Tempat Bercerita

Senin, 07 Oktober 2019

Kepada Pohon-Pohon Apel


Sore hari, aku melihat orang-orang banyak melakukan  kegiatan, ada yang baru pulang kerja, ada yang baru pulang mencari kerja, ada yang baru pulang sekolah, dan ada yang sedang menikmati waktu luangnya dengan berolahraga. Begitupun denganku, aku hanya ingin menikmati sabtu sore dengan seseorang yang kuharap akan mejadi kekasihku.

“Maaf ya semalem ketiduran..” Kata Mira mengabariku lewat pesan.

Aku masih tidak paham, kenapa dia harus minta maaf cuma karna telat membalas pesanku?  padahal tidak ia lakukan dengan sengaja.

Aku jadi ingat seorang teman, kenalanku beberapa bulan lalu, saat ia sedang mengalami kisah patah hati paling hebat dalam hidupnya. Katanya dalam sebuah obrolan di warung kopi; “kita bakalan sering bilang ‘maaf’ kepada seseorang ketika menganggap orang itu penting.” Dan sekarang aku malah kebingungan, soal perasaanku yang sudah jelas suka kepada Mira, tapi apakah Mira juga menyukaiku? Apakah aku begitu penting baginya?

“Enggak perlu minta maaf, namanya juga ketiduran. Ada-ada aja..” aku membalas pesannya dengan perasaan paling bingung sekaligus berbunga-bunga dan bertanya-tanya.

“Besok jadi ‘kan lari sore di Gasibu?” kataku dalam sebuah pesan,  mencoba mengingatkan lagi janji yang kubuat bersamanya, untuk lari sore di  salah satu tempat paling ikonik di Bandung. Kebetulan saja itu tidak terlalu jauh dari rumahku di Antapani, tapi mungkin lumayan jauh dari rumah Mira di Cimahi. Ah! Semoga saja dia tidak keberatan dan tidak minta dijemput.

Gasibu

“Jadi. Eh, tapi masih pada demo gak yah?” katanya, sekaligus membuatku cemas kalau-kalau masih demo, bisa-bisa rencanaku untuk menikmati sore sambil berkeringat dengannya jadi batal.

Hari Sabtu, tanggal 28 September 2019, aku sudah membulati tanggal tersebut di kalender dengan spidol merah, “Hari libur se-Bandung, khusus buat Mira.” tulisku dengan huruf kecil sebagai pengingat.

Besoknya, pada hari itu tiba, aku datang lebih dulu, sekitar jam 4 sore lewat 15 menit. Sambil menunggu kedatangan Mira yang katanya membawa motor, aku melihat-lihat sekitar, sudah banyak orang yang berlari mengitari lapangan Gasibu, di sebrangnya telihat Gedung Sate, bangunan yang biasanya aku lihat di sampul buku mata pelajaran PPKN sewaktu sekolah dasar.


Aku selalu penasaran, memangnya di dalam gedung itu ada apa? aku tidak pernah sekalipun bertanya pada seseorang. Entahlah, meskipun  aku sudah lama tinggal di Bandung, tapi tidak pernah sekalipun masuk ke dalamnya, rasannya lebih enak kalau pikiran ini terus penasaran.

Kata orang-orang, Bandung  itu tempat yang paling romantis untuk sepasang kekasih, dalam hal ini aku tidak paham, sebab beberapa kali aku dibuat patah  hati oleh seorang perempuan. Di mana romantisnya?

Kerumunan orang-orang, bising kendaraan, matahari yang mulai tenggelam dan cuaca Bandung yang sudah tidak lagi dingin membuatku melamunkan banyak hal. Sambil duduk menunggu kedatangan Mira, aku mencoba membuat satu dunia di dalam kepalaku, di dalamnya aku isi dengan banyak pepohonan dengan buah-buahannya yang siap dipetik, satu bianglala di dekat sungai yang mengalir tenang dan satu istana yang tidak terlalu megah tapi cukup untuk aku dan Mira saja yang menempatinya. Dan tidak lupa juga lapangan Gasibu kubawa masuk ke dalam duniaku itu.

“Hai..!” terlihat Mira dari arah belakang melambaikan tangan kepadaku.

“Mira, parkir di mana?” tanyaku

“Itu, keliatan.” Jawabnya sambil menunjuk motor Scoopy warna merah diparkir dekat penjual cilok. Cilok itu artinya ‘Aci dicolok’, bentuknya mirip bakso, tapi kecil-kecil,  terbuat dari bahan  aci, dan sungguh informasi ini tidak terlalu penting untuk dibahas.

“Ayo mulai, ini udah mulai gelap.” Katanya sambil berlari mendahuluiku.

Sambil berlari pelan dan mengikutinya dari belakang, aku memikirkan pertemuan pertamaku dengan Mira, mulai dari salah  masuk kelas, saat dari sekolahan kami pergi ke Sundial Iptek di Padalarang, dan sampai pada bagian awal aku bertemu dengannya di acara Pentas Seni. Saat itu aku sedang bernyanyi di pangggung yang tidak terlalu besar namun cukup bikin tegang karna ditonton banyak orang.

“You say
Going under
Not to clover
In these ays where life surrounds us...”

Setelah menyanyikannya, aku turun dari panggung, tidak ada yang tepuk tangan, tidak ada yang memberi selamat satupun. Aku tau, mungkin tidak banyak yang tau lagu itu dan mereka sama sekali tidak begitu mengenalku, aku hanya menikmatinya saja. Sampai ada satu orang menghampiriku dan berkata kalau lagu itu bagus.

“itu kamu yang bikin?” dia bertanya tentang lagu yang kubawakan.

“Bukan..” kataku membalas, “Itu lagu Sore Ze Band, judulnya Essensimo”

“Aku baru  tau...”

“Sebenernya lagu lama, tapi aku juga baru tau  lagu ini beberapa bulan lalu.” Kataku menjelaskan, yang di mana karna lagu ini kami jadi semakin akrab sampai sekarang.

“Kamu datang jam berapa?” katanya memecah ingatanku tentangnya.

“Jam  setengah lima, tapi tadi udah rame kok.”

“Haha.. lama dong nungguinnya, maaf ya.” katanya meminta maaf.

“Kebiasaan, kamu doyan banget minta maaf..”

“Ya maaf. Haha”

“Tuh kan.. lagi.” Kataku sekaligus malah bikin kami berdua tertawa sambil berlari beriringan.

Dalam putaran ke lima, kami memutuskan berhenti. Sambil mencari tempat  duduk, aku mengambil sebuah tumblr yang sebelumnya sudah diisi dengaan air mineral dan kemudian kutawarkan kepada Mira.

Secara curi-curi, aku memperhatikan caranya minum, dengan rambutnya yang pendek, keringat yang masih terlihat di lehernya, matanya yang sayu, dan satu hal yang selalu membuatku terus mengaguminya adalah senyumnya yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Aku menyukainya.


“Kamu kenapa?” Dia memergokiku saat mencuri-curi pandang sambil tersenyum.

“Ah.. gapapa. Dasar Tahu Sumedang!”

“Tahu Sumedang?” tanyanya heran, mungkin dia pikir perkataanku tidak masuk akal dan otakku sedang tidak beres.

“Iya, tahu sumedang; Wanita rambut sebahu sungguh enak dipandang”

Untuk beberapa saat dia terdiam dan menatapku tajam, tapi setelahnya dia malah tertawa, “Hahahaha, kamu ini yah, bisa aja.”

“Aku serius..” lalu aku berdiri dan berjalan ke sebuah pohon apel yang jaraknya tidak terlalu jauh, aku memetik dua buah apel dan kembali ke tempat duduk dan menyerahkan satu buah apel untuknya, dan  satu lagi untukku sendiri, “mau apel?”

“Dapat apel dari mana?” katanya bertanya.

“Dari pohon di sana..” kataku sambil menunjuk beberapa pohon buah-buahan yang jaraknya tidak telalu jauh dari tempat duduk kami.

“Aku baru tau kalo di sini banyak pohon  buah-buahan.”

Suasana sudah larut, lampu-lampu sudah menyala, kami berdua masih asik mengobrol, menceritakan banyak hal; mulai dari awal pertemuan, lalu membicarakan teman sekelas yang suka mencontek, lagu-lagu dan makanan favorit sampai pada saat tiba-tiba aku menyatakan  perasaanku padanya dengan tidak sengaja.

“hahaha, makanya aku suka sama kamu, Mira..” kataku setelah dia bilang bahwa kekurangannya  adalah banyak omong kalau sedang jalan sama orang lain. Dan hal itu seketika membuatku terdiam dan membuang muka karna terlalu malu untuk melihat wajahnya.

“Apa tadi? Suka?” aku hanya mendengar suara itu, dan tidak berani menatapnya. Dan hal tersebut membuatku memikirkan ‘ekspresi wajah seperti apa yang sedang dia gunakan saat ini’.

Karna  sudah terlanjur, aku pikir aku harus berterus terang, “Iya, maaf, aku menyukaimu sejak lama; saat kamu menyapaku di dekat panggung, ketika  kita berdua duduk di bus sekolah saat pergi ke Padalarang dan sampai saat ini aku juga  masih menyukaimu..” aku mengatakannya dengan cara muka menghadap ke tanah. Sungguh hal yang sangat bodoh.

“Hei...” kemudian  kurasakan tangannya memegang wajahku, diarahkannya wajahku untuk dipertemukan dengan  wajahnya, di sana kutemukan senyum yang sangat  manis dengan tatapan mata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dan tidak lama kemudian ia berkata, “Kamu banyak drama! Ha ha ha..”

“Maksudnya, Mira?” kataku penasaran.

“Maksudnya, malam ini, di kursi ini, di dekat lapangan Gasibu, kita resmi jadian.” Katanya yang membuatku tidak tau lagi seperti apa perasaan yang saat itu sedang kurasakan. Campur aduk.

“Sekarang aku mau buah  apel lagi.” Kata Mira.

“Tunggu di sini, aku mau memetiknya.”

Aku bangkit dari tempat duduk, berjalan ke arah pohon  apel yang tadi buahnya kupetik. Beberapa langkah aku berjalan, pohon apel itu tidak lagi ada di tempatnya, suara-suara bising  kembali terdengar, dan bunyi telpon tiba-tiba memecah pikiranku.

“Halo... kamu di mana? maaf ya aku gak bisa dateng, aku dilarang pergi, katanya di sana lagi banyak demo, kamu tau sendiri ayahku gimana, kan?” terdengar  suara Mira dari telpon, aku yakin itu memang suara Mira. “Lain kali, ya..” lanjutnya sebelum telpon berbunyi ‘bip’.

Lalu aku melihat ke arah kursi tempat tadi kami duduk berdua, tidak ada siapapun di sana, aku melihat ke arah pohon  yang buahnya kupetik, juga tidak ada, suasana jadi kacau, demonstrasi di depan Gedung Sate semakin banyak, lapangan Gasibu mulai dipadati orang-orang yang tidak aku kenal.

Tiba-tiba, dunia yang kubuat dalam pikiranku perlahan mulai memudar; pohon-pohon  apel tidak  ada, bianglala tidak  ada, istana tidak ada, Mira juga tidak ada, dan yang tersisa hanya lapangan Gasibu yang semakin ramai, dan kemudian aku tersadar, lamunanku  sudah  terlalu jauh.

Aku bangkit dari tempat duduk, melihat sekitar dan kemudian melihat jam di tangan kiriku untuk kira-kira memutuskan lebih baik pulang ke rumah, lanjut lari ditengah-tengah pendemo atau ikut-ikutan demo saja meski tidak tau apa yang sedang mereka tuntut.  Tapi setelah kulihat, jam di tangan kiriku menunjukan waktu yang membuat keputusanku lebih baik pulang  ke rumah saja; jam enam belas lewat dua puluh lima menit.

Essensimo

14 komentar:

  1. Tolong ya. Ceritanya diakhiri sampai mira minta buah apel lagi. Tapi apelnya ganti jambu saja, karna buah jambu lebih umun ditemui.

    YANG BAWAHNYA APUS SAJA. KESEL SAYA KLO LANJUTANNYA BEGITU. ANDA TIDAK SUKA YA KLO DI CERITA ENDINGNYA BISA LEBIH BAIK DIBANDING KENYATAAN?

    Btw, tahu sumdeang jadi waniTA rambut sebaHU SUngguh Enak dipanDANG. M-nya ke mana woiii... xD

    Bagus Yan. Berasa jadi Miranya yg demen minta maaf..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Cerita manis cuma di drama korea aja pak. Hahahaha.

      Gatau ya kepikiran kenyataanya kayak gitu jadi susah berkata bohong pfft.. :3

      M-nya dipindahin ke belakang. raMbut.

      Hapus
    2. Betul kata Haw. Pohon apel agak sulit ditemukan. Kalau latarnya di luar negeri mah oke aja. Mending jambu air yang gampang.

      Hapus
    3. Gue suka sih sama cerpennya, tapi ya rada nganu di pohon apelnya sih emang. Soalnya kalau di kehidupan nyata, tokohnya pasti udah digebukin tuh sama pemilik pohonnya hahaha.

      Hapus
    4. Kebetulan saya suka apel.

      Hapus
  2. Hmmmm. Sa ae tahu sumedang~~~

    Kesel ih. Halu banget ya Anda. Saya kesel sekesel keselnya orang kesel. Bener komentarnya Haw, pohon apel itu susah ditemui, masih mending pohon mangga aja deh atau pohon pisang~

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halu saja sudah cukup karna kenyataan kadang menyebalkan~

      Hapus
  3. Sejak kapan buku ppkn covernya gedung sate? Plz jelasin.

    Oiya itu Mira masa gak dijemput sih, Cimahi doanglaaaah hahahahaha (anjir padahal jauh) wkwk

    BalasHapus
    Balasan
    1. Pernah punya pas SD. Covernya gedeung sate. Atau saya salah beli buku ya?

      Yakan jauh.. bisa juga alasan gaboleh sama bapaknya itu cuma bohong karna males bet.

      Hapus
  4. Memang setiap gambar bersama seseorang bakalan memicu sebuah cerita. Jadi ingat tulisan sendiri yang mengenang mantan dengan rangkaian kata kemarinan. Wqwq.

    Tapi lebih keren lagi yang fotonya dicetak kayak lu begitu. Masih dipotret pakai Kodak. Itu momennya pasti banyak banget.

    Ini udah betul-betul kisahnya jadi manis, dipaksa jadi pahit lagi. Gemar sekali menyakiti diri. Mau diledek masokis lagi sama cewek-cewek? XD

    BalasHapus
  5. Saya membaca tulisan ini sambil berhmmmm hmmmmm saja.

    BalasHapus
  6. Cover buku PPKNku dulu cuma gambar Garuda. Apakah buku yang dimiliki si tokoh ini adalah buku spesyel edisyen?

    BalasHapus
  7. Mira: "Maaf untuk keputusan ini."

    BalasHapus

Terserahlah kau mau ngomong apapun, bebas.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND