Jumat, 30 Maret 2018

Kemping di Puncak Guha Sambil Menikmati Kopi Rasa Soto


Sebenernya cerita ini terjadi sekitar awal Maret yg lalu, tapi mungkin saat itu gue lagi males-malesnya nulis, jadi baru sekarang ceritanya bisa gue tulis dan bagikan di sini. Oya! di tulisan sebelumnya gue pernah cerita kalau gue gampang gatel kalo tiap kali ketemu ulat bulu, dan sekarang, saat menulis ini, badan gue baru aja gatel-gatel karena “KAGAK TAU DARI KAPAN ITU ULAT BULU TIBA-TIBA NEMPEL DI BAJU!!”. Heuheu... gue emang cowok gampangan!! T_T

Ah udahlah, yg terjadi biarlah terjadi, sekarang mari kita lanjutkan cerita saat gue dan temen gue kemping di Garut beberapa waktu lalu. Selamat membaca...

***
Puncak Guha, Garut

Sekitar jam 4 sore di awal bulan Maret, gue bareng temen gue, Tomi namanya, dari lokasi masing-masing pergi dan menentukan titik bertemu, yg kemudian pergi ke suatu tempat yg emang beberapa hari sebelumnya udah gue datengin bareng beberapa temen yg sengaja jauh-jauh dari Jakarta buat liburan. Berlokasi di Puncak Guha, Garut Selatan, yg kebetulan  lokasinya  enggak terlalu jauh dari rumah, kira-kira hanya memakan waktu 1 jam setengah menggunakan kendaraan motor. Cianjur-Garut bukan jarak yg jauh, kebetulan gue emang tinggal di perbatasan (Cianjur Selatan), kayak Indonesia-Malaysia aja, cuma dalam bentuk daerah.

Rencana kemping ini awalnya bakalan ada 4 orang yg ikut, Gue, Tomi dan dua orang lainnya, tapi karena emang ada beberapa temen yg lagi ada kerjaan yg mungkin belum beres atau dengan kata lain emang gak niat atau dengan kata lain lagi hanyalah omong kosong belaka, jadilah yg pergi kemping hanya kami berdua, gue, Tomi dan beberapa janji palsu dari seorang teman.

Sekitar jam setengah 6 sore kami sampai di lokasi, dengan  membayar karcis 5 ribu rupiah, sudah bisa masuk dan menikmati pemandangan pantai dan senja, tapi sebelum itu, penjaga karcis mungkin curiga dengan tas yg dibawa Tomi begitu besarnya, kemudian dia bertanya,

“a, pada mau kemping?” dengan nada bicara ciri khas orang Sunda.
“i..iya..” jawab Tomi
Dengan senyuman manis penjaga karcis itu berkata lagi, “kalo gitu, satu orang jadi 10 ribu, a”

[Play: BCL – Kecewa (Skinnyfabs version)]

Dengan membayar 10 ribu per-orang, kami beserta motor masing-masing sudah bisa masuk ke area Puncak Guha, dari lokasi parkir ke lokasi hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Dan  sepanjang perjalanan, pemandangannya bagus cooooy~ kayak di new Zealand, iya emang belum pernah ke negara tersebut, tapi pas direkam terus dibagiin ke aplikasi hypstar ada yg komen gitu, “Wah bagus ya kayak di film-film, kayak di New Zealand!”.

“TAMPAR  SAJA AKU.. TAMPAR!!”

Puncak guha ini, adalah tebing di pinggir laut, lokasinya dekat dengan Pantai Rancabuaya, Garut. Garut selatan memang banyak destinasi wisata pantai, dan Puncak Guha ini menurut gue menjadi salah satu yg lumayan banyak dikunjungi. Tempatnya asik, pemandangannya keren, bisa melihat sunset dengan damai dari atas tebing sambil menikmati suara ombak. Tapi please, kalo lagi patah hati jangan sampe dateng ke sini terus tiba-tiba loncat dari tebing, gue enggak mau tempat se-keren ini jadi sarang kuntilanak nantinya.

Bung Tomi nyantai abis~

Dan ketika kami sampai di sana, yg cukup kami sesali adalah cuaca yg sedikit mendung, matahari tenggelam tertutup awan tebal, cuma bisa menikmati sedikit cahaya senja yg kurang sempurna. Halah~

Kami buru-buru mendirikan tenda, karena sudah punya pengalaman memasang tenda sewaktu kemping di Bukit Pamoyanan, Subang, gue jadi enggak terlalu bodoh-bodoh amat buat ikut bantuin Tomi pasang tenda. Setelah beberapa menit, tenda sudah jadi, gue sama tomi langsung membuka beberapa alat masak; kompor, mie, kopi, dan gas 12 kg,

“YA KAGAK LAH!!”

Maaf-maaf, yg gas 12kg tadi cuma guyon.

Disela-sela memasak nasi, kami juga sekalian masak aer (biar mateng) untuk nanti menyeduh kopi disaat-saat santai sambil ngobrol, berdua, sesama lelaki, di malam hari, hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain lagi, ditemani gerimis. Sebuah romantisme yg sangat-sangat menghawatirkan!

Cuaca yg lumayan dingin, gerimis dan ditemani gemuruh ombak pantai selatan, rasanya memang sudah waktunya untuk mengisi perut dengan yg hangat. Nasi yg kami masak sudah matang, karena persiapan seadanya, kami  bahkan sampai lupa membawa senter atau obor olimpiade, otomatis ponsel yg sudah 20% baterainya menjadi tumbal untuk cahaya malam saat itu. Bahkan yg kami makanpun  hanya sebatas pop mie campur nasi (biasalah orang Indonesia), mau masak sayur juga keadaan udah lumayan gelap, jadi kami memutuskan untuk makan seadanya.

Setelah makan, kami mendidihkan air untuk menyeduh kopi, dan... keadaan semakin memburuk saat di mana tidak ada yg membawa cangkir sama sekali,  mau pergi beli aqua gelas ke warung juga keadaannya malah lagi hujan, maka tercetuslah ide yg sangat brilian dari seorang Tomi, bahwa,

“AHA! KITA JADIKAN SAJA BEKAS POP MIE INI SEBAGAI CANGKIR KOPI!!!!” katanya bicara spontan, (kata  “AHA!” cuma tambahan aja biar seru.)

Tidak harus dipikir-pikir panjang, gue langsung membalasnya, “MANTAPPP!!! MANTAP JIWA WAHAI TEMANKUH, INI BARU NAMANYA FILOSOFI KOPI!” (yg aslinya cuma ngomong “MANTAPPP!!!”)

Kami ngobrol-ngobrol sambil ditemani kopi rasa soto, iya kopi rasa soto, bekas pop mie rasa soto kami jadikan sebagai cangkir kopi, ini beneran, mungkin kalian juga harus mencobanya di rumah, rasa ini takkan terlupakan. Mungkin ini juga bisa menginspirasi kalian yg suka jualan kopi di pinggir jalan untuk menawarkan ke pelanggan tentang rasa baru kopi sachet ini, rasanya sungguh luar biasa, saat meminumnya dijamin kalian akan merasakan pengalaman baru. Perasaan saat meminum kopi rasa soto ini seperti langsung membawa kalian melayang ke alam baka, tenggelam di lautan api neraka. Na'udzubillahimindzalik. Luar biasa! Cobalah sesekali~

Sekitar jam setengah sembilan malam disela-sela kami mengobrol sambil meminum kopi ajaib tadi, tiba-tiba datang beberapa motor ke arah dekat kami, kami kira mereka adalah tim begal dari salah satu stasiun televisi, tapi ternyata dugaan  kami salah. Kira-kira ada 6 motor, masing-masing membawa pasangan, entah membawa perempuan atau semuanya laki-laki, tidak telihat karena hari sudah terlalu gelap. Tapi, disela-sela obrolan mereka yg tidak sengaja kami dengar, terdengar satu suara yg cukup menjanjikan saat keadaan dingin di malam hari, “suara perempuan, bang!” kata Tomi sambil menyipitkan matanya yg kemudian tesenyum sinis. Atau lebih jelasnya tersenyum mesum, sangat mesum. Pikirannya jauh pergi melayang memikirkan perempuan berbodi gitar spanyol.

bodi gitar spanyol - sumber

Mereka yg baru datang itu, ternyata mendirikan tenda juga seperti kami, cuaca masih gerimis, dan saat mereka memasang tenda, sepertinya memang baru pertama kali melakukan kemping, tendanya gak jadi-jadi, lama. Jadi teringat sewaktu melakukan kemping pertama kali di Subang.

WKWKWWKWKWKWK...

Maaf reflek tawa.

Kami mengamati mereka yg baru datang tadi saat mendirikan tenda, jarak tenda kami dengan orang-orang tadi kira-kira hanya 10 meter, atau 10 meter kurang 2 senti, ah sabaraha wae lah panjangna mah, sabodo teuing!

“LAGIAN NGAPAIN JUGA NGITUNGIN JARAKNYA BGST!!!”

Maaf keceplosan lagi.

***
Ketika waktu sudah hampir jam 12 malam, Tomi sudah terlebih dahulu masuk ke dalam tenda, mungkin untuk tidur atau sekedar menyendiri sambil menonton video hasil download-nya  tadi siang saat medapat wifi gratisan, sementara gue lebih memilih di luar tenda, yg kebetulan gerimis sudah mulai berhenti, cahaya bulan mulai muncul, gemuruh ombak terasa membuat suasana semakin tenang. Lalu kemudian gue melepas kabel charger powerbank dari ponsel yg lumayan sudah terisi 50%, membuka pola kunci, menekan aplikasi soundcloud, lalu memutar lagu dari Float yg berjudul... Pulang.

“Bawa aku pulang rindu... bersamamu~”, cahaya bulan, gemuruh ombak, ditemani Float, sadiiis! mantap betul malam itu. Ah, andai bersama kamu di sini. Ehe~

Saking menikmati suasan tenang tersebut, tidak terasa sampai terbawa tidur, lalu terbangun di waktu subuh, menjalankan kewajiban, menyalakan  kompor, masak air kembali, membuat kopi (kalian pasti tau) sambil menunggu datangnya  matahari pagi. Pagipun terasa sempurna ketika cuaca saat itu lumayan cerah.



Setelah menikmati kopi, menikmati cahaya sunrise dan berfoto-foto, sekitar jam 7 pagi kami bergegas untuk pulang, merapikan tenda, mengumpulkan sampah bekas makanan dan menyalakan motor untuk sekedar ‘membangunkannya’  agar tidak terlalu kaget saat di-gas diperjalanan pulang nanti.

Tapi, ternyata keberuntungan masih belum berpihak kepada kami, setelah beberapa meter motor melaju, gue memperhatikan ban motornya Tomi dari belakang, dan ternyata... ban motornya kempes tak terkendali.

”Sungguh malang nasibmu kawan!”
Share:

Rabu, 28 Maret 2018

Pengalaman Jadi Petani


Selama hampir 3 bulan tinggal di kampung, otomatis apa-apa yg gue lakukan atau kerjakan pasti enggak jauh dari yg namanya cocok tanam. Terlahir di pedesaan yg mayoritas orang-orangnya bekerja sebagai petani, gue sendiri enggak mau kalah sama temen-temen gue yg serba bisa ini-itu, walaupun bekerja di kota,  gue tetep harus bisa yg namanya bertani, tanam sayur, padi, buah-buahan, ngasih tanaman pake pupuk, dan mengerti saat-saat menjelang  panen. Dan itulah daftar yg belum bisa gue lakuin.

Gue malu aja sama orang tua yg pekerjaanya emang dari dulu udah jadi seorang petani, bisa bikin rumah dari hasil bertani, beli kebutuhan sehai-hari dari hasil bertani, beli ini-itu dari hasil bertani, nyekolahin gue sama adik-adik dari hasil bertani. Sampai-sampai yg gue rasakan sekarang, tiap hari orang tua pergi ke sawah yg satu, besoknya pergi sawah yg lain, kadang kalo gue lagi gak ada kerjaan, gue sering ikut bantu-bantu, ya meski gue enggak terlalu ngerti caranya, yg penting gue tanya-tanya dulu, kalo salah ya mungkin cuma ditegur, masih salah lagi, mentok-mentok disuruh balik sambil bawa sayuran sekarung, atau apapun sebisa gue, kadang juga nganterin makanan buat orang lain yg ikut kerja di ladang milik bapak.

cie yg dianterin makanan~

Gue pernah denger cerita dari ibu tentang bapak gue di masa mudanya. Bapak gue itu udah kerja keras dari usia muda, lebih muda lagi dari pada usia gue sekarang ini. Kalau kata ibu saat gue ikut pergi ke sawah bareng beliau, “kak, sawah ini bapak kamu beli pas usianya lebih muda dari kamu!” katanya saat kami istirahat di sebuah gubuk yg bapak gue buat mungkin disaat waktu luangnya. “pas....” gue belum beres ngomong, ibu langsung ngegas motong perkataan gue, “pas belum ketemu mama” Kata ibu gue menjelaskan dengan kata ‘mama’,  gue biasa memanggilnya demikian.

Terkadang juga, saudara-saudara yg tau masa kecilnya bapak gue kayak gimana, saat lagi kumpul, mereka juga kadang menceritakannya ke gue. Sampai sekarang, kayaknya cerita-cerita itu emang beneran, dari tiap hari bapak yg kerja terus, baru pulang rumah sebentar, sejam kemudian udah ilang lagi, tau-tau pas pulang pakaiannya udah pada kotor, dan kadang-kadang pulang bawa sayuran buat dimasak.

Saat gue nyoba-nyoba ikut bertani, pas saat memupuk tanaman pepaya yg cukup luas, jujur aja, bertani itu capek banget, kira-kira baru sampai 2 jam, pinggang gue udah ngerasa encok, mending kerja 8 jam di pabrik atau kantor. Kalau bertani, selain panas terik matahari, kadang ketemu sama ular, atau yg lebih bikin khawatir gue adalah ketemu sama ulat bulu, entah phobia atau apa, pokoknya tiap ngeliat ulat bulu, badan gue pasti langsung gatel-gatel, sensitif banget, beda sama bapak gue yg badannya udah kebal, kalau kata adek gue, “badannya bapak itu, kalau ada ulat bulu nempel, ulatnya langsung mati” kenyataanya emang badan bapak gue udah kebal sama hama-hama tanaman, dan gue kebalikannya, makanya  kalo tiap gue ikut-ikutan ke kebun atau sawah, gue biasa bawa bedak gatel. Ehehe.

Sebenernya kalau jadi petani itu ada enak dan enggak enaknya sih; pas enaknya yaitu kalau kita lagi ada keperluan atau liburan mendadak bisa banget ngatur waktunya, dan bisa lebih banyak kumpul bareng keluarga, juga melihat dari orang-orang sekitar yg berprofesi sebagai petani, mereka itu pada inget waktu ibadah, haha. Kalau enggak enaknya, yaitu yg udah gue sebutin tadi, bakalan sering ketemu ulat bulu, badan kotor, pundak-encok pegel-pegel, panennya kadang lagi gak bagus, dan gajian itu kadang ketemunya cuma pas panen, dan bapak gue, sekali panen belinya motor. Lah gue, sekali gajian, abis buat bayar utang beras sama beli kuota, bayar kosan juga, wahaha, lumayan sedih sih ini.

Naruto pernah panen

Menurut gue, jadi petani itu enak banget, bisa makan hasil dari tanam sendiri, enggak harus beli, enggak harus takut beras pake pemutih, enggak takut beli sayuran di pasar yg udah diinjek-injek orang. Pokoknya hidup di pedesaan itu lumayan enak, udah suasananya adem, sayuran tinggal petik, tiap hari makannya empat sehat lima sempurna enam kurang dana. Ya, memang! Hidup di pedesaan yg kurangnya cuma di keuangan, punya duitnya enggak tentu, lagi uang banyak enak, lagi musim ‘paceklik’ misqin kembali. :D

Kalau ditanya mau jadi petani apa enggak(?), kayaknya gue lebih milih jadi pengusaha aja, ya usaha jual beli sayurannya mungkin, atau kerja kantoran (itu juga kalo masih mau kerja disuruh-suruh) atau juga ikutan jadi bajer-bajer operator seluler biar dibully warganet yg maha benar. Jadi petani itu capek, haha. Kecuali kalo udah takdirnya harus jadi petani, ya jalani aja, yg penting halal.

Dan, dengan berakhirnya tulisan ini, gue mau mewakilkan suara para petani, bahwa...

“NAIKKAN HARGA JUAL HASIL PANEN!!
TURUNKAN HARGA PUPUK!!
JADIKAN KAMI PNS!!
MERDEKAAAA!!”

-------

Sumber gambar:

  1.  http://riausky.com/mobile/detailberita/20388/dilanda-musim-kemarau-produktivitas-pertanian-di-riau-justru-meningkat.html
  2. https://www.merdeka.com/gaya/unik-para-petani-di-desa-ini-ubah-seluruh-lahan-jadi-gambar-raksasa.html


Share: