-laki, tidak telihat karena hari sudah terlalu gelap. Tapi, disela-sela obrolan mereka yg tidak sengaja kami dengar, terdengar satu suara yg cukup menjanjikan saat keadaan dingin di malam hari, “suara perempuan, bang!” kata Tomi sambil menyipitkan matanya yg kemudian tesenyum sinis. Atau lebih jelasnya tersenyum mesum, sangat mesum. Pikirannya jauh pergi melayang memikirkan perempuan berbodi gitar spanyol.

bodi gitar spanyol - sumber

Mereka yg baru datang itu, ternyata mendirikan tenda juga seperti kami, cuaca masih gerimis, dan saat mereka memasang tenda, sepertinya memang baru pertama kali melakukan kemping, tendanya gak jadi-jadi, lama. Jadi teringat sewaktu melakukan kemping pertama kali di Subang.

WKWKWWKWKWKWK...

Maaf reflek tawa.

Kami mengamati mereka yg baru datang tadi saat mendirikan tenda, jarak tenda kami dengan orang-orang tadi kira-kira hanya 10 meter, atau 10 meter kurang 2 senti, ah sabaraha wae lah panjangna mah, sabodo teuing!

“LAGIAN NGAPAIN JUGA NGITUNGIN JARAKNYA BGST!!!”

Maaf keceplosan lagi.

***
Ketika waktu sudah hampir jam 12 malam, Tomi sudah terlebih dahulu masuk ke dalam tenda, mungkin untuk tidur atau sekedar menyendiri sambil menonton video hasil download-nya  tadi siang saat medapat wifi gratisan, sementara gue lebih memilih di luar tenda, yg kebetulan gerimis sudah mulai berhenti, cahaya bulan mulai muncul, gemuruh ombak terasa membuat suasana semakin tenang. Lalu kemudian gue melepas kabel charger powerbank dari ponsel yg lumayan sudah terisi 50%, membuka pola kunci, menekan aplikasi soundcloud, lalu memutar lagu dari Float yg berjudul... Pulang.

“Bawa aku pulang rindu... bersamamu~”, cahaya bulan, gemuruh ombak, ditemani Float, sadiiis! mantap betul malam itu. Ah, andai bersama kamu di sini. Ehe~

Saking menikmati suasan tenang tersebut, tidak terasa sampai terbawa tidur, lalu terbangun di waktu subuh, menjalankan kewajiban, menyalakan  kompor, masak air kembali, membuat kopi (kalian pasti tau) sambil menunggu datangnya  matahari pagi. Pagipun terasa sempurna ketika cuaca saat itu lumayan cerah.



Setelah menikmati kopi, menikmati cahaya sunrise dan berfoto-foto, sekitar jam 7 pagi kami bergegas untuk pulang, merapikan tenda, mengumpulkan sampah bekas makanan dan menyalakan motor untuk sekedar ‘membangunkannya’  agar tidak terlalu kaget saat di-gas diperjalanan pulang nanti.

Tapi, ternyata keberuntungan masih belum berpihak kepada kami, setelah beberapa meter motor melaju, gue memperhatikan ban motornya Tomi dari belakang, dan ternyata... ban motornya kempes tak terkendali.

”Sungguh malang nasibmu kawan!”

Rabu, 28 Maret 2018

Pengalaman Jadi Petani


Selama hampir 3 bulan tinggal di kampung, otomatis apa-apa yg gue lakukan atau kerjakan pasti enggak jauh dari yg namanya cocok tanam. Terlahir di pedesaan yg mayoritas orang-orangnya bekerja sebagai petani, gue sendiri enggak mau kalah sama temen-temen gue yg serba bisa ini-itu, walaupun bekerja di kota,  gue tetep harus bisa yg namanya bertani, tanam sayur, padi, buah-buahan, ngasih tanaman pake pupuk, dan mengerti saat-saat menjelang  panen. Dan itulah daftar yg belum bisa gue lakuin.

Gue malu aja sama orang tua yg pekerjaanya emang dari dulu udah jadi seorang petani, bisa bikin rumah dari hasil bertani, beli kebutuhan sehai-hari dari hasil bertani, beli ini-itu dari hasil bertani, nyekolahin gue sama adik-adik dari hasil bertani. Sampai-sampai yg gue rasakan sekarang, tiap hari orang tua pergi ke sawah yg satu, besoknya pergi sawah yg lain, kadang kalo gue lagi gak ada kerjaan, gue sering ikut bantu-bantu, ya meski gue enggak terlalu ngerti caranya, yg penting gue tanya-tanya dulu, kalo salah ya mungkin cuma ditegur, masih salah lagi, mentok-mentok disuruh balik sambil bawa sayuran sekarung, atau apapun sebisa gue, kadang juga nganterin makanan buat orang lain yg ikut kerja di ladang milik bapak.

cie yg dianterin makanan~

Gue pernah denger cerita dari ibu tentang bapak gue di masa mudanya. Bapak gue itu udah kerja keras dari usia muda, lebih muda lagi dari pada usia gue sekarang ini. Kalau kata ibu saat gue ikut pergi ke sawah bareng beliau, “kak, sawah ini bapak kamu beli pas usianya lebih muda dari kamu!” katanya saat kami istirahat di sebuah gubuk yg bapak gue buat mungkin disaat waktu luangnya. “pas....” gue belum beres ngomong, ibu langsung ngegas motong perkataan gue, “pas belum ketemu mama” Kata ibu gue menjelaskan dengan kata ‘mama’,  gue biasa memanggilnya demikian.

Terkadang juga, saudara-saudara yg tau masa kecilnya bapak gue kayak gimana, saat lagi kumpul, mereka juga kadang menceritakannya ke gue. Sampai sekarang, kayaknya cerita-cerita itu emang beneran, dari tiap hari bapak yg kerja terus, baru pulang rumah sebentar, sejam kemudian udah ilang lagi, tau-tau pas pulang pakaiannya udah pada kotor, dan kadang-kadang pulang bawa sayuran buat dimasak.

Saat gue nyoba-nyoba ikut bertani, pas saat memupuk tanaman pepaya yg cukup luas, jujur aja, bertani itu capek banget, kira-kira baru sampai 2 jam, pinggang gue udah ngerasa encok, mending kerja 8 jam di pabrik atau kantor. Kalau bertani, selain panas terik matahari, kadang ketemu sama ular, atau yg lebih bikin khawatir gue adalah ketemu sama ulat bulu, entah phobia atau apa, pokoknya tiap ngeliat ulat bulu, badan gue pasti langsung gatel-gatel, sensitif banget, beda sama bapak gue yg badannya udah kebal, kalau kata adek gue, “badannya bapak itu, kalau ada ulat bulu nempel, ulatnya langsung mati” kenyataanya emang badan bapak gue udah kebal sama hama-hama tanaman, dan gue kebalikannya, makanya  kalo tiap gue ikut-ikutan ke kebun atau sawah, gue biasa bawa bedak gatel. Ehehe.

Sebenernya kalau jadi petani itu ada enak dan enggak enaknya sih; pas enaknya yaitu kalau kita lagi ada keperluan atau liburan mendadak bisa banget ngatur waktunya, dan bisa lebih banyak kumpul bareng keluarga, juga melihat dari orang-orang sekitar yg berprofesi sebagai petani, mereka itu pada inget waktu ibadah, haha. Kalau enggak enaknya, yaitu yg udah gue sebutin tadi, bakalan sering ketemu ulat bulu, badan kotor, pundak-encok pegel-pegel, panennya kadang lagi gak bagus, dan gajian itu kadang ketemunya cuma pas panen, dan bapak gue, sekali panen belinya motor. Lah gue, sekali gajian, abis buat bayar utang beras sama beli kuota, bayar kosan juga, wahaha, lumayan sedih sih ini.

Naruto pernah panen

Menurut gue, jadi petani itu enak banget, bisa makan hasil dari tanam sendiri, enggak harus beli, enggak harus takut beras pake pemutih, enggak takut beli sayuran di pasar yg udah diinjek-injek orang. Pokoknya hidup di pedesaan itu lumayan enak, udah suasananya adem, sayuran tinggal petik, tiap hari makannya empat sehat lima sempurna enam kurang dana. Ya, memang! Hidup di pedesaan yg kurangnya cuma di keuangan, punya duitnya enggak tentu, lagi uang banyak enak, lagi musim ‘paceklik’ misqin kembali. :D

Kalau ditanya mau jadi petani apa enggak(?), kayaknya gue lebih milih jadi pengusaha aja, ya usaha jual beli sayurannya mungkin, atau kerja kantoran (itu juga kalo masih mau kerja disuruh-suruh) atau juga ikutan jadi bajer-bajer operator seluler biar dibully warganet yg maha benar. Jadi petani itu capek, haha. Kecuali kalo udah takdirnya harus jadi petani, ya jalani aja, yg penting halal.

Dan, dengan berakhirnya tulisan ini, gue mau mewakilkan suara para petani, bahwa...

“NAIKKAN HARGA JUAL HASIL PANEN!!
TURUNKAN HARGA PUPUK!!
JADIKAN KAMI PNS!!
MERDEKAAAA!!”

-------

Sumber gambar:

  1.  http://riausky.com/mobile/detailberita/20388/dilanda-musim-kemarau-produktivitas-pertanian-di-riau-justru-meningkat.html
  2. https://www.merdeka.com/gaya/unik-para-petani-di-desa-ini-ubah-seluruh-lahan-jadi-gambar-raksasa.html


Rabu, 14 Februari 2018

Ponsel Pertama

Sejak pertama kali gue tau ada alat komunikasi selain telepati, yaitu ponsel, saat itu juga gue mulai mencari-cari tahu akan benda-benda serupa tersebut. Gue masih inget, ponsel pertama yg selalu gue pegang, ponsel Nokia milik nenek yg saat itu sering ia pakai untuk menelpon orang-orang penting baginya, tapi malah gue pake terus buat main game Space Impact, Snack dan 1 game populer lainnya.
 
yaps! modelnya yg kayak gini

Setelah beberapa tahun dipakai, ada satu kejadian (menurut yg pernah ia ceritakan) di mana saat nenek yg katanya sedang berjalan di antara pesawahan, tas berisi ponsel yg dibawanya jatuh ke pinggir sawah yg sudah seperti kolam air. Mungkin dari situlah sudah saatnya ponsel itu dipanggil yg maha service center handpone, dan berujung kematian, mati total, gue-pun resmi berduka karena di keluarga gue yg punya ponsel saat itu cuma nenek gue saja.

Setelah beberapa bulan dari kejadian tersebut, nenek gue akhirnya beli ponsel baru, yg saat itu kalau tidak salah baru beberapa bulan beredar, Nokia 1112, yg kemudian  resmi menjadi hak milik nenek, dengan kadang-kadang hak asuh masih di tangan gue (Ini baru namanya cucu kesayangan).

Gue, yg saat itu mungkin sebagai bocah kecil yg menuju remaja, yg lagi seneng-senengnya karena punya mainan baru, pasti ngotak-ngatik segala fitur yg ada di dalamnya, mulai dari dengerin semua ringtone-nya, bacain sms, nelponin orang-orang (walau cuma misscall), main game, bikin composer lagu (ringtone monoponic), sampe-sampe gue ketipu sama iklan layanan sms, “Ketik REG (spasi) ZODIAK kirim ke 14045”, ya, kira-kira hal-hal seperti itu yg lagi rame-rame pada jamannya.

Cancer; kisah cintamu hari ini sedang bagus

Beberapa hari  kemudian pas nenek gue lagi kumpul-kumpul sama tetangganya, dia tiba-tiba ngomong, “ieu naha pulsana se’ep wae nya, kunaon?” kata nenek dalam Bahasa Sunda, yg artinya: “ini kok pulsanya habis terus yah, kenapa?” sambil nunjukin ponsel ke temen sepergaulannya, “unggal poe leungit Rp2000!” katanya. (“tiap hari ilang Rp2000!”)

Pas denger omongan nenek gue tersebut, gue coba cek ponselnya, cek apa yg terjadi, pas buka-buka pesan di kotak masuk ternyata penuh sms dari ramalan Zodiak yg isinya mengenai Keuangan, Percintaan dan tektek-bengek lainnya. Gue mulai deg-degan, karena gak ngerti gimana cara memberhentikan layanan tersebut, sampai akhirnya gue menarik kesimpulan untuk mengakui bahwa gue.. pura-pura enggak tau, alias takut kena omelannya. Gak mau juga lah gue kehilangan uang jajan tambahan dari nenek. Lumayan kan, tiap hari dapet dua ribu rupiah secara cuma-cuma. (dulu duit 2000 bisa kenyang jajan chiki).

dapet duit 2000 rupiah, mantap!

Akibat sering hilangnya pulsa dari ponsel nenek, otomatis gue juga  yg kena imbasnya, di mana tiap kehabisan pulsa, jadi gue yg selalu disuruh beli voucher pulsa yg tiap hendak isi harus menggosoknya menggunakan koin logam terlebih dahulu. Iya, memang dahulu tidak seperti sekarang yg kalau mau apa-apa tinggal buka situs jual-beli online seperti Tokopedia yg juga menjual pulsa murah, melalui genggaman tangan dari ponsel pintarnya masing-masing. Jangankan pulsa, belanja baju, sabun, celana dalam atau apapun yg kita mau bisa dengan mudah didapat, apalagi kalo dapet gratisan  pake  voucher belanja dari tokopedia langsung.

Karena dulu kemajuan teknologi gak secepat sekarang, dampaknya ke gue juga jadi rada gaptek-gaptek gitu, daripada pulsa di ponsel nenek gue habis terus menerus gara-gara ramalan zodiak ngehe, akhirnya gue menyarankan ke nenek untuk mengganti kartu SIM-nya. Dan, ya, nenek gue setuju-setuju aja, karena tiap nanya soal masalah per-ponsel-an, datengnya pasti ke gue lagi.

Sebenarnya, cerita masa kecil gue bersama nenek banyak banget, salah satu yg masih gue ingat ya tentang cerita ‘hilang pulsa’ ini, kalau tidak salah, cerita ini gue alami pas masih sekolah dasar.

***
Setelah memasuki SMP, pas gue udah masuk kelas 2, akhirnya gue punya ponsel sendiri, berbekal hadiah dari orang tua yg baru pulang dari luar kota, resmilah nokia yg sudah ber-OS Symbian mendarat di tangan gue.

Ponsel baru coy!

Hampir 3 tahun gue bersama ponsel tersebut sampai memasuki SMA. Ketika sebentar lagi hampir memasuki kelas 3 SMA, gue menjual ponsel yg tiap hari menemani gue dikala ‘sedih dan senang’ itu, alasannya sih karena emang udah butut, dan alasan lainnya karena gue pengen ganti ponsel baru. Haha.

Kalau dihitung-hitung, sampai dengan ponsel yg sekarang ini, gue udah 7 kali ganti-ganti ponsel; Nokia, Samsung, Sony, sampe ‘hp cina’-pun  pernah, diantaranya ada yg gue jual lagi, ada yg kecopetan pas nonton konser Slank di Jakarta, ada yg udah rusak (sampai sekarang masih ada), ada yg gue kasih ke adek, dan selebihnya seperti biasa, proses jual-beli. LEM-BIRU, lempar beli yg baru.

Tapi, kalau dipikir-pikir lagi, gue ini kayaknya buang-buang duit banget, beli baru, jual, nambah duit lagi buat beli yg baru. Halah!, gue ini udah kemakan jaman, ada yg baru, pengen.  Bener juga seperti apa yg dikatakan Citra ke Gilang di buku yg ditulis oleh Roy Saputra, bahwa gue udah kayak “Ikan-ikan mati’’, yg mudah hanyut terbawa arus. Hahahahahaha. Brengsek memang.


Maka dari apa yg udah terjadi itu, gue udah gak minat lagi yg namanya gonta-ganti ponsel, udah bosen juga sih. Sekarang, mending fokus ke apa yg gue butuhkan, mulai menghilangkan kebiasaan mengutamakan tentang apa yg gue inginkan. Dan untuk nenek gue yg tercinta, sekarang enggak perlu khawatir lagi pulsanya ilang-ilangan, enggak perlu lagi nyuruh nitip beli voucher gosok pake koin ke cucunya yg pernah  ketipu sama ‘ketik REG’ ini, sekarang udah punya ponsel sendiri. Dan kalau mau telpon-telponan, kayaknya udah gak perlu pake pulsa juga, udah waktunya berkomunikasi lewat do’a. Ehehe.

***
Sumber gambar:
http://dagelan.co/hape-nokia-jadul-yang-keren-banget-pada-zamannya-punya-kamu-ada-gak
- giphy.com

Kamis, 01 Februari 2018

WISGR, Main Game Dari Guklabs

Guklabs Studio

Dulu, pas gue kecil, pas jamannya game konsol baru ada di Indonesia, gue sering banget main ke rumah temen yg punya Nintendo atau PlayStation, alasannya sih cuma satu; biar diajak main, walaupun mainnya cuma game Mario Bros, atau lebih membahagiakan lagi main Metal Slug, dan itu juga yg membuat gue perlahan namun pasti meninggalkan permainan yg biasa gue mainkan sehari-hari, yaitu main gundu. :’)

Makin ke sini, industri game makin berkembang, didukung dengan internet yg udah stabil, udah kenceng, ditambah game-game yg banyak sekaligus bisa dimainkan dari smartphone. Nah, seiring dengan  pertumbuhan smartphone di dunia maupun Indonesia saat ini, pasti turut andil besar dalam mendorong perkembangan industri game tanah air, baik itu dari sisi produsen maupun konsumen. Dan contoh kecilnya gue sendiri yg enggak perlu tuh main ke rumah temen yg cuma buat main game Mario sama Tetris, karena bisa main game secara online di rumah, atau kalo bosen, main game Final Fantasy, DotA dan lainnya di warnet bareng temen. Itu beberapa tahun yg lalu ya, saat gue doyan main game yg ternyata dari luar negeri, lho? lalu gimana game-game dari Indonesia sendiri?

Ada kok, sebenarnya di Indonesai juga ada developer game, banyak malah, seperti beberapa waktu yg lalu gue sempet dateng ke acara launching game dari salah satu developer game lokal, yaitu Agate Studio, dari sana gue baru tau kalau developer game dari Indonesia itu emang ada dan banyak, selain yg disebutkan tadi, juga ada beberapa diantaranya yaitu Digital Happines, Tinker Game Alegrium dan tentunya masih banyak lagi.



Nah, baru-baru ini juga, gue baru tau ada satu developer game (startup) baru dari Indonesia namanya Guklabs, yg bentar lagi rilis game atau projek pertamanya yaitu WISGR. WISGR ini berupa game dengan genre action adventure. Contoh game action adventure itu kalo jaman dulu kayak Mortal Kombat kali ya, atau seperti Resident Evil, Assassin Creed dan sejenisnya. Guklabs ini juga ternyata digawangi oleh anak-anak muda yg telah berpengalaman  dan berkompetensi di bidangnya.

Melalui WISGR ini, Guklabs berusaha mengajak para gamers merasakan pengalaman bermain yg baru dan fantasi yg berbeda. Kekuatan game WISGR ini terletak pada story dan gameplay-nya. Story yg benar-benar original yg gak bakalan dijumpai di games sejenis sebelumnya, dan game ini juga dirancang oleh orang-orang yg berpengalaman di bidangnya. Kalo ngaku gamers, wajib dimainkan sih ini game.



Selain itu, Guklabs juga memberikan Twist Story yg sangat menarik sehingga kalo kamu memainkannya bakalan diberikan kejutan-kejutan menarik sepanjang permainan. Buat yg penasaran, kemarin juga Gublaks Studio baru merilis demo game-nya pada bulan Januari 2018 ini, kamu bisa mencobanya langsung dari link ini; www.wisgr.guklabs.com. Buat yg masih penasaran atau kalo mau tau lebih lanjut perkembangan game ini, bisa follow akun sosial media-nya guklabs pada Facebook, Twitter dan Instagram di @guklabs.


Mungkin memang benar pada tahun 2000-an ke-bawah perkembangan game lokal ini agak lambat karena keterbatasan penggunaan game yg saat itu hanya bisa digunakan dengan gameplay sederhana, tapi saat ini dengan pesatnya kemajuan teknologi, banyak game-game online yg bisa didapat di mana saja, warnet salah satunya, itu membuat developer game lokal juga pertumbuhannya juga semakin baik kok, salah satunya guklabs ini. Keren deh para developer game lokal ini.


Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND