Personal Blogger

Rabu, 30 Januari 2019

Rumah Baru Ajat


Punya temen yang asik itu untung-untungan, ada yang temenannya udah lama, tapi  belum  tentu cocok sama kita, ada juga yang baru temenan seminggu, tapi udah cocok jadi temen ngobrol sama jadi temen nongkrong yang asik. Emang tergantung bagaimana orangnya juga sepertinya, ya. Sama seperti apa yang baru saja gue alami dalam waktu yang kurang dari sebulan ini. Semenjak gue bekerja di Cileungsi, tetangga kontrakan gue yang kebetulan adalah teman dari teman gue juga, Ajat namanya, dia langsung cocok-cocok aja buat jadi temen ngobrol, tiap malem atau setiap kali nongkrong pasti suasana jadi rame, memang mungkin juga karena dia orangnya hobi banget ngobrol kali ya, atau istilah kerennya mudah bergaul, atau istilah kerennya lagi extrovert, atau yang lebih kerenan lagi; “ebuset ngomong bae..”

Hal pertama yang membuat kami cocok (maksud dari ‘kami’ ini adalah seluruh orang-orang kontrakan, bukan gue sama si Ajat aja, ya, jangan salah paham) adalah kebiasaan ngopi sambil main gitar di jam pulang kerja. Ketika sampai kontrakan, biasanya kami langsung nongkrong di depan teras, mulai dari ngobrolin masalah di kerjaan, ngobrolin temen lain yang hobinya minta rokok, ngobrolin perempuan, sampai ngobrolin berbagai hal yang ada sangkut pautnya sama pernikahan, dan yang paling banyak bertanya tentang pernikahan adalah si Ajat, kebetulan dia yang tidak lama lagi akan menikah. Padahal pecuma juga tanya-tanya sama gue yang belum ngerti apa-apa soal bab-bab menikah ini.

“Nanti gue di sana nongkrong sama siapa ya...?!” Kata Ajat seolah-olah tidak akan mendapatkan teman nongkrong lagi di rumah barunya.

Beberapa hari sebelumnya gue dan beberapa teman lain membantu Ajat pindah kontrakan, mungkin agar ketika sudah menikah nanti dia bisa langsung membawa mantan pacar yang ketika sudah menjadi istrinya itu ke tempat yang ‘bebas’ untuk pengantin baru. Tau sendiri lah, penganten baru gitu.. :3

Kontrakan baru milik Ajat, lokasinya cukup jauh dari pusat kota Cileungsi (Cileungsi udah kota, kan?) memasuki daerah perkampungan tapi gak kampung-kampung banget, atau lebih cocok disebut perumahan. Dan beruntungnya Ajat mendapat kontrakan yang paling bagus, bukan kontrakan yang cuma 3 petak, tapi rumah. Harga per-bulan-nya standar lah, tapi gue curiga rumah itu malah ada hantunya. :3

Ketika gue membantu pindahan itu—ketika sampai di sana kami sudah disambut oleh tetangga kontrakan, Gracia namanya, seorang anak laki-laki yang doyan banget ngomong seperti wartawan alias banyak tanya, bisa dibilang lebih mirip anak tuyul, maksud gue bocahnya gak bisa diem, tapi mungkin ini sudah jodohnya Ajat, dia jadi punya tetangga yang... doyan ngomong juga. Selain si Gracia, ada juga kakaknya, gue lupa namanya, tapi kakaknya ini sopan banget, dan kalau dilihat-lihat mukanya lebih mirip anak tuyul (ini jahat gak sih disama-samain jeung tuyul? Ah enggak jahat lah ya..) kakaknya si Gracia ini selalu minta maaf atas kelakukan adiknya, tapi kami justru malah terhibur dengan pasukan tuyul ini, dengan kehadiran mereka, rumah ini seperti menjadi lebih hidup, hidup di antara para tuyul maksudnya. Dan dengan ini, gue bisa menjawab pertanyaan Ajat dengan bangga,

 “Nanti gue di sana nongkrong sama siapa ya...?!”

 “Sama tuyul!”

 “SETAN!!”

 “mungkin maksud lo anaknya setan?!”

 “..........”

Kontrakan Ajat yang baru tidak langsung dihuni, dan gue tau alasan utamanya apa, si Ajat gak bisa tidur sendirian alias penakut, apalagi di sana ada keluarga tuyul. Mungkin nunggu sah dulu baru mau tinggal di sana. :3

**
Seperti biasa, setiap jam 10 malam kami selalu nongkrong di teras depan kontrakan, ada Ajat juga, dan kebetulan tadi siangnya Ajat baru saja pergi ke kontrakan barunya untuk bersih-bersih. Katanya di sana dia di temani kakanya Gracia.

 “Om lagi apa om?” Suara ajat menirukan suara kakakna si Gracia—ini bocah namanya siapa sih?!!—Ok, mari kita sebut saja dia... Tuyul 1.

 “Lagi beres-beres. Sini masuk..”

 “Gak pake sendal, om, kotor..”

 “Yaudah kamu pulang dulu, cuci kaki trus pake sendal, ya..” kata Ajat mengulangi perbicangannya dengan Tuyul 1 tadi siang. Entah kenapa malah terdengar seperti om-om pedofil yang sedang nyari mangsa yah?

 “Om aku udah cuci kaki, om...”

Dan cerita percakapan Ajat dengan Tuyul 1 itu malah bikin  rame suasana malam. Ada juga cerita lain dari Tuyul 1, ketika gue membantu Ajat pindahan beberapa hari sebelumnya, gue memang melihat sosok Tuyul 1 ini seperti anak pungut, tampilannya kurus, rambutnya trombol, atau bagaimana ya, seperti habis dicukur paksa menggunakan gunting rumput. Dan konon katanya, rambutnya itu habis dicukur ibunya karena dia bandel; rambutnya diwarnai merah karena mengikuti gaya rambut teman-temannya. Mungkin benar juga kali ya kalau nyari temen itu harus pilih-pilih. Bisa aja kan cat rambutnya warna pelangi? Mungkin ibunya gak bakalan nyukurin seperti itu lagi. Tapi cukurnya dengan cara dibakar! Ehehe.

 “Om jahat om...” Loh!

Setelah pindah kontrakan dan sebelum menikah, Ajat masih tinggal di kontrakan yang lama (sebelahan dengan kontrakan gue) dan masih bernyanyi bersama gue dan teman-teman lain setiap malam, ya walau suara gue kurang cukup bagus alias jelek banget anjir!! Yang penting nongkrong dulu aja, suara mah belakangan. Uhuy..

Beberapa kali gue diminta untuk ikut  menginap di kontrakan baru milik Ajat. Pernah sekali gue ditipu olehnya, “Eh ikut gue yuk ke rumah, nanti yang lain ntar malem pada nyusul..”

Akan tetapi sesampainya di sana, gue tetap berdua sampai pagi dengan Ajat yang terus latihan ijab qabul. “Biar lancar..” katanya. Brengsek memang, mau nikah malah nipu temen dulu.

Ketika hari pernikahan Ajat berlangsung, jujur gue belum banyak mengenal teman-temannya yang lain, gue hanya mengenal beberapa orang saja, tentunya ini membuat gue tidak percaya diri atau dengan kata lain gue takut dianggap sebagai tamu tak diundang yang datang dengan amplop isi sepuluh ribu tapi ngambil makanannya yang paling banyak.

Gue datang dengan teman-teman kontrakan yang lain, kebetulan gue tinggal di kontrakan yang berjejer banyak, dan kebetulan orangnya asik-asik.

Ketika kami berfoto bersama Ajat—sang pengantin, gue sempat bingung dengan gaya berfoto teman-teman yang lain, ‘GAYA MACAM APA INI? INI BUKAN KAMPANYE HITAM, KAN? TOLONG JELASKAN!!’


Pernikahan Ajat & Erisa

Menurut sumber yang dipercaya, gaya foto di atas adalah:

Gaya X; Ex = Mantan warga wakanda

Dengan simbol X di dada yang berarti simbol mantan tetangga kontrakan. Konon katanya dulu mereka yang menyilangkan tanda X pada foto di atas itu pernah menjadi tetangga yang baik. Terus kenapa gue malah ikut-ikutan? Gue bukan tetangga lama, gue tetangga baru bos~

**

Dengan pernikahan tersebut, resmilah Ajat meninggalkan kami (tetangga kontrakan lama—tapi gue tetangga baru) dan menjalani kehidupan barunya bersama Erisa sang pujaan hatinya~

Dan juga, dengan berakhirnya tulisan  ini, gue ucapkan...

Selamat Menikah, Om Ajat. Hiduplah bahagia bersama.. Tetangga baru anda. :3

Draft 2018 - Bandung


Ps: Tulisan ini tanpa melalui proses edit ulang; dibuang sayang.


Beberapa bulan ke belakang, secara sengaja atau tidak sengaja, gue banyak melakukan kegiatan yang selama ini memang gue inginkan, merencanakan liburan ke tempat-tempat terdekat terlebih dahulu, kalau untuk ke luar pulau atau bahkan ke luar negeri itu masih belum mampu. Atau dengan kata lain, pergi ke tempat-tempat yang masih bisa dijangkau menggunakan kendaraan bermotor, kalau naik mobil, bukannya havefun di tempat liburan, malah tepar di penginapan, mentok-mentok kagak diajak terus diusir dari grup whatsapp karena bikin emosi orang-orang se-grup. “mabokan lu!” atau, “udelnya ditempelin koyo aja!”, atau “left aja left, bikin susah..!”.

Ya, bukannya enggak mau liburan jauh-jauh, cuma gue masih dalam keadaan berlatih untuk bisa pergi jauh menggunakan mobil, soalnya selama hampir 20 tahunan ini gue masih juga belum lulus pergi jauh-jauh menggunakan mobil. Terakhir naik mobil selama berjam-jam itu sewaktu ke Bogor, sampe keluar banyak terus jadi ke-enakan karena perutnya jadi dielus-elus cewek, sambil palanya senderan. Sebuah kesengsaraan yang membawa berkah tersendiri alias mencari kesempatan dalam kemabokan.

Balik lagi soal ngomongin liburan, setelah gue memutuskan untuk resign, iya resign, gue jadi banyak mengambil waktu luang untuk pergi jalan-jalan. Sebenernaya enggak jalan-jalan beneran, kadang kalau lagi ada perlu ke luar kota, pulangnya gue sempetin liburan ke tempat wisata yang gue lewatin saat jalan pulang, seperti beberapa minggu yang lalu, saat gue harus balik lagi ke Bekasi, pulangnya gue nyoba lewat Bandung, memesan tempat inap untuk beberapa malam, menghubungi beberapa orang yang ada di Bandung, dan setelah sampai ke Bandung, tidak lupa untuk membuat kode di Instagram stories,

“Yoooo Banduuuung!” teriak-teriak sambil rekam gedung sate. Ya siapa tau  ada yang DM, kan, “Lagi di Bandung yah? Sini atuh maen..” kayak gitu misalnya. Ya siapa tau gitu rejeki.

Karena sebelumnya gue udah bilang ke salah satu temen di sana, soal rencana gue yang ingin main ke Bandung, maka jadwal dan tanggal mainpun sudah pasti gue tandai di kaleder, kami sengaja memilih hari Sabtu dan Minggu agar tidak mengganggu waktu kuliah temen gue ini. Beberapa tempat wisata sudah ditetapkan dengan pilihan masing-masing, bahkan juga jadwal di hari Minggu sudah kami rencanakan untuk pergi liburan seharian full, sampe gempor, sampe lemes, sampe mana tadi?

Tapi ternyata, sebaik-baiknya kita berencana, tetap saja Tuhan yang menentukan, kan. Tepat dua hari sebelum hari liburan itu tiba, motor dia malah ilang, ilang di kosan, ada yang maling. mendengar kabar tersebut, gue udah ngerasa enggak enak, bukan memikirkan motornya, tapi memikirkan tiket yang udah enggak bisa di refund. Gue emang brengsek ya? Tapi lebih brengsek lagi yang maling motornya.

Setelah mengetahui kabar tersebut (juga emang hari itu gue udah niat pergi) gue langsung pergi dari Bekasi ke Bandung,  Oo... tentu saja tidak naik bus atau bawa  ayla, tapi naik motor kesayangan yang udah baret-baret. Dengan jaraknya yang lumayan jauh, maka sesampainya di sana, gue langsung menatap dalam-dalam bentuk kasur di tempat inap, sungguh terlihat nyaman dan menggemaskan, ingin segera mandi dan langsung memeluk guling erat-erat (kalo ini konten bersponsor, kayaknya oke juga).

Bukan maksud enggak mau bantu yang lagi kena musibah, cuma gue bingung mau bantu ngapain, bantu nyari juga kayaknya enggak mungkin, mentok-mentok gue ngasih perhatian sama ngasih pundak untuk bersandar ketika ia sedang bersedih.

Pas udah malem, gue bingung mau ngapain, belum kenal jalanan di Bandung, belum kenal tetangga sebelah, belum kenal sama pak RT-nya dan masih banyak lagi yang belum gue kenal di sana, ada orang yang lagi kena musibah juga udah yakin enggak mau diganggu dulu, enggak enak aja rasanya ketika orang lagi sedih tapi gue malah ngajak seneng-seneng.

Tapi alangkah masih beruntungnya, gue inget ketika gue bikin stories di IG, ada salah satu temen di Bandung yang DM, “lagi di Bandung yah? Sini atuh maen..!” (benar-benar terjadi pemirsa), temen gue ini, temen yang udah lama banget enggak ketemu sejak lulus SMA, kebetulan dia lagi kuliah di sana. karena gue enggak mau menyia-nyiakan malem minggu  pertama selama gue di Bandung, maka gue nyoba chat dia buat ngajakin gue jalan-jalan. Dan... berhasil, dia mau.

Sekitar jam sembilan malam, gue minta dia buat ajak gue ke tempat nongkrong yang asik di sekitaran Cikutra, Bandung. Kami pergi berdua ke tempat makan yang kata dia sih lumayan enak makanannya, yang ternyata pas gue nyoba makanannya malah asin, makan ramen. Mungkin ramen emang asin gitu ya? Soalnya gue biasa makan ramen yang di jual di indomaret. Yang beli 2 gratis 1, promo jumat-sabtu-minggu yang rasanya gak asin-asin banget.

Paan si.

Sambil terdengar tayangan televisi yang menyiarkan Liverpool vs MU berlangsung, kami banyak bercerita banyak hal, sudah tentu kilas balik masa-masa sekolah, nginget-nginget temen lain yang udah hampir lupa namanya, ngomongin temen-temen lain yang udah pada nikah, sampai-sampai lupa waktu kalo udah hampir jam sebelas malem. Alih-alih gue mengantarkannya pulang, malah diajak pergi ke bioskop. Diajak ujan-ujanan, gue yang pake jas ujan, dia yang basah kuyup. Enggak apa-apa, pengalaman menarik, biar inget terus. Terus enggak mau diajak jalan  lagi.

Biar ada thumbnailnya aja~

Hujan gerimis bukan halangan, kami tetap melaju dengan tidak menghiraukan orang yang gue bonceng kedinginan apa enggak, kan kata Dilan juga “kalo aku yang sakit nanti yang jagain kamu siapa atuh anying?”. Kami melewati Antapani dan gue lupa lokasi bioskopnya di mana, pokoknya saat itu kami membeli 2 tiket film Black Panther. Menonton tengah malam sungguh sebuah sensasi yang baru gue rasakan, suasananya tidak terlalu ramai, hanya ada beberapa penonton, sepasang muda-mudi yang mungkin sedang menikmati malam minggu yang romantis. Mungkin saja diperjalanan pulang nanti mereka akan melakukan adegan romantis seperti yang ada di film tersebut,

“Sayang sayang lihat deh, WAKANDA FOREVER!!” Sambil menyilang tangan di dadanya, yang kemudian dibalas oleh yang satunya,
“ay lop yu porever atuh”
Yah... memang, jatuh cinta bisa semenye-menye itu. Geuleuh pisan pokoknya mah.

Ketika keluar bioskop, temen gue ini  sempet ngomong, “sebenernya aku udah nonton film ini, tapi mau ganti film lain tadi takutnya kamu belum nonton yang ini, ehehe..”

“hahaha, samaaaaaaa!! Sebenernya udah nonton juga..”

Maka sambil berjalan ke tempat parkir kami cuma ketawa-ketawa enggak jelas, dan dalam hati gue masih memikirkan kenapa tadi pas ditanya mau nonton film apa jawabnya malah ‘terserah..’ KENAPA?? KENAPAA ATUH SIATEH..??

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND