Personal Blog

Minggu, 25 November 2018

Surat Buat Nay



Setelah kepindahan Nayla ke luar kota, tepat pada awal bulan Mei, aku dan Nay—begitu aku biasa memanggilnya—tidak pernah bertemu lagi, sesekali aku mendengar kabar buruk tentang Nay, tapi aku tidak percaya. Aku dan Nay, sudah berjanji akan selalu berkirim surat, aku selalu menantikan surat-surat darinya, dan aku akan selalu mengirimi surat buat Nay. Aku akan bercerita apapun ketika menuliskannya.

Pada akhir bulan Mei 2006, satu bulan setelah kepindahan Nay, aku mengirim surat padanya, surat pertamaku, kira-kira dua lembar yang kutulis dengan bahagia. Aku bercerita bahwa motorku yang rusak telah diperbaiki, aku juga sudah mengganti lampunya, jadi kalau saja Nay masih berada di sini dan meminta aku untuk menjemputnya, pasti aku akan buru-buru datang. Aku juga menceritakan tentang bekas rumah Nay kini sudah ditempati penghuni baru. Kalau aku punya uang banyak, sebenarnya aku ingin sekali membeli rumah itu, rumah tersebut sangat berarti buatku dan Nay, banyak kenangan yang tertinggal di sana, dan mungkin suatu saat bentuk rumah itu akan berbeda karena sudah ada rencana renovasi oleh pemilik baru rumah tersebut, begitulah yang kudengar dengan secara tidak sengaja dari beberapa orang tetangga yang berbicara di sebuah warung kopi yang jaraknya tidak jauh dari rumah Nay dulu.

Setiap sebulan sekali aku mengirim surat buat Nay, aku menceritakan apapun, sesekali bercerita tentang masa lalu aku dan Nay, sebelum kepindahan Nay. Aku juga bercerita tentang betapa merindukannya aku kepada Nay. Dan aku tulis dalam surat tersebut, kalau suatu saat aku akan datang untuk mengunjunginya, tapi aku akan datang setelah Nay memintaku untuk datang. Datanglah nanti ke sana, tapi setelah aku balas suratmu, nanti aku akan memintamu untuk datang, kata Nay dulu sebelum pindah dan sambil memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumahnya yang baru.

Memasuki bulan Oktober, seperti biasa, pada akhir bulan aku selalu mendatangi kantor pos untuk mengirim surat buat Nay, sampai orang-orang di kantor pos mengenal wajahku dan mungkin merasa heran, kenapa aku mengirim surat tapi tidak pernah mendapat balasan sekalipun. Mungkin salah alamat, begitu kata petugas yang sedang bertugas di sana berkata padaku. Tapi aku yakin alamat yang kutuju sudah benar, alamat yang Nay berikan padaku sebelum dia pergi bersama ibunya. Jadi tidak mungkin kalau salah. Aku percaya Nay. Nay tidak pernah berbohong padaku.

Menulis surat buat Nay adalah sebuah kewajiban, saat menulisnya aku merasa hidupku sudah tidak harus melakukan apapun lagi. Sepulang sekolah aku menulis surat, sampai lulus sekolah dan ketika sudah bekerja seperti sekarang, surat buat Nay adalah sebuah kewajiban. Aku tidak peduli kalau aku memiliki sedikit teman, aku pikir memiliki satu teman saja sudah cukup. Nay saja sudah cukup.

Nay, hari ini aku sudah bekerja di sebuah surat kabar. Aku memilih pekerjaan ini karena sudah biasa menulis kisah-kisah, jadi kalau menuliskan sebuah berita atau cerita, aku pasti sangat bahagia, saat menuliskan apapun, aku selalu teringat padamu. Beberapa kali orang-orang di kantor memuji karya tulisku. Kalau kamu ada di sini, pasti aku akan bercerita banyak sekali. Di sini aku juga mempunyai teman-teman baru, mereka semua baik, aku tidak perlu banyak bicara untuk mendapatkan teman, kami saling mengerti. Terkadang kami di sini juga sering makan bersama di kantin yang cukup luas. Aku juga sangat menyukai makanan di sini, dan di sini juga ada telur gulung kesukaanmu, Nay, kamu harus mencobanya, rasanya enak sekali.

Surat pendek tersebut aku kirimkan lagi pada akhir Februari 2017. Aku mendatangi kantor pos yang sejak awal surat pertamaku buat Nay dikirimkan. Beberapa orang di kantor pos tersebut diantaranya sudah bukan orang yang sama. Oh jadi kamu yah yang sering datang ke sini pada akhir bulan, kata salah satu pegawai baru di sana berkata padaku, aku hanya tersenyum. Mungkin pegawai lama di sana yang menceritakannya pada orang baru tersebut.

Aku sering dinasehati beberapa teman-temanku untuk berhenti mengirim surat. Carilah pacar, kata temanku, tapi aku tidak terlalu mendengarkannya, Nay adalah yang paling istimewa buatku. Orang-orang  di kantor pos juga sering berkata kenapa aku tidak pergi saja ke rumah Nay, kan sudah ada alamatnya, katanya. Tapi aku tidak ingin membuat Nay kecewa, aku hanya akan datang kalau Nay yang meminta. Aku sudah berjanji kepada Nay. Aku juga sering memimpikan Nay, dalam mimpiku Nay menyuruhku untuk berhenti mengirim surat padanya, pasti karena aku terlalu banyak mendengar orang-orang yang menasehatiku untuk berhenti mengirim surat. Beberapa orang yang selalu berkata buruk tentang Nay.

Aku bahagia ketika menulis surat buat Nay, aku bahagia ketika mengingat saat-saat dengan Nay. Jadi, bagaimana mungkin aku harus berhenti melakukan apa yang membuatku bahagia?

Hampir sebelas tahun aku mengirim surat buat Nay. Sebelas tahun aku memikirkan wajah Nay, wajah yang berusia 16 tahun. Sampai sekarang aku hanya memikirkan wajah tersebut. Sesekali aku memikirkan wajah Nay sekarang seperti apa bentuknya, mungkin rambutnya sudah bertambah panjang, tubuhnya bertambah tinggi, mungkin juga payudaranya sedikit bertambah besar dan senyumnya yang pasti masih terlihat manis. Meski pernah berpikir seperti itu, bayanganku tentang Nay masih sama, bayangan Nay yang berusia 16 tahun. Aku yakin Nay dengan usianya yang sekarang masih tidak jauh berbeda dengan Nay yang dulu.

Masih menulis surat pada tahun-tahun yang apapun serba digital, mungkin orang-orang menganggapku aneh, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang ini, lagipula aku sangat menyukai ketika aku menulis surat buat Nay. Saat menulisnya, aku seperti sedang bercerita langsung kepada Nay. Seperti dulu, aku bercerita tentang guru matematika yang galak, dan Nay menertawakan ceritaku. Dan juga, surat  adalah satu-satunya yang  membuat aku selalu merasa dekat dengan Nay meski jarak sebenarnya terpisah jauh.

***
Entah  sudah berapa surat yang aku kirimkan, aku tidak sempat menghitungnya. Beberapa orang khawatir padaku, tapi aku tidak mengerti kenapa mereka khawatir? Padahal aku baik-baik saja. Mungkin, mungkin saja, mereka  hanya khawatir akan waktu, waktu yang hampir 11 tahun lamanya bagi mereka. Tapi bagiku, 11 tahun hanyalah angka, angka yang masih bisa aku hitung dengan jari. Lagipula, untuk mencintai seseorang bukanlah waktu yang menentukan. Kita bebas selama apapun mencintai seseorang. Aku bebas mencintai Nay selama yang aku mau.

Selama sebelas tahun itu juga, aku terus dihantui mimpi buruk tentang Nay—Nay yang meninggal dalam kecelakaan mobil pada hari keberangkatannya untuk pindah rumah 11 tahun lalu. Mimpi buruk yang pada akhirnya sesekali aku tuliskan dalam sebuah surat yang aku kirimkan buat Nay. Mimpi buruk yang sama persis orang-orang katakan kepadaku. Mimpi buruk itu selalu menghantuiku hampir setiap malam. Mimpi buruk yang ketika aku terbangun selalu  membuat air mataku menetes deras. Tapi aku percaya, mimpi hanyalah mimpi, kadang mimpi selalu berbanding terbalik dengan kenyataan.

Aku menulis lagi surat buat Nay, kali ini aku menuliskannya cukup panjang, aku selalu mempunyai banyak cerita ketika menulis surat buat Nay, walau sesekali yang kukirimkan hanyalah surat-surat pendek saja. Surat yang aku tulis seperti biasanya; bahagia, menghabiskan banyak tinta dan aku baca ulang beberapa kali. Untuk pertama kalinya, aku menuliskan banyak kata  rindu dalam surat itu. Aku pikir, ada baiknya juga kalau aku mengantarkan langsung surat itu kepada alamat yang Nay pernah berikan padaku. Dan aku bisa membacakan suratku secara langsung di depan Nay, dia pasti senang.

Awal bulan Mei 2017, aku memutuskan untuk ambil cuti satu minggu dari kantor tempatku bekerja, aku berkemas, beberapa pakaian ganti aku bawa. Handuk, sikat gigi, beberapa buku bacaan dan beberapa hal lain yang aku perlukan juga sudah aku masukan ke dalam tas.

Tepat pukul 8 pagi aku mendatangi terminal bus yang sama seperti bus yang mengantar Nay pergi ke rumah barunya 11 tahun lalu. Untuk pertama kalinya juga aku pergi meninggalkan tempat tinggalku, aku memang jarang bepergian jauh.

Selagi menunggu beberapa penumpang lain masuk, aku membaca buku yang aku bawa; Norwegian Wood, oleh Haruki Murakami. Buku yang belum selesai aku baca itu sengaja aku bawa karena memang ingin segera aku selesaikan. Beberapa orang bilang, setiap yang membaca buku itu akan mendapat kutukan; “kau akan bernasib tragis!” begitulah yang aku dengar. Tapi aku pikir ada bagusnya juga menyebar rumor seperti itu, dengan begitu, orang-orang pasti akan penasaran akan cerita yang tertulis di dalamnya. Lagipula, aku juga mengetahui rumor itu baru-baru ini, dan buku Norwegian Wood sendiri sudah aku miliki sebelum aku mengetahui rumor tersebut.

Bagian demi bagian telah aku baca, sosok Midori dalam buku itu selalu terbayang sebagai perempan yang manis, lucu dan selalu berpikir ke depan, walaupun sebenarnya sosoknya terlihat badung. Jujur saja kalau aku yang menjadi Watanabe—yang menjadi tokoh utama dalam buku itu, pasti aku akan hidup bahagia dengan Midori dari pada  dengan Naoko. Tapi kalau dipikir lagi, cinta Watanabe kepada Naoko memang harus diperhitungkan juga, seperti aku kepada Nay. Ah, beberapa hal memang tidak baik kalau harus dipaksakan.

Bus telah berjalan lambat, aku mulai mengantuk. Aku memasukan surat-suratku untuk Nay ke dalam buku yang sedang aku baca.  Rasa lelah mengalahkanku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke kaca bus, sambil melihat jalanan pagi yang cukup ramai orang-orang yang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Kemarin aku juga seperti mereka, pikirku sebelum tiba-tiba aku terlelap dalam tidur.

Seperti biasa, ketika tertidur, mimpi itu datang lagi bahkan di waktu yang tidak tepat. Mimpi yang selalu menghantuiku selama sebelas tahun, mimpi yang selalu membuatku menangis ketika terbangun; bus melaju kencang, orang-orang berteriak, dan aku melihat Nay. Dalam mimpiku, biasanya Nay berteriak, tapi dalam mimpi kali ini, Nay tersenyum kepadaku, aku berada dalam bus itu bersama Nay.

Aku melihat bus yang terbalik, asap keluar diantaranya, kaca-kaca jendela berserakan, darah-darah dari para penumpang seolah memberikan warna tersendiri di jalanan. Suara orang-orang berteriak minta bantuan. Aku melihat mereka berusaha berjalan keluar, aku melihat beberapa yang tidak lagi bergerak, aku melihat dari luar, aku melihat diriku sendiri yang sudah tidak bergerak, aku melihatnya bersama Nay, aku di samping Nay. Mimpi seperti biasanya yang membuatku selalu merasa takut, kali ini mimpi itu membuatku merasa tenang, mimpi yang membuatu tidak ingin terbangun, dan mimpi yang membuatku bertanya-tanya; kapan aku akan terbangun?

5 komentar:

  1. Baru engeh, saran gue langsung diterapkan sama lu, Yan. Info di paling bawahnya udah enggak ada lagi.

    Duh, kenapa tiap baca fiksi rasanya mau ikutan nulis. Wqwq.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya karena sarannya gampang, wkakak.

      nulis lah, yang banyak, siapa tau bisa jadi buku kalo dikumpulin, kan.

      Hapus
  2. Nay ini cocok kalau nama panjangnya Nayo, jangan Nayla. Biar bisa nyanyi hey nayo hey nayo

    BalasHapus

Terserahlah kau mau ngomong apapun, bebas.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND