Tempat Bercerita

Minggu, 23 Februari 2020

Kimetsu No Yaiba: Nasib Sial Ukogi

Ini adalah cerita dari anime Kimetsu No Yaiba yang saya coba tulis ulang.  Agar sedikit nyambung ketika berjalannya cerita, alangkah lebih baik menonton terlebih dahulu animenya. Tapi kalau malas, ya tidak apa-apa. Selamat membaca~

KIMETSU NO YAIBA

Nasib Sial Ukogi


Dari sekian banyaknya gagak pembawa pesan, aku adalah satu-satunya yang bukan bagian dari mereka. Banyak orang menyebutku  burung pipit, ada juga yang menyebutku burung gereja, aneh sekali, padahal sebenarnya di keluargaku sama sekali tidak ada yang beragama Kristen, aku juga cukup rajin ke mesjid walaupun tidak sering, bukan untuk salat, cuma cari angin saja. Lagian kayaknya enggak perlu mahluk sepertiku  ini beragama.

Sebagai satu-satunya yang paling berbeda diantara yang lain, maksudnya diantara para burung gagak, aku sering kali dikucilkan dari komunitas PBPPKPPI (Persatuan Burung Pembawa Pesan Kepada Para Pemburu Iblis). Bahkan ketika sedang makan di kantin Bi Naoko-pun aku tidak kebagian bangku, atau bahkan sampai tidak kebagian Nasi Ukogi—makanan favoritku, atau juga sempat  tidak kebagian es teh manis, sampai-sampai aku keselek karena seret ketika habis makan kacang.

U-K-O-G-I

Ketidakpedulian para burung gagak, diremehkan, dikucilkan dan diacuhkan adalah alasan kenapa aku memilih si pemburu iblis berambut oren yang penakut untuk menjadi partner bekerja. Ketika selama ujian akhir di Gunung Fujikasime berlangsung, aku memperhatikan hampir seluruh para peserta, banyak yang terbunuh sia-sia sebelum menjadi pemburu iblis oni, dan ada beberapa yang sangat kuat sampai-sampai hampir membunuh seluruh Oni yang ada di gunung fujikasime. Tapi, ada salah satu peserta ujian yang sebelumnya aku pikir akan langsung dimakan oleh Oni, dia selalu berkata “aku akan mati! Aku akan mati! Aku belum nikah! aku akan mati! AAAARRRRKKK!” dengan air mata yang mengalir deras dari kedua bola matanya, tepat sebelum dia pingsan.

Sebelum aku meninggalkannya karena aku yakin kalau dia akan mati, tiba-tiba dengan sangat cepat aku melihat cahaya seperti petir menebas leher iblis oni yang tadi hampir memakan orang tersebut. Melihat peristiwa tersebut, aku jadi yakin kalau dia adalah satu-satunya orang yang harus menjadi partnerku; cukup terlihat bodoh, sedikit goblok, tidak menjanjikan, diremehkan dan kurang lebih hampir sama sepertiku, dia adalah Zenitsu Agatsuma, si pengguna Pernapasan Petir. Kali ini aku akan  membuktikan kepada para gagak, kalau aku bisa, dan kami bisa menjadi pemburu iblis yang sangat kuat.

Semakin berjalannya waktu, aku pikir aku akan  mendapat tempat di antara para gagak; tidak diremehkan lagi, melainkan disanjung dan diberi tepuk tangan. Tapi ternyata yang ada aku malah dibuat depresi oleh kelakuan si Zenitsu yang terus minta menikah dengan para perempuan yang dia temui. Seharusnya juga aku diberi kebebasan seperti para gagak yang bisa bebas pulang pergi, tapi aku malah diberi tugas untuk terus bersama Zenitsu. Nasib sial macam apa ini?

Aku dan Zenitsu di sebuah studio foto

Selama hampir sebulan bersama Zenitsu, aku cuma diberi makan kacang olehnya, padahal makanan kesukaanku adalah Nasi Ukogi, yang di mana nama Ukogi juga adalah namaku. Tapi si Zenitsu malah memanggilku Chuntaro, dan aku malah terus dikasih makan kacang. “KENAPA DIA TIDAK MENGERTI PERKATAANKU? AKU KAN  TRAUMA MAKAN KACANG!! AAAARKKKKK!!”

Di sebuah  desa di tenggara, aku bersama Zenitsu baru saja selesai membasmi Iblis Oni yang meresahkan  warga, tapi karna ada wanita baik yang menyapa Zenitsu, tiba-tiba dia bertingkah aneh seperti orang kesurupan, “Tolonglah! Menikahlah denganku! Menikahlah denganku!” teriaknya sambil memaksa wanita tersebut untuk menikah dengannya. Aku stres banget, kenapa aku harus bernasih sial seperti ini, pasti para gagak menertawakanku lagi.

Untunglah, saat itu datang seseorang berbaju hijau kotak-kotak yang membawa kotak kayu aneh di punggungnya datang membantuku. Aku ingat dia, dia adalah orang yang lolos ujuan akhir di Gunung Fujikasime, dia ada disebelah Zenitsu, kalau tidak salah namanya adalah Tanjiro.

Aku berusaha meminta tolong padanya, “fyuh fyuh.. fyuh fyuh!!” kataku berbicara dengan gagap.

Dengan tatapan yang bijak, ternyata dia mengerti perkataanku, dia langsung menghampiri Zenitsu yang masih memaksa wanita yang berpakaian seperti Geisha untuk menikahinya, berusaha melepaskan genggaman erat tangan Zenitsu yang mencengkram pakaian wanita tersebut sampai-sampai hampir lepas. Untunglah Tanjiro berhasil melepaskannya  dan membebaskan penderitaan wanita tersebut. Si Zenitsu goblok banget memang, malu sekali aku memilihnya untuk menjadi partnerku. Penderitaan apa lagi ini wahai dewa burung pipit?

Perjalanku bersama Zenitsu tidak sampai di situ saja, ketika peristiwa ‘minta nikah’ itu selesai, tiba-tiba ada burung gagak yang bertugas memberi pesan kepada Tanjiro datang, katanya kami harus segera berlari ke salah satu rumah yang tidak jauh dari kaki gunung karena ada beberapa Iblis Oni yang  sedang mengejar anak-anak.

Sesampainya di lokasi, kami menemukan dua anak kecil yang sedang ketakutan, aku menyarankan Tanjiro untuk menghiburnya dengan keberadaanku. Kali ini aku serahkan semuanya kepada Tanjiro. Tapi ternyata dia malah memperlakukanku seperti badut. Nasib... nasib...

Dari dalam rumah yang tidak jauh dari lokasi anak-anak tadi, aku mendengar suara gendang yang bertalu-talu. “Apakah di dalam sedang ada dangdutan?” pikirku dalam hati, tapi ketika aku melihat raut wajah Zenitsu yang panik dan berkeringat, aku yakin itu bukan suara gendang  dangdut, pasti ada yang tidak beres di dalam rumah tersebut.

"Tung tak.. tung tak.." - Iblis oni

Tanjiro dan Zenitsu masuk ke dalam rumah, sementara aku diam di luar, hinggap di pohon memperhatikan rumah yang bernuansa seram itu sambil harap-harap cemas. Meskipun sebal dengan sikap Zenitsu, tapi aku tetap khawatir akan keselamatannya.

“Tung! Tung!” terdengar lagi suara gendang dari dalam rumah.

Sampai setengah jam kemudian aku melihat Zenitsu keluar bersama anak lelaki, dan kemudian muncul mahluk aneh berkepala babi tiba-tiba menyerang kotak kayu milik Tanjiro yang kurasakan keberadaan Oni di dalamnya. “Apakah Tanjiro membawa iblis?” pikirku dalam hati.


Saat mahluk aneh berkepala babi itu hampir menebas kotak kayu milik Tanjiro—kemungkinan dia juga mencium aroma iblis dari dalam kotak kayu itu—tiba-tiba Zenitsu berlari dari dalam rumah dan melindungi kotak kayu milik Tanjiro dengan cara memeluknya, dan ia berhasil, mahluk aneh itu tidak jadi menebas, tapi malah menendang Zenitsu terus menerus. Dan aku cuma nangis di pojokan dahan ranting, tidak tega menyaksikan Zenitsu yang ikhlas dan ridho ditendang-tendang oleh mahluk berkepala babi sampai babak belur.

“Tanjiro.. aku... melindunginya... ini karena.. benda ini.. lebih berharga dari nyawamu.. bukan?" Kata Zenitsu yang hampir tidak bisa berkata apa-apa lagi sehabis dipukuli oleh mahluk aneh berkepala babi.

Sementara Tanjiro melihat peristiwa itu dengan tatapan kaget, dan langsung memukul perut mahluk berkepala babi itu sampai terdengar suara tulang-tulang patah.

Aku baru tau kalau Tanjiro memiliki pukulan yang keras, belum lagi saat yang paling memukau adalah ketika pertarungan terakhir Tanjiro dan si mahluk berkepala babi itu terjadi, yaitu ketika kepala mereka saling beradu, jidat tanjiro kuat sekali, sementara si kepala babi dari jidatnya keluar darah, sekaligus memecahkan misteri kalau ternyata kepala babi itu hanyalah topeng yang sengaja dipakai untuk menutupi mukanya yang... sangat cantik. Pria yang... sangat... cantik.

Sepertinya nasibku memang harus bertemu dengan orang-orang aneh; setelah memiliki partner yang bikin malu terus, sekarang malah bertemu dengan pria berkepala babi yang ternyata wajahnya sangat cantik, dan tidak pakai baju pula.

Inosuke

Muka ditutup, dada diumbar; Inosuke. 

Astagfirulloh... sepertinya dari peristiwa ini aku adalah hewan pertama yang punya agama karena bakalan sering nyebut.

Perkenalkanlah, namaku Ukogi, si burung gereja yang sudah jadi mualaf. Aku dan Zenitsu siap membasmi Iblis Oni dengan cara diruqyah~

***
Baca juga cerita lain Kimetsu No Yaiba dari berbagai sudut pandang:

Haw: Parodi Kimetsu No Yaiba
Yoga: Feromon
Lulu: Menjalai Hidup sebagai Iblis

Senin, 17 Februari 2020

Seharian Naik Wahana


Saya perkenalkan dulu orang-orang ini, biar ceritanya nyambung.

[Bukan] foto di kondangan

Dari kiri ke kanan ada Bang Jepri yang jauh-jauh dari Banten, bang  Rofi yang bekerja sebagai Wedding Organizer, Firska yang memiliki kelemahan yaitu paling gak bisa turun dari kuda, Ova yang lagi rajin-rajinnya traveling, kemudian Tiara satu-satunya Team Leader disegala bidang, lalu ada Iko Uwais aktor papan atas Indonesia yang sudah go internasional melebihi Agnezmo, dan paling kanan ada bang Agus sang imam besar yang selalu menuntun kami ke jalan yang benar. Dan ada satu orang yang seharusnya ikut tapi gak bisa hadir karena harus mengisi acara di Surabaya, yaitu Endo Putra. Denger-denger setelahnya dia malah traveling sendirian ke Nusa Tenggara Barat.

"Cih, ombaknya kecil amat!"

Dari 7 orang selain saya, hanya Ova satu-satunya orang yang pernah saya temui, ketika muncak di Papandayan pada tahun 2018 lalu. Sisanya, bagi saya mereka adalah orang baru semua, dan mereka semua adalah orang Padang kecuali saya dan Tiara, jadi ketika mereka ngobrol, saya cuma memperhatikan dengan tatapan nanar berharap ada subtitle di bawah layar.

Meskipun baru pertama kali ketemu, rasanya makin seru karena kami belum tau karakter masing-masing itu seperti apa, meskipun bisa dibaca dari bagaimana cara kami saling ngobrol di grup Whatsapp misalnya, tapi tetep aja aslinya gak tau kayak gimana 'kan. Atau kalau dalam bahasa kerennya, kami saling bodo amat aja ah~

Yaudah, males bikin tulisan panjang lebar, langsung aja nih.. here we go~

***

“kita foto-foto dulu..” kata Tiara sambil memanggil Firska yang udah duluan antri pengen naik wahana ontang-anting. Dari sini kami semua tau kalau Firska haus akan hiburan, masuk antrian duluan, gak ngajak-ngajak, pada akhirnya beberapa diantara kami yang males ngantri cuma bisa berkata...


Karna malas antri, kami gak jadi naik wahana ontang-anting atau sebut saja ayunan, akhirnya kami mencari wahana lain, dan wahana yang antriannya gak terlalu panjang yaitu; baling-baling!

Di wahana baling-baling ini hanya Ova yang gak berani naik, dan yang paling excited pengen naik adalah Aulia, yang lainnya cuma bisa pasrah, harus naik karena sudah bayar mahal-mahal tiket Dufan yang sebenarnya hasil patungan sih... kalau saya? O tentu saja dengan gagah berani melangkah maju, duduk paling pojok sambil bersikap santai dan terlihat macho.


"ALLAHUAKBAR! ALLAHUAKBAR!!" Teriak seorang pemuda di pojokan.


Setelah turun..
Ya allah aku belum nikah!

Seperti halnya jodoh yang tak direstui orang tua; baru saja naik satu wahana, tiba-tiba gerimis turun, kami cuma bisa meratapi nasib, yang seharusnya lanjut naik wahana-wahana paling ekstrim, kami malah masuk ke McD yang ternyata gak kalah ekstrim dari  Wahana Hysteria, ANTRI RAME BANGET!

Pada akhirnya, kami cuma bisa naik beberapa wahana yang masih bisa dinaiki saat hujan; Ice Age, Komedi Putar, dan... KENAPA HARUS HUJAN SIH???

Jepri: "hahaha.. siapa cepat dia duluan!"

Naik wahana paling ekstrim!

Kuda: "kenapa harus aku ya allah?? :')"

Kuda: "udah dong encok ini!!"

Agus: "jurus membelah diri no jutsu!"

Ova & Aulia: "ini backround-nya bisa diganti aja gak sih?"

Lanjut ke wahana lain, Kereta Misteri adalah wahana yang baru-baru ini dibuka, dan ketika kami antri, antriannya panjang banget kayak cacing, mirip game cacing yang akhir-akhir ini banyak dimainin cewek-cewek. Layaknya sinetron azab, game cacing ini bikin para cowok kena hukum karma, dulu cewek-cewek sering dicuekin cowoknya yang main Mobile Legend, PUBG, sekarang cowok-cowok yang ngerasain gimana gak enaknya dicuekin gara-gara main cacing.

Pertanyaannya: KENAPA JADI BAHAS CACING?

kembali ke topik...

Karna gerimis terus-terusan turun, ketika kami bertahan sampai malam pun tetep aja hujan; Bianglala tidak bisa dinaiki, Kora-kora antrian panjang bener, Hysteria gak bisa, dan kalau dipikir-pikir, ternyata kami cuma jalan-jalan aja.

Plot twist; Jepri dan Rofi berhasil masuk istana boneka, berdua.

Oke, kayaknya segitu dulu deh, batre ponsel saya udah mau abis, kasian kalo dipake buat ngeblog mulu, dan postingan kali ini saya males merangkai kata-kata yang panjang. Hmmm.. kayaknya ini bakalan jadi tulisan yang paling banyak fotonya :D.

O ya, Sebelum tulisan ini tayang, sebenarnya ada video yang udah lebih dulu tayang di Youtube, videonya bisa kalian tonton di sini.

Cerita dari Ova: Do Fun di Dufan

Bonus:
EXO: annyeonghaseo..

Minggu, 26 Januari 2020

Tentang Bagaimana Cara Bercerita


Beberapa bulan atau bahkan beberapa tahun belakangan, ada hal yang saya baru sadari, bahwa saya sudah tidak lagi bisa bercerita kepada orang-orang secara langsung, bahkan orang terdekat sekalipun. Mungkin saya tau apa penyebabnya, tapi tidak bisa menjelaskannya.

Pada suatu kesempatan, saya pernah berterus terang, bercerita atau meluapkan emosi kepada seseorang yang saya kenal meski sama sekali belum pernah bertemu. Ya, seperti seorang penulis kepada pembaca, saya bercerita panjang lebar padanya meski tidak semuanya saya utarakan. Terasa aneh, tapi melegakan, seperti sedang berada di bawah air terjun di siang bolong.

"Emang gak ada orang yang kamu percaya, Di?" Katanya bertanya disela-sela saya bercerita dengan memanggil nama saya dengan sebutan Di, diambil dari nama awalan saya Di-Dian, maklum belum terlalu saling kenal, jadi belum tau kalau saya tidak biasa dipanggil dengan sepotong nama saja.

"Seringnya jadi tempat orang lain cerita, giliran diri sendiri mau cerita bingung mau cerita ke siapa." Kata saya membalas. Mungkin alasan saya tidak ingin bercerita kepada orang lain adalah karna takut mendapat tanggapan yang tidak saya inginkan, atau juga karena saya benar-benar sedang tidak percaya diri, mungkin.

Dan mungkin benar kalau saya merasa tidak memiliki seseorang yang saya percaya untuk bercerita. Bercerita secara langsung kepada seseorang bagi saya ibarat menonton film yang diangkat dari sebual novel tanpa membaca novelnya. Saya filmnya dan kau penontonnya; Kau belum tentu tau maksud dari film yang kau tonton, tapi kalau membaca sebuah novel, setidaknya beberapa cerita atau adegan bisa dirasakan olehmu yang kemudian kau pahami maksudnya. Begitupun dengan bercerita, daripada menjadi seperti film, saya lebih baik menjadi sebuah buku bacaan saja.

Dari tulisan ini, bukan maksud saya meremehkan kalian yang suka curhat sambil nangis-nangis darah. Tidak! Tentu tidak. Saya sadar, bercerita adalah hal yang baik, bercerita bisa juga bikin lega atau mendapat masukan dari teman curhat untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi. Saya ingin, bercerita sambil tertawa, merenung atau bahkan sampai saya menangis tersedu-sedu mungkin. Tapi, entahlah apa yang menahan saya untuk tidak bercerita kepada seseorang secara langsung, saya ingin, tapi tidak bisa. Sampai-sampai kepala ini serasa meledak karena memikirkan banyak hal. Sejak kapan saya tidak percaya kepada orang lain?

Saya terkadang iri dengan teman-teman saya sendiri yang begitu leluasa bercerita masalah pribadinya. Misal seperti salah satu teman yang tau kalau saya suka menulis cerita, ia malah ingin kisah hidupnya yang pahit saya tuliskan dengan sedemikian rupa, tapi alih-alih mendengar ceritanya yang panjang, saya malah memilih untuk tidak merespon ceritanya. Bukan tidak mau mendengar, atau bukan juga karena kisahnya yang terlalu 'pasaran', cuma rasanya kepala saya terlalu riuh dengan banyaknya cerita-cerita dari diri sendiri yang masih tertahan sampai sekarang; menunggu kapan bisa dikeluarkan. Dikendalikan.


Apakah saya harus menuliskan cerita saya seperti biasa lalu membagikannya di blog? Atau bahkan menuliskannya secara fiksi lalu bersembunyi dibalik kisah-kisah nan-halu, lalu dibaca oleh orang-orang agar kemudian bertanya-tanya apakah kisah tersebut benar-benar terjadi atau sekadar fiksi belaka? Ah.. rasanya sungguh sampah serapah memikirkan hal tersebut.

Untuk sekarang, sepertinya lebih baik saya bercerita seperti ini, menuliskannya sedikit demi sedikit sambil mencari-cari tau apa yang sebenarnya sedang terjadi. Mencari-cari jawaban ternyata sungguh menegangkan. Bagaimana tidak, ketika saya ingin bercerita tapi bingung mau bercerita tentang apa. Pada akhirnya, di dalam kepala saya selalu muncul pertanyaan yang berulang; saya kenapa?

Sebuah pertanyaan gembel, yang jika boleh diambil kesimpulan, mungkin sebenarnya saya ini hanya sedang pura-pura sedih, tapi terlalu menghayati. Atau juga hanya sedang menikmati luka dan berpura-pura tidak suka.

Sumber gambar: pixabay

Rabu, 01 Januari 2020

Cerita Awal Tahun


/Cerita Random/

Pada malam terakhir di tahun 2019 tiba-tiba kepala saya pusing, hidung mampet dan tenggorokan kena radang, entahlah rasanya kondisi tubuh saya dipenutup tahun malah tidak baik. Dan akhirnya saya malah tepar sampai awal tahun 2020.

Saat menulis ini, harusnya saya berada di tempat kerja. Ya, seharusnya saya mengambil jatah lembur karna pekerjaan saya yang berhubungan dengan  dunia retail. Tapi kemudian saya pikir lagi dua kali, daripada saya pingsan di tempat kerja, saya memutuskan untuk rebahan santuy sambil mendengarkan video klip Tatiana Manaois di televisi melalui flashdisk. Sebuah video klip yang lebih baik tidak saya tonton karna ogah melihat muka Tatiana yang mirip seseorang yang pernah mampir ke dalam kehidupan saya. Anjing memang, ternyata begini rasanya ketika benci dan rindu dicampuradukan.

Awal tahun  yang bodoh. Tapi, apa yang salah dengan menjadi bodoh?


Malam pergantian tahun
Pada malam pergantian tahun kemarin, saya dan teman-teman tadinya mau  bakar-bakar ayam di depan kontrakan, tapi karna hujan masih belum reda, jadinya kami malah bikin ayam goreng, beruntunglah ada Om Doni yang bisa masak karna statusnya yang rangkap jabatan sebagai ayah sekaligus ibu dari dua orang anak. Ya, dia jago masak. Dan ini yang paling penting; saya masak nasi di mejikom.

Rasanya seru aja gitu, di jaman yang hampir edan ini saya masih bisa ngumpulin temen-temen, padahal rata-rata mereka udah pada punya istri. Coba bayangin, kalo kamu punya istri terus malam tahun baruan malah minggat dari rumah terus foya-foya di luar rumah. Gak tau deh besoknya keadaan di rumah gimana~



Sampai pada paragraf ini, di luar masih hujan, katanya ada beberapa temen saya yang rumahnya kebanjiran, tapi untungnya kontrakan  saya lokasinya ada di tempat yang cukup tinggi, gak ada yang namanya  banjir-banjiran. Ya semoga hujan awal tahun ini tidak menjadikan awal tahun sebagai pertanda buruk untuk setahun kedepan.

Hmmm.. cerita apa lagi ya kira-kira.

Writer's Block atau...
Beberapa bulan terakhir, saya seperti sedang merasakan yang namanya writer’s block, beberapa ide tulisan yang saya temukan tidak pernah benar-benar jadi tulisan, mentok-mentok hanya dua paragraf yang jadi, sisanya cuma tulisan-tulisan sampah yang pada akhirnya dihapus. Tulis, hapus, tulis, hapus lagi. Terus menerus. Semoga tahun ini saya bisa memulai hal baru atau setidaknya dijauhkan dari yang namanya writer’s block.

Atau jangan-jangan keadaan ini bukan writer’s block, tapi cuma malas aja? Sepertinya sih...


Ketika saya sedang dalam keadaan writer's block... maksudnya ketika saya sedang dalam keadaan malas, saya juga seperti sedang dalam keadaan entahlah apa namanya, dan dalam keadaan tersebut, saya sempat menuliskannya pada Desember tahun 2019 kemarin;

/Desember, 2019/
Malam ini, lagu Someone You Loved yang dinyanyikan oleh Lewis Capaldi diputar dari ponsel saya. Entahlah, saya kurang mengerti arti dari lirik-liriknya yang menggunakan Bahasa Inggris, tentunya hal ini bukan salah Lewis Capaldi karna menyanyikannya dengan nada tinggi sambil berteriak histeris seperti seseorang yang sedang naik wahana Hysteria di Dufan, melainkan masalahnya ada di saya yang memang kurang jago dan kurang mengerti Bahasa Inggris dibandingkan dengan anak SD yang sekolah  di Penabur.

Saya mendengarkan lagu tersebut sambil merebahkan diri di lantai dengan beralaskan kasur lantai dan bantal bermotif stroberi yang menyangga leher saya. Lagu diputar, saya tidak peduli. Pikiran saya melayang entah memikirkan apa, seperti kotak kardus kosong, rasanya hanya sedang diisi oleh kehampaan. Lalu seketika, kardus kosong tersebut seperti tiba-tiba terisi penuh dengan berbagai pertanyaan-pertanyaan jebakan, tidak masuk akal dan konyol.

Brengseknya, momen seperti ini selalu muncul tiba-tiba.


Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND