YANG BIASA AJA!

2665 MDPL

Cerita Pendakian Gunung Papandayan, Garut. 1 - 2 September 2018

Ps: Saya tidak akan menceritakan lebih lengkap tentang Pos, atau hal lain tentang Gunung Papandayan. Biarlah ini menjadi cerita saya sendiri.

Pendakian Pertama. Istimewa

Pada akhir bulan Agustus lalu, saya, Asep, Irhas, Endo, Ova dan Windi janjian untuk bertemu langsung di Papandayan. Saya berangkat terlebih dahulu menggunakan kendaraan bermotor bersama Asep dari Cianjur, tempat saya tinggal, dan menunggu semalaman di pintu masuk atau gerbang Wisata Alam Papandayan. Tadinya, saya dan Asep akan berangkat besok paginya, tapi setelah saya pikir-pikir, daripada nanti yang lain menunggu lama kedatangan saya, lebih baik saya yang menunggu kedatangan teman-teman yang lain. Kebetulan mereka berangkat dari Jakarta.

Saya dan Asep berangkat dari Cianjur sekitar jam 4 sore, dan sempat berhenti sejenak untuk memutuskan melanjutkan perjalanan atau tidak, di sekitar daerah Cikajang, Garut. Karena saat itu sudah jam 6 sore, keadaan lumayan sudah hampir gelap, ditambah kabut yang semakin tebal, dan jarak pandang hanya sekitar 10 meter. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan nanti ketika di perjalanan, kalau keadaanya seperti demikian.

Tapi akhirnya, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan pelan dan hati-hati agar cepat sampai ke lokasi,  walaupun jalan yang kami lalui kanan-kiri adalah jurang, hampir mirip dengan jalanan menuju puncak-Bogor. Berkelok-kelok, dan berkabut.

Sekitar jam 8 malam pada tanggal 31 Agustus 2018, dengan keadaan menggigil karena kedinginan selama diperjalanan, saya dan Asep sampai di pintu masuk wisata alam papandayan, dan berkenalan dengan beberapa orang yang sedang bertugas menunggu pintu masuk di sana, sekaligus untuk menghangatkan badan di tungku api yang kebetulan sedang menyala.

Ketika sedang asik mengobrol dengan beberapa orang petugas di sana, tiba-tiba datang satu pendaki lain, yang memang bukan dari rombongan kami, dan dia juga sama, menunggu teman-temannya yang ternyata dari Jakarta. Tapi saya lupa menanyakan namanya, lagian, saya pikir, pertemuan tersebut hanya sesaat saja. Saya rasa bagi setiap pendaki hal tersebut memang sering terjadi, nama tidaklah terlalu penting selama masih bisa bercengkrama dengan baik.


**
Ketika menjelang pagi, Endo dan kawan-kawan masih belum datang. Perkiraan saya, maksimal jam 7 mereka sudah sampai di lokasi. Saya dan Asep masih sabar menunggu,

Jam 5 datang satu mobil, masih bukan..

Jam 6 datang beberapa mobil, masih bukan..

Jam 7 datang lagi mobil, masih bukan lagi..

Selanjutnya, tiap ada suara gerungan mobil, saya dan Asep langsung melihat ke arah luar dari kaca jendela dari lantai atas, kebetulan saat itu kami istirahat di tempat peristirahatan yang dibangun di atas gerbang dengan berlantaikan keramik, jadilah ketika kami beristirahat, kami bisa langsung melihat-lihat ke bawah, memperhatikan siapa saja yang datang. Sekaligus agar ponsel kami dapat sinyal untuk jaga-jaga jika salah satu dari teman-teman sudah datang dan bisa dengan mudah menghubungi.

Ada sedikit kejadian lucu ketika malamnya saya beristirahat di lantai atas, karena malam itu suhu udara di sekitar gunung Papandayan semakin dingin, disela-sela istirahat, kami bertiga; saya, Asep dan satu teman pendaki lain seperti sedang perang kentut berjamaah, yang satu berhenti, yang satunya lanjut  mengeluarkan suara tapi tidak menimbulkan bau yg terlalu menyengat seperti bau gas belerang. Memang sedikit agak menjijikan, tapi kalau keadaan dingin seperti itu memang akan selalu mejadi ladang kentut paling banyak. Sesekali mungkin kalian bisa mencobanya. Perang kentut berjamaah. He he he.


Saking sudah seringnya mendengar suara mobil, lama-lama menjadi bosan sendiri, dan mem-bodo amat-kan mau itu suara mobil, pesawat atau jet tempur milik Israel sekalipun. Tapi ternyata, saat waktu menunjukan jam 8 pagi, setelah saya turun ke bawah untuk menghangatkan badan kembali di sekitar tungku api yang ada di dalam pos penjagaan, tiba-tiba datang satu mobil pickup yang mengangkut beberapa orang pendaki, dan diantaranya ada orang yang melambaikan tangan ke arah saya. Orang itu adalah Windi (yang sudah saya kenal beberapa tahun lalu disalah satu acara blogger) dan beberapa lagi yang masih belum saya kenal secara langsung, mereka adalah teman-teman Windi; Endo (founder dari takaitu.com), Amalya (yang ternyata biasa dipanggil Ova) dan Irhas (lelaki yang kadang terlihat misterius, dan baru saya ketahui setelah bertanya kepada Windi kenapa Irhas bisa se-misterius itu, nanti saya jelaskan sambil berjalannya cerita).

**
Gunung papandayan memiliki ketinggian 2665 mdpl, berada di desa Cisurupan, kabupaten Garut, Jawa Barat, dan bisa dibilang paling cocok untuk pemula seperti saya dan teman-teman lain yang baru pertama kali mendaki. Diantara kami, ada dua orang yang pernah mendaki gunung Papandayan, yaitu Irhas dan Asep. Jadi total ada 4 pendaki pemula dan 2 orang sebagai guide tour-nya.

Tanggal 1 September 2018. Sebelum memasuki jalur pendakian, kami harus mengeluarkan uang masing-masing 65 ribu per-orang untuk tiket masuk, karna saat itu kami datang di hari libur, jadi harga tiket masuk terbilang mahal. Kalau tidak salah, untuk hari biasa harganya sekitar 60 ribu. Kendaraan motor dibandrol dengan harga 17 ribu, dan mobil 35 ribu. Karena saya membawa motor, saya kira itu sudah beres semuanya, tapi ketika masuk ke area parkir, saya harus mengeluarkan uang lagi sebesar 15 ribu rupiah. Mahal memang kalau ditotalkan semuanya, saya sempat dibikin kesal karena hal tersebut. Belakangan diketahui kenapa harga tiket masuk bisa semahal itu adalah karena wisata alam gunung papandayan saat ini sudah dikelola oleh swasta, jadi harganya meroket naik dari harga sebelum dikelola oleh swasta.

Saya yang sudah gatal ingin segera naik, harus bersabar sejenak karena teman-teman yang baru datang tadi ingin istirahat terlebih dahulu, sekedar untuk sarapan di warung-warung dekat area parkir atau untuk menyiapkan mental sebelum mendaki. Mental memang harus disiapkan, percuma juga kan kalau fisik sudah siap sementara mentalnya masih belum? :)

Jam setengah 9 pagi, kami bergegas untuk melanjutakan perjalanan, saya dan Asep yang berangkat dari Cianjur hanya membawa 1 carrier yang sempat saya pinjam dari salah satu teman yang memang memiliki hobi kemping. Saya kira cukuplah satu carrier untuk membawa satu tenda dan beberapa barang lain yang dibutuhkan. Dan yang lain sama-sama membawa carrier masing-masing, hanya Ova yang membawa tas kecil, cukuplah barang-barangnya dibawakan oleh Endo. Sebuah pemandangan romantis dari dua orang yang berdarah Minang ini. :3

Lain halnya dengan Windi, carrier yang dibawanya lumayan berat, seperti sedang membawa carrier berisikan tumpukan dosa-dosa masyarakat Jakarta saja. Beratnya naudzubillah min dzalik, dan ingin rasanya bilang ‘allahuma lakasumtu wabika amantu'.

Loh?

Ketika kami memutuskan untuk segera mendaki, kira-kira baru berjalan sekitar 200 meter, raut muka Windi yang tadinya semangat tiba-tiba berubah seperti orang yang sedang mengerjakan skripsi yang tak kunjung beres bertahun-tahun. Menyedihkan, bawa carrier segitu saja sudah tak kuat. Lemah kau Win! ha ha ha.

Karena saya dan Asep berangkat dari Cianjur hanya membawa satu carrier, dan carrier yang kami bawa sudah digendong oleh Asep, jadi saya yang menjadi korban atas keganasan carrier milik Windi selanjutnya, iya! yang beratnya naudzubillah itu, akhirnya saya juga yang membawanya sampai atas.

Pelajaran penting dari apa yang sudah terjadi dari cerita di atas adalah; jangan menertawakan kesedihan orang lain, bisa jadi nanti kau kena batunya. Atau dengan kata lain, "Ya allah kenapa jadi saya yang menanggung semua inih ya. heuheu"

**
Udara dingin dan bau belerang menemani pendakian kami berenam. Melewati jalan bebatuan, dan yang paling menyebalkan adalah ketika kami sedang mendaki, tiba-tiba ada beberapa motor dari arah bawah dan kadang motor yang turun dari atas. Saat ini, papandayan seperti bukan lagi gunung yang pantas untuk didaki. Percuma juga disebut sebagai gunung, kalau baru sebentar jalan, tiba-tiba motor lewat membawa carrier pendaki lain. Ini gunung, bukan jalanan Jakarta, bung!

Jujur saja, ini adalah pendakian pertama saya, sebelumnya saya hanya mendaki atau kemping ke tempat-tempat yang tidak terlalu tinggi, hanya bukit-bukit yang pernah saya jadikan sebagai tempat kemping, selebihnya saya lebih sering kemping di pantai. Pendakian pertama saya di gunung ini, diawali dengan sangat menyebalkan dengan adanya motor lewat dan merusak mood saat mendaki.

Berjalan melewati beberapa pos, dan kadang berhenti sejenak untuk sekedar mengatur napas. Akhirnya kami sampai di lokasi sekitar jam 11 pagi (siang?). ternyata di atas sudah tidak terlihat sebagai gunung yang sebenarnya. Di sana sudah ada warung, kamar mandi dan mushola. Benar-benar dimanjakan sekali.

Karena di Pondok Salada sedang ada acara dari komunitas pendaki, akhirnya rencana kami berubah, yang tadinya akan mendirikan tenda di Pondok Salada pindah ke tempat lain, kami mendirikan tenda di sekitar Ghoberhoet. Dan untunglah tempat tersebut bagus untuk menikmati matahari terbit keesokan harinya.

Ghoberhoet Area

Kami mendirikan tenda di bawah pohon-pohon, sekaligus agar bisa memasang hammock berwarna kuning milik saya di antara pohon-pohon tersebut. Saat hammock sudah dipasang, selanjutnya saya, Endo, Asep dan Irhas membuka tenda disekitarnya.

Di saat kami mendirikan tenda, ada satu orang sudah tertidur pulas di dalam hammock, cepat sekali tertidur memang yang satu ini. Disaat kami repot pasang tenda, dia malah enak-enak tertidur dengan nyenyaknya. Siapa lagi kalo bukan nyonya Windi. Pelor memang, nempel langsung molor. Maaf Win, kusebar aibmu di sini. ha ha ha.

Bukan hanya sekali, bahkan setelah tenda sudah jadi, Windi lagi-lagi dengan mudahnya tertidur, entah karena kecapekan atau apa, sepertinya gampang sekali tertidur dengan pulas. Rasanya ingin sekali punya kebiasaan seperti itu, tapi, saya tipe orang yang susah sekali untuk tidur cepat, jadi tidur  cepat di tempat baru sangatlah sulit bagi saya.

O ya, saya jadi kepikiran, mungkin kalau Windi sedang dihipnotis, kira-kira akan seperti ini kejadiannya;

“dalam hitungan ketiga anda akan tertidur..!”

“satu.. du...”

(langsung tertidur)

“lah mba belum tiga nih!”

**
Selanjutnya, setelah tenda sudah dipasang, yang kami lakukan adalah memasak makanan seadanya, masak tahu, cireng, mie dan banyak lagi, seperti masakan di warung bi Eem. Komplit. Terniat memang kalo kemping sama perempuan. Beda lagi kalau laki-laki, biasanya membawa makanan yang simpel saja.

Semakin malam, udara semakin dingin, api unggun yang dinyalakan oleh Asep ternyata apinya susah sekali untuk menyala, malah asapnya memenuhi seluruh bagian tenda, mengganggu Ova dan Windi yang sedang menggoreng cireng di nesting. Lengkap sudah penderitaan mereka. Biar saja, apapun yang terjadi, makanan harus jadi. Seperti pepatah yang saya kutip entah dari film apa, lupa, begini katanya; “gapapa gak bisa masak, yang penting bisa makan” mantap!

Karena tendanya cukup besar, kebetulan kami memasang dua tenda. Tenda untuk laki-laki dan  perempuan, satu tenda berisi 4 laki-laki, yang diisi oleh saya, Asep, Irhas dan Endo. Dan satu tenda lagi di isi oleh Windi dan Ova. Kalian jangan salah paham, tidak terjadi hal yang tidak-tidak pada malam itu, ingatlah pepatah Jawa ini;

“LAMBE DIJOGO JOK!”

Sekitar jam 7 malam, para perempuan kembali melakukan tugasnya, memasak lagi. Disela-sela obrolan, mereka berdua bertingkah seperti seorang ibu kepada anaknya,

“yo.. anak-anak! Makanan udah jadi nih! Makan-makan!”

Saat Windi dan Ova sedang sibuk menggoreng cireng yang bermecin di nesting, kami para lelaki yang disebut sebagai ‘anak-anak’ ingin sekali rasanya protes, “lah, mecin lagi mecin lagi!” tapi ucapan tersebut tidak keluar dari mulut kami karena kami tau salah satu yang menjadi ‘ibu kami’, Ova, ia berdarah Minang, daripada kami dikutuk menjadi batu oleh bundo, maka lebih baik kami makan saja sambil berkata,

“CIRENG BUNDO, LAMAK BANAAAA!” (Cireng Bundo, enak bangeeet!).

Ya, siapapun ketika berkumpul, pastilah akan selalu ada beberapa hal yang random seperti yang terjadi pada kami. he he.

**
Semakin malam, disaat yang lain beristirahat, saya dan Asep tetap diluar untuk berjaga-jaga sambil menyalakan api unggun. Dan untuk membunuh keheningan, saya mengeluarkan ponsel untuk kemudian memutar acak beberapa lagu dari ponsel milik saya.

Entah karena terganggu atau karena tidak bisa tidur, tiba-tiba Windi keluar dari dalam tenda dan mengambil ponsel saya yang kemudian melihat daftar lagu yang sedang diputar, kemudian seketika Windi malah tertawa. Sayapun tau alasan kenapa dia bisa tertawa seperti itu, adalah karena hampir seluruh playlist lagu di ponsel saya rata-rata lagu galau, bahkan ada satu lagu dangdut pun tetap saja berisi lagu galau. Via Vallen – Kuburan mantan. Mungkin yang membuat Windi tertawa lepas bukan hanya karena lagu-lagu di ponsel saya galau semua, Windi tetawa karena ada cerita yang dia tau tentang saya yang bisa ia simpulkan dengan lagu-lagu di ponsel saya. Masih ingat saja, padahal cerita tersebut sudah hampir saya lupakan saking sudah lamanya. haha.

Setelah ditertawakan seperti itu, saya kemudian sadar, dan sesampainya di rumah, saya langsung mengganti playlist lagu-lagu yang ada diponsel dengan lagu-lagu yang tidak lagi bernada galau. Mungkin asik juga kalau lagu-lagu di ponsel saya diisi oleh kumpulan lagu-lagu dari Sabyan Gambus. Biar ketika ada yang meminjam ponsel untuk mendengarkan musik, saya tidak akan ditertawakan lagi, tapi dikomentarin, "Buseet! sekarang ceritanya sudah tobat nih, pak?"


**
Paginya, kami dan orang-orang lain yang juga mendirikan tenda di sana, berkumpul di satu tempat untuk menikmati matahari terbit. Saya mengeluarkan kamera, mengambil beberapa foto dan video. Begitupun dengan Endo, Ova dan Windi. Dan Asep tetap disekitar tenda, mungkin untuk berjaga-jaga agar tidak ada barang yang hilang. Sementara Irhas, dia ikut bersama kami untuk melihat matahari terbit, tapi dia tidak mengambil gambar satupun, dia justru lebih menikmati secara langsung matahari terbit yang kebetulan lumayan keren kalau menurut saya, juga  seperti melihat samudera di atas awan. Irhas ini mengingatkan saya akan salah satu teman bloger, Akbar Yoga, mereka sama-sama lebih menikmati suatu hal yang memang harus dinikmati secara langsung oleh mata, bukan dari lensa kamera.

Sunrise di Papandayan

Setelah puas melihat sunrise, kami kembali ke tenda, membuat minuman hangat dan memasak sisa logistik yang masih bisa dikonsumsi.

Lalu, sekitar jam 8 pagi di tanggal 2 Septembr 2018, kami turun melalui jalur Pondok Salada menuju Hutan Mati, dan kembali mengambil beberapa gambar di sana. Endo, Ova, Asep dan Windi asik membuat tulisan di kertas, mungkin seperti tulisan “Met pagi ea kamu yang di cana”, atau “buat kamu, kapan ke papandayan bareng?” atau "hey jancok! kapan kau ke sini sama kita-kita?!", ya kira-kira seperti itu. Sementara saya dan Irhas tidak melakukan hal tersebut, saya hanya foto-foto sekitar saja. Dan Irhas tetap dengan pendiriannya untuk tetap menikmati alam dengan kamera yang diberikan Tuhan padanya, yaitu mata, dan mungkin disimpan dalam memori, yaitu kenangan dalam hatinya. Memang, memori pemberian Tuhan adalah tempat di mana kita bisa menyimpan sesuatu dengan tanpa harus khawatir akan rusak atau sengaja terhapus.

di Hutan Mati

Saat saya sudah merasa bosan berlama-lama di Hutan Mati, saya berusaha mengajak teman-teman yang lain untuk segera turun, tapi kemudian Irhas sempat berkata, “Gapapa, biarin aja, dulu awal-awal ke sini gue juga gitu”. Ya, akhirnya saya membiarkan mereka melakukan sesukanya, saya berusaha untuk tidak egois.

Setelah selesai, kami melanjutkan untuk turun gunung. Ternyata, turun lebih bikin capek daripada saat mendaki. Ini menjadi sebuah pelajaran penting kalau suatu saat saya mendaki ke tempat lain, bahwa daripada jalan turun, mending nge-glundung saja. Insha Allah akan langsung  sampai ke bawah, alam kubur.

Sekitar jam 11 pagi, kami sudah sampai kembali di pos 1, beristirahat, membeli minuman hangat dan bersih-bersih di kamar mandi yang sudah disediakan di sana. Setelahnya, kami pulang kembali ke rumah masing-masing. Saya dan Asep ijin pulang terlebih dahulu dengan menggunakan motor, karena kalau terlalu sore takutnya di jalan bertemu dengan kabut lagi. Sementara yang lain menunggu rombongan pendaki lain untuk mengisi mobil pickup untuk sampai ke terminal guntur. Kami berpisah di sana.

Satu kesan terbaik bagi saya ketika mendaki adalah, saya benar-benar seperti melupakan segala macam masalah yang sedang dihadapi, dan lebih fokus untuk menikmati keindahan alam, menikmati kebersamaan, dan ketika di gunung, saya seperti bisa melihat sisi lain dari teman-teman saya yang sebelumnya tidak saya ketahui.

Atau seperti yang dikatakan Fiersa Besari di videonya yang berjudul "Ide berkeliaran", ia berkata bahwa: "Gunung tidak membuat kita melupakan masalah. Gunung hanya membuat kita merasa bahwa segala masalah tidak lagi berarti." benar memang, saya pun merasakan hal demikian saat berada di gunung, dan saya pikir juga, saat di gunung, kau juga seakan bisa melihat dirimu yang sebenarnya.

**
O ya, diawal cerita saya sempat berkata tentang sisi misterius Irhas. daripada saya harus menjelaskan, mending silahkan kalian tebak saja seperti apa Irhas sebenarnya, ya, apakah:


  1. Irhas phobia kamera, kalau difoto badannya jadi gatal-gatal
  2. Irhas tidak mudah bergaul
  3. Irhas sudah punya istri, dan takut istrinya cemburu kalau melihat dia foto bersama perempuan lain
  4. Sebenarnya tidak ada orang  yang bernama Irhas diperjalanan kami
  5. Pendapatmu?
-

***
Dan berikut sedikit perjalanan kami yang sempat terekam dalam 2665 mdpl - Papandayan.



“Cerita sebenar-benarnya biarlah kami simpan sendiri, untuk itu silahkan kau simpulkan sendiri. Kau berhak menyangka, dan kami berhak menyimpan rahasia.”


Salam,
Dian Hendrianto

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND