bercerita

Kamis, 24 Mei 2018

Ziarah


Pada hari Jumat dibulan Mei, sebelum ramadan tiba, saya bersama keluarga pergi ke tempat ziarah di Tasikmalaya atau tempat tersebut biasa orang-orang sini menyebutnya dengan Pamijahan. Sebelum berangkat, sempat terjadi drama antara saya dengan ibu, saya yg enggak mau terlalu repot membawa barang-barang banyak, sementara ibu saya ribetnya pilih-pilih baju ganti, bukan hanya bajunya sendiri, tapi juga baju adek-adek saya. Buat yg belum tau, saya punya 2 adek, laki-laki semua. Makanya, tiap ada foto cewek di hp saya, ibu selalu nanyain, “ini a, pacarnya?” padahal foto yg dilihatnya itu foto Chelsea islan, hmm.. sepertinya ibu merasa saya cocok kalau pacaran dengan Chelsea Islan, atau juga pikirnya “MASA SIH??”. Dasar si ibu, kebelet pengen punya anak perempuan ini mah!

Ketika hendak berangkat, saya berusaha meyakinkan lagi agar baju-baju yg sudah dimasukan ke dalam tas supaya tidak dibawa saja, “lagian cuma semalam di sana, besok pagi juga langsung pulang lagi!” kata saya kepada ibu. Dengan kata-kata se-serius mungkin saya berusaha meyakinkan ibu, dan akhirnya baju-bajunya tidak jadi dibawa. Betapa mudahnya meyakinkan hati beliau, tapi kenapa begitu susah sekali saat meyakinkan hati sang pujaan sih? Hh!

Saya berangkat mengendarai motor bersama dua adik, dan ibu juga naik motor dengan suaminya yg juga berprofesi sebagai ayah saya. Kami berangkat setelah salat jumat. Perjalanan dari Cianjur Selatan menuju Tasikmalaya jaraknya lumayan jauh, kami berangkat sekitar jam satu siang.

Ditengah-tengah perjalan, sekitar daerah wisata Puncak Guha, Garut Selatan, tiba-tiba hujan turun, kami berhenti untuk berteduh sekitar setengah jam, lalu berangkat kembali setelah hujan lumayan reda.

Drama belum berakhir. Jalanan yg tidak terlalu ramai, bahkan bisa dibilang sepi, saya melajukan kendaraan lumayan cukup kencang, lalu tiba-tiba di depan saya ada salah satu mahluk nyelongong ke tengah jalan, hati saya deg-degan, perasaan was-was muncul antara harus berhenti mendadak tapi jatuh ke aspal atau menancap gas sekencang mungkin. Dan saya melakukan gerakan kedua tadi, menancap gas dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Saya berhenti setelah melewati mahluk aneh itu, berusaha menenangkan dua adek yg saya bonceng, dan tentu juga untuk menenangkan diri sendiri. Beberapa warga sekitar datang menghampiri untuk menanyakan keadaan sambil berkata, “kalau di daerah ini harus hati-hati, kang, sering terjadi begini!” setelah merasa tenang, saya melanjutkan perjalan, dan berusaha melupakan kejadian tersebut sambil berkata dalam hati, “DASAR SAPI GOBLOK!! GAK PERNAH SEKOLAH!! GAK PERNAH BELAJAR IPS!!”

Drama masih belum berakhir. Masih di sekitar Garut, hujan turun lagi, di antara kami tidak ada yg membawa jas hujan, dan saya masih berusaha menghindari tatapan ibu yg kemungkinan berkata, “APA MAMA BILANG, MAMA SELALU BENER!!”. Tapi usaha menghindari tatapan itu sia-sia, ibu saya tetap ngedumel walaupun tidak sambil menatap. Merasa durhaka sekali ya saya ini. Huhu~

Sebuah perjalan panjang, berangkat dari jam satu siang, dan karena banyak berhenti, kami sampai di lokasi sekitar jam tujuh malam. O ya, sebenarnya kami tidak cuma berangkat sekeluarga saja, tapi  hampir sekampung, tetapi yg lain berangkat menggunakan mobil. Alasan keluarga saya tidak ikut naik mobil adalah karena ibu saya sering mabuk-mabukan, bukan alkohol, tapi mabuk kendaraan. Terjawablah sudah alasan kenapa saya tidak mau naik mobil lagi, ternyata faktor gen. Saya tukang mabuk juga.

Setelah salat isya, dan rombongan yg naik mobil tadi sudah datang, kami langsung melanjutkan perjalanan yg jaraknya lumayan membuat betis seperti menjadi betis pemain sepak bola karena harus jalan kaki dengan beberapa anak tangga yg lumayan cukup jauh.

Tempat Pamijahan ini adalah lokasi ziarah ke pemakaman Syekh yg dulu menyebar Agama Islam, salah satu yg paling dikenal di sana adalah makam Syekh Abdul Muhyi. Konon katanya Syekh Muhyi ini dulunya berasal dari Gresik, lalu berangkat meninggalkan Gresik untuk mencari Gua sebagai mandat yg diterimanya dari Syeh Abdul Ra’uf, gurunya. Kalau kalian mau tau cerita lengkap tentang Syekh Abdul Muhyi, atau siapa tau kapan-kapan bisa ziarah ke pamijahan ini, bisa googling dengan kata kunci “Sejarah Waliyullah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan”, ya.

Sebenarnya ada beberapa makam yg bisa dikunjungi, tapi kami hanya ziarah dan berdoa di satu tempat, kemudian melanjutkan lagi perjalanan yg cukup jauh untuk memasuki gua. Gua ini berada diantara kaki Gunung Mujarod, sekarang lebih dikenal dengan nama Gua Safarwadi Pamijahan, dan biasanya para peziarah sering mengunjungi gua ini setelah sebelumnya melakukan ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi.

Sebelum Memasuki Pintu Masuk Goa - coretan-fuad.blogspot.com

Sekitar jam 11 malam, kami sudah berada di pintu masuk gua. A Badru, ustad dari pihak rombongan kami melafalkan adzan terlebih dahulu sebelelum memasuki gua. Saat masuk, saya pikir tidak terlalu dalam, tapi ternyata di dalamnya terdapat ruang-ruang yg besar, ada tempat yg dulu katanya dijadikan sebagai masjid, ada sebagai dapur, kamar tidur, tempat mandi bahkan ada air yg terus mengalir tanpa henti, atau ada yg menyebutnya sebagai ‘air zam-zam-nya’ tempat tersebut. Luas sekali. Karena udara yg masuk tidak terlalu banyak, ditambah lampu petromak yg lumayan bikin keringetan, napas saya sampai terasa engap, tapi saya berusaha menahannya karena panas di dalam gua masih tidak ada apa-apanya dibanding panasnya ketika gua melihat elo dengan yg lain. "......."

pintu masuk - tipswisatamurah.com

Selain di dalamnya ada ruang-ruang yg saya sebutkan tadi, juga ada beberapa ruang seperti jalan namun ketika didekati jalan tersebut buntu, hanya dinding dari batu atau tanah. Konon katanya beberapa ruang tersebut ada jalan yg menuju Mekkah, Surabaya, Ampel dan lainnya, namun hanya orang tertentu yg bisa ‘melakukan perjalan’ dari jalan tersebut. Apakah benar ada hal seperti itu? Kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya? Kalau saya boleh mencoba, saya ingin mencoba mencari jalan menuju hatimu, boleh? Hmmm..

MINTA DIGAPLOK YA SAYA INI!

di dalam gua - dok. pribadi

Jujur saja, ini baru pertama kali saya memasuki gua seluas ini, perasaan saya ketika di dalam gua tersebut seperti kembali ke ruang-ruang di masa lalu, ya, walaupun belum tentu bayangan masa lalu saya dengan kenyataanya di masa lalu itu tidaklah sama. Tapi, menurut yg diceritakan orang yg mengantar kami, atau dalam bahasa gaulnya Guide Tour, mulai dari bagian-bagian ruang khusus dalam gua tersebut sampai seluruh ceritanya sangatlah seperti membawa saya kembali ke masa lalu. Sungguh mengagumkan kisah saat dulu Syekh Muhyi melakukan perjalanan dalam pencarian gua yg saya kunjungi saat ziarah ini.

Sekitar jam duabelas malam, kami keluar  dari dalam gua, sepanjang perjalanan mulai dari sebelum berangkat sampai keluar dari gua, sangat banyak berjejer berbagai jualan mulai dari baju, oleh-oleh, pernah-pernik dan lainnya.

sepanjang jalan banyak yg jualan - dok. pribadi

Karena tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan pulang di malam hari, akhirnya kami memilih untuk beristirahat di sebuah ruang umum dekat masjid, udaranya sangat dingin, kami berkumpul untuk istirahat. Dan paginya, setelah salat subuh, kami belanja oleh-oleh  khas pamijahan, kemudian setelahnya melakukan perjalanan lagi untuk pulang, ke rumah.

4 komentar:

  1. Kalimat "gua melihat elo dengan yg lain" itu bukan melihat sapi (yang mau ditabrak) dengan sapi lainnya, kan? Wqwq.

    Omong-omong, awalnya saya menduga yang hampir bikin kecelakaan itu setan atau sekelebat bayangan hitam gitu. Ternyata hewan yang menyeberang sembarangan. :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. wkwkwk bukan pak.

      ya namanya juga usaha untuk tidak mudah ditebak. semoga berhasil

      Hapus
  2. Ini curhatan di dalam curhatan ini mah namanya. Btw Dian lagi ngegebet sipa sih kok kayaknya surem amat? Sini belajar sama gue!

    BalasHapus

terima kasih telah berkomentar, bagikan tulisan ini juga berkenan. hehe - @dianhendrianto

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND