YANG BIASA AJA!

Sabtu, 30 Juni 2018

Jane


“Kita merindukannya, dan dia lebih merindukan kita”


Ayah, bisa ceritakan kembali kisah kemarin?

Tidak bosankah kau, Jane? Kalau begitu akan kuceritakan beberapa hal yang masih ayah ingat sebelum kita pergi dan melupakan semuanya, mungkin ini agak berbeda dengan yang biasa diceritakan ibumu ketika kau menjelang tidur.

Dulu, sekitar pada tahun 80-an, tentunya kau belum lahir, dan akupun masih seorang anak kecil yang sedang berbahagia dengan kehidupannya kala itu, dan belum mengetahui tempat-tempat seperti ini. Dan, dulu sekali di sana belum ada yang namanya lampu terang seperti lampu neon yg kau lihat di atas kamarmu, lampu-lampu terang di teras rumah, di pinggir jalan, dan suara-suara gaduh televisi yang masih menyala saat kau menontonnya sampai tertidur. Yang ada hanya temaram pertromak yang digantung di bilik rumah, terkadang saat tengah malam menjelang, petromak itu sudah padam terlebih dahulu, dan kau terpaksa harus menikmati gelapnya pandanganmu ketika mata masih terjaga.

Konon katanya, sekarang di sana sudah hampir berubah, semenjak ada pembangkit tenaga listrik pada tahun 1980 yg mengubah suasana kampung itu, keadaannya sampai sekarang sudah semakin lebih baik, meski di antaranya masih sama, hanya dengan penduduk yang sudah tidak kukenal lagi. Banyak orang-orang baru, mungkin karena sebagian orang menikah dengan pasangan beda kampung, kota, atau dari mana asalnya yg tiba-tiba jika aku ke sana pada tahun-tahun ini, aku hanya akan menemui anak-anak kecil yang tidak aku kenal, mungkin mereka itu buah hasil dari teman-temanku dulu yang sudah pada menikah dan menetap di sana.

Ada satu peristiwa yang masih aku ingat sampai saat ini, dulu sekali, pada tahun-tahun itu, saat listrik mulai menerangi rumah-rumah warga, di sanalah waktu-waktu paling bahagia. Aku sendiri saat itu kemungkinan berusia 4 atau 5 tahun, jelas aku ingat, karena saat itu aku sama sekali belum masuk sekolah dasar, dan harus kau tahu, dulu sekali belum ada yang namanya TK seperti sekolahmu, bisa  dibilang langsung SD.

Hal yang paling membahagiakanku saat  itu sangatlah mudah, aku dibawa kakek-nenekmu berkunjung ke tetangga yang jaraknya lumayan membuat capek ketika harus menggendongku di punggungnya. Kami  berkunjung ke rumah tetangga hanya sekedar untuk menonton televisi yang hanya berwarna hitam putih, dan rasa bahagia itu hampir sama seperti yang kau rasakan ketika aku membawamu ke bioskop untuk menonton film favoritmu. Sampai-sampai aku tidak ingin pulang sebab karena aku masih ingin menonton televisi itu, meski waktu sudah tengah malam, sampai aku tertidur, dan ketika terbangun sudah berada di rumah. Sama sepertimu yg kadang tertidur dihadapan televisi, yang kemudian aku gendong ke kamarmu, tanpa sadar.

Suasana kampung itu, ketika baru jam 7 malam, rasanya sudah sepi sekali, ketika listirk-listrik belum masuk ke desa, hanya akan merasakan kesunyian yang mungkin kau tak akan tahan jika kau baru merasakannya, sangat-sangatlah berbeda dengan suasana kota yang mulai ramai di malam hari. Di kampung itu, suara jangkrik sudah pasti terdengar, mungkin juga daun jatuhpun akan seolah berbisik di telingamu.

Dan,  ketika kau  terbangun di pagi hari, orang-orang sudah  mulai sibuk, pergi ke ladang dan sawah, karena itulah satu-satunya pekerjaan  yang menghasilkan uang,  atau sekedar untuk bertahan hidup dengan bahan pokok seadanya. Harus kau tahu, sampai sekarang keadaan tersebut hampir masih sama, tetapi juga ada banyak perbedaan lainnya.

Dan biasanya, saat sore menjelang, anak-anak seusiamu sudah bersiap untuk berangkat ke surau, karena selain mengaji, surau adalah tempat paling membahagiakan ketika aku bertemu dengan teman sebayaku, bermain apa saja  yang bisa dilakukan  di sana, sebelum suara adzan terdengar.

bahkan, aku dan ibumu sudah berteman sejak kecil, kami selalu bermain bersama, pergi ke surau, lalu bermain sepuasnya untuk menghabiskan masa kecil sebelum dewasa tiba.

ayah..
lalu bagaimana kau bisa bersama dengan ibu?

Jane, kau tahu, pertanyaanmu itu, aku ingin juga bertanya pada kakekmu tentang bagaimana dia bertemu dengan  nenek. Ha-ha

Ibumu sosok yang periang, banyak bicara, tapi bukan bicara yg omong kosong, kata-katanya selalu membuat aku semakin suka padanya, ia dewasa, memang seperti sudah seharusnya kalau seorang wanita terkadang lebih dulu dewasa dibanding laki-laki. Ibumu dan aku sebelumnya sempat tidak saling bertemu sekitar beberapa tahun, lalu, aku dan ibumu bertemu kembali di suatu tempat di Jakarta, dan kebetulan ibumu juga berada di sana, dekat dengan  tempat kerja teman ayah. Kami bertemu, lalu mengenang masa lalu, kemudian seperti ada satu tali yg mengikat kami untuk bersama. Begitulah kehidupan, selalu tidak bisa ditebak.

Apa kau merindukan ibu?

Harusnya aku sudah tidak perlu menjekaskan ini, tapi apa boleh buat, perasaanmu dan perasaanku mungkin berkata sama, kita merindukannya, Jane.

Kau lihatlah, Jane, ibumu baru pulang. Aku sangat ingin memeluknya, tubuhnya yg semakin kurus dimakan kesedihan, matanya yg terlihat sembap, hatinya yg hancur, dan aku ingin sekali menghiburnya. Padahal kita di sini, di sampingnya, tapi apa boleh buat, kita berdua hanya bisa melihat ibu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dan ibumupun tidak bisa melihat kita. Kita sudah menjadi sesuatu yang lain.

Aku merindukan ibu.

Kita merindukannya. Dan dia lebih dari merindukan kita.

_____

Sumber gambar: https://www.arah.com/article/6842/menurut-islam-bolehkah-ayah-mencium-anak-perempuannya.html

Senin, 25 Juni 2018

Rencana Perjalanan ke Dieng


Setelah beberapa bulan lalu gue memutuskan untuk resign dari tempat gue biasa bekerja, gue langsung merencanakan beberapa hal, salah satunya waktu berlibur, pergi ke beberapa tempat, menikmati hidup yg katanya sangatlah singkat. Mungkin bagi beberapa orang ini hanya buang-buang waktu, bukanya ngumpulin duit buat masa depan, cicil rumah, cicil kendaraan, terus pas udah  tua tinggal menikmatinya. Tapi, mungkin gue sedikit berbeda, gue hanya ingin menikmati waktu muda dengan menikmati keindahan alam, kemudian istriahat di waktu tua. Hahaha. Ya, walaupun sudah resign, gue enggak nganggur-nganggur amat lah, masih ada penghasilan meski enggak sebanding dengan gaji sewaktu bekerja.

O ya, sekitar setahun yg lalu gue juga sempat pergi berlibur ke Jogja, namun sayang waktu berlibur di Jogja tidaklah lama, hanya 3 hari, itupun dengan perjalanan pulang-pergi menggunakan kereta dari Jakarta. Jadi, waktu menikmati Jogja hanya sehari saja, selebihnya hanya istirahat setelah sampai, lalu istirahat sebelum pulang lagi ke Jakarta. Capek emang. :')

Kebetulan, tahun ini juga gue sudah merencanakan untuk pergi ke Jogja lagi bersama teman-teman  yg baru pulang dari Malaysia. Setelah dari  Jogja, rencananya kami juga akan langsung ke Dieng, kebetulan gue belum pernah da sangat ingin ke sana, sekali-kali lah boleh liburan terus, hehe.

Karena objek wisata di Dieng lumayan banyak, maka gue hanya merencanakan liburan ke beberapa tempat saja,  inilah salah satunya

Objek Wisata Alam  Bukit Sikunir Dieng

sumber: halodieng.com

Karena kemi berangkat ke sana sekitar bulan Agustus nanti, maka Alam Bukit Sikunir Dieng ini sepertinya cocok untuk didatangi, menurut beberapa sumber yg pernah ke sana, waktu terbaik menikmati sunrise adalah sekitar pada Bulan Juli-Agustus, di mana pada bulan-bulan tersebut merupakan musim kemarau sehingga langit akan tampak bersih dan tidak ada hujan. Atau mungkin kalau  datangnya siang hari cukup dengan menikmati keindahan dunia atas awan.

Tempat Wisata Alam Telaga Warna di Dieng

Sumber: dakatour.com

Telaga Warna memang sudah lebih dulu dikenal daripada tempat-tempat lain di Dieng, sudah sering gue lihat dari teman-teman gue yg lebih dulu datang ke sana. Telaga warna di Dieng Plateau ini terletak pada ketinggian 2000 mdpl, di mana pemandangan di tempat ini sangat indah. Telaga warna  Dieng memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan telaga atau waduk lainnya di Indonesia.


 Candi Arjuna

Sumber: lifestyle.okezone.com

Setelah setahun lalu  sewaktu di Jogja gue sempat juga mengunjungi Candi Ijo, gue jadi ketagihan untuk mengunjungi candi-candi lainnya, kebetulan di Dieng ada yg Namanya Candi Arjuna, kayaknya akan gue sempatkan untuk pergi ke sana. Siapa tau nantinya wajah gue bakalan kayak arjuna juga. Wahahaha

**
Kami sempat mendiskusikan tentang transportasi mana yg akan dipakai, karena gue tipe orang pemabuk kalau naik mobil, maka gue menyarankan kepada teman-teman lain untuk menggunakan kereta, tapi setelah dipikir-pikir lagi, naik kereta juga cukup memakan waktu yg lama, alangkah baiknya kalau pergi menggunakan pesawat, jadi waktu berlibur menjadi lumayan banyak. Ya, meski harus lebih banyak lagi menguras dompet. Untunglah bukan  dompet gue kok, Ehehe.

Karena temen-temen gue baru pulang dari Malaysia sekitar sebulan lagi, mereka malah menyuruh gue yg mengatur semuanya, mulai dari hunting tiket pesawat dan booking tempat inap.  Otomatis mulai dari sekarang hari-hari gue disibukan dengan mencari-cari tiket pesawat kemudian booking hotel sekaligus, mencari sana-sini untuk membandingkan harganya.

Rata-rata tiket pesawat dan booking hotel dijual terpisah, jadi cukup menghabiskan waktu. Setelah cek harga tiket dan hotel sana-sini, gue melihat kalau Traveloka telah membuka pemesanan tiket+hotel sebagai satu paket,  gue pun langsung mencoba untuk booking tiket+hotel sekaligus.

Karena kami berangkatnya ke Jogja terlebih dahulu, gue pun memesan tiket pesawat yg langsung ke Jogja, sekaligus mencari tempat inap untuk di Dieng nantinya, kalau di Jogja sendiri tidak perlu mencari tempat inap karena sudah ada teman yg siap menampung kami selama 3 hari di sana, hehe.

Pesan paket pesawat dan hotel Traveloka caranya sangat gampang tinggal klik ikon seperti yg sudah gue kasih tanda panah di bawah ini, kemudian lanjutkan dengan memasukan tujuan


Memanfaatkan aplikasi Traveloka, gue jadi bisa memesan tiket pesawat+hotel di manapun dan kapanpun. Selanjutnya tinggal pilih kota asal dan kota tujuan, lalu klik 'Tambah Detail Penginapan' karena gue memilih paket Tiket+Hotel.


Karena tujuan kami ke Dieng adalah untuk  liburan, maka gue memilih tempat inap yg jaraknya dekat dengan lokasi wisata seperti Dieng Plateau dan Candi Arjuna.

    

Bahkan di Traveloka ini metode pembayarannya juga banyak pilihan, mulai dari transfer bank atau melalui minimarket.

   

Setelah gue bandingkan lagi ternyata kalau pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, hematnya bisa sampai  20% tanpa kode promo apapun. Untuk kedepannya kalau mau pesan tiket pesawat+hotel tidak perlu repot-repot pesan satu-satu deh, sekarang lebih mudah karena di Traveloka semuanya bisa lebih praktis, mudah dan saving time.

Biasanya, sebelum ini gue sering banget pesan tiket pewasat dan booking hotel dipisahin, udah buang-buang waktu  banget, apalagi kalau lagi buru-buru, harus repot pesan satu-persatu, tapi sekarang di Traveloka jadi lebih gampang, dan juga lebih murah daripada pesan terpisah.

O ya, buat kalian yg mau pergi liburan juga, disarankan banget nih cobain pesan tiket pesawat+hotel melalui Traveloka ini, selain hemat waktu juga hemat uang karena tanpa kode promo apapun bisa hemat sampai 20%. Asik kan, sisa uangnya bisa digunakan buat wisata kuliner pas liburan.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND