Tempat Bercerita

Minggu, 20 Oktober 2019

Bernostalgia Sambil Menikmati Promo Kartu Kredit BCA


Pertama kali saya makin suka baca buku yaitu pada tahun 2012, atau lebih tepatnya ketika saya masih SMA. Buku Kisah Lainnya, yang berisi tentang biografi atau kalau saya bilang cerita-cerita di dalamnya adalah kumpulan cerita perjalanan hidup dari masing-masing personil Peterpan (sekarang NOAH), buku tersebut yang membuat  saya makin  tertarik untuk membaca jenis-jenis buku lainnya. Saya masih ingat, saya bersama dua orang teman dengan tidak sengaja membeli buku tersebut di toko buku bekas ketika sedang mencari buku-buku pelajaran sekolah dengan harga yang  lumayan mahal bagi dompet seorang pelajar. Berbeda dengan sekarang, semenjak punya kartu kredit, saya membeli buku harus nyari diskonan dulu, sekaligus nambah koleksi buku yang belum dibaca, untungnya sekarang beli buku di Gramedia makin mudah sekaligus banyak diskon kalau pake promo kartu kredit BCA. Jadi gak rugi-rugi banget kalo seandainya buku yang dibaca tidak memenuhi ekspektasi.

Yang sempat terekam. 2012.

Saya jadi mengingat masa lalu, tentang bagaimana saya menemukan hobi saya, yaitu membaca yang kemudian berlanjut ke hobi lain, seperti menulis. Tidak terasa sudah 7 tahun sejak pembelian buku Kisah Lainnya, sampai sekarang saya masih mengingat momen tersebut meski untuk beberapa bagian samar-samar ingatannya seperti hampir terhapus. Mungkin dengan menulis ini saya akan mengingatnya lagi. Saya pun kadang heran sendiri, ‘kok jadi gampang lupa begini ya?’ Dan untuk mengingatnya, terkadang saya mencoba menceritakannya lagi dengan cara menulis di sebuah jurnal atau sesekali di blog. Mungkin untuk bagian ini memang perlu diperjelas.

Tahun 2012, waktu itu di Bandung. Bus Study Tour kami melaju dari Cianjur menuju Garut lalu kemudian berakhir di Bandung. Perjalanan yang cukup panjang. Kami memutuskan untuk menginap di GGM (Gelanggang Generasi Muda) untuk semalam.

Malam  itu cuaca di Bandung cukup dingin dan sedang gerimis, tapi saya dan teman-teman malah main ke luar, ada yang pergi ke mall, ada yang pergi ke Gramedia yang ada disebrang jalan, dan ada juga yang memilih untuk tidur lebih dulu. Kalau saya, karna tidak ingin melewatkan momen langka itu, saya lebih memilih untuk berjalan-jalan ke luar bersama beberapa orang teman. Beberapa diantaranya adalah perempuan, dan salah satunya malah jadi pacar saya waktu itu. Jadi ingat.

Kami sampai di Gramedia, memilih beberapa buku pelajaran, tapi mata saya malah asik melirik-lirik bukunya Kahlil Gibran, entahlah sampai sekarang buku-bukunya Kahlil Gibran malah belum ada satupun yang saya beli.

‘Jadinya kamu beli buku apa?’ kata Tia yang waktu itu menemani saya memilih buku, dan beberapa teman lain juga sibuk memilih buku-buku. Tia adalah teman yang kemudian jadi pacar saya selama satu minggu. Nanti saya jelaskan kenapa hubungan kami sesingkat ini.

Sebagai seseorang yang saat itu paling malas baca, apalagi buku pelajaran, saya jadi bingung sendiri mau beli buku apa, mentok-mentok bacaannya ya cuma komik si Petruk & Gareng, itupun bacaan waktu SD, komik milik bapak saya. ‘Kayaknya kita balik aja yuk, bingung mau beli apa.’ kata saya menjawab pertanyaan Tia.

Saya dan Tia kemudian berpisah dengan teman-teman lain, ini seperti konspirasi, saya sengaja ditinggalkan berdua oleh teman-teman.

Sambil berjalan kembali ke tempat di mana rombongan kami menginap, saya mengajak Tia ke beberapa tempat, untunglah waktu itu banyak penjual makanan di sepanjang jalan ketika kami hendak balik lagi. Jadi saya bisa menghangatkan badan dengan makanan dan minuman yang hangat.

Karena saya orangnya memang gak pernah tau cara untuk bikin romantis suasana, saat itu saya malah membelikan Tia satu gelas bandrek. Saya pikir minuman tersebut bisa membuat kami sedikit lebih hangat selain dengan cara berpegangan tangan atau sekadar berpelukan.  Kami berjalan menelusuri pinggiran kota, menimati bandrek dan sekantong bala-bala (gorengan). Entahlah, selain sedang jatuh cinta, saat itu saya juga sedang merasa kelaparan.

Setelahnya, kami kembali ke penginapan, dan ternyata teman-teman lain masih asik mengobrol, ada yang mengobrol di kursi depan pintu kamar, ada yang di tangga dan ada yang sibuk pacaran juga. untunglah saat itu ponsel-ponsel keren tidak banyak seperti sekarang, jadi dunia anak SMA masih asik-asiknya, tidak melulu menunduk menatap ponsel untuk sekadar menunggu notofikasi Instagram masuk.

Saya dan Tia pun ikut nongkrong dengan beberapa teman, dan duduk di anak tangga gedung GGM. Saya tidak peduli akan cerita teman-teman lain, saya hanya fokus melihat Tia yang sedang memakai jaket dan syal bertuliskan Bobotoh Persib, rambutnya terurai, sedikit basah karena sebelumnya sempat tekena gerimis di perjalanan, dan tawanya pecah ketika mendengar salah satu teman yang sedang bercerita hal konyol. Saat itulah perasaan suka itu muncul tiba-tiba. Dan saya harus mengungkapkannya secepat mungkin. Masa remaja, tidak lagi memikirkan banyak hal selain jatuh cinta.

Saya pun  mengajak Tia kembali turun, membelikannya es krim agar dia mau jadi pacar saya. Entah ajaran dari mana tiba-tiba saya membelikannya es krim untuk kemudian memintanya menjadi pacar saya.

Tapi ternyata itu berhasil. Saya resmi memiliki  pacar baru, di Bandung.

Besoknya, bus kami melaju lagi ke beberapa tempat; Kota Baru, Cibaduyut, BIB (Balai Inseminasi Buatan), beberapa tempat di Lembang dan beberapa tempat lain, sebagian sudah lupa nama tempatnya. Dan ada satu tempat di mana saya membeli buku Kisah Lainnya; tempat jual beli buku bekas. Lagi-lagi saya tidak tau harus membeli buku apa, tapi karena saat itu saya lagi suka-sukanya sama Peterpan, dan kebetulan mereka baru menerbitkan buku Kisah Lainnya, saya dan dua orang  teman akhirnya  memutuskan untuk mencari buku tersebut, saat itu sama sekali tidak memikirkan barangnya asli atau bajakan, yang penting saya dapat bukunya, pikir saya dalam hati.

Dekat tempat jual buku bekas. 2012 | Doc pribadi.

Setelah mencari-cari, akhirnya kami menemukan buku tersebut, masih dalam keadaan baru, dan ternyata  bukan buku  bajakan, di dalamnya terdapat juga CD Instrumental dari lagu-lagu Peterpan. Selain mendapat pengalaman yang seru dan juga pacar baru, akhirnya saya bisa punya salah satu karya dari band favorit saya. Istimewa. Buku pertama yang benar-benar pengen di beli.

Setelahnya, Cibaduyut adalah tempat persinggahan terakhir kami di Bandung, saya dan Tia yang sebelumnya berbeda bus akhirnya negosiasi kepada salah satu teman untuk  bertukar tempat duduk, selain pulang-pulang bahagia, sebenarnya saya juga takut kalau duduk bareng pacar, takut mabok. Bisa-bisa kejantanan saya tiba-tiba hilang kalau si pacar tau bahwa saya ini mabokan. Tapi untungnya, saya bisa tahan sampai akhir perjalanan. Aman dan tidak bikin malu pacar baru.

Beberapa hari setelahnya, saya jadi sering diomongin teman-teman di kelas sendiri maupun dari kelas lain, bahkan sampai guru yang paling saya benci saat itupun ikut-ikutan bawel ngurusin hubungan saya dengan Tia. ‘Bisa-bisanya dapet biduan, cie..’ kata salah satu guru yang mengajar di kelas saya. Saya cuma bisa diam dan tersenyum sambil mengumpat dalam hati, ‘diam kau bangsat!’.

Entah  karna bosan atau risih karna banyak yang ngomongin, ataupun merasa menyesal karena mau pacaran sama saya yang bukan siapa-siapa, hubungan  saya dan Tia pun menjadi renggang, SMS saya gak pernah dibales, telpon tidak pernah  diangkat, bahkan saat saya antar pulang naik motorpun sikapnya beda. Dan tepat pada hari ke 7 hubungan kami, dia memutuskan saya lewat telpon, meminta maaf sambil menjelaskan hal yang kurang saya pahami. Lalu perkataan ‘lebih baik kita temenan aja’ tiba-tiba keluar dari mulutnya.

Karena hubungan kami baru sebentar, saya pun tidak terlalu ambil pusing, tidak patah  hati, hanya sedikit kecewa dan kemudian berlalu begitu saja. Setelah tau kalau kami sudah selesai, orang-orang di sekitar saya seolah-olah bahagia, entahlah apa maksudnya. Tapi saya juga merasa lebih bahagia karena kembali ke kehiduapan saya sebelumnya, yang bebas tanpa perlu dituntut ini itu.

***
Jujur, sebelumnya bahkan  saya sudah lupa akan kisah ini, tapi setelah menuliskannya jadi makin jelas dan terkadang bikin senyum-senyum sendiri. Cinta remaja memang selalu menyenangkan.

Untuk beberapa bagian, rasanya ingin saya ulangi. Kalau saya punya mesin waktu, rasanya saya ingin menjemput Tia ke masa sekarang, membawanya ke beberapa tempat untuk kemudian bersenang-senang selama satu minggu. Misal, mengajaknya makan di restoran Taipan untuk menikmati Dimsum dengan  segelas teh  hangat, menikmati makanan di Bakerzin, membelikannya donat di Dunkin Donut (entah  kenapa saya memikrikan donat) atau menyuruhnya untuk memilih penginapan yang dia suka. Mungkin dia akan menanyakan pertanyaan yang sering dia tanyakan kalau mau main ke suatu tempat, ‘memang kamu punya uang banyak?’ dan tentunya saya bakalan meng-iya-kan pertanyaannya padahal saya membayarnya dengan menggunakan promo kartu kredit BCA. Tentunya tidak perlu mengeluarkan uang banyak karna pakai promo kartu kredit. Ya, jatuh cinta boleh, tapi harus pintar-pintar juga dong. O ya, kalau  kalian pensaran kira-kira ada promo apa saja, jawabannya adalah; banyak banget!! cek aja di sini https://www.cekaja.com/banks/bca/kartu-kredit/promo.

Makan malam | Pixabay.

Ah.. perjalanan ke masa lalu memang selalu menyenangkan, kita bisa melihat orang-orang yang pernah kita sayang, sekaligus menjadikan kita untuk hidup yang lebih baik lagi dari sebelumnya; tidak melakukan kesalahan yang sama, dan tentunya harus... nyari pacar baru, lagi.

Senin, 07 Oktober 2019

Kepada Pohon-Pohon Apel


Sore hari, aku melihat orang-orang banyak melakukan  kegiatan, ada yang baru pulang kerja, ada yang baru pulang mencari kerja, ada yang baru pulang sekolah, dan ada yang sedang menikmati waktu luangnya dengan berolahraga. Begitupun denganku, aku hanya ingin menikmati sabtu sore dengan seseorang yang kuharap akan mejadi kekasihku.

“Maaf ya semalem ketiduran..” Kata Mira mengabariku lewat pesan.

Aku masih tidak paham, kenapa dia harus minta maaf cuma karna telat membalas pesanku?  padahal tidak ia lakukan dengan sengaja.

Aku jadi ingat seorang teman, kenalanku beberapa bulan lalu, saat ia sedang mengalami kisah patah hati paling hebat dalam hidupnya. Katanya dalam sebuah obrolan di warung kopi; “kita bakalan sering bilang ‘maaf’ kepada seseorang ketika menganggap orang itu penting.” Dan sekarang aku malah kebingungan, soal perasaanku yang sudah jelas suka kepada Mira, tapi apakah Mira juga menyukaiku? Apakah aku begitu penting baginya?

“Enggak perlu minta maaf, namanya juga ketiduran. Ada-ada aja..” aku membalas pesannya dengan perasaan paling bingung sekaligus berbunga-bunga dan bertanya-tanya.

“Besok jadi ‘kan lari sore di Gasibu?” kataku dalam sebuah pesan,  mencoba mengingatkan lagi janji yang kubuat bersamanya, untuk lari sore di  salah satu tempat paling ikonik di Bandung. Kebetulan saja itu tidak terlalu jauh dari rumahku di Antapani, tapi mungkin lumayan jauh dari rumah Mira di Cimahi. Ah! Semoga saja dia tidak keberatan dan tidak minta dijemput.

Gasibu

“Jadi. Eh, tapi masih pada demo gak yah?” katanya, sekaligus membuatku cemas kalau-kalau masih demo, bisa-bisa rencanaku untuk menikmati sore sambil berkeringat dengannya jadi batal.

Hari Sabtu, tanggal 28 September 2019, aku sudah membulati tanggal tersebut di kalender dengan spidol merah, “Hari libur se-Bandung, khusus buat Mira.” tulisku dengan huruf kecil sebagai pengingat.

Besoknya, pada hari itu tiba, aku datang lebih dulu, sekitar jam 4 sore lewat 15 menit. Sambil menunggu kedatangan Mira yang katanya membawa motor, aku melihat-lihat sekitar, sudah banyak orang yang berlari mengitari lapangan Gasibu, di sebrangnya telihat Gedung Sate, bangunan yang biasanya aku lihat di sampul buku mata pelajaran PPKN sewaktu sekolah dasar.


Aku selalu penasaran, memangnya di dalam gedung itu ada apa? aku tidak pernah sekalipun bertanya pada seseorang. Entahlah, meskipun  aku sudah lama tinggal di Bandung, tapi tidak pernah sekalipun masuk ke dalamnya, rasannya lebih enak kalau pikiran ini terus penasaran.

Kata orang-orang, Bandung  itu tempat yang paling romantis untuk sepasang kekasih, dalam hal ini aku tidak paham, sebab beberapa kali aku dibuat patah  hati oleh seorang perempuan. Di mana romantisnya?

Kerumunan orang-orang, bising kendaraan, matahari yang mulai tenggelam dan cuaca Bandung yang sudah tidak lagi dingin membuatku melamunkan banyak hal. Sambil duduk menunggu kedatangan Mira, aku mencoba membuat satu dunia di dalam kepalaku, di dalamnya aku isi dengan banyak pepohonan dengan buah-buahannya yang siap dipetik, satu bianglala di dekat sungai yang mengalir tenang dan satu istana yang tidak terlalu megah tapi cukup untuk aku dan Mira saja yang menempatinya. Dan tidak lupa juga lapangan Gasibu kubawa masuk ke dalam duniaku itu.

“Hai..!” terlihat Mira dari arah belakang melambaikan tangan kepadaku.

“Mira, parkir di mana?” tanyaku

“Itu, keliatan.” Jawabnya sambil menunjuk motor Scoopy warna merah diparkir dekat penjual cilok. Cilok itu artinya ‘Aci dicolok’, bentuknya mirip bakso, tapi kecil-kecil,  terbuat dari bahan  aci, dan sungguh informasi ini tidak terlalu penting untuk dibahas.

“Ayo mulai, ini udah mulai gelap.” Katanya sambil berlari mendahuluiku.

Sambil berlari pelan dan mengikutinya dari belakang, aku memikirkan pertemuan pertamaku dengan Mira, mulai dari salah  masuk kelas, saat dari sekolahan kami pergi ke Sundial Iptek di Padalarang, dan sampai pada bagian awal aku bertemu dengannya di acara Pentas Seni. Saat itu aku sedang bernyanyi di pangggung yang tidak terlalu besar namun cukup bikin tegang karna ditonton banyak orang.

“You say
Going under
Not to clover
In these ays where life surrounds us...”

Setelah menyanyikannya, aku turun dari panggung, tidak ada yang tepuk tangan, tidak ada yang memberi selamat satupun. Aku tau, mungkin tidak banyak yang tau lagu itu dan mereka sama sekali tidak begitu mengenalku, aku hanya menikmatinya saja. Sampai ada satu orang menghampiriku dan berkata kalau lagu itu bagus.

“itu kamu yang bikin?” dia bertanya tentang lagu yang kubawakan.

“Bukan..” kataku membalas, “Itu lagu Sore Ze Band, judulnya Essensimo”

“Aku baru  tau...”

“Sebenernya lagu lama, tapi aku juga baru tau  lagu ini beberapa bulan lalu.” Kataku menjelaskan, yang di mana karna lagu ini kami jadi semakin akrab sampai sekarang.

“Kamu datang jam berapa?” katanya memecah ingatanku tentangnya.

“Jam  setengah lima, tapi tadi udah rame kok.”

“Haha.. lama dong nungguinnya, maaf ya.” katanya meminta maaf.

“Kebiasaan, kamu doyan banget minta maaf..”

“Ya maaf. Haha”

“Tuh kan.. lagi.” Kataku sekaligus malah bikin kami berdua tertawa sambil berlari beriringan.

Dalam putaran ke lima, kami memutuskan berhenti. Sambil mencari tempat  duduk, aku mengambil sebuah tumblr yang sebelumnya sudah diisi dengaan air mineral dan kemudian kutawarkan kepada Mira.

Secara curi-curi, aku memperhatikan caranya minum, dengan rambutnya yang pendek, keringat yang masih terlihat di lehernya, matanya yang sayu, dan satu hal yang selalu membuatku terus mengaguminya adalah senyumnya yang tidak pernah lepas dari bibirnya. Aku menyukainya.


“Kamu kenapa?” Dia memergokiku saat mencuri-curi pandang sambil tersenyum.

“Ah.. gapapa. Dasar Tahu Sumedang!”

“Tahu Sumedang?” tanyanya heran, mungkin dia pikir perkataanku tidak masuk akal dan otakku sedang tidak beres.

“Iya, tahu sumedang; Wanita rambut sebahu sungguh enak dipandang”

Untuk beberapa saat dia terdiam dan menatapku tajam, tapi setelahnya dia malah tertawa, “Hahahaha, kamu ini yah, bisa aja.”

“Aku serius..” lalu aku berdiri dan berjalan ke sebuah pohon apel yang jaraknya tidak terlalu jauh, aku memetik dua buah apel dan kembali ke tempat duduk dan menyerahkan satu buah apel untuknya, dan  satu lagi untukku sendiri, “mau apel?”

“Dapat apel dari mana?” katanya bertanya.

“Dari pohon di sana..” kataku sambil menunjuk beberapa pohon buah-buahan yang jaraknya tidak telalu jauh dari tempat duduk kami.

“Aku baru tau kalo di sini banyak pohon  buah-buahan.”

Suasana sudah larut, lampu-lampu sudah menyala, kami berdua masih asik mengobrol, menceritakan banyak hal; mulai dari awal pertemuan, lalu membicarakan teman sekelas yang suka mencontek, lagu-lagu dan makanan favorit sampai pada saat tiba-tiba aku menyatakan  perasaanku padanya dengan tidak sengaja.

“hahaha, makanya aku suka sama kamu, Mira..” kataku setelah dia bilang bahwa kekurangannya  adalah banyak omong kalau sedang jalan sama orang lain. Dan hal itu seketika membuatku terdiam dan membuang muka karna terlalu malu untuk melihat wajahnya.

“Apa tadi? Suka?” aku hanya mendengar suara itu, dan tidak berani menatapnya. Dan hal tersebut membuatku memikirkan ‘ekspresi wajah seperti apa yang sedang dia gunakan saat ini’.

Karna  sudah terlanjur, aku pikir aku harus berterus terang, “Iya, maaf, aku menyukaimu sejak lama; saat kamu menyapaku di dekat panggung, ketika  kita berdua duduk di bus sekolah saat pergi ke Padalarang dan sampai saat ini aku juga  masih menyukaimu..” aku mengatakannya dengan cara muka menghadap ke tanah. Sungguh hal yang sangat bodoh.

“Hei...” kemudian  kurasakan tangannya memegang wajahku, diarahkannya wajahku untuk dipertemukan dengan  wajahnya, di sana kutemukan senyum yang sangat  manis dengan tatapan mata yang tidak pernah aku lihat sebelumnya, dan tidak lama kemudian ia berkata, “Kamu banyak drama! Ha ha ha..”

“Maksudnya, Mira?” kataku penasaran.

“Maksudnya, malam ini, di kursi ini, di dekat lapangan Gasibu, kita resmi jadian.” Katanya yang membuatku tidak tau lagi seperti apa perasaan yang saat itu sedang kurasakan. Campur aduk.

“Sekarang aku mau buah  apel lagi.” Kata Mira.

“Tunggu di sini, aku mau memetiknya.”

Aku bangkit dari tempat duduk, berjalan ke arah pohon  apel yang tadi buahnya kupetik. Beberapa langkah aku berjalan, pohon apel itu tidak lagi ada di tempatnya, suara-suara bising  kembali terdengar, dan bunyi telpon tiba-tiba memecah pikiranku.

“Halo... kamu di mana? maaf ya aku gak bisa dateng, aku dilarang pergi, katanya di sana lagi banyak demo, kamu tau sendiri ayahku gimana, kan?” terdengar  suara Mira dari telpon, aku yakin itu memang suara Mira. “Lain kali, ya..” lanjutnya sebelum telpon berbunyi ‘bip’.

Lalu aku melihat ke arah kursi tempat tadi kami duduk berdua, tidak ada siapapun di sana, aku melihat ke arah pohon  yang buahnya kupetik, juga tidak ada, suasana jadi kacau, demonstrasi di depan Gedung Sate semakin banyak, lapangan Gasibu mulai dipadati orang-orang yang tidak aku kenal.

Tiba-tiba, dunia yang kubuat dalam pikiranku perlahan mulai memudar; pohon-pohon  apel tidak  ada, bianglala tidak  ada, istana tidak ada, Mira juga tidak ada, dan yang tersisa hanya lapangan Gasibu yang semakin ramai, dan kemudian aku tersadar, lamunanku  sudah  terlalu jauh.

Aku bangkit dari tempat duduk, melihat sekitar dan kemudian melihat jam di tangan kiriku untuk kira-kira memutuskan lebih baik pulang ke rumah, lanjut lari ditengah-tengah pendemo atau ikut-ikutan demo saja meski tidak tau apa yang sedang mereka tuntut.  Tapi setelah kulihat, jam di tangan kiriku menunjukan waktu yang membuat keputusanku lebih baik pulang  ke rumah saja; jam enam belas lewat dua puluh lima menit.

Essensimo

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND