Personal Blog

Minggu, 11 November 2018

Tentang wanita-wanita yang pernah duduk di belakang jok motorku

Gambar: Pixabay

“Kedai kopi, senja di pantai, restoran siap saji dan tempat-tempat biasa kita berjumpa sebelum berpisah dahulu; semua tempat itu hanya untuk orang lemah sepertimu!” Katamu sambil mengumpat dengan membawa-bawa nama hewan yang sangat dicintai oleh BNN itu. Padahal kita baru berjumpa lagi setelah sekian tahun berpisah.

Kita memang bertemu di kedai kopi, bukan? Kamu sedang membaca buku di pojokan, mungkin itu cara terbaik agar mirip seperti tokoh dalam novel yang sedang kamu baca dan kamu ikuti setiap apa yang tokoh itu lakukan dalam setiap jalan ceritanya. Atau mungkin kamu hanya merasa karakter itu sama seperti dirimu saja. Percayalah, kamu hanya terbawa suasana.

Aku menyukai perempuan dengan rambut pendek sebahu, asal tidak botak. Siapalah lelaki yang tidak suka perempuan dengan rambut sebahu, berkacamata dan suka membaca buku, mungkin itu hanya sosok perempuan yang kusuka saja, beda lagi dengan om-om yang suka jajan di hotel, mungkin perempuan seperti yang kubicarakan tadi tidak akan diliriknya sama sekali. Kecuali ada sesuatu yang menonjol yang dilihat oleh lelaki mata keranjang yang kusebutkan tadi.

Aku memesan kopi Arabika — kopi favoritku karena aku tidak suka alasan lebih rumit lagi sepertimu yang lebih suka kopi Gayo yang menurutku tidak enak itu — dan aku melihatmu di sudut ruangan kedai kopi sambil membaca buku. Aku tidak tau kenapa saat itu aku lebih suka mampir ke tempat seperti itu.

Aku melihatmu sejak memesan kopi yang pertama kali ditemukan di Ethiopia itu. Sudah aku bilang aku menyukai perempuan berambut pendek sebahu dan memakai kacamata, dan kebetulan aku melihatmu, bajingan sekali kenapa waktu itu aku melihatmu sangat manis, meski sampai sekarang masih seperti itu walaupun sekarang kau terlihat sangat ingin kutendang.

“Hai, boleh?” kataku sambil menghampirimu dan meminta duduk di sana. ketahuilah, itu adalah tempat favoritku juga sebelum kau mengambil alih. “Aku hanya tidak ingin duduk di tempat lain, mereka membosankan” kataku agar kau tidak salah paham meski yang sebenarnya terjadi adalah aku yang terlalu membosankan bagi orang lain. Kau tau, aku tidak suka banyak mengobrol kecuali setelah mengenalmu.

“Hanya seminggu aku tidak datang ke sini, kamu sudah duduk di sini. benar-benar mengambil alih.” Kataku kepadamu sambil memutar sendok di dasar gelas. Padahal aku mengatakannya dengan serius, tapi kau malah tertawa kecil. Baru kali itu aku melihat orang aneh sepertimu.

Jika diingat-ingat, betapa menyebalkannya pertemuan itu, dan kenapa aku harus bertemu denganmu? Persetan dengan kebetulan!

Hal yang paling menyebalkan dari pertemuan itu adalah kenapa kita jadi lebih sering bertemu? melakukan banyak kebodohan dengan mengunjungi kedai-kedai kopi lain di setiap sudut kota. Selain itu, restoran siap saji di sebrang sana, kau ingat, kita juga terlalu banyak menghabiskan waktu berdua dengan hanya membeli sesuatu yang tak ingin aku makan lagi sampai sekarang — setelah berpisah. Kedai kopi, restoran siap saji; tempat-tempat itu anjing!

Dan, kau tau, aku juga sangat membenci senja di pantai, untuk sesuatu hal yang selalu muncul sesaat sebelum gelap, aku mulai memikirkannya; betapa bodohnya aku dengan segala kenangan itu. Sampai-sampai aku tidak ingin lagi melihat matahari yang pura-pura hendak tertidur padahal ia melancong ke bagian lain. Bagaimana kau bisa menyukai hal seperti itu? Kau benar-benar membawaku pada sesuatu yang kemudian aku benci sampai sekarang. Persetan dengan kedai kopi, persetan dengan restoran siap saji, persetan dengan senja di pantai, semua itu hanya keberuntungan bagi band indie untuk mendapatkan receh!

Ah, benar, band indie, sampai-sampai aku hampir lupa menyebutkannya karena sudah lama tidak mendengar lagu ‘Rindu’ yang dibawakan oleh dua orang yang sudah bubar itu. Aku ingat, setahun yang lalu aku mencoba mendengarkan kembali lagu itu, kau tau, dadaku terasa disundut besi yang baru dicelupkan ke bara api. “Jendela… kursi… atau bunga di meja..”, begitulah bagian liriknya, benar-benar lagu pembawa petaka, “beruntunglah kalian bubar..” kataku ketika mendengarkan lagi separuh dari lagu itu. Sialan memang.

Dari semua yang membuatku ingin menghujat setiap sudut-sudut tempat di kota itu, kau tau, yang paling aku benci adalah keberadaanmu, bahkan jalan-jalan yang kulalui pun benar-benar membuatku muak — jalan yang dulu sering sekali kita lewati menggunakan motor bututku, berdua. Kau tau, jika harus aku tulis cerita; Tentang wanita-wanita yang pernah duduk di belakang jok motorku, maka akan aku tuliskan beberapa nama: Suketi, Dolores, Sasmita, Ibu Kos dan semua wanita-wanita jahat di dunia ini, maka tidak lain dan tidak bukan — kau harus tau — bahwa nama-nama tersebut adalah jelmaan lain dari cerita tentang dirimu. Semua cerita adalah milikmu wahai bajingan tengik.

“Kedai kopi, senja di pantai, restoran siap saji dan tempat-tempat biasa kita berjumpa sebelum berpisah dahulu; semua tempat itu hanya untuk orang lemah sepertimu!” Katamu sambil mengumpat, “apa kabar kamu?” lanjutmu pada pertemuan yang tidak disengaja ini. Ah, aku malah melamun mengingat masa lalu.

“Kenapa kamu di tempat seperti ini?” sungguh pertanyaan bodoh, malas sekali aku harus menjawab pertanyaan seperti itu darimu. “ini tempat pertemuan kita pertama kali, bukan?”. Seharusnya tidak usah kau jelaskan.

“benar tidak ada yang ingin dijelaskan?” katamu menatap mataku.

“Sebelum kujawab, boleh aku tanyakan satu pertanyaan padamu?”

“Apa?” Katamu sambil memegang cangkir kopi, yang kalau boleh aku tebak dari aromanya, itu adalah aroma Gayo.

“Kenapa rambutmu panjang?”

“Oh, ini, kau tau, aku membenci rambut pendek setelah berpisah denganmu. Selain itu, kedai kopi ini, restoran siap saji di sebrang sana, senja di pantai dan lagu yang sedang diputar ini, dan tentunya dirimu. Aku benar-benar membencinya. Kau memang bajingan tengik, yah. Haha” katamu dengan santai mengatakan semua hal yang sebetulnya ingin sekali aku katakan juga padamu. Anjing lah aku keduluan! “dan, oh, maaf, tadi aku meminta barista di sana untuk memutar lagu ini. Tidak keberatan, kan?”

“Tidak. Untuk sesuatu hal yang sangat kamu benci, kamu terlalu berani untuk datang ke tempat seperti ini” kataku membalas. Sepertinya kali ini besi panas itu tidak lagi mengancam dadaku. Aku juga heran.

Pikiran ini kacau, sebenarnya apakah aku memang sangat menyukai wanita berambut pendek sebahu atau saat itu aku hanya benar-benar menyukaimu saja? Sialan! Dengan rambut panjangmu saat ini perasaanku masih saja sama seperti dulu.

“Kamu tidak berubah sedikitpun yah, gaya pakaianmu, cara dudukmu, kopi arabika-mu. Haha. Ayolah jelaskan.. aku ingin dengar..”

“hal yang sangat ingin aku katakan sudah kamu katakan tadi” kataku menjelakan, “Kamu tau tempat ini, semua tempat yang kamu sebutkan tadi, dan lagu ini, semuanya membuatku muak.”

“Kamu benar-benar orang yang  rumit. Seharunya kamu menjelaskan kenapa kita berpisah dan kenapa kamu meninggalkanku.” Katamu.

“Maaf..”

“Aku hanya merindukanmu..”

Sungguh mulut sialan bodoh, kenapa aku mengatakannya. Aku melihatmu hanya terdiam sampai pada akhirnya kau mengeluarkan kata-kata,

“Sudahlah, semua sudah berlalu, aku ke sini hanya untuk memastikan, setiap tempat, lagu dan kisah dari novel ini terasa tidak asing, jadi aku hanya pergi untuk memastikannya, dan ternyata benar, akulah dia, si tokoh perempuan di novel itu, kau yang tulis, bukan?”

Kau pergi, meninggalkan satu buku yang tidak asing, buku yang tidak terlalu tebal, “Tentang wanita-wanita yang pernah duduk di belakang jok motorku” begitulah yang tertulis di sampulnya yang berwarna kelam, penulis mana yang dengan bodohnya memberi judul sebuah novel dengan judul seperti itu kecuali aku. Ah, sialan, aku ketahuan.


***

Cerita ini terinspirasi dari buku Unforgettable, lagu yang dicover oleh Kobasolo ft. Harutya dan beberapa buku fiksi yang sedang dibaca.
PS: Gak ada yang namanya berpisah dengan baik-baik. kalo baik-baik harusnya gak berpisah. Ayo kita bangsat-bangsatin! AHAK AHAK

36 komentar:

  1. Hei, anjing! Kau boleh senang ketika Banda Neira bubar, kau boleh juga membenci restoran siap saji, senja, kopi, atau apalah tetek bengek lainnya itu; aku betul-betul tidak peduli dengan segala keluhanmu. Tapi, jangan pernah lagi kau mengejek lagu Rindu. Itu puisi dari Subagio Sastrowardoyo. Dia penyair favoritku.

    Salam,
    Cucu kesayangan beliau sekaligus pacar baru dari tokoh "kamu" yang berambut pendek dan berkacamata di cerita ini,
    Agus Suhana Yongkuharu

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ah, persetan lah kau! dan

      selamat semoga tidak bernasib sama.

      Salam, “Aku.”

      Hapus
  2. Fyi, rambutku juga pendek nih. Tapi aku ga suka kopi gayo. Aku sukanya kopi kapal api:(

    Harusnya waktu ditanya 'kenapa rambutmu panjang?'
    Trus dijawab, 'iya nih, aku pake pomade wak doyok aku pake di rambut. Lagi diskon loh. Cek ig aku aja '

    BalasHapus
    Balasan
    1. Satu pertanyaan juga buat Wulan, cara seduhnya pake sendok atau pake bungkusnya? kalau pake bungkusnya kamu adalah wanita yang patut diperhitungkan.

      Hapus
  3. Jadi pengen nulis ginian juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, tulis kak. saya tau kisah cinta anda tidak jauh beda juga dengan tokoh “aku” di sini. hiya hiya hiya.

      Hapus
  4. Hah, baca ini aku jadi tahu betapa awamnya aku sama info band indie.

    Aku suka gaya nyebut isi kebun binatangnya. Kalem dan elegan. wkwk

    Berpisah memang ga ada yang baik. Sebaik-baiknya pisah bakalan cuma keliatan di luar doang, selebihnya carut marut ngga jelas. Wkwk

    BalasHapus
  5. semalem baru liat-liat cerpen yang gue tulis d blog ada berapa, kayaknya mau mulai nulis cerpen-cerpen lagi.

    buku unforgettablenya bagus ya? jadi pengen baca juga uy

    BalasHapus
    Balasan
    1. Itu buku Romance, tapi gak ada kata-kata kasarnya sih di buku itu mah. haha. karya Winna efendi. buku lama, kayaknya udah jarang deh di toko buku.

      Hapus
  6. Lalu, bagaimana soal apabila nantinya ada yang berhijab? Toh kan rambutnya jadi tidak terlihat lagi panjang pendeknya..

    Apakah yang versi berhijab ini akan ada cerita lagi? Bedanya dia kini tidak lagi minum.kopi, tapi minum teh sariwangi ..

    Gadis Sariwangi,ah sepertinya elok nian jika dijadikan judul tulisan ^^

    BalasHapus
    Balasan
    1. gak tau gimana pendapat dari tokoh Aku, kalo saya sih suka-suka aja, soalnya saya juga suka teh sariwangi.

      Hapus
  7. Buset keren amat ini tulisan. Ceesku Hen-hen makin sini tambah gagah aja deh ih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Nuhun cees..

      eh tapi, kira-kira udsh mandi belum? soalnya kalo belum mandi dilarang komen di sini. mandi dulu sana pake sabun asepso.

      Hapus
  8. Ya ampun, imajinasiku kemana2. Andai adegan kopi itu di perankan sama gong yoo dan hyo eun hye di serial coffee prince, mungkin adegan itu sdh berakhir dengan pelukan dan ciuman. Wkwkwk...

    BalasHapus
  9. Ceritanya kereeeeen.aku terbawa suasana kisah ini, membayangkan wanita itu mengatakan kata anjing. Duh, kasar kali kok ya itu cewek

    BalasHapus
  10. Kalo tokoh aku ini adalah bang ojol, pasti gak abis abis nih ceritanya ya

    BalasHapus
  11. Oh, jadi itu judul buku. Kalau sudah punya istri nanti, bukunya dibakar aja. Hehe. Setuju.Nggak ada namanya berpisah baik-baik, kalau baik-baik saja pasti tak berpisah.

    BalasHapus
  12. Menarik sih tulisan ini. Aku perlu baca lagi sembari mencoba secangkir kopi dari warung yang sudah melebihi kadar normalnya. Aku pun juga menyukai cewek berambut sebahu.

    BalasHapus
  13. Ya baiklah aku akan berkata bangsat tentang perpisahan yang tak pernah selalu baik baik. Hahaha. By the way rambutkj sekarang pendek sebahu nih dan terkadang aku memakai kacamata, hmm... tapi aku pernah tidak ya berada di jok motormu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. sepertinya pernah, coba dipikirin lagi. atau gak coba bayangin aja; motor bebek, knalpotnya berisik, bannya bocor, dan diliatin orang-orang, dan kita jalan berdua.

      Hapus
  14. wuaw, baca judulnya aku terpana, kupikir akan curhat beneran loooh. hahaha. ya mana mungkin ya

    ini tuh percakapannya kayak sastrawan ngobrol sama sastrawan ya
    cukup puitis sih menurutku, hehe

    BalasHapus
  15. Gue pikir menceritakan gue ekwkkw "jokbelakang"

    Gue cuma kasih tau sama Lo ya Yan, ada kok yang pisah baik-baik. Sebuah perpisahan yang akhirnya disetujui sama kedua belah pihak karena keadaan. Sebuah perpisahan yang pada akhirnya ngedewasaain dua orang. Dan menurut gue ini jauh lebih sakit sih daripada berpisah tidak baik :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. yang dibenci perpisahannya, bukan orangnya. gitu bukan sih kalo kata Pidi baik? haha

      Hapus
  16. Kenapa aku terbawa perasaan ya baca cerita ini? Tapi memang, cinta sangat tipis batasnya dengan benci. Aku aja sampai heran lho, pernah ada cowok yang ngata2in aku, padahal dulu dia bilang cinta!! Maksudnya apa coba? Karena masih memendam kemarahan? Kesal? #lhamalahcurcol

    BalasHapus
  17. Dolores vokalis Cranberries ternyata pernah duduk di jok belakang kendaraannya nih mas aihihi... Saya malah tertarik kalimat di PS "Gak ada yang namanya berpisah dengan baik-baik. kalo baik-baik harusnya gak berpisah". Sebenarnya ada mas.. bayangin orang tuanya udah tua dan dipanggil sang pencipta, itu juga berpisah dengan baik-baik kan?? memang gak bisa berpisah? wkwkwkw

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aduh, iya juga ya, baru sadar kalo dolores juga nama salah satu vokalis. saya taunya dolores dari karakter salah sayu buku yang dibaca, dan di sana sia jahat. haha

      Hapus
  18. Haha aku mau bilang soal almarhumah dolores eh udah diswbut sama mas tomi. Btw, binatang2 kesayangan BNN apa aja?

    BalasHapus
  19. Beberapa orang tidak terlahir untuk menjadi bagian dari hidup kita, beberapa diantaranya hanya menjadi kenangan atau menjadi orang yang pernah mengisi sebagian perjalanan ini. Yang berlalu biarkanlah berlalu, ikhlaskanlah...

    BalasHapus
  20. Kamu menyukainya...karena emang suka..

    bukan karena rambut pendek..ataupun suka kopi..itu cuma alasan..

    Karena kamu belum pernah jatuh cinta dengan cewek yang pake kerudung yg suka minum es tebu.. 😂

    BalasHapus
  21. Wah sangat menginspirasi buat bikin tulisan. Tapi ya, kalo mantan dibangsat-bangsatin, kan gak enak atuh ya, kenalan bilang hai ya berpisah bilang sampai jumpa. Tapi tetep, mantan itu harus dijadikan konten haha

    BalasHapus
    Balasan
    1. mungkin bukan orangnya, tapi perpisahannya. aduh kata-kata ini masih diinget aha pokoknya. “perpisahannya” ah bang~

      Hapus
  22. Ternyata novel referensi dari gue bisa menginspirasi tulisan di blog lu ya. Lanjutkan anak muda!

    BalasHapus

Terserahlah kau mau ngomong apapun, bebas.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND