Tempat Bercerita

Rabu, 17 Juli 2019

Dari Sebuah Kegagalan


Setelah melamar kerja dan gagal pada interviu kedua, saya langsung menghubungi seorang teman di Kemayoran, Jakarta. Seperti biasanya, jarak selalu membuat saya enggan untuk segera pulang ke tempat kos di Cileungsi, Bogor. Apalagi baru saja menerima kenyataan yang sebenarnya tidak terlalu pahit, rasanya badan ini harus direbahkan sejenak di suatu tempat.

Saya menghubungi Hendar, teman sekampung yang kebetulan sudah tinggal cukup lama di Kemayoran, buat apa lagi tinggal di Kemayoran kalau bukan karena tuntutan untuk tetap bernapas dan hidup hedon, sekaligus menghabiskan waktu dengan cara bekerja. Begitupun dengan saya, selagi memikirkan untuk apa saya hidup lebih lama lagi, saya memutuskan untuk menjalani hidup selayaknya orang-orang kebanyakan; mencari uang, terus mencari uang dan tentu saja dengan cara bekerja, sebab untuk makan saja harus punya uang, bukan? Kecuali kau makan dengan tanah liat atau batu-batuan, kalau seperti itu cukuplah dengan tinggal di hutan, kembali lagi saja seperti manusia purba.

Saya mencoba menghubungi Hendar melalui aplikasi Whatsapp, “Pada masuk kerja?”, pesan tersebut saya kirim kepada Hendar sekitar jam 10 Pagi.

“Libur euy..” balasnya dengan tambahan kata ‘euy’ yang menunjukan bahwa jati dirinya adalah tetap orang Sunda.

“Siapa saja yang libur? Nanti saya main ke situ, sekarang lagi di Cideng.” Balas saya sambil berjalan keluar dari gedung tempat saya interviu kerja.

“Yaudah ke sini buruan. Lagi ngapain sih di Cideng, pacaran?” balasnya sekaligus memberi pertanyaan yang aneh-aneh. Lagian apa asiknya pacaran di jam 10 pagi?

“iya nih, lagi pacaran”

“Mau ditangkap Satpol PP pacaran jam segini?”

“...Si Ajun juga ada di sini.” Lanjutnya sekaligus memberi tahu saya tentang keberadaan teman saya yang sudah  lama tidak pernah bertemu. Ajun adalah teman saya sewaktu SMP. Meski banyak sekali nama Ajun di dunia ini, khususnya di Jawa Barat, saya bisa langsung mengetahui Ajun mana yang Hendar maksud, sebab Ajun sendiri adalah saudara dekat dari Hendar.

Mengingat Ajun, pikiran saya seperti kembali lagi ke masa lalu, dalam kenangan itu, saya mengingat betapa kami ini adalah dua orang yang sangat brengsek atas apa yang pernah kami lakukan pada masanya; saat sekolah, kami pernah meminta sumbangan ke adik-adik kelas padahal uangnya kami  pakai buat jajan, sering bolos bareng, pulang pergi berdua,  sampai-sampai suatu kali, kami pernah mengencani perempuan yang sama. ah... betapa brengseknya kami dulu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, brengseknya kami di masa itu, ternyata masih belum apa-apa daripada kehidupan kami di masa sekarang, di mana malah kami yang dipecundangi oleh kehidupan.

Setengah jam setelah saya selesai interviu, saya sampai di tempat kos Hendar dan Ajun. Sebelumnya saya sempat nyasar, saya pikir Hendar belum pindah dari tempat kos yang sebelumnya pernah saya kunjungi.

Karena merasa ada yang aneh sebab tempat kosnya sepi, saya mencoba bertanya kepada warga sekitar, “Hendarnya ada gak yah, bu?” tanya saya kepada salah satu warga, siapa tau ada yang kenal, pikir saya.

“Oh.. bang Hendar, udah pindah ke mes katanya.” Kata seorang ibu-ibu menjawab tidak yakin, yang diperkirakan usianya kurang lebih 55 tahunan.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mana ada tempat kerjanya memberi mes untuk karyawannya? Sebab yang saya tau dari dulu belum ada sejarahnya tempat kerja tersebut memberi mes, apalagi dengan gajinya yang tidak seberapa, tapi cukup untuk sekadar makan dua kali sehari, atau bisa untuk membeli cash motor Yamaha NMAX tapi dengan syarat kau tidak makan selama setahun.

Setelah mengetahui bahwa Hendar pindah kosan, saya pun langsung mengirim pesan lagi ke Hendar untuk menanyakan tempat kos barunya.

“Iya pindah, sini dekat si Rahmat.” Balas Hendar dengan menyebut salah satu orang yang saya kenal juga, sekaligus menjawab bahwa memang dia tidak pindah ke mes seperti yang dikatakan ibu-ibu yang sempat saya temui.

Karena saya enggak tau di mana lokasi kos barunya, saya pun segera melajukan motor ke dekat Masjid Akbar, tempat yang tidak jauh dari kos hendar sebelumnya, dan meminta untuk dijemput di sana.

Di sekitar masjid akbar, ketika hendak menurunkan standar motor, tiba-tiba dari arah kanan jalan ada orang yang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Orang tersebut langsung saya kenali dari cara berjalannya, dia adalah teman SMP saya, Ajun.

Saat Ajun menghampiri, saya merasakan banyak perubahan dari postur tubuhnya, dulu tingginya masih dibawah saya, sama rata dengan pundak, tapi untuk sekarang malah saya yang lebih pendek darinya. Perubahan lain yang lebih mencolok adalah ketika kami sampai di tempat  kosnya, karena saat itu siang bolong, dan cuaca Jakarta sangat panas, Ajun membuka baju, mungkin karena kegerahan, saat itu saya baru menyadari bahwa badannya dipenuhi dengan tato. Di dadanya tertulis sebuah kata ‘GOD SAVE ME’, di lengannya ada gambar yang entah menggambarkan apa, lalu di belakang punggungnya telukis wajah Bunda Maria.

Pikiran saya seketika muncul satu pertanyaan; ‘Apakah si kampret ini pindah agama?’

Untuk segala yang terlukis pada tubuhnya, saya belum berani bertanya.

Siang itu, di tempat kos Hendar dan Ajun, saya merasakan suhu Jakarta sangat panas sekali, padahal dua kipas sudah berputar, kipas dari arah atas yang tergantung di plafon berputar cukup kencang, dan dari kanan dekat lemari baju juga berputar meski putarannya terlihat cukup lambat. Sepertinya kalau saya lama-lama tinggal di sana bisa-bisa saya mati karena masuk angin. Tapi, seperti halnya cinta—seperti yang banyak orang katakan—mungkin lama-lama akan bisa karena terbiasa. Sama halnya dengan Ajun dan Hendar, mungkin mereka juga sudah biasa hidup dengan dua kipas disaat cuaca Jakarta sedang panas-panasnya. Ah.. untung saja panasnya udara di tempat kos saya, di Cileungsi, tidak separah Jakarta.

Selagi merebahkan badan di kasur lantai, saya banyak berbincang dengan Ajun, tentu sesekali menceritakan bagaimana kami saat sekolah dulu, dan selebihnya kami membahas apa yang terjadi pada hidup kami belakangan ini; tentang pekerjaan, kehidupan, rumah tangganya, dan tentang pilihannya untuk pergi dari rumah karena Ajun dan orang tuanya sempat berselisih.

“Ada yang bilang, cobaan terberat dalam rumah tangga itu ketika baru mempunyai anak satu, Jun. Ada aja...” kata saya berusaha untuk mendengar sekaligus memberi pendapat saat Ajun bercerita. Tentu kata-kata tersebut tidak saya dapat dari sembarang tempat, kata-kata tersebut saya dengar ketika saya dinasihati oleh tetangga kos di Cileungsi. Terkadang ada satu hal yang disampaikan kepada kita padaha hal tersebut sebenarnya untuk disampaikan kepada orang lain. Seperti kata yang saya ucapkan kepada Ajun, setidaknya saya harap itu sedikit menjawab atas keresahannya.

Mungkin saking lelahnya tubuh saya, selagi Ajun bercerita, tiba-tiba saya tertidur lelap, meninggalkan suara-suara sekitar, tentunya juga suara dari cerita hidup yang dialami oleh Ajun.

***

Ketika terbangun karena suara musik dari kamar kos sebelah, saya masih berada di atas kasur lantai berwarna hijau, kipas di plafon masih berputar, dan terlihat Ajun yang sedang menonton film hasil download dari Youtube Go di ponselnya.

“Udah jam 3 aja..” kata saya mencoba membuka percakapan sekaligus memberi tahu Ajun kalau saya masih hidup dan belum mati karena masuk angin.

Ketika tubuh masih dalam proses menyadarkan diri selepas tidur siang, saya mengingat-ingat tentang ajakan dari Ajun untuk jalan-jalan di sore hari. Entah bosan karena libur seharian cuma tiduran di kosan, atau bosan karena pikirannya yang kacau sebab merindukan istri dan anaknya yang belum berusia setahun yang ia tinggalkan di kampung, sebab Ajun harus bekerja untuk menafkahi mereka.

“Katanya mau main, Jun, ayo! Ke mana?” tanya saya mencoba mengingatkan kembali keinginannya yang ia katakan  tadi siang kepada saya.

“Iya, ayo ke Kalibata.” Jawabnya sekaligus mengatakan tujuan yang sebenarnya cukup jauh dari tempat kos di Kemayoran.

“jauh pisan..” kata saya mengeluh.

“ke kakak saya, sekaligus ketemu bapak.” Balasnya serius yang membuat saya tidak bisa menolak cuma karena alasan jarak yang lumayan jauh.

Meski badan saya masih terasa capek, saya mengantar Ajun dengan motor Beat. Berangkat jam 3 sore, saat jalanan Jakarta lumayan macet, tapi suhu udara sudah tidak terlalu panas, kami berdua mengendarai motor dengan bantuan aplikasi GPS di ponsel milik saya yang kacanya retak karena terjatuh beberapa waktu lalu.

Sekitar kurang lebih satu jam, kami sampai di lokasi; putar arah di dekat Rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC) dan memasuki gang-gang kecil untuk sampai di rumah kakaknya Ajun. Saya pun baru tau kalau Ajun punya Keluarga di Jakarta.

“Nah ini rumahnya” kata Ajun sambil menunjuk satu rumah dengan gerobak jus buah di depannya. “kita lurus dulu..” lanjutnya.

“Mau ke mana lagi?” tanya saya.

“Ke bapak..”

“Hah..?”

“Kalo Dadang itu bukan bapak saya, dia bapak tiri saya, bapak saya yang sebenarnya itu Iwan.” Kata Ajun menjelaskan, karena saya memang tahunya ayah Ajun itu Mang Dadang, begitu saya memanggilnya.

Sebelum sampai ke lokasi yang entah di mana, Ajun meminta saya untuk berhenti di depan masjid yang cukup besar. Dia lebih dulu turun, membuka sepatu dan kaos kakinya yang sebenarnya lumayan untuk menyekap seseorang sampai pingsan.

“Kita salat dulu, masih salat, kan?” ajaknya kepada saya, yang seharusnya kata-kata tersebut keluar dari mulut saya, karena saya masih penasaran dengan tato-tato di tubuhnya yang lebih memperlihatkan bahwa dia terlihat seperti sudah pindah agama.

Setelah selesai wudhu, kami berjalan ke dalam masjid, sebelum memasuki pintu, saya melihat ada beberapa bapak-bapak sedang menghitung uang dari kotak amal yang dengan sekali lihat kau sudah bisa membeli mobil kalau mengumpulkan uang dari kotak amal selama satu minggu.

sok! silahkan yang punya wilayah..” kata saya kepada Ajun, sekaligus yang saya maksud adalah ‘silahkan jadi imam’.

Nya maneh atuh, piraku aing..” balasnya dalam bahasa Sunda, yang artinya ‘ya kamu dong, masa saya..’, dan hal tersebut malah bikin kami berdua tertawa.

Selesai salat, sepertinya satu pertanyaan dalam otak saya yang sebelumnya masih saya pikirkan, akhirnya terjawab sudah, kawan lama saya ini tidaklah pindah agama, dan saya tidak perlu juga mengejeknya dengan kata-kata seperti, “Kafir, main kuy!”. Lagian, kalaupun benar pindah,  itu juga enggak perlu diributin.

Karena waktu semakin sore, kami bergegas ke tempat yang Ajun tuju, melewati lagi gang-gang kecil, melewati ibu-ibu yang sedang senam sore, dan pada akhirnya kami sampai di suatu tempat yang tidak saya duga sebelumnya, kami sampai di tempat orang-orang istirahat dari dunia untuk terakhir kalinya; pemakaman.

“Di mana sih, Jun?” tanya saya saat Ajun masih mencari-cari nama Iwan di antara banyaknya batu nisan. Beberapa batu nisan terlihat masih kokoh dengan batu bata yang sudah disemen sebagaimana makam pada umumnya, dan sebagian  batu nisan lain ada yang sekadar terlihat batu saja, bahkan ada juga yang hampir rata dengan tanah. Mungkin sebagian ada yang tertumpuk mayat-mayat baru karena tidak terurusnya pemakaman tersebut.

“gatau lupa, tolong bantuin cari yang namanya Iwan..” jawabnya sekaligus meminta saya untuk membantu mencari batu nisan bernama Iwan, ayahnya.

“Ini Jun, sebelah sini!” saya menemukannya.

Kami duduk di pinggir batu nisan, dengan nama Iwan disertai tahun meninggalnya; 2010, tertulis di sana.

Ajun mengeluarkan buku kecil dari tasnya, buku itu tertulis kata ‘Yassin’ pada sampulnya. Sebelum membaca, ia mengucap kata-kata, pelan tapi masih terdengar jelas di telinga saya. Meminta doa restu, doa untuk keluarga kecilnya, dan selebihnya tidak terdengar jelas. Dan yang saya lakukan, hanya membantu doa dengan surat Al-Ikhlas selagi ia membaca Surat Yassin.

Selesai berziarah, kami sampai di rumah  yang sebelumnya sempat Ajun tunjukan, rumah bang Irfan, yaitu kakaknya Ajun. Ada beberapa kepala keluarga di rumah tersebut, saya juga bertemu dengan neneknya Ajun yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘Abu’. Mereka sangat ramah, dan sepertinya tentang apa yang Ajun katakan sebelumnya kepada saya kemungkinan memang akan terwujud, “Saya pasti bahagia kalau tinggal di sini...” Kata Ajun dalam perjalanan tadi sebelum sampai ke rumah tersebut.

Kami banyak mengobrol, terutama bersama kakaknya, bang Irfan, yang kebetulan jadi dosen di salah satu fakultas ternama di Jakarta. Selain ‘mengintrogasi’ Ajun dan juga saya, bang Irfan juga beberapa kali membagikan kisah hidupnya, dan kisah hidup tiap orang ternyata sama saja pernah mengalami hal sulit.

Waktu berlalu singkat, dalam kesedihan yang tidak terlalu dalam yang saya rasakan karena gagal dalam mencari kerja, di sisi lain ada seseorang yang merasa lebih gagal menjadi seorang ayah. Saat kacaunya pikiran saya, saya bertemu dengan Ajun, disaat itu saya sadar, bahwa hidup pasti akan selalu dipertemukan dengan kegagalan, tapi enggak apa-apa, karena kalau enggak gagal, kita gak bakal dipertemukan dengan kata ‘coba lagi’, bukan ‘berhenti’.

Ajun. Suatu malam di pinggiran kota Jakarta.

Sekitar jam setengah sembilan malam, kami berdua pamitan kepada bang Irfan, Abu dan beberapa orang lain yang kebetulan ada di sana. Motor saya keluarkan dari gerbang rumah, dan ketika saya hendak memakai sepatu, saya baru menyadari bahwa kaos kaki saya sudah tidak lagi berada di tempatnya, dalam sepatu.

Dicari-cari enggak ketemu, dalam tas, box motor, dan tentu disekitar sepatu-sepatu lain, masih tidak ditemukan. Saya sempat kesal, tapi karena cuma kaos kaki buat apa disesali terus menerus. Kaos kaki bisa dibeli lagi, kecuali yang hilang itu seseorang yang kita sayangi sudah tidak lagi berada di dunia ini, mungkin saya juga harus bersedih untuk sementara waktu.

Begitupun dengan Ajun, saya tidak bisa menebak apa yang ia sedang pikirkan dalam kepalanya, antara bersedih atau bahagia  setelah pertemuannya dengan keluarga yang jarang ia temui.

Kaos kaki sudah saya relakan. Kami meninggalkan rumah dengan penghuninya yang ramah di suatu malam. Dalam perjalanan pulang ke kemayoran, pikiran saya kembali berputar dengan beberapa pertanyaan; apakah nanti kalau sudah berkeluarga saya akan bahagia? Pertanyaan tersebut tergambar jelas daripada pertanyaan-pertanyaan lain yang saat itu saya pikirkan, dan satu lagi pertanyaan yang terus berputar-putar dalam kepala selama dalam perjalanan pulang kembali ke kemayoran. Pertanyaan yang saya harap segera dilupakan; kira-kira ada berapa orang yang akan mengingat saya setelah saya meninggal?

Jumat, 12 Juli 2019

Cita-cita Seorang Pembalap Keong


Cita-cita saya sewaktu kecil itu pernah pengen jadi pilot, dokter atau yang dekat dengan harapan yaitu jadi guru, sekiranya itulah jawaban ketika saya masih sekolah dasar, lalu ditanya ‘kalau sudah besar cita-citamu mau jadi apa?’. Kenapa pilihan terakhir saya pengen jadi guru adalah karena yang saya tau, sewaktu saya jadi murid kayaknya kok enak banget gitu melihat seorang guru ngatur-ngatur anak kecil; ngasih PR, suruh ngapalin perkalian, potongin rambut murid yang sudah panjang sampe melewati kuping, dan masih banyak lagi, termasuk menghukum murid yang nakal dengan cara tangannya harus pegang kuping kanan-kiri sementara kaki kanannya diangkat ke arah kaki kiri. Aduh serunya...

‘CITA-CITA MACAM APA INI MALAH KAYAK JADI TUKANG BULLY!

Jujur, selain dari 3 profesi yang saya sebutkan tadi, saya enggak tau lagi harus jadi apa sebab sewaktu sekolah dasar saya sukanya main keong. Ya masa harus jadi tukang balap keong sampe gede? Sungguh kehidupan yang enggak nyambung.

'Minggir-minggir, saya duluan!'

Pada tulisan ini, saya sempat membahas betapa enaknya kalo jadi anak kecil lagi; kita (atau dalam cerita ini sebut saja saya) bisa leluasa mengutarakan perasaan yang saat itu kita rasakan, enggak mikir panjang dulu saat hendak mengambil keputusan. Misalkan; ketika saya pengen mangga, dan kebetulan saya enggak punya pohon mangga, kemudian saya mengajak temen saya buat ikutan nyolong mangga, palingan kalaupun ketahuan cuma kena tegur dan enggak terlalu dijadikan perkara dalam bertetangga.

Tapi bayangkan kalo saya nyolong mangga pada usia saya sekarang ini? Aduh! Pasti mikir-mikir lagi; takut kalo ketahuan, ketahuan nyolong mangga tetangga pasti jadi gosip sampe kampung sebelah. Soalnya saya nyolong mangganya sampe dua karung. Maklum kalo udah gede nyolongnya sekalian harus banyak, jangan setengah-setengah, nanggung bosqu~

Btw, ini kenapa harus nyolong mangga sih?

Mari kembali ke cerita awal. Semakin bertambah usia, cita-cita kita biasanya akan semakin menciut ke arah yang mungkin lebih mudah untuk dicapai (biasanya ini terjadi pada orang yang gampang tidak percaya diri—macam saya) bisa jadi cita-citanya pengen jadi pengusaha, kerja kantoran, jadi penulis buku, punya bisnis ternak lele, jadi pemain sepak bola atau seperti cita-cita saya sewaktu SMA yaitu jadi anak band. Coba bisa gak bayangin gimana saya bentuknya kalo jadi anak band?

Apa muka saya jadi mirip senar gitar? Ah.. tolong percayalah sedikit kalo saya ini bisa main gitar, soalnya dulu pas SMA saya paling rajin belajar main gitar, dan yang ngajarin saya main gitar itu saudara saya yang sudah jadi anak band duluan di sekolahnya. Percayalah, kalo kamu sekolah SMA pada tahun 2000-an pasti melihat anak band itu keren banget asli!

Tapi, setelah lulus sekolah, dan saya tidak melanjutkan pendidikan, rasanya cita-cita saya untuk jadi anak band gak bakalan pernah terwujud, lagian pas SMA saya main musik cuma setengah-setengah. Dan hal inilah yang selalu saya benci dari diri saya sendiri; melakukan segala sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh.

Dan ketika masa sekarang, ketika usia melewati angka 25, ketika saya belum menjadi apa-apa, ketika saya hanya memandang laptop dengan beberapa paragraf di atas, ketika chat whatsapp saya isinya dari grup semua, ketika saya jadi anak kos, ketika saya beberapa kali patah hati, ketika saya jauh dari orang tua, ketika betapa saya merindukan seseorang, dan ketika saya menulis ini; entah kenapa semua cita-cita yang saya sebutkan tadi malah menjadi terasa jauh? Malah yang terbayang saat ini hanya sebuah angan-angan yang seperti terbawa lari oleh keong balap.

Semakin dewasa, semakin bertambah usia, rasanya semakin sedikit keinginan kita--mksudnya saya--hanya keinginan untuk hidup bahagia, dan banyak uang; tapi kerjaan malas-malasan, bangun pagi susah, alarm nyala ditunda 5 menit kemudian. Hmm... Hidup ketika tidak menjadi apa-apa selain sedang mencoba menjadi manusia, malah semakin jadi banyak pertanyaan! Ah, jatidiri; semakin dicari malah semakin menjauh pergi...


*Terakhir untuk tulisan singkat ini. Pesan saja; tulisan ini enggak perlu dicari pesan moralnya, toh masih sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya; sekadar bercerita.

Salam Keong Mania!

Sumber gambar: https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/agatha-maria-puspandari-pudyastuti-1/unik-ternyata-ada-kompetisi-balap-lari-siput-di-inggris-c1c2

Selasa, 07 Mei 2019

Gue Kenapa Sih?

Meski puasa tahun ini gue berada di tempat yang berbeda dengan beberapa tahun sebelumnya, tapi rasanya perbedaan itu tidak terlalu jadi masalah yang besar. Mungkin ada yang belum tau, beberapa tahun sebelumnya gue tinggal di Bekasi, dan untuk tahun ini gue tinggal di Cileungsi, Bogor. Tepatnya Bogor pinggiran yang kalau mau kesana-kemari terasa jauh banget.

Gue memang sudah biasa dengan yang namanya ‘berpindah-pindah tempat’, itu artinya, gue juga harus biasa dengan yang namanya merelakan segala sesuatu yang sudah jadi kebiasaan gue sebelumnya. Seperti harus merelakan berpisah dengan teman-teman tongkrongan, berpisah dengan tempat-tempat favorit dan berpisah dengan kegiatan-kegiatan yang biasa gue lakukan di tempat lama. Tentunya itu bukan sepenuhnya yang gue inginkan, hanya saja mungkin  itu kehidupan yang memang harus gue jalani aja.


Selama beberapa bulan tinggal di Cileungsi, entah  kenapa gue harus mengalami beberapa hal bodoh, atau dengan kata lain; “INI SIAPA YANG LAGI DENDAM SAMA GUE SIH...??”

Ada beberapa peristiwa yang kalau dipikir-pikir mending gue nangis aja deh di pinggir jalan. Dan berikut beberapa peristiwa yang harusnya gue nangis aja di pinggir jalan tersebut;

Pertama; kecelakaan
Pada hari Sabtu dibulan Maret,  sore hari, gue pulang kerja mengendarai motor, kalau tidak salah saat itu suasana sudah hampir maghrib. Dengan kecepatan standar gue melajukan gas motor Beat, dan entah atas perasaan apa, tiba-tiba gue mengikuti mobil yang akan menyalip kendaraan lain. Karna untuk menyalip membutuhkan tarikan tuas gas lebih, maka gue pun melajukan kendaraan lumayan kencang untuk mengikuti mobil yang ada di depan gue. Dan tiba-tiba, tanpa sadar satu meter di depan gue ada lobang jalan yang lumayan dalam, gak ada pilihan lain selain menghantam lobang tersebut, dan pada akhirnya motor gue kehilangan keseimbangan, dan pikiran gue langsung kacau seketika. Gue jatoh, ban motor gue kempes dua-duanya, spion ilang, baju celana robek-robek, sepatu juga robek dan kaki gue... keseleo.

Dari kecelakaan itu, gue baru sadar kalau gue belum punya atau kenal banyak orang di tempat baru ini. Mau nelpon temen, tapi dia lagi kerja, mau nelpon yang lain, tapi siapa? Pada akhirya dengan sekuat tenaga gue membawa motor itu ke bengkel yang jaraknya lumayan untuk orang yang kakinya sedang ‘sekarat’.

Sesampainya di kontrakan, beruntung banget gue punya pemilik kontrakan yang baik hati, bantuin ini-itu sampai memanggil tukang urut. Tukang urut yang bikin gue nangis lagi setelah entah berapa lama gue gak pernah ngeluarin air mata lagi. Gue diurut sampe nangis menjerit-jerit. Gembel emang, gak lagi-lagi deh keseleo kayak gitu.

Akibat kecelakaan itu, kaki gue kadang masih sakit kalau dibawa jalan, mungkin kira-kira ada sebulan lebih untuk sembuh total, dan karenanya beberapa rencana yang sudah gue buat akhirnya tertunda untuk waktu yang tidak ditentukan. Salah satunya bikin konten iseng bareng Windi Saras yang sampai saat ini belum terlaksana. Kebetulan bulan ini sudah memasuki puasa dan kebetulan juga kontennya bisa membatalkan puasa, jadi gatau deh kapan ini bisa terlaksana. wqwqwq.

Kedua; Nasinya Satu Aja
Di tulisan sebelumnya gue pernah bercerita tentang kebiasaan gue nongkrong sendirian atau sekedar jalan-jalan sendirian, dan entahlah kenapa beberapa orang menganggap itu hal yang aneh. Menurut gue itu gak aneh, ya boleh lah jalan-jalan sendirian. Tapi gimana ya... itu udah jadi kebiasaan gue aja gitu; jalan sendirian, merekam suasan sekitar dengan kamera ponsel, mendengarkan musik melalui earphone, dan membeli satu cup Lychee Float. Ah.. entahlah, kenikmatan dunia yang sedang gue rasakan saat ini hanya beberapa hal tadi.

Menurut gue pribadi, tempat asik buat yang suka nongkrong sendirian itu salah satunya seperti kafe-kafe, atau untuk sebagian orang yang dompetnya cuma diisi duit recehan, tempat nongkrongnya cukup di KFC saja, beli 1 Lychee Float, sudah bisa menikmati akses Wifi, atau sekedar membaca buku di dekat jendela kaca sambil melihat kemacetan jalanan.

Tapi terkadang, gue juga sesekali beli makanannya, kok. Karna jarak tempat kerja yang dekat dengan restoran siap saji ini, pada jam istirahat biasanya gue makan di tempat tersebut; sambil mendengarkan musik di earphone dan tidak memperdulikan sekitar, gue memesan satu menu makanan,

“Combo?” Kata mas-mas Kfc
“iya..” Kata gue
“tambah nasi..?”
“iya pake nasi”

Dan entah ini siapa yang salah, tiba-tiba pas datang nasinya ada dua bungkus!

“Mas ini kenapa nasinya dua??”
“Iya kan pake nasi. Combo + nasi 1”
“Bisa di cancel 1 gak?”
“yah enggak bisa, mas...”
“....” Gue
“......” Mas-mas Kfc
“T___T” Gue + Mas-mas Kfc nangis bareng.

Gue gak tau ini konspirasi  atau apa, yang jelas gue merasa kalau mas-mas kfc ini menganggap gue adalah orang yang kalo beli nasi padang dibungkus dan nasinya minta ditambah lagi dua centong.

Dan setelah kejadian tersebut, gue udah jarang lagi nongkrong-nongkrong di kfc. Ini sama aja seperti saat lo percaya sama orang, terus dikecewakan, dan dia minta maaf, terus lo maafin, tapi lo udah males buat percaya lagi. Gitu. Ya.... meski alasan asli gue adalah demi menghemat budget doang sih. Huwa huwa huwa.

Ketiga; tiket bioskop
Sebelum film Avenger: End Game tayang pada 24 April, gue sama salah satu temen bloger yang kebetulan tinggal di Cileungsi, Aprianti Pratiwi, kami janjian buat nonton bareng film tersebut. O ya, sebelumnya gue juga pernah basa-basi di Twitter buat nonton bareng End Game sama Yoga dan Haw di Jakarta, tapi setelah pikir-pikir lagi, entah kenapa gue  jadi males gitu pergi jauh-jauh, percayalah Cileungsi-Jakarta itu.... Sudahlah jaraknya tidak terlalu jauh kok... :)

Dan akhirnya gue memutuskan untuk nonton di bioskop terdekat saja.

Beberapa kali menentukan tanggal buat nonton, dan karna gue kerja, jadi jadwal kerjaan sama jadwal nonton kadang bentrok, beberapa kali menentukan hari, dan ketika hari atau tanggalnya sudah ditentukan, gue mulai memilih-milih tempat duduk.

Saat istirahat jam kerja, sambil makan gue melihat tiket bioskop melalui aplikasi TIK.ID, pas pertama kali buka jadwal, masih banyak banget yang kosong, dan ketika beberapa saat gue buka lagi, tiba-tiba udah mulai penuh. Tanpa sadar gue kaget, “ini kok cepet banget sih penuhnya?”

Dan atas kepanikan itu, dan juga kebetulan jam istirahat sebentar lagi habis, gue buru-buru pesan 2 tiket dan  langsung bayar.

Setelah bayar, gue langsung cek lagi, di sanalah kebodohan itu dimulai,

“Sebentar... ini jadwalnya... KOK SALAH TANGGAL SIH....!!!!”

Tanggal yang seharusnya untuk penayangan minggu depan, gue malah lihat tanggal penayangan awal. YA IYALAH PENUH BANGET!

T___T

Gue pun langsung mengirim skrinsut tiket yang udah gue beli ke Aprianti, dengan tambahan kata-kata; “udah jangan protes!” :’)

Dan balasannya adalah;


Setelah membujuk dengan sepenuh hati buat nemenin nonton, akhirnya Aprianti pun....

Enggak bisa.

Pada akhirnya, karna teman nonton ini gak bisa pada tanggal tersebut, gue pergi sendiri, meliburkan diri dari pekerjaan, membeli beberapa snack dan mengisi tumblr dengan air mineral, gue pun berangkat ke salah satu bioskop di Cileungsi dengan membawa tas isi makanan. Satu kursi untuk diri sendiri, dan kursi di sebelah khusus untuk tempat duduk tas gue yang isinya campuran snack. SEMUA  ITU ADALAH BENTUK PEMBALASAN KEPADA DIRI SENDIRI!!!

Kayaknya baru kali ini deh gue merasakan hal yang bikin gue kesel sama diri sendiri secara berturut-turut. Kalau dipikir-pikir, semua ini antara gue yang bodoh, atau gue ini kenapa sih??

"Fokus bang, fokus..." - (Giphy)

Sabtu, 23 Maret 2019

PENGEN JADI ANAK KECIL YANG HOBINYA MIKIRIN ‘ENAK KALI YA KALO UDAH GEDE’


Sepulang kerja, temen gue, Gita, ikut nebeng pulang, kebetulan rumahnya masih satu arah sama rumah gue. Selagi gue menyetir motor Beat kesayangan, samar-samar dari arah belakang sepertinya Gita ngajak ngomong, tapi kurang jelas karna suaranya terbawa angin sebagian,

“bang.. lodhufyrhcrrc chbkabce  yvvdckdsc....”

“Hah.. apaan?”

“Lo kaedyewccc ywtcv wcyvkk iwetrh..”

“Apaan si?”

“LO KALO BALIK GAWE SUKA MAIN DULU KAGAAAK??”

“Oh.. ngomong dong dari tadi..”

“.......”

“iya kadang-kadang main, kadang langsung pulang kalo udah capek banget.”

“Sendiri gitu?”

“iya.” Balas gue.

“hahahaha.. kok sendiri, dimana serunya?” Pertanyaan dari Gita itu disertai dengan tawaya yang seperti geledek halilintar. Ash~

Dan di sanalah; di atas motor Beat, di jalanan Cibubur, disore hari dengan lalu lintas yang tidak terlalu macet, dengan cuaca yang cukup cerah, ditambah angin yang cukup membuat mata perih karna terkena debu yang masuk; dua orang manusia mulai mendebatkan persoalan yang tidak terlalu penting untuk mereka bahas; main sendiri atau bersama orang lain?

Jujur aja, gue juga manusia biasa yang butuh ‘lawan  main’ atau butuh manusia lain untuk berinteraksi, gue bukan robot, gue bukan mejikom. Tapi, bahkan mejikom aja butuh listrik ‘kan biar masak nasinya jadi mateng? Belum  lagi butuh manusia buat jetrekin tombolnya. Ya Allah ribetnya hidup jadi mejikom.

Menulis hal ini gue jadi merasa Dejavu sama tulisan sebelunya hadeuh~

Mungkin bagi kebanyakan orang ataupun hanya sebagian orang, ngumpul atau sekedar nongkrong bareng temen-temen itu kegiatan yang sangat asik, oh tentu hal ini benar sekali. Tapi, pasti akan ada suatu waktu kita—atau cuma gue aja—yang ngerasain hal ini. Oke lah ini cerita gue. Saat ini gue kadang ngerasa lebih nyaman untuk nongkrong sendiri saja, menikmati lelahnya setelah bekerja delapan jam, menikmati kesendirian setelah delapan jam bertemu dengan orang-orang, dan menikmati kesendirian yang emang lagi sendiri aja alias gak punya pafkorflwdeww404feDNUFNwkdnERROR!!!

Gue seneng kok ketemu orang-orang baru, ketemu temen-temen, ketemu yang cuma berdua, bertiga, atau ketemu rame-rame, jujur ini asik. Tapi kadang, setelah pertemuan-pertemuan itu, gue selalu merasa bukan bagian dari banyak hal, bukan bagian dari dunia ini, atau seperti kata Sabda Armandio dalam bukunya yang tak perlu gue sebut apa judulnya, ia berkata, “Usiaku baru 27 tahun, namun rasanya aku sudah kehilangan banyak hal.”

Oke, dan ini bukan berarti gue gak  suka kalo diajak main ya. gue masih bisa jawab “Hayu” kok. Tenang aja.

***
Usia gue memang belum 27, butuh 2 tahun 3 bulan lagi untuk sampai pada usia itu.

Ah, gue harap ini cuma proses yang terlalu cepat datang. Anggap saja perasaan yang seharusnya datang di usia 27 itu adalah system error di pengaturan hidup gue, hingga jadinya terlalu cepat dan muncul pada usia yang akan mendekati 25.

Walaupun gue gak banyak tanya, gak banyak ngobrol sama orang-orang, setidaknya gue masih bisa banyak baca; baca buku, baca berita, baca timline Twitter, baca-baca dari sumber yang tidak terlalu dipercaya tentang sebab-sebab yang terjadi pada usia 20-an ini. Sampai pada akhirnya jawaban dari semua itu ternyata hanya proses, kok. Seperti mesin, manusia juga butuh di-upgrade, dan kadang saat proses upgrade itu sedikit terjadi error, sampai pada akhirnya manusia itu akan benar-benar menjadi manusia atau malahan jadi bootloop.

ANJIR INI ORANG APA HP XIAOMI DAH...

***
“di mana asiknya main sendiri?”

Asiknya ya lo bisa lebih tau diri lo aja, lebih tau sekitar, lebih tau mau  lo apa, dan mungkin saat lo main sendiri, lo bisa bayangin banyak hal tentang hidup yang cuma sebentar ini. Misalnya ngebayangin gimana lo di masa depan, ngebayangin lo besok bisa menemukan target hidup yang saat ini masih belum jelas, atau ngebayangin kalo dua detik dari sekarang lo tiba-tiba ditelpon gebetan yang sebulan lalu tiba-tiba mutusin kontak gitu aja. Dan lo langsung blokir nomornya. Sungguh mantap!

“Di mana asiknya main sendiri?”

Kalo gue harus banget jawab pertanyaan itu, maka jawaban gue adalah; asiknya main sendiri setelah pulang kerja itu, gue bisa makan kentang goreng di KFC sepuasnya, makan burger, minum leci, duduk di pojokan, kemudian beli satu tiket film yang sedang tayang di bioskop, film yang penontonnya sedikit, kemudian pergi ke lokasi bioskop itu, beli Susu Mbok Darmi dulu, print tiket, tunggu sampe pintu studio dibuka, masuk, dan tak peduli saat itu mau tidur karna filmnya yang membosankan atau fokus menonton karna filmnya yang seru. Tak peduli apapun.

Dan brengseknya... entah kenapa setiap ada pertanyaan yang gak  langsung gue jawab, pasti dalam satu waktu tiba-tiba kepikiran, terus menerus. Pertanyaan itu jadi kayak parasit yang kalo lama-lama didiamkan malahan jadi penyakit yang mematikan; pertanyaan-pertanyaan yang gak bisa gue jawab langsung atau jawabannya hanya sekedar gue jawab bohong malahan jadi kepikiran terus menerus. Parasit yang kalo gak buru-buru diobati malah bikin orang jadi mati, begitupun pertanyaan yang gak gue jawab dengan jujur tersebut malah jadi sebuah keresahan yang bikin gue mikir ‘ini apaan si??’

Yang di mana pada akhirnya gue menumpahkan semuanya itu di sini, sebuah tulisan, tanpa harus bicara, tanpa harus mengakui kepada siapa.

Sebagai pelengkap judul tulisan di atas, gue jadi mikir, usia 20-an itu agak ribet banget ya, beda sama pas kecil, yang dipikirin cuma main-main aja, atau kalo enggak, yang dipikirin cuma gimana enaknya kalo udah gede. Duh... rasanya menyenangkan menjadi anak kecil yang cita-citanya cuma pengen cepet gede tanpa memikirkan gimana ribetnya kalo udah gede. Hahaha. Enak jamanmu toh?

Cangkem!

Jumat, 08 Maret 2019

Di Cileungsi Juga Ada Mekdi

Udah dua bulan gue di Cileungsi...

Sebenernya gue masih kurang percaya aja bisa pindah dari Bekasi kemudian tinggal di Cileungsi. Maksud ‘tinggal’ ini ya sekarang gue kerja di sini, jadi anak kos lagi. Gue aja masih gak tau tujuan hidup gue apaan. Yang pasti sekarang gue berasa lagi buang-buang waktu aja. Buang-buang waktu buat kerjaan yang belum pasti kalau gue bakalan lama dikerjaan ini, kemudian cuma nunggu dapet gaji, beli sepatu baru, makan di mekdi, bayar kosan, beli token listrik, beli beras, bayar parkir, dan melakukan kegiatan-kegiatan yang kurang penting lainnya.

Saat orang lain tau apa tujuan hidupnya, gue malah buang-buang waktu. Udah tau buang-buang waktu tapi masih aja begini. Gue jadi mikir, sebenernya hidup itu harus gimana sih?

Gue kadang iri sama temen-temen gue yang lain. Gue iri sama semangat mereka, dan karena gue gak punya semangat seperti mereka, gue jadi males, gue jadi memilih lari aja, lari dari pikiran-pikiran negatif itu dengan cara menghindar. Aneh ya, ngeliat temen semangat, bukanya semangat juga tapi malah lari. Mau gimana lagi, saat gue gak bisa ngejar, satu-satunya jalan ya gue mending diam, memperhatikan, terus ilang. Mungkin gue ngejarnya nanti aja. ((Nanti aja)) kayaknya salah satu yang bikin orang gak gerak-gerak itu emang cuma dua kata itu ya, NANTI AJA. Taik emang ah~

Sekarang usia gue bentar lagi 25, itu berarti diatas 23. Ya iyalah!!

Kalau menurut Siluman Capung yang sekarang beruba jadi Yogaesce, kalau umur udah diatas 23, itu berarti kita udah mulai tua, lalu mageran dan terjebak rutinitas. Dan kalau dipikir-pikir, gue gak bisa mengelak dari kata-kata tersebut karna keadaan gue sekarang emang lagi kayak gitu. Mageran parah! :3

Itulah gue sekarang. Gue seperti butuh penggerak buat diri gue yang pemalas ini, mungkin ini aneh ya, harusnya yang ‘menggerakan’ diri sendiri itu ya kita sendiri, bukan orang lain. Tapi.... bukannya manusia diciptakan itu emang buat ngebantu manusia lainnya kan? bukannya Hawa juga diciptakan pas Adam lagi mageran sama hidupnya yang sendiri itu ya?

Hmmm... Oke sorry tadi udah kejauhan. Maksud gue tuh, gue butuh temen yang bener-bener temen gitu. Di usia gue yang mendekati 25 ini rasanya sosok temen itu udah jarang banget ada. Giliran ada juga belum tentu jadi temen beneran, kan? Kalo kata Arap, “Gue pikir mereka menganggap gue temen, tapi ternyata enggak. Malah gue yang menganggap mereka temen”. Untuk sekarang, gue setuju sama Arap.

“ASHIAAAAPP!!” – Reza Arap Halilintar.

Udah ah, mending ganti topik aja ya, pusing gue..

Sekarang gue lagi di mekdi, udah ngabisin Chicken Rica-Rica, Cola, Kentang goreng sambil dengerin Recording 15-nya Shannon Lay di Spotify dan baru aja ditinggalin mbak-mbak yang tadi nemenin ngobrol dan lupa gak nanya nama sama nomor Whatsapp-nya. Dan kemudian, jadilah tulisan ini yang langsung ditulis di lokasi, tepat di atas meja dengan satu gelas cola yang sudah habis.

Kentang goreng habis, cola habis, Spotify gratis, gak dapet nomor Whatsapp mbak-mbak yang manis...

Tragis...

Nangis.


Udah ah, pindah topik lagi yuk!

O ya, beberapa waktu yang lalu gue juga bikin project iseng, gue bikin 3 video yang kontennya gue ambil dari beberapa video yang sempet gue rekam mulai dari pas gue SMA, pas jalan-jalan sama temen, dan satu video lagi pas gue lagi seneng-senengnya traveling. Videonya gue bikin dari ponsel, jadi gausah kaget-kaget  banget kalo rada alay. Kalau ada yang gak mau nonton, berikut videonya:

1/3. Story - 2012

Linknya: https://www.youtube.com/watch?v=SeR1Ej3jt9Q

2/3. History - 2016

Linknya: https://www.youtube.com/watch?v=Qk8Fi8cWUKo

3/3. Journey - 2018

Linknya: https://www.youtube.com/watch?v=uYRK4sakn1Y

:3

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND