bercerita

Kamis, 04 Januari 2018

Cerita Dari Kampung

Aku selalu merasa hidup di desa ini bukanlah pilihan terbaik. Begitulah pemikiran Eka setelah pulang dari kota dengan membawa kebencian terhadap orang yg dicintainya.

“Bagaimana Azizah, apakah kau masih mencintaiku?” tanya Eka pada Azizah.

Ada satu peristiwa yg sangat dibenci Eka di desa tempat tinggalnya. Pikirnya, mereka semua seolah-olah pintar dalam menggurui setiap bujang seperti dirinya, “Kapan kau akan menikah?” Selalu pertanyaan seperti itu datang menghantuinya, dari beberapa orang-orang yg ditemui saat berpapasan di jalan. Tak habis pikir, kenapa orang-orang itu sibuk sekali ikut campur hidup orang, padahal kalau dilihat-lihat, hidup mereka setelah menikahpun masih terlihat susah, sampai-sampai untuk membeli micin-pun harus ngutang ke warung yg sudah hampir habis bahan jualannya karena terus merugi dimakan hutang-hutang tetangga.

Memang, banyak sudah orang-orang yg dimakan pernikahan seperti yg para orang tua mereka inginkan, dan setelahnya sampai ia tahu beberapa keluhan, “nyesel aku menikah!”, begitulah teman-teman Eka yg menikah muda, mengeluh setiap kali bertemu dengannya di suatu warung kopi. Sebenarnya Eka sudah bosan menjawab pertanyaan orang-orang tentang kapan hari ia akan menikah, hanya saja ia bahkan belum memikirkan siapa jodohnya selain saat itu ia hanya memikirkan seseorang yg sedang ia ajak bicara dengannya, Aziziah. “Aku belum siap, dan aku tak ingin menyesal hanya karena tuntutan pertanyaan orang-orang sekampung tentang statusku.” Jelas Eka pada Azizah tepat sebelum ia pergi ke kota beberapa bulan lalu, ia masih mengingatnya saat kembali duduk berdua di sebuah kursi kayu dekat tepi pantai, sore hari. Seperti biasa, Azizah adalah seseorang yg bisa diandalakan soal urusan curhat, dia pendengar yg baik. Akan tetapi biasanya, seorang pendengar ialah ia yg selalu memiliki banyak rahasia.

“Apa mereka pikir, kehidupan ini akan selesai dengan sebuah pernikahan?” Eka bertanya pada Azizah. “Ah! Aku tahu kau tetap akan diam setiap kali aku membicarakan ini.” Lanjutnya.

Seperti biasa, Eka selalu sinis pada beberapa orang setelah ia pulang dari kota, seolah-olah ia mendapat beberapa pengetahuan yg melebihi pengetahuan orang-orang di kampungya, ia lebih pintar, hanya saja saat ia ditanya kapan hendak menikah, ia memilih untuk tersenyum dan sedikit bercanda, karna baginya sadar satu hal, mengajak debat satu orang kampung, hanya akan menimbulkan gosip buruk buatnya kelak beberapa hari kemudian. Gosip sekampung.

“Kau tahu Azizah..” Eka menatapnya dalam, “Perempuan sepertimu ini, kalau tak segera pergi ke kota, bisa-bisa besoknya sudah menjadi istri orang?!”.

Pandangan Eka tentang pernikahan selalu saja buruk, bahkan ia sering kali berpikiran untuk tidak pulang kampung, lebih memilih mengurus pekerjaanya di luar kota. Ia pikir, hidup di desa hanya seperti hidup di kandang ayam sayur, yg diurus lalu dijual, dan ia tidak kebagian dagingnya karena sudah ada yg borong. Atau lebih-lebih lagi, seperti anak gadis yg  sibuk belajar di sekolah, pulang-pulang mereka sudah harus dinikahkan dengan duda anak dua, seperti si Marwan, Kepala Desa di kampunya yg sering gonta-ganti istri.

“lalu, bagaiamana dengan pernikahan besok?” tanya Azizah, “sampai kapan kau akan menjadi orang paling egois, Eka!”

“...sudahlah, jangan tanya itu, besok kita nyanyi dangdut saja di pesta nikah! Masing-masing nyumbang satu lagu.” balas Eka sambil melingkarkan tangannya di pinggang Azizah, untuk menghiburnya, juga untuk menghibur dirinya sendiri. Dan bagi Eka, dalam hatinya hanya ingin menarik kata-kata yg pernah ia ucap kepada Azizah beberapa bulan lalu, kepada orang-orang yg sering menanyainya, dan tentu juga kepada seorang pecundang yg tidak lain ialah dirinya sendiri.

Mereka berdua masih memandang senja yg semakin menghilang, menyadari betapa hidup sangatlah  singkat, dua orang yg sama-sama pernah berpikir tentang hidup yg akan mereka jalani berdua setelah menikah. Bahagia, duka bersama, mempunyai anak kembar lalu menyekolahkannya  sampai sarjana. Begitulah pikiran-pikiran setiap orang yg sama-sama menjalin cinta kasih. Selalu ada harapan untuk masa depan yg masih samar-samar. Dua orang yg sama-sama berpikir tentang mencari arti hidup, yg tanpa sadar sudah separuh mereka lewati.

“Azizah, kau tidak pulang? Hari sudah larut...” tanya Eka sambil melepas sandaran Azizah di pundaknya, “...nanti Marwan suamimu mencarimu?!”


____________________________________

-Sumber gambar: http://cariuntuktau.blogspot.co.id/2015/11/sepasang-kekasih-ditemukan-tewas.html
-Cerita ini terinspirasi setelah meembaca buku 'Cerita Buat Para Kekasih' karya Agus Noor

6 komentar:

  1. Endingnya nyesek dan tidak disangka-sangka. :(

    BalasHapus
  2. Duh, ini curcol yang dibikin cerpen apa yah?
    Xixixixi...

    BalasHapus
  3. Marwan, marwan, sudahlah hentikanlah pencarianmu. Apa kau tau uang yang kau pakai itu uang rakyat.

    Untuk azizah, sabar mba meski marwan suamimu tukang grab dia tulus mencintaimu.

    Eka, kamu tau kenapa nama kamu eka? Karna eka adalah satu, kamukah satu-satunya yang mampu melengkapi agamaku.

    Oh.

    BalasHapus
  4. Mas, kapan kawin?

    Wkwkwkwk


    #SakitnyaTuhDisini

    BalasHapus
  5. Apa ini memperoleh inspirasi dari sebuah tayangan televisi yang heboh akan sebutan pela*or? *Mungkin... XD
    Tapi yang main belakang malah si istri ye? Bukan lakiknya...

    BalasHapus

terima kasih telah berkomentar, bagikan tulisan ini juga berkenan. hehe - @dianhendrianto

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND