Tempat Bercerita

Minggu, 26 Januari 2020

Tentang Bagaimana Cara Bercerita


Beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun belakangan, ada hal yang saya baru sadari, bahwa saya sudah tidak lagi bisa bercerita kepada orang-orang secara langsung, bahkan orang terdekat sekalipun. Mungkin saya tau apa penyebabnya, tapi tidak bisa menjelaskannya.

Pada suatu kesempatan, saya pernah berterus terang, bercerita atau meluapkan emosi kepada seseorang yang saya kenal meski sama sekali belum pernah bertemu. Ya, seperti seorang penulis kepada pembaca, saya bercerita panjang lebar padanya meski tidak semuanya saya utarakan. Terasa aneh, tapi melegakan, seperti sedang berada di bawah air terjun di siang bolong.

"Emang gak ada orang yang kamu percaya, Di?" Katanya bertanya disela-sela saya bercerita dengan memanggil nama saya dengan sebutan Di, diambil dari nama awalan saya Di-Dian, maklum belum terlalu saling kenal, jadi belum tau kalau saya tidak biasa dipanggil dengan sepotong nama saja.

"Seringnya jadi tempat orang lain cerita, giliran diri sendiri mau cerita bingung mau cerita ke siapa." Kata saya membalas. Mungkin alasan saya tidak ingin bercerita kepada orang lain adalah karna takut mendapat tanggapan yang tidak saya inginkan, atau juga karena saya benar-benar sedang tidak percaya diri, mungkin.

Dan mungkin benar kalau saya merasa tidak memiliki seseorang yang saya percaya untuk bercerita. Bercerita secara langsung kepada seseorang bagi saya ibarat menonton film yang diangkat dari sebual novel tanpa membaca novelnya. Saya filmnya dan kau penontonnya; Kau belum tentu tau maksud dari film yang kau tonton, tapi kalau membaca sebuah novel, setidaknya beberapa cerita atau adegan bisa dirasakan olehmu yang kemudian kau pahami maksudnya. Begitupun dengan bercerita, daripada menjadi seperti film, saya lebih baik menjadi sebuah buku bacaan saja.

Dari tulisan ini, bukan maksud saya meremehkan kalian yang suka curhat sambil nangis-nangis darah. Tidak! Tentu tidak. Saya sadar, bercerita adalah hal yang baik, bercerita bisa juga bikin lega atau mendapat masukan dari teman curhat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Saya ingin, bercerita sambil tertawa, merenung atau bahkan sampai saya menangis tersedu-sedu mungkin. Tapi, entahlah apa yang menahan saya untuk tidak bercerita kepada seseorang secara langsung, saya ingin, tapi tidak bisa. Sampai-sampai kepala ini serasa meledak karena memikirkan banyak hal. Sejak kapan saya tidak percaya kepada orang lain?

Saya terkadang iri dengan teman-teman saya sendiri yang begitu leluasa bercerita masalah pribadinya. Misal seperti salah satu teman yang tau kalau saya suka menulis cerita, ia malah ingin kisah hidupnya yang pahit saya tuliskan dengan sedemikian rupa, tapi alih-alih mendengar ceritanya yang panjang, saya malah memilih untuk tidak merespon ceritanya. Bukan tidak mau mendengar, atau bukan juga karena kisahnya yang terlalu 'pasaran', cuma rasanya kepala saya terlalu riuh dengan banyaknya cerita-cerita dari diri sendiri yang masih tertahan sampai sekarang; menunggu kapan bisa dikeluarkan. Dikendalikan.


Apakah saya harus menuliskan cerita saya seperti biasa lalu membagikannya di blog? Atau bahkan menuliskannya secara fiksi lalu bersembunyi dibalik kisah-kisah nan-halu, lalu dibaca oleh orang-orang agar kemudian bertanya-tanya apakah kisah tersebut benar-benar terjadi atau sekadar fiksi belaka? Ah.. rasanya sungguh sampah serapah memikirkan hal tersebut.

Untuk sekarang, sepertinya lebih baik saya bercerita seperti ini, menuliskannya sedikit demi sedikit sambil mencari-cari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mencari-cari jawaban ternyata sungguh menegangkan. Bagaimana tidak, ketika saya ingin bercerita tapi bingung mau bercerita tentang apa. Pada akhirnya, di dalam kepala saya selalu muncul pertanyaan yang berulang; saya kenapa?

Sebuah pertanyaan gembel, yang jika boleh diambil kesimpulan, mungkin sebenarnya saya ini hanya sedang pura-pura sedih, tapi terlalu menghayati. Atau juga hanya sedang menikmati luka dan berpura-pura tidak suka.

Sumber gambar: pixabay

Rabu, 01 Januari 2020

Cerita Awal Tahun


/Cerita Random/

Pada malam terakhir di tahun 2019 tiba-tiba kepala saya pusing, hidung mampet dan tenggorokan kena radang, entahlah rasanya kondisi tubuh saya dipenutup tahun malah tidak baik. Dan akhirnya saya malah tepar sampai awal tahun 2020.

Saat menulis ini, harusnya saya berada di tempat kerja. Ya, seharusnya saya mengambil jatah lembur karna pekerjaan saya yang berhubungan dengan  dunia retail. Tapi kemudian saya pikir lagi dua kali, daripada saya pingsan di tempat kerja, saya memutuskan untuk rebahan santuy sambil mendengarkan video klip Tatiana Manaois di televisi melalui flashdisk. Sebuah video klip yang lebih baik tidak saya tonton karna ogah melihat muka Tatiana yang mirip seseorang yang pernah mampir ke dalam kehidupan saya. Anjing memang, ternyata begini rasanya ketika benci dan rindu dicampuradukan.

Awal tahun  yang bodoh. Tapi, apa yang salah dengan menjadi bodoh?


Malam pergantian tahun
Pada malam pergantian tahun kemarin, saya dan teman-teman tadinya mau  bakar-bakar ayam di depan kontrakan, tapi karna hujan masih belum reda, jadinya kami malah bikin ayam goreng, beruntunglah ada Om Doni yang bisa masak karna statusnya yang rangkap jabatan sebagai ayah sekaligus ibu dari dua orang anak. Ya, dia jago masak. Dan ini yang paling penting; saya masak nasi di mejikom.

Rasanya seru aja gitu, di jaman yang hampir edan ini saya masih bisa ngumpulin temen-temen, padahal rata-rata mereka udah pada punya istri. Coba bayangin, kalo kamu punya istri terus malam tahun baruan malah minggat dari rumah terus foya-foya di luar rumah. Gak tau deh besoknya keadaan di rumah gimana~



Sampai pada paragraf ini, di luar masih hujan, katanya ada beberapa temen saya yang rumahnya kebanjiran, tapi untungnya kontrakan  saya lokasinya ada di tempat yang cukup tinggi, gak ada yang namanya  banjir-banjiran. Ya semoga hujan awal tahun ini tidak menjadikan awal tahun sebagai pertanda buruk untuk setahun kedepan.

Hmmm.. cerita apa lagi ya kira-kira.

Writer's Block atau...
Beberapa bulan terakhir, saya seperti sedang merasakan yang namanya writer’s block, beberapa ide tulisan yang saya temukan tidak pernah benar-benar jadi tulisan, mentok-mentok hanya dua paragraf yang jadi, sisanya cuma tulisan-tulisan sampah yang pada akhirnya dihapus. Tulis, hapus, tulis, hapus lagi. Terus menerus. Semoga tahun ini saya bisa memulai hal baru atau setidaknya dijauhkan dari yang namanya writer’s block.

Atau jangan-jangan keadaan ini bukan writer’s block, tapi cuma malas aja? Sepertinya sih...


Ketika saya sedang dalam keadaan writer's block... maksudnya ketika saya sedang dalam keadaan malas, saya juga seperti sedang dalam keadaan entahlah apa namanya, dan dalam keadaan tersebut, saya sempat menuliskannya pada Desember tahun 2019 kemarin;

/Desember, 2019/
Malam ini, lagu Someone You Loved yang dinyanyikan oleh Lewis Capaldi diputar dari ponsel saya. Entahlah, saya kurang mengerti arti dari lirik-liriknya yang menggunakan Bahasa Inggris, tentunya hal ini bukan salah Lewis Capaldi karna menyanyikannya dengan nada tinggi sambil berteriak histeris seperti seseorang yang sedang naik wahana Hysteria di Dufan, melainkan masalahnya ada di saya yang memang kurang jago dan kurang mengerti Bahasa Inggris dibandingkan dengan anak SD yang sekolah  di Penabur.

Saya mendengarkan lagu tersebut sambil merebahkan diri di lantai dengan beralaskan kasur lantai dan bantal bermotif stroberi yang menyangga leher saya. Lagu diputar, saya tidak peduli. Pikiran saya melayang entah memikirkan apa, seperti kotak kardus kosong, rasanya hanya sedang diisi oleh kehampaan. Lalu seketika, kardus kosong tersebut seperti tiba-tiba terisi penuh dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan jebakan, tidak masuk akal dan konyol.

Brengseknya, momen seperti ini selalu muncul tiba-tiba.


Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND