Tempat Bercerita

Rabu, 17 Juli 2019

Dari Sebuah Kegagalan


Setelah melamar kerja dan gagal pada interviu kedua, saya langsung menghubungi seorang teman di Kemayoran, Jakarta. Seperti biasanya, jarak selalu membuat saya enggan untuk segera pulang ke tempat kos di Cileungsi, Bogor. Apalagi baru saja menerima kenyataan yang sebenarnya tidak terlalu pahit, rasanya badan ini harus direbahkan sejenak di suatu tempat.

Saya menghubungi Hendar, teman sekampung yang kebetulan sudah tinggal cukup lama di Kemayoran, buat apa lagi tinggal di Kemayoran kalau bukan karena tuntutan untuk tetap bernapas dan hidup hedon sekaligus menghabiskan waktu dengan cara bekerja. Begitupun dengan saya, selagi memikirkan untuk apa saya hidup lebih lama lagi, saya memutuskan untuk menjalani hidup selayaknya orang-orang kebanyakan; mencari uang, mencari uang dan tentu saja dengan cara bekerja, sebab untuk makan saja harus punya uang, bukan? Kecuali kau makan dengan tanah liat atau batu-batuan, kalau seperti itu cukuplah dengan tinggal di hutan, kembali lagi saja seperti manusia purba.

Saya mencoba menghubungi Hendar melalui aplikasi Whatsapp, “Pada masuk kerja?”, pesan tersebut saya kirim kepada Hendar sekitar jam 10 Pagi.

“Libur euy..” balasnya dengan tambahan kata ‘euy’ yang menunjukan bahwa jati dirinya adalah tetap orang Sunda.

“Siapa saja yang libur? Nanti saya main ke situ, sekarang lagi di Cideng.” Balas saya sambil berjalan keluar dari gedung tempat saya interviu kerja.

“Yaudah ke sini buruan. Lagi ngapain sih di Cideng, kencan?” balasnya sekaligus memberi pertanyaan yang aneh-aneh. Lagian apa asiknya kencan di jam 10 pagi?

“iya nih, lagi kencan.”

“Mau ditangkap Satpol PP kencan jam segini?”

“...Si Ajun juga ada di sini.” Lanjutnya sekaligus memberi tahu saya tentang keberadaan teman saya yang sudah  lama tidak pernah bertemu. Ajun adalah teman saya sewaktu SMP. Meski banyak sekali nama Ajun di dunia ini, khususnya di Jawa Barat, saya bisa langsung mengetahui Ajun mana yang Hendar maksud, sebab Ajun sendiri adalah saudara dekat dari Hendar.

Mengingat Ajun, pikiran saya seperti kembali lagi ke masa lalu, dalam kenangan itu, saya mengingat betapa kami ini adalah dua orang yang sangat brengsek atas apa yang pernah kami lakukan pada masanya; saat sekolah, kami pernah meminta sumbangan ke adik-adik kelas padahal uangnya kami  pakai buat jajan, sering bolos bareng, pulang pergi berdua,  sampai-sampai suatu kali, kami pernah mengencani perempuan yang sama. ah... betapa brengseknya kami dulu. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, brengseknya kami di masa itu, ternyata masih belum apa-apa daripada kehidupan kami di masa sekarang, di mana malah kami yang dipecundangi oleh kehidupan. Haha, ternyata ‘brengsek’ itu banyak sekali kategorinya, ya.

Setengah jam setelah saya selesai interviu, saya sampai di tempat kos Hendar dan Ajun. Sebelumnya saya sempat nyasar, saya pikir Hendar belum pindah dari tempat kos yang sebelumnya pernah saya kunjungi.

Karena merasa ada yang aneh sebab tempat kosnya sepi, saya mencoba bertanya kepada warga sekitar, “Hendarnya ada gak yah, bu?” tanya saya kepada salah satu warga, siapa tau ada yang kenal, pikir saya.

“Oh.. bang Hendar, udah pindah ke mes katanya.” Kata seorang ibu-ibu menjawab tidak yakin, yang diperkirakan usianya kurang lebih 55 tahunan.

Setelah saya pikir-pikir lagi, mana ada tempat kerjanya memberi mes untuk karyawannya? Sebab yang saya tau dari dulu belum ada sejarahnya tempat kerja tersebut memberi mes, apalagi dengan gajinya yang tidak seberapa, tapi cukup untuk sekadar makan dua kali sehari, atau bisa untuk membeli cash motor Yamaha NMAX tapi dengan syarat kau tidak makan selama setahun.

Setelah mengetahui bahwa Hendar pindah kosan, saya pun langsung mengirim pesan lagi ke Hendar untuk menanyakan tempat kos barunya.

“Iya pindah, sini dekat si Rohmat.” Balas Hendar dengan menyebut salah satu orang yang saya kenal juga, sekaligus menjawab bahwa memang dia tidak pindah ke mes seperti yang dikatakan ibu-ibu yang sempat saya temui.

Karena saya enggak tau di mana lokasi kos barunya, saya pun segera melajukan motor ke dekat Masjid Akbar, dan meminta untuk dijemput di sana.

Di sekitar masjid akbar, ketika hendak menurunkan standar motor, tiba-tiba dari arah kanan jalan ada orang yang melambaikan tangan sambil tersenyum lebar. Orang tersebut langsung saya kenali dari cara berjalannya, dia adalah teman SMP saya, Ajun.

Saat Ajun menghampiri, saya merasakan banyak perubahan dari postur tubuhnya, dulu tingginya masih dibawah saya, sama rata dengan pundak, tapi untuk sekarang malah saya yang lebih pendek darinya. Perubahan lain yang lebih mencolok adalah ketika kami sampai di tempat  kosnya, karena saat itu siang bolong, dan cuaca Jakarta sangat panas, Ajun membuka baju, mungkin karena kegerahan, saat itu saya baru menyadari bahwa badannya dipenuhi dengan tato. Di dadanya tertulis sebuah kata ‘GOD SAVE ME’, di lengannya ada gambar yang entah menggambarkan apa, lalu di belakang punggungnya telukis wajah Bunda Maria.

Pikiran saya seketika muncul satu pertanyaan; ‘Apakah si kampret ini pindah agama?’

Untuk segala yang terlukis pada tubuhnya, saya belum berani bertanya.

Siang itu, di tempat kos Hendar dan Ajun, saya merasakan suhu Jakarta sangat panas sekali, padahal dua kipas sudah berputar, kipas dari arah atas yang tergantung di plafon berputar cukup kencang, dan dari kanan dekat lemari baju juga berputar meski putarannya terlihat cukup lambat. Sepertinya kalau saya lama-lama tinggal di sana bisa-bisa saya mati karena masuk angin. Tapi, seperti halnya cinta—seperti yang banyak orang katakan—mungkin lama-lama akan bisa karena terbiasa. Sama halnya dengan Ajun dan Hendar, mungkin mereka juga sudah biasa hidup dengan dua kipas disaat cuaca Jakarta sedang panas-panasnya. Ah.. untung saja panasnya udara di tempat kos saya, di Cileungsi, tidak separah Jakarta.

Selagi merebahkan badan di kasur lantai, saya banyak berbincang dengan Ajun, tentu sesekali menceritakan bagaimana kami saat sekolah dulu, dan selebihnya kami membahas apa yang terjadi pada hidup kami belakangan ini; tentang pekerjaan, kehidupan, rumah tangganya, dan tentang pilihannya untuk pergi dari rumah karena Ajun dan orang tuanya sempat berselisih.

“Ada yang bilang, cobaan terberat dalam rumah tangga itu ketika baru mempunyai anak satu, Jun. Ada aja...” kata saya berusaha untuk mendengar sekaligus memberi pendapat saat Ajun bercerita. Tentu kata-kata tersebut tidak saya dapat dari sembarang tempat, kata-kata tersebut saya dengar ketika saya dinasihati oleh tetangga kos di Cileungsi. Terkadang ada satu hal yang disampaikan kepada kita padaha hal tersebut sebenarnya untuk disampaikan kepada orang lain. Seperti kata yang saya ucapkan kepada Ajun, setidaknya saya harap itu sedikit menjawab atas keresahannya.

Mungkin saking lelahnya tubuh saya, selagi Ajun bercerita, tiba-tiba saya tertidur lelap, meninggalkan suara-suara sekitar, tentunya juga suara dari cerita hidup yang dialami oleh Ajun.

Ketika terbangun karena suara musik dari kamar kos sebelah, saya masih berada di atas kasur lantai berwarna hijau, kipas di plafon masih berputar, dan terlihat Ajun yang sedang menonton film hasil download dari Youtube Go di ponselnya.

“Udah jam 3 aja..” kata saya mencoba membuka percakapan sekaligus memberi tahu Ajun kalau saya masih hidup dan belum mati karena masuk angin.

Ketika tubuh masih dalam proses menyadarkan diri selepas tidur siang, saya mengingat-ingat tentang ajakan dari Ajun untuk jalan-jalan di sore hari. Entah bosan karena libur seharian cuma tiduran di kosan, atau bosan karena pikirannya yang kacau sebab merindukan istri dan anaknya yang belum berusia setahun yang ia tinggalkan di kampung, sebab Ajun harus bekerja untuk menafkahi mereka.

“Katanya mau main, Jun, ayo! Ke mana?” tanya saya mencoba mengingatkan kembali keinginannya yang ia katakan  tadi siang kepada saya.

“Iya, ayo ke Kalibata.” Jawabnya sekaligus mengatakan tujuan yang sebenarnya cukup jauh dari tempat kos di Kemayoran.

“jauh pisan..” kata saya mengeluh.

“ke kakak saya, sekaligus ketemu bapak.” Balasnya serius yang membuat saya tidak bisa menolak cuma karena alasan jarak yang lumayan jauh.

Meski badan saya masih terasa capek, saya mengantar Ajun dengan motor Beat. Berangkat jam 3 sore, saat jalanan Jakarta lumayan macet, tapi suhu udara sudah tidak terlalu panas, kami berdua mengendarai motor dengan bantuan aplikasi GPS di ponsel milik saya yang kacanya retak karena terjatuh beberapa waktu lalu.

Sekitar kurang lebih satu jam, kami sampai di lokasi; putar arah di dekat Rumah sakit Jakarta Medical Center (JMC) dan memasuki gang-gang kecil untuk sampai di rumah kakaknya Ajun. Saya pun baru tau kalau Ajun punya Keluarga di Jakarta.

“Nah ini rumahnya” kata Ajun sambil menunjuk satu rumah dengan gerobak jus buah di depannya. “kita lurus dulu..” lanjutnya.

“Mau ke mana lagi?” tanya saya.

“Ke bapak..”

“Hah..?”

“Kalo Dadan itu bukan bapak saya, dia bapak tiri saya, bapak saya yang sebenarnya itu Iwan.” Kata Ajun menjelaskan, karena saya memang tahunya ayah Ajun itu Mang Dadan, begitu saya memanggilnya.

Sebelum sampai ke lokasi yang entah di mana, Ajun meminta saya untuk berhenti di depan masjid yang cukup besar. Dia lebih dulu turun, membuka sepatu dan kaos kakinya yang sebenarnya lumayan untuk menyekap seseorang sampai pingsan.

“Kita salat dulu, masih salat, kan?” ajaknya kepada saya, yang seharusnya kata-kata tersebut keluar dari mulut saya, karena saya masih penasaran dengan tato-tato di tubuhnya yang lebih memperlihatkan bahwa dia terlihat seperti sudah pindah agama.

Setelah selesai wudhu, kami berjalan ke dalam masjid, sebelum memasuki pintu, saya melihat ada beberapa bapak-bapak sedang menghitung uang dari kotak amal yang dengan sekali lihat kau sudah bisa membeli mobil kalau mengumpulkan uang dari kotak amal selama satu minggu.

sok! silahkan yang punya wilayah..” kata saya kepada Ajun, sekaligus yang saya maksud adalah ‘silahkan jadi imam’.

Nya maneh atuh, piraku aing..” balasnya dalam bahasa Sunda, yang artinya ‘ya kamu dong, masa saya..’, dan hal tersebut malah bikin kami berdua tertawa.

Selesai salat, sepertinya satu pertanyaan dalam otak saya yang sebelumnya masih saya pikirkan, akhirnya terjawab sudah, kawan lama saya ini tidaklah pindah agama, dan saya tidak perlu juga mengejeknya dengan kata-kata seperti, “Kafir, main kuy!”. Lagian, kalaupun benar pindah,  itu juga enggak perlu diributin.

Karena waktu semakin sore, kami bergegas ke tempat yang Ajun tuju, melewati lagi gang-gang kecil, melewati ibu-ibu yang sedang senam sore, dan pada akhirnya kami sampai di suatu tempat yang tidak saya duga sebelumnya, kami sampai di tempat orang-orang istirahat dari dunia untuk terakhir kalinya; pemakaman.

“Di mana sih, Jun?” tanya saya saat Ajun masih mencari-cari nama Iwan di antara banyaknya batu nisan. Beberapa batu nisan terlihat masih kokoh dengan batu bata yang sudah disemen sebagaimana makam pada umumnya, dan sebagian  batu nisan lain ada yang sekadar terlihat batu saja, bahkan ada juga yang hampir rata dengan tanah. Mungkin sebagian ada yang tertumpuk mayat-mayat baru karena tidak terurusnya pemakaman tersebut.

“gatau lupa, tolong bantuin cari yang namanya Iwan..” jawabnya sekaligus meminta saya untuk membantu mencari batu nisan bernama Iwan, ayahnya.

“Ini Jun, sebelah sini!” saya menemukannya.

Kami duduk di pinggir batu nisan, dengan nama Iwan disertai tahun meninggalnya; 2010, tertulis di sana.

Ajun mengeluarkan buku kecil dari tasnya, buku itu tertulis kata ‘Yassin’ pada sampulnya. Sebelum membaca, ia mengucap kata-kata, pelan tapi masih terdengar jelas di telinga saya. Meminta doa restu, doa untuk keluarga kecilnya, dan selebihnya tidak terdengar jelas. Dan yang saya lakukan, hanya membantu doa dengan surat Al-Ikhlas selagi ia membaca Surat Yassin.

Selesai berziarah, kami sampai di rumah bang Irfan yaitu kakaknya Ajun. Ada beberapa kepala keluarga di rumah tersebut, saya juga bertemu dengan neneknya Ajun yang biasa dipanggil dengan sebutan ‘Abu’. Mereka sangat ramah, dan sepertinya tentang apa yang Ajun katakan sebelumnya kepada saya kemungkinan memang akan terwujud, “Saya pasti bahagia kalau tinggal di sini...” Kata Ajun dalam perjalanan tadi sebelum sampai ke rumah tersebut.

Kami banyak mengobrol, terutama bersama kakaknya, bang Irfan, yang kebetulan jadi dosen di salah satu fakultar ternama di Jakarta. Selain ‘mengintrogasi’ Ajun dan juga saya, bang Irfan juga beberapa kali membagikan kisah hidupnya, dan kisah hidup tiap orang ternyata sama saja pernah mengalami hal sulit.

Waktu berlalu singkat, dalam kesedihan yang tidak terlalu dalam yang saya rasakan karena gagal dalam mencari kerja, di sisi lain ada seseorang yang merasa lebih gagal menjadi seorang ayah. Saat kacaunya pikiran saya, saya bertemu dengan Ajun, disaat itu saya sadar, bahwa hidup pasti akan selalu dipertemukan dengan kegagalan, tapi enggak apa-apa, karena kalau enggak gagal, kita gak bakal dipertemukan dengan kata ‘coba lagi’, bukan ‘berhenti’.

"Assalamualaikum, ieu urang, Ajun."

Sekitar jam setengah sembilan malam, kami berdua pamitan kepada bang Irfan, Abu dan beberapa orang lain yang kebetulan ada di sana. Motor saya keluarkan dari gerbang rumah, dan ketika saya hendak memakai sepatu, saya baru menyadari bahwa kaos kaki saya sudah tidak lagi berada di tempatnya, dalam sepatu.

Dicari-cari enggak ketemu, dalam tas, box motor, dan tentu disekitar sepatu-sepatu lain, masih tidak ditemukan. Saya sempat kesal, tapi karena cuma kaos kaki buat apa disesali terus menerus. Kaos kaki bisa dibeli lagi, kecuali yang hilang itu seseorang yang kita sayangi sudah tidak lagi berada di dunia ini, mungkin saya juga harus bersedih untuk sementara waktu.

Begitupun dengan Ajun, saya tidak bisa menebak apa yang ia sedang pikirkan dalam kepalanya, antara bersedih atau bahagia  setelah pertemuannya dengan keluarga yang jarang ia temui.

Kaos kaki sudah saya relakan. Kami meninggalkan rumah dengan penghuninya yang ramah di suatu malam. Dalam perjalanan pulang ke kemayoran, pikiran saya kembali berputar dengan beberapa pertanyaan; apakah nanti kalau sudah berkeluarga saya akan bahagia? Pertanyaan tersebut tergambar jelas daripada pertanyaan-pertanyaan lain yang saat itu saya pikirkan, dan satu lagi pertanyaan yang terus berputar-putar dalam kepala selama dalam perjalanan pulang kembali ke kemayoran. Pertanyaan yang saya harap segera dilupakan; kira-kira ada berapa orang yang akan mengingat saya setelah saya meninggal?

Jumat, 12 Juli 2019

Cita-cita Seorang Pembalap Keong


Cita-cita saya sewaktu kecil itu pernah pengen jadi pilot, dokter atau yang dekat dengan harapan yaitu jadi guru, sekiranya itulah jawaban ketika saya masih sekolah dasar, lalu ditanya ‘kalau sudah besar cita-citamu mau jadi apa?’. Kenapa pilihan terakhir saya pengen jadi guru adalah karena yang saya tau, sewaktu saya jadi murid kayaknya kok enak banget gitu melihat seorang guru ngatur-ngatur anak kecil; ngasih PR, suruh ngapalin perkalian, potongin rambut murid yang sudah panjang sampe melewati kuping, dan masih banyak lagi, termasuk menghukum murid yang nakal dengan cara tangannya harus pegang kuping kanan-kiri sementara kaki kanannya diangkat ke arah kaki kiri. Aduh serunya...

‘CITA-CITA MACAM APA INI MALAH KAYAK JADI TUKANG BULLY!

Jujur, selain dari 3 profesi yang saya sebutkan tadi, saya enggak tau lagi harus jadi apa sebab sewaktu sekolah dasar saya sukanya main keong. Ya masa harus jadi tukang balap keong sampe gede? Sungguh kehidupan yang enggak nyambung.

'Minggir-minggir, saya duluan!'

Pada tulisan ini, saya sempat membahas betapa enaknya kalo jadi anak kecil lagi; kita (atau dalam cerita ini sebut saja saya) bisa leluasa mengutarakan perasaan yang saat itu kita rasakan, enggak mikir panjang dulu saat hendak mengambil keputusan. Misalkan; ketika saya pengen mangga, dan kebetulan saya enggak punya pohon mangga, kemudian saya mengajak temen saya buat ikutan nyolong mangga, palingan kalaupun ketahuan cuma kena tegur dan enggak terlalu dijadikan perkara dalam bertetangga.

Tapi bayangkan kalo saya nyolong mangga pada usia saya sekarang ini? Aduh! Pasti mikir-mikir lagi; takut kalo ketahuan, ketahuan nyolong mangga tetangga pasti jadi gosip sampe kampung sebelah. Soalnya saya nyolong mangganya sampe dua karung. Maklum kalo udah gede nyolongnya sekalian harus banyak, jangan setengah-setengah, nanggung bosqu~

Btw, ini kenapa harus nyolong mangga sih?

Mari kembali ke cerita awal. Semakin bertambah usia, cita-cita kita biasanya akan semakin menciut ke arah yang mungkin lebih mudah untuk dicapai (biasanya ini terjadi pada orang yang gampang tidak percaya diri—macam saya) bisa jadi cita-citanya pengen jadi pengusaha, kerja kantoran, jadi penulis buku, punya bisnis ternak lele, jadi pemain sepak bola atau seperti cita-cita saya sewaktu SMA yaitu jadi anak band. Coba bisa gak bayangin gimana saya bentuknya kalo jadi anak band?

Apa muka saya jadi mirip senar gitar? Ah.. tolong percayalah sedikit kalo saya ini bisa main gitar, soalnya dulu pas SMA saya paling rajin belajar main gitar, dan yang ngajarin saya main gitar itu saudara saya yang sudah jadi anak band duluan di sekolahnya. Percayalah, kalo kamu sekolah SMA pada tahun 2000-an pasti melihat anak band itu keren banget asli!

Tapi, setelah lulus sekolah, dan saya tidak melanjutkan pendidikan, rasanya cita-cita saya untuk jadi anak band gak bakalan pernah terwujud, lagian pas SMA saya main musik cuma setengah-setengah. Dan hal inilah yang selalu saya benci dari diri saya sendiri; melakukan segala sesuatu dengan tidak sungguh-sungguh.

Dan ketika masa sekarang, ketika usia melewati angka 25, ketika saya belum menjadi apa-apa, ketika saya hanya memandang laptop dengan beberapa paragraf di atas, ketika chat whatsapp saya isinya dari grup semua, ketika saya jadi anak kos, ketika saya beberapa kali patah hati, ketika saya jauh dari orang tua, ketika betapa saya merindukan seseorang, dan ketika saya menulis ini; entah kenapa semua cita-cita yang saya sebutkan tadi malah menjadi terasa jauh? Malah yang terbayang saat ini hanya sebuah angan-angan yang seperti terbawa lari oleh keong balap.

Semakin dewasa, semakin bertambah usia, rasanya semakin sedikit keinginan kita--mksudnya saya--hanya keinginan untuk hidup bahagia, dan banyak uang; tapi kerjaan malas-malasan, bangun pagi susah, alarm nyala ditunda 5 menit kemudian. Hmm... Hidup ketika tidak menjadi apa-apa selain sedang mencoba menjadi manusia, malah semakin jadi banyak pertanyaan! Ah, jatidiri; semakin dicari malah semakin menjauh pergi...


*Terakhir untuk tulisan singkat ini. Pesan saja; tulisan ini enggak perlu dicari pesan moralnya, toh masih sama seperti tulisan-tulisan sebelumnya; sekadar bercerita.

Salam Keong Mania!

Sumber gambar: https://www.idntimes.com/hype/fun-fact/agatha-maria-puspandari-pudyastuti-1/unik-ternyata-ada-kompetisi-balap-lari-siput-di-inggris-c1c2

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND