Personal Blog

Minggu, 25 November 2018

Surat Buat Nay



Setelah kepindahan Nayla ke luar kota, tepat pada awal bulan Mei, aku dan Nay—begitu aku biasa memanggilnya—tidak pernah bertemu lagi, sesekali aku mendengar kabar buruk tentang Nay, tapi aku tidak percaya. Aku dan Nay, sudah berjanji akan selalu berkirim surat, aku selalu menantikan surat-surat darinya, dan aku akan selalu mengirimi surat buat Nay. Aku akan bercerita apapun ketika menuliskannya.

Pada akhir bulan Mei 2006, satu bulan setelah kepindahan Nay, aku mengirim surat padanya, surat pertamaku, kira-kira dua lembar yang kutulis dengan bahagia. Aku bercerita bahwa motorku yang rusak telah diperbaiki, aku juga sudah mengganti lampunya, jadi kalau saja Nay masih berada di sini dan meminta aku untuk menjemputnya, pasti aku akan buru-buru datang. Aku juga menceritakan tentang bekas rumah Nay kini sudah ditempati penghuni baru. Kalau aku punya uang banyak, sebenarnya aku ingin sekali membeli rumah itu, rumah tersebut sangat berarti buatku dan Nay, banyak kenangan yang tertinggal di sana, dan mungkin suatu saat bentuk rumah itu akan berbeda karena sudah ada rencana renovasi oleh pemilik baru rumah tersebut, begitulah yang kudengar dengan secara tidak sengaja dari beberapa orang tetangga yang berbicara di sebuah warung kopi yang jaraknya tidak jauh dari rumah Nay dulu.

Setiap sebulan sekali aku mengirim surat buat Nay, aku menceritakan apapun, sesekali bercerita tentang masa lalu aku dan Nay, sebelum kepindahan Nay. Aku juga bercerita tentang betapa merindukannya aku kepada Nay. Dan aku tulis dalam surat tersebut, kalau suatu saat aku akan datang untuk mengunjunginya, tapi aku akan datang setelah Nay memintaku untuk datang. Datanglah nanti ke sana, tapi setelah aku balas suratmu, nanti aku akan memintamu untuk datang, kata Nay dulu sebelum pindah dan sambil memberikan secarik kertas bertuliskan alamat rumahnya yang baru.

Memasuki bulan Oktober, seperti biasa, pada akhir bulan aku selalu mendatangi kantor pos untuk mengirim surat buat Nay, sampai orang-orang di kantor pos mengenal wajahku dan mungkin merasa heran, kenapa aku mengirim surat tapi tidak pernah mendapat balasan sekalipun. Mungkin salah alamat, begitu kata petugas yang sedang bertugas di sana berkata padaku. Tapi aku yakin alamat yang kutuju sudah benar, alamat yang Nay berikan padaku sebelum dia pergi bersama ibunya. Jadi tidak mungkin kalau salah. Aku percaya Nay. Nay tidak pernah berbohong padaku.

Menulis surat buat Nay adalah sebuah kewajiban, saat menulisnya aku merasa hidupku sudah tidak harus melakukan apapun lagi. Sepulang sekolah aku menulis surat, sampai lulus sekolah dan ketika sudah bekerja seperti sekarang, surat buat Nay adalah sebuah kewajiban. Aku tidak peduli kalau aku memiliki sedikit teman, aku pikir memiliki satu teman saja sudah cukup. Nay saja sudah cukup.

Nay, hari ini aku sudah bekerja di sebuah surat kabar. Aku memilih pekerjaan ini karena sudah biasa menulis kisah-kisah, jadi kalau menuliskan sebuah berita atau cerita, aku pasti sangat bahagia, saat menuliskan apapun, aku selalu teringat padamu. Beberapa kali orang-orang di kantor memuji karya tulisku. Kalau kamu ada di sini, pasti aku akan bercerita banyak sekali. Di sini aku juga mempunyai teman-teman baru, mereka semua baik, aku tidak perlu banyak bicara untuk mendapatkan teman, kami saling mengerti. Terkadang kami di sini juga sering makan bersama di kantin yang cukup luas. Aku juga sangat menyukai makanan di sini, dan di sini juga ada telur gulung kesukaanmu, Nay, kamu harus mencobanya, rasanya enak sekali.

Surat pendek tersebut aku kirimkan lagi pada akhir Februari 2017. Aku mendatangi kantor pos yang sejak awal surat pertamaku buat Nay dikirimkan. Beberapa orang di kantor pos tersebut diantaranya sudah bukan orang yang sama. Oh jadi kamu yah yang sering datang ke sini pada akhir bulan, kata salah satu pegawai baru di sana berkata padaku, aku hanya tersenyum. Mungkin pegawai lama di sana yang menceritakannya pada orang baru tersebut.

Aku sering dinasehati beberapa teman-temanku untuk berhenti mengirim surat. Carilah pacar, kata temanku, tapi aku tidak terlalu mendengarkannya, Nay adalah yang paling istimewa buatku. Orang-orang  di kantor pos juga sering berkata kenapa aku tidak pergi saja ke rumah Nay, kan sudah ada alamatnya, katanya. Tapi aku tidak ingin membuat Nay kecewa, aku hanya akan datang kalau Nay yang meminta. Aku sudah berjanji kepada Nay. Aku juga sering memimpikan Nay, dalam mimpiku Nay menyuruhku untuk berhenti mengirim surat padanya, pasti karena aku terlalu banyak mendengar orang-orang yang menasehatiku untuk berhenti mengirim surat. Beberapa orang yang selalu berkata buruk tentang Nay.

Aku bahagia ketika menulis surat buat Nay, aku bahagia ketika mengingat saat-saat dengan Nay. Jadi, bagaimana mungkin aku harus berhenti melakukan apa yang membuatku bahagia?

Hampir sebelas tahun aku mengirim surat buat Nay. Sebelas tahun aku memikirkan wajah Nay, wajah yang berusia 16 tahun. Sampai sekarang aku hanya memikirkan wajah tersebut. Sesekali aku memikirkan wajah Nay sekarang seperti apa bentuknya, mungkin rambutnya sudah bertambah panjang, tubuhnya bertambah tinggi, mungkin juga payudaranya sedikit bertambah besar dan senyumnya yang pasti masih terlihat manis. Meski pernah berpikir seperti itu, bayanganku tentang Nay masih sama, bayangan Nay yang berusia 16 tahun. Aku yakin Nay dengan usianya yang sekarang masih tidak jauh berbeda dengan Nay yang dulu.

Masih menulis surat pada tahun-tahun yang apapun serba digital, mungkin orang-orang menganggapku aneh, tapi mau bagaimana lagi, hanya itu yang bisa aku lakukan sekarang ini, lagipula aku sangat menyukai ketika aku menulis surat buat Nay. Saat menulisnya, aku seperti sedang bercerita langsung kepada Nay. Seperti dulu, aku bercerita tentang guru matematika yang galak, dan Nay menertawakan ceritaku. Dan juga, surat  adalah satu-satunya yang  membuat aku selalu merasa dekat dengan Nay meski jarak sebenarnya terpisah jauh.

***
Entah  sudah berapa surat yang aku kirimkan, aku tidak sempat menghitungnya. Beberapa orang khawatir padaku, tapi aku tidak mengerti kenapa mereka khawatir? Padahal aku baik-baik saja. Mungkin, mungkin saja, mereka  hanya khawatir akan waktu, waktu yang hampir 11 tahun lamanya bagi mereka. Tapi bagiku, 11 tahun hanyalah angka, angka yang masih bisa aku hitung dengan jari. Lagipula, untuk mencintai seseorang bukanlah waktu yang menentukan. Kita bebas selama apapun mencintai seseorang. Aku bebas mencintai Nay selama yang aku mau.

Selama sebelas tahun itu juga, aku terus dihantui mimpi buruk tentang Nay—Nay yang meninggal dalam kecelakaan mobil pada hari keberangkatannya untuk pindah rumah 11 tahun lalu. Mimpi buruk yang pada akhirnya sesekali aku tuliskan dalam sebuah surat yang aku kirimkan buat Nay. Mimpi buruk yang sama persis orang-orang katakan kepadaku. Mimpi buruk itu selalu menghantuiku hampir setiap malam. Mimpi buruk yang ketika aku terbangun selalu  membuat air mataku menetes deras. Tapi aku percaya, mimpi hanyalah mimpi, kadang mimpi selalu berbanding terbalik dengan kenyataan.

Aku menulis lagi surat buat Nay, kali ini aku menuliskannya cukup panjang, aku selalu mempunyai banyak cerita ketika menulis surat buat Nay, walau sesekali yang kukirimkan hanyalah surat-surat pendek saja. Surat yang aku tulis seperti biasanya; bahagia, menghabiskan banyak tinta dan aku baca ulang beberapa kali. Untuk pertama kalinya, aku menuliskan banyak kata  rindu dalam surat itu. Aku pikir, ada baiknya juga kalau aku mengantarkan langsung surat itu kepada alamat yang Nay pernah berikan padaku. Dan aku bisa membacakan suratku secara langsung di depan Nay, dia pasti senang.

Awal bulan Mei 2017, aku memutuskan untuk ambil cuti satu minggu dari kantor tempatku bekerja, aku berkemas, beberapa pakaian ganti aku bawa. Handuk, sikat gigi, beberapa buku bacaan dan beberapa hal lain yang aku perlukan juga sudah aku masukan ke dalam tas.

Tepat pukul 8 pagi aku mendatangi terminal bus yang sama seperti bus yang mengantar Nay pergi ke rumah barunya 11 tahun lalu. Untuk pertama kalinya juga aku pergi meninggalkan tempat tinggalku, aku memang jarang bepergian jauh.

Selagi menunggu beberapa penumpang lain masuk, aku membaca buku yang aku bawa; Norwegian Wood, oleh Haruki Murakami. Buku yang belum selesai aku baca itu sengaja aku bawa karena memang ingin segera aku selesaikan. Beberapa orang bilang, setiap yang membaca buku itu akan mendapat kutukan; “kau akan bernasib tragis!” begitulah yang aku dengar. Tapi aku pikir ada bagusnya juga menyebar rumor seperti itu, dengan begitu, orang-orang pasti akan penasaran akan cerita yang tertulis di dalamnya. Lagipula, aku juga mengetahui rumor itu baru-baru ini, dan buku Norwegian Wood sendiri sudah aku miliki sebelum aku mengetahui rumor tersebut.

Bagian demi bagian telah aku baca, sosok Midori dalam buku itu selalu terbayang sebagai perempan yang manis, lucu dan selalu berpikir ke depan, walaupun sebenarnya sosoknya terlihat badung. Jujur saja kalau aku yang menjadi Watanabe—yang menjadi tokoh utama dalam buku itu, pasti aku akan hidup bahagia dengan Midori dari pada  dengan Naoko. Tapi kalau dipikir lagi, cinta Watanabe kepada Naoko memang harus diperhitungkan juga, seperti aku kepada Nay. Ah, beberapa hal memang tidak baik kalau harus dipaksakan.

Bus telah berjalan lambat, aku mulai mengantuk. Aku memasukan surat-suratku untuk Nay ke dalam buku yang sedang aku baca.  Rasa lelah mengalahkanku. Aku mencoba menyenderkan kepalaku ke kaca bus, sambil melihat jalanan pagi yang cukup ramai orang-orang yang sibuk dengan kehidupannya masing-masing. Kemarin aku juga seperti mereka, pikirku sebelum tiba-tiba aku terlelap dalam tidur.

Seperti biasa, ketika tertidur, mimpi itu datang lagi bahkan di waktu yang tidak tepat. Mimpi yang selalu menghantuiku selama sebelas tahun, mimpi yang selalu membuatku menangis ketika terbangun; bus melaju kencang, orang-orang berteriak, dan aku melihat Nay. Dalam mimpiku, biasanya Nay berteriak, tapi dalam mimpi kali ini, Nay tersenyum kepadaku, aku berada dalam bus itu bersama Nay.

Aku melihat bus yang terbalik, asap keluar diantaranya, kaca-kaca jendela berserakan, darah-darah dari para penumpang seolah memberikan warna tersendiri di jalanan. Suara orang-orang berteriak minta bantuan. Aku melihat mereka berusaha berjalan keluar, aku melihat beberapa yang tidak lagi bergerak, aku melihat dari luar, aku melihat diriku sendiri yang sudah tidak bergerak, aku melihatnya bersama Nay, aku di samping Nay. Mimpi seperti biasanya yang membuatku selalu merasa takut, kali ini mimpi itu membuatku merasa tenang, mimpi yang membuatu tidak ingin terbangun, dan mimpi yang membuatku bertanya-tanya; kapan aku akan terbangun?

Kamis, 15 November 2018

Deus Ex Machina?

Saya gak tau nih harus memulainya dari mana. Hmmm, dari sini saja kali ya; Hari-hari saya akhir-akhir ini seperti terasa benar-benar kacau, padahal kelihatannya biasa saja. Saya tinggal di rumah bersama keluarga, saya makan seperti biasanya, meski memang porsinya sekarang agak berlebihan. Saya membaca beberapa buku yang belum sempat dibaca sampai selesai dan juga beberapa buku lainnya. Kadang saya  baca buku sampai gak tau waktu, bisa sampai 6 jam, dan kadang bacanya malam hari, sampai subuh. Tentu hal ini karena saya kesulitan untuk tidur. Saya juga menonton film, tapi belakangan ini lebih suka nonton anime One Piece, baru sampai episode 340-an. Ya, setelah beberapa kali tidak ada niatan untuk menontonnya, akhirnya kali ini bisa nonton juga. sebenarnya bukan menunda-nunda, terakhir nonton One Piece itu pas pasih sekolah dasar, itupun hanya seminggu sekali di televisi, setelah itu tidak pernah nonton lagi. Kebetulan pas saya pergi ke Bekasi lagi sekitar akhir September lalu, ketika saya meminjam laptop teman saya, kebetulan ada satu folder yang isinya anime semua. Mulai dari Gintama, Naruto, Attack On Titan, anime-anime lainnya, pokoknya banyak lah. dan tentunya One Piece yang saya sebutkan tadi juga termasuk ada di dalamnya. Benar-benar otaku banget. Hidup saya benar-benar normal, bukan? Itu kelihatannya, saya pikir juga begitu, tapi kenyataanya saya benar-benar merasa kacau. Atau gimana sih nyebutnya?

Ketika saya di Bekasi, alasannya saya di sana untuk mencari kerja. Melamar ke sana kemari, interview berulang kali dan kadang ketemu ratusan pelamar kerja lainnya,  saya benar-benar seperti seorang pelamar sejati. Tapi lagi-lagi gagal. Ah brengsek memang. Tapi kalau dipikir-pikir lagi asik juga, ketemu orang baru, gak tau namanya, cerita-cerita yang gak terlalu penting, dan dilupakan. Gak benar-benar dilupakan, sih, tapi yang diingat cuma bagian pas duduk dengan banyak orang, dan kesal karena harus nunggu lama. Terus disuruh pulang. Kalau mengingatnya, kadang ingin berkata kasar juga. Hmm...

Kalau dipikir-pikir, saya seperti menyalahkan persoalan tersebut, ya, susah mendapatkan kerja, buang-buang duit, waktu dan tenaga. Tapi kalau dipikir-pikir lagi, ternyata saya cuma memakai alasan tersebut untuk disalahkan saja, alasan kalau saya merasa kacau karena susah dapat kerja, tapi kayaknya bukan deh, itu cuma sebagian kecil saja. Sisanya, saya masih kurang paham. Kenapa ya? kalau bukan nyari kerja, saya nyari apa? Wangsit kah?

“Udah bukan masanya lagi atuh da. Haha” kata teman saya berkomentar ketika saya bercertia tentang susahnya dapat kerja. O ya, Atuh da itu bahasa sunda, artinya mungkin seperti ‘dong’ atau ‘sih’. Sayapun tertawa dibuatnya dan memikirkan kalau perkataannya tersebut memang ada benarnya. Seperti suatu kali saya melamar kerja disalah satu perusahaan, rata-rata usia mereka antara 18-20 tahun. Pernah juga ketika masuk di salah satu ruangan, dan ini agak aneh karena di sana masing-masing ditanyain umur dan harus disebutkan di depan orang banyak, dan saya paling tua. Asal tau aja, sekarang umur saya 24 jalan bos! Hahaha anjir lah bajingan. O ya, dan juga saya ini cuma tamatan SMA, jadi wajar aja kali ya kesusahan dapat kerja walaupun udah ada pengalaman di bidang tertentu. Hehehe

Sepertinya saya menyalahkan persoalan tidak mendapat pekerjaan itu cuma untuk alasan saja, buktinya kalau saya merasa kacau karena tidak mendapatkan pekerjaan, seharusnya saya marah-marah dan kesal soal pengalaman tersebut, kan? Tapi kenyataanya saya merasa biasa saja dan merasa senang mengenangnya. Asik-asik saja walaupun gagal lagi dan lagi. Mungkin bisa jadi dari hal ini juga sih, tapi cuma 30% saja. Sisanya masih saya cari. Semoga ketemu dan ada titik terang, bisa gila saya kalau begini terus.

Mungkin, ini mungkin saja, ya, sepertinya saya merasa kacau karena terlalu memikirkan perasaan, kisah cinta, hubungan baru yang gagal karena merasa belum move on dari yang lalu dan cinta-cintaan tahi kucing lainnya. Merasa goblok sendiri kalau dipikir-pikir lagi. Hahaha.

Karena kata belum move on bukan sebuah tindak kejahatan, makanya saya mengakui. Kalau belum move on adalah tindak kejahatan, yang pasti saya ogah untuk mengakui atuh. Atau bahasa gaulnya; Mana ada maling ngaku, ngoblok!

Nah, yang barusan itu, kayaknya bisa masuk sekitar 30%--alasan yang mungkin membuat saya kacau. Emang yah, cinta-cintaan yang tahi kucing itu emang selalu aja mampir ke dalam kehidupan kita. Ah tahi kucing memang.

Udah 30% dan 30% lagi ketemu, tinggal berapa lagi ya aduh matematika saya nilainya kurang bagus pas sekolah dulu. Saya buka kalkulator ya, sebentar..

Semilyar persen!!

Dan kayaknya kalkulator yang saya pakai bermasalah. Dan saya sudah tahu jawabannya, yaitu 40%, adalah; mungkin ini karena saya jarang terbuka dengan orang lain soal masalah-masalah pribadi, atau kalaupun tidak terbuka dan bercerita soal masalah pribadi, kalau dipikir lagi, harusnya saya banyak ngobrol dengan orang-orang, ya, kan, ngomongin apa aja mungkin; ban motor kempes, cucian baju yang menumpuk, harga telur di pasar, mati listrik mulu tiap malam, hujan yang selalu turun di jam 12 siang atau soal film-film bajakan yang baru diunduh. Saya memang kurang bisa banyak ngobrol panjang lebar soal kehidupan sehari-hari, di rumah pun kalau lagi gak ada kerjaan, saya lebih banyak membaca buku, nulis dan, ya, kegiatan-kegiatan yang gak banyak omong kosong lainnya. Ngobrolin masalah kecil saja saya jarang, apalagi ngobrolin pusingnya gagal dapet kerja, gagal PDKT atau cinta-cintaan tahi kucing lainnya itu. Pokoknya saat ini hidup saya kayak mayat mati di sungai. Ngambang gitu aja. Kayak mikirin banyak hal, tapi gak tau yang dipikirin itu apa. “aneh lu..” kata temen saya ketika saya nyoba curhat kayak gitu. Ya, kira-kira begitu.

Sekarang, saya kayak udah mau mulai curhat-curhat lagi (atau kalo kalian mau curhat juga, boleh japri, saya ladenin sampai 24 jam, saya  buka  jasa curhat online deh, soalnya saya tipe orang yang lebih suka dengerin dari pada banyak omong), dan bodo amat mau cerita saya itu ditanggepin serius atau enggak, didengerin atau enggak, atau mungkin sampai dikata-katain, yang penting saya mau keluarin dulu emosi yang sebelumnya kayak masih ketahan di dalam, curhat-curhat  begini nih, nulis di blog juga salah satunya. Terapi, katanya. Kalau soal nulis di blog, di postingan sebelumnya saya kayak nyoba nulis cinta-cintaan gitu, dalam bentuk fiksi tapi ditulis secara sinis dan dibumbui sedikit kata-kata kasar, seperti; Anjing, bajingan, sialan dan beberapa kata yang lupa, apa ya? Sampe Yoga nge-whatsapp saya dan berkata; “Enak ya marah-marah..”. Aduh, maaf Yog, padahal ada kata-kata lain yang lebih bagus, tapi saya ingatnya cuma itu. Haha. Karena ternyata marah-marah itu beneran enaaaaaaak. Ya ampun ketagihan buat ngeluarin emosi euy. Atau emang apapun kalau dikeluarin itu enak? Hiya hiya hiya~

Dan juga, kayaknya gaya menulis saya agak sedikit berubah, ya, mungkin karena faktor buku bacaan saya belakangan ini yang mempengaruhi, jadi maaf-maaf aja kalo yang biasa baca blog saya dan ketika mampir lagi merasa aneh ketika membacanya. Tapi, kenapa saya harus minta maaf, ya? salah saya apa? Siapa anda? Siapa saya? Saya harus ngapain?

Haduh, tuh kan kumat euy saya mah.. yaudah gitu aja dulu, ngeblog aja dulu. Sayonaraa~ Saya mau curhat dulu sama baskom, ah.

O ya, yang tadi udah lunas, 100%.

Minggu, 11 November 2018

Tentang wanita-wanita yang pernah duduk di belakang jok motorku

Gambar: Pixabay

“Kedai kopi, senja di pantai, restoran siap saji dan tempat-tempat biasa kita berjumpa sebelum berpisah dahulu; semua tempat itu hanya untuk orang lemah sepertimu!” Katamu sambil mengumpat dengan membawa-bawa nama hewan yang sangat dicintai oleh BNN itu. Padahal kita baru berjumpa lagi setelah sekian tahun berpisah.

Kita memang bertemu di kedai kopi, bukan? Kamu sedang membaca buku di pojokan, mungkin itu cara terbaik agar mirip seperti tokoh dalam novel yang sedang kamu baca dan kamu ikuti setiap apa yang tokoh itu lakukan dalam setiap jalan ceritanya. Atau mungkin kamu hanya merasa karakter itu sama seperti dirimu saja. Percayalah, kamu hanya terbawa suasana.

Aku menyukai perempuan dengan rambut pendek sebahu, asal tidak botak. Siapalah lelaki yang tidak suka perempuan dengan rambut sebahu, berkacamata dan suka membaca buku, mungkin itu hanya sosok perempuan yang kusuka saja, beda lagi dengan om-om yang suka jajan di hotel, mungkin perempuan seperti yang kubicarakan tadi tidak akan diliriknya sama sekali. Kecuali ada sesuatu yang menonjol yang dilihat oleh lelaki mata keranjang yang kusebutkan tadi.

Aku memesan kopi Arabika — kopi favoritku karena aku tidak suka alasan lebih rumit lagi sepertimu yang lebih suka kopi Gayo yang menurutku tidak enak itu — dan aku melihatmu di sudut ruangan kedai kopi sambil membaca buku. Aku tidak tau kenapa saat itu aku lebih suka mampir ke tempat seperti itu.

Aku melihatmu sejak memesan kopi yang pertama kali ditemukan di Ethiopia itu. Sudah aku bilang aku menyukai perempuan berambut pendek sebahu dan memakai kacamata, dan kebetulan aku melihatmu, bajingan sekali kenapa waktu itu aku melihatmu sangat manis, meski sampai sekarang masih seperti itu walaupun sekarang kau terlihat sangat ingin kutendang.

“Hai, boleh?” kataku sambil menghampirimu dan meminta duduk di sana. ketahuilah, itu adalah tempat favoritku juga sebelum kau mengambil alih. “Aku hanya tidak ingin duduk di tempat lain, mereka membosankan” kataku agar kau tidak salah paham meski yang sebenarnya terjadi adalah aku yang terlalu membosankan bagi orang lain. Kau tau, aku tidak suka banyak mengobrol kecuali setelah mengenalmu.

“Hanya seminggu aku tidak datang ke sini, kamu sudah duduk di sini. benar-benar mengambil alih.” Kataku kepadamu sambil memutar sendok di dasar gelas. Padahal aku mengatakannya dengan serius, tapi kau malah tertawa kecil. Baru kali itu aku melihat orang aneh sepertimu.

Jika diingat-ingat, betapa menyebalkannya pertemuan itu, dan kenapa aku harus bertemu denganmu? Persetan dengan kebetulan!

Hal yang paling menyebalkan dari pertemuan itu adalah kenapa kita jadi lebih sering bertemu? melakukan banyak kebodohan dengan mengunjungi kedai-kedai kopi lain di setiap sudut kota. Selain itu, restoran siap saji di sebrang sana, kau ingat, kita juga terlalu banyak menghabiskan waktu berdua dengan hanya membeli sesuatu yang tak ingin aku makan lagi sampai sekarang — setelah berpisah. Kedai kopi, restoran siap saji; tempat-tempat itu anjing!

Dan, kau tau, aku juga sangat membenci senja di pantai, untuk sesuatu hal yang selalu muncul sesaat sebelum gelap, aku mulai memikirkannya; betapa bodohnya aku dengan segala kenangan itu. Sampai-sampai aku tidak ingin lagi melihat matahari yang pura-pura hendak tertidur padahal ia melancong ke bagian lain. Bagaimana kau bisa menyukai hal seperti itu? Kau benar-benar membawaku pada sesuatu yang kemudian aku benci sampai sekarang. Persetan dengan kedai kopi, persetan dengan restoran siap saji, persetan dengan senja di pantai, semua itu hanya keberuntungan bagi band indie untuk mendapatkan receh!

Ah, benar, band indie, sampai-sampai aku hampir lupa menyebutkannya karena sudah lama tidak mendengar lagu ‘Rindu’ yang dibawakan oleh dua orang yang sudah bubar itu. Aku ingat, setahun yang lalu aku mencoba mendengarkan kembali lagu itu, kau tau, dadaku terasa disundut besi yang baru dicelupkan ke bara api. “Jendela… kursi… atau bunga di meja..”, begitulah bagian liriknya, benar-benar lagu pembawa petaka, “beruntunglah kalian bubar..” kataku ketika mendengarkan lagi separuh dari lagu itu. Sialan memang.

Dari semua yang membuatku ingin menghujat setiap sudut-sudut tempat di kota itu, kau tau, yang paling aku benci adalah keberadaanmu, bahkan jalan-jalan yang kulalui pun benar-benar membuatku muak — jalan yang dulu sering sekali kita lewati menggunakan motor bututku, berdua. Kau tau, jika harus aku tulis cerita; Tentang wanita-wanita yang pernah duduk di belakang jok motorku, maka akan aku tuliskan beberapa nama: Suketi, Dolores, Sasmita, Ibu Kos dan semua wanita-wanita jahat di dunia ini, maka tidak lain dan tidak bukan — kau harus tau — bahwa nama-nama tersebut adalah jelmaan lain dari cerita tentang dirimu. Semua cerita adalah milikmu wahai bajingan tengik.

“Kedai kopi, senja di pantai, restoran siap saji dan tempat-tempat biasa kita berjumpa sebelum berpisah dahulu; semua tempat itu hanya untuk orang lemah sepertimu!” Katamu sambil mengumpat, “apa kabar kamu?” lanjutmu pada pertemuan yang tidak disengaja ini. Ah, aku malah melamun mengingat masa lalu.

“Kenapa kamu di tempat seperti ini?” sungguh pertanyaan bodoh, malas sekali aku harus menjawab pertanyaan seperti itu darimu. “ini tempat pertemuan kita pertama kali, bukan?”. Seharusnya tidak usah kau jelaskan.

“benar tidak ada yang ingin dijelaskan?” katamu menatap mataku.

“Sebelum kujawab, boleh aku tanyakan satu pertanyaan padamu?”

“Apa?” Katamu sambil memegang cangkir kopi, yang kalau boleh aku tebak dari aromanya, itu adalah aroma Gayo.

“Kenapa rambutmu panjang?”

“Oh, ini, kau tau, aku membenci rambut pendek setelah berpisah denganmu. Selain itu, kedai kopi ini, restoran siap saji di sebrang sana, senja di pantai dan lagu yang sedang diputar ini, dan tentunya dirimu. Aku benar-benar membencinya. Kau memang bajingan tengik, yah. Haha” katamu dengan santai mengatakan semua hal yang sebetulnya ingin sekali aku katakan juga padamu. Anjing lah aku keduluan! “dan, oh, maaf, tadi aku meminta barista di sana untuk memutar lagu ini. Tidak keberatan, kan?”

“Tidak. Untuk sesuatu hal yang sangat kamu benci, kamu terlalu berani untuk datang ke tempat seperti ini” kataku membalas. Sepertinya kali ini besi panas itu tidak lagi mengancam dadaku. Aku juga heran.

Pikiran ini kacau, sebenarnya apakah aku memang sangat menyukai wanita berambut pendek sebahu atau saat itu aku hanya benar-benar menyukaimu saja? Sialan! Dengan rambut panjangmu saat ini perasaanku masih saja sama seperti dulu.

“Kamu tidak berubah sedikitpun yah, gaya pakaianmu, cara dudukmu, kopi arabika-mu. Haha. Ayolah jelaskan.. aku ingin dengar..”

“hal yang sangat ingin aku katakan sudah kamu katakan tadi” kataku menjelakan, “Kamu tau tempat ini, semua tempat yang kamu sebutkan tadi, dan lagu ini, semuanya membuatku muak.”

“Kamu benar-benar orang yang  rumit. Seharunya kamu menjelaskan kenapa kita berpisah dan kenapa kamu meninggalkanku.” Katamu.

“Maaf..”

“Aku hanya merindukanmu..”

Sungguh mulut sialan bodoh, kenapa aku mengatakannya. Aku melihatmu hanya terdiam sampai pada akhirnya kau mengeluarkan kata-kata,

“Sudahlah, semua sudah berlalu, aku ke sini hanya untuk memastikan, setiap tempat, lagu dan kisah dari novel ini terasa tidak asing, jadi aku hanya pergi untuk memastikannya, dan ternyata benar, akulah dia, si tokoh perempuan di novel itu, kau yang tulis, bukan?”

Kau pergi, meninggalkan satu buku yang tidak asing, buku yang tidak terlalu tebal, “Tentang wanita-wanita yang pernah duduk di belakang jok motorku” begitulah yang tertulis di sampulnya yang berwarna kelam, penulis mana yang dengan bodohnya memberi judul sebuah novel dengan judul seperti itu kecuali aku. Ah, sialan, aku ketahuan.


***

Cerita ini terinspirasi dari buku Unforgettable, lagu yang dicover oleh Kobasolo ft. Harutya dan beberapa buku fiksi yang sedang dibaca.
PS: Gak ada yang namanya berpisah dengan baik-baik. kalo baik-baik harusnya gak berpisah. Ayo kita bangsat-bangsatin! AHAK AHAK

Rabu, 26 September 2018

Saya Marah Kepada...

Saya marah ketika tidak diberi penjelasan. Saya marah ketika orang-orang menanyakan kapan menikah. Saya marah ketika motor saya mogok. Saya marah ketika orang yang saya cintai lebih memilih orang lain. Saya marah ketika kuota internet habis. Saya marah ketika tidak melanjutkan pendidikan. Saya marah ketika saya merasa malas melakukan apapun. Saya marah ketika tidak bisa melakukan apa yang orang orang lain lakukan. Saya marah kepada orang-orang. Saya marah kepada diri sendiri. Saya marah ketika mengetahui rasa marah saya adalah buah dari rasa kesepian.

Dan saya melawan, melawan segala rasa marah, melawan bersama kata-kata. Kata-kata dalam pikiran saya. Kata-kata dari buku yang saya baca. Kata-kata dari orang-orang yang saya benci. Kata-kata dari orang yang saya cintai. Kata-kata dari para sahabat. Kata-kata dari orang-orang lain. Kata-kata dari tulisan yang saya tulis. Kata-kata yang muncul begitu saja ketika saya berdiam diri. Kata-kata yang muncul ketika saya mengendarai motor. Berpikir, berpikir dan kemudian berpikir.


Pada akhirnya, kata-katalah yang membuat saya berdamai dengan diri sendiri.

Kamis, 20 September 2018

Meresahkan yang Resah


Hampir satu tahun saya kembali ke rumah tempat saya dilahirkan, di Cianjur. Di sini saya benar-benar merasa nyaman, saya bisa pergi ke manapun, mengisi kekosongan hari-hari saya. Jujur saja, diam terlalu lama di rumah sendiri adalah satu hal yang membuat saya semakin tidak ingin pergi terlalu jauh lagi, tubuh saya seperti sudah terikat lagi dengan rasa nyaman.

Di tahun-tahun sebelumnya, saat saya sibuk bekerja, saya masih bisa menulis untuk blog ini, minimal seminggu sekali, atau kalau tidak sampai seminggu, tiap bulan pasti ada saja tulisan, minimal 2 tulisan. Tapi sekarang, saat saya belum mendapatkan pekerjaan baru alias sedang menganggur, saya jarang sekali menulis, padahal kalau dipikir-pikir lagi, setiap bulannya saya sudah mengujungi beberapa tempat, dan kalau di tuliskan, itu akan menjadi cerita yang menarik. Mungkin saja. Tapi kenyataanya, kisah-kisah saya tetap saja tidak tertuliskan, hanya beberapa saja yang mampir ke blog ini. Mungkinkah karena saya bosan untuk terus menerus menuliskan cerita perjalanan? Atau mungkin juga karena saya sibuk memikirkan nasib saya yang sampai sekarang belum juga mendapatkan pekerjaan, jadi niat untuk menulis itu terhalang oleh niat saya untuk mendapat pekerjaan baru. Ah, mungkin juga saya hanya sedang malas-malasanya menulis.

Ketika saya masih tinggal di Bekasi, hampir setiap hari pasti saya menulis cerita atau apapun yang saat itu saya pikirkan, hampir setiap hari ide-ide liar itu muncul, meski tidak semua tulisan saya dipublikasikan ke blog, tapi saya tetap menulis, walaupun hanya menulis beberapa paragraf yang sebagian besar tulisan tersebut saya nikmati sendiri alias tidak sampai saya publikasikan ke blog.

Apakah saat ini saya benar-benar sedang kehabisan ide? Atau tempat yang saya tinggali sekarang tidak cocok untuk ide-ide itu muncul di kepala? Selalu saja pertanyaan-pertanyaan seperti itu muncul tiba-tiba. Padahal, saya selalu mencoba untuk menulis, tapi lagi-lagi, setiap saya membuka laptop, tinggal menggerakan jari-jari di atas keyboard, tiba-tiba saya hanya terdiam, memandangi satu garis lurus kecil yang berkedip-kedip di layar laptop yang sedang menunggu kata demi kata menghampirinya melalui jari-jari saya.

Sumber: Pixabay

Saya pernah menulis tentang Hal Yang Dipikirkan Ketika berkendara, di sana saya bercerita bahwa saya sering sekali mendapatkan ide tulisan ketika sedang berkendara, benar memang, bukanya fokus menyetir, saya malah memikirkan banyak hal. Tapi memang seperti itu kebenarannya, saya bisa memikirkan ide tulisan sambil tetap fokus menyetir. Ya walaupun pernah sekali nubruk gerobak tahu gejrot di pinggir jalan Kalimalang gara-gara terlalu memikirkan ide-ide liar tersebut.

Oke itu becanda.

Sebetulnya saya sering juga berkendara dari satu kota ke kota lain di Jawa Barat, dan memang benar banyak sekali ide-ide itu muncul ketika berkendara, tapi hanya terpikirkan saja, dan tidak sampai saya tuliskan atau dicatat di buku yang biasa saya bawa. Saya merasa benar-benar seperti menjadi seorang yang pemalas. Ya lagian masa saya harus repot-repot berhenti dulu untuk menulis ketika ide itu muncul tiba-tiba. Kalau ide itu muncul setiap 5 menit sekali dan langsung saya catat, bisa jadi kalau perjalanan saya dari Cianjur menuju Bekasi yang biasanya hanya 8 jam berubah menjadi 10 hari perjalanan. Kalau begitu, rumor bahwa Bekasi itu jauh akan jadi kenyataan.

Saya selalu memikirkan tentang keresahan saya yang tak kunjung datang, dan sekarang, saya malah meresahkan tentang keresahan ini, hadeuuh! benar-benar hal yang tak terpikirkan sebelumnya. Jujur saja, saya masih tetap ingin terus menulis di blog ini, di sini saya bebas menyuarakan isi kepala saya ke sebuah tulisan, tulisan yang tak terbatas, saya bebas mengekspresikan apapun yang terjadi pada hidup saya di sini. Blog seperti tempat curhat terbaik bagi saya, walaupun kebanyakan yang saya ceritakan di blog ini kebanyakan aib saya dan teman-teman saya.

Kalau yang pernah mampir sebulan ke belakang ke blog ini, mungkin tau kalo blog ini template-nya berbeda. Saya mengganti template karena terinspirasi saat awal-awal ngeblog, template adalah bagian dari blog yang paling sering saya ganti. Dulu, minimal tiap 3 bulan sudah ganti template, saya pikir, kalau ganti template akan mengembalikan semangat ngeblog lagi, tapi ternyata sama saja. Makanya mulai dari sekarang saya kembalikan lagi template blog ini ke seperti sebelumnya.

Selain template, saya juga pernah memakai kata ganti orang pertama dengan saya dengan gue, aku, saya lagi, gue lagi, dan terus seperti itu, saya hanya ingin mengetahui di mana nyaman saya berada. Tapi ternyata, saya tetap tidak konsisten. Maka dari itu mulai dari sekarang, saya akan membuat penggambaran untuk diri sendiri:

Konsisten untuk tidak konsisten.

Hmmm.. iya gimana?

Kembali soal keresahan saya tadi, ternyata saya itu tipe orang yang tak bisa jauh dari keresahan. Hidup terlalu nyaman ternyata bisa membunuh kreatifitas seseorang, termasuk saya. Atau bisa dibilang, saya ini seseorang yang salah masuk kelas, saya yang seharusnya tetap di kelas resah, tiba-tiba balik lagi ke kelas nyaman. Benar-benar hidup di kelas yang beda sangatlah sulit, atau kalau menurut sang junjungan, bahwa saya ini,

Salah room kawan!

Terlalu nyaman ternyata bisa membuat seseorang resah juga, ya. manusia memang banyak maunya. Atau memang karena kurang bersyukur saja. Ckckck.

Terkadang, saya juga sangat iri dengan teman-teman lain yang dengan begitu mudahnya menulis, membuat cerita yang bagus, bahkan sampai diterbitkan di beberapa media yang cukup populer. Alih-alih tertantang untuk melakukan hal yang sama, saya malah seperti menghujat diri sendiri, “tulisan dia bagus, kok tulisan gue jelek amat ya!!” dan bla bla bla...

Tapi, setelah itu saya sadar, memikirkan kembali saat-saat pertama saya mulai menulis, saat dulu dengan bangganya menulis, dengan bahagianya membaca tulisan yang sudah dibuat dan dengan tanpa beban apapun ketika tulisan tersebut saya publikasikan di blog ini. Tidak seperti sekarang, seperti tulisan-tulisan yang saya buat, hanya sampai masuk folder khusus, dan terabaikan begitu saja.

Ternyata, hal yang sedang saya rasakan ini juga dialami oleh beberapa teman bloger saya yang lain, di mana mereka juga seolah-olah memilih-milih tulisan mana yang akan dipublikasikan dan tulisan mana yang masuk ke folder ‘tulisan sampah’ seperti yang saya buat. Padahal dulu saat awal-awal ngeblog, saya cenderung menulis langsung di blog dan tanpa mengoreksi kata demi kata ada yang typo atau tidaknya, langsung dipublikasin begitu saja.

Dalam beberapa hal, mungkin dirasakan teman-teman bloger yang lain juga, saat saya membaca tulisan saya sendiri yang dibuat beberapa tahun lalu, saat membacanya saya merasa “ya ampun ini bener nih dulu pernah nulis begini? Ya ampun jijik aku jijik pergi kamuuuu..” iya memang tidak sampai berkata seperti itu, tapi hal tersebut mungkin juga karena dulu dan sekarang sudah beda jamannya. Cara menulis kita yang dulu dan sekarang mungkin beda, cara berpikir yang beda, karena semakin hari kita semakin menemukan hal baru dan cara pandang baru.

Tapi, apa boleh buat, ketika saya merasa geli sendiri saat membaca tulisan lama yang saya buat, ya itu memang sudah seharusnya seperti itu, mungkin itu salah satu cara agar saya harus memperbaiki cara bagaimana saya menulis agar tidak terlihat alay kembali, bukan malah jadi malu kalau pernah menulis seperti itu. Atau bisa jadi, tulisan yang saya buat ini, bisa juga terlihat alay jika dibaca beberapa tahun mendatang, kan? Kita lihat saja nanti.

Lagian kan, tulisan yang sudah saya buat tersebut sekarang ini sudah menjadi arsip, arsip yang bisa kapan saja dibuka, arsip yang kapan saja siap dipelajari, arsip yang mengingatkan saya kalau saya pernah membuat diri sendiri merasa bahagia ketika menulisnya, dan arsip yang bisa dibilang mirip mantan yang sudah membuat saya patah hati, tapi saya masih bisa mengenangnya, membacanya, lalu menertawakannya. Seperti mantan  yang mengubah saya menjadi lebih baik, begitupun tulisan yang pernah dibuat, seharusnya bisa mengubah cara saya menulis agar lebih baik juga.

Mashooook pak Ekooo...!

Hmm, setelah ngalor-ngidul menuliskan ini, mungkin sudah seharusnya saya kembali lagi kepada keinginan saya yaitu, saya bukan menulis untuk orang lain, tapi untuk diri sendiri.

Mashooook pak Ekooo...!

"Wooy! Salah room kawan..."

Kamis, 06 September 2018

Senin, 13 Agustus 2018

Bikin Cover Musik dan Video


Gue bareng Jamah, temen gue pas SMP dulu akhirnya bisa ketemu lagi, kami emang udah jarang banget ketemu, dan kebetulan kali ini pas ada acara kumpul-kumpul tiba-tiba kepikiran ide yang lumayan bikin repot gue. Iya, temen gue ini emang suka nyanyi, dan dia liat video-video pendek yang gue upload di Instagram, yang kemudian dia pengen lagu yang dia cover dibikinin videonya. Setelah gue jelasin kalo gue rekam dan edit video itu cuma lewat hp, tetep aja dia pengen bikin videonya. halah~

Pada hari Kamis dibulan Agustus, kami mulai merekam beberapa video, karena lokasi kami dekat dengan pantai di Cianjur Selatan, maka kami mulai merekam videonya di sana. Kalau soal lagunya, si Jamah (oke ini namanya agak gimana gitu ya, "jamah aku bang, jamaah!") dia sudah rekaman kemarin malamnya, dan rekamannya juga melalui hp samsung yang speakernya udah krebek-krebek alias hpnya kayak udah gak layak pakai, wkak~

Proses pengambilan video hanya berlangsung sebentar, kebetulan saat itu kami merekam di sore hari menggunakan hp ipun 5s milik gue, karena hari sudah sore, hasil videopun lumayan banyak semutnya.

Oke deh, gak lama-lama lagi, berikut video yang udah gue edit pake iMovie di hp dan ripuh banget ngepasin video sama lagunya, sikaaat~

Jaz - Kasmaran (Cover by Jamah Barata)


Sabtu, 30 Juni 2018

Jane


“Kita merindukannya, dan dia lebih merindukan kita”


Ayah, bisa ceritakan kembali kisah kemarin?

Tidak bosankah kau, Jane? Kalau begitu akan kuceritakan beberapa hal yang masih ayah ingat sebelum kita pergi dan melupakan semuanya, mungkin ini agak berbeda dengan yang biasa diceritakan ibumu ketika kau menjelang tidur.

Dulu, sekitar pada tahun 80-an, tentunya kau belum lahir, dan akupun masih seorang anak kecil yang sedang berbahagia dengan kehidupannya kala itu, dan belum mengetahui tempat-tempat seperti ini. Dan, dulu sekali di sana belum ada yang namanya lampu terang seperti lampu neon yg kau lihat di atas kamarmu, lampu-lampu terang di teras rumah, di pinggir jalan, dan suara-suara gaduh televisi yang masih menyala saat kau menontonnya sampai tertidur. Yang ada hanya temaram pertromak yang digantung di bilik rumah, terkadang saat tengah malam menjelang, petromak itu sudah padam terlebih dahulu, dan kau terpaksa harus menikmati gelapnya pandanganmu ketika mata masih terjaga.

Konon katanya, sekarang di sana sudah hampir berubah, semenjak ada pembangkit tenaga listrik pada tahun 1980 yg mengubah suasana kampung itu, keadaannya sampai sekarang sudah semakin lebih baik, meski di antaranya masih sama, hanya dengan penduduk yang sudah tidak kukenal lagi. Banyak orang-orang baru, mungkin karena sebagian orang menikah dengan pasangan beda kampung, kota, atau dari mana asalnya yg tiba-tiba jika aku ke sana pada tahun-tahun ini, aku hanya akan menemui anak-anak kecil yang tidak aku kenal, mungkin mereka itu buah hasil dari teman-temanku dulu yang sudah pada menikah dan menetap di sana.

Ada satu peristiwa yang masih aku ingat sampai saat ini, dulu sekali, pada tahun-tahun itu, saat listrik mulai menerangi rumah-rumah warga, di sanalah waktu-waktu paling bahagia. Aku sendiri saat itu kemungkinan berusia 4 atau 5 tahun, jelas aku ingat, karena saat itu aku sama sekali belum masuk sekolah dasar, dan harus kau tahu, dulu sekali belum ada yang namanya TK seperti sekolahmu, bisa  dibilang langsung SD.

Hal yang paling membahagiakanku saat  itu sangatlah mudah, aku dibawa kakek-nenekmu berkunjung ke tetangga yang jaraknya lumayan membuat capek ketika harus menggendongku di punggungnya. Kami  berkunjung ke rumah tetangga hanya sekedar untuk menonton televisi yang hanya berwarna hitam putih, dan rasa bahagia itu hampir sama seperti yang kau rasakan ketika aku membawamu ke bioskop untuk menonton film favoritmu. Sampai-sampai aku tidak ingin pulang sebab karena aku masih ingin menonton televisi itu, meski waktu sudah tengah malam, sampai aku tertidur, dan ketika terbangun sudah berada di rumah. Sama sepertimu yg kadang tertidur dihadapan televisi, yang kemudian aku gendong ke kamarmu, tanpa sadar.

Suasana kampung itu, ketika baru jam 7 malam, rasanya sudah sepi sekali, ketika listirk-listrik belum masuk ke desa, hanya akan merasakan kesunyian yang mungkin kau tak akan tahan jika kau baru merasakannya, sangat-sangatlah berbeda dengan suasana kota yang mulai ramai di malam hari. Di kampung itu, suara jangkrik sudah pasti terdengar, mungkin juga daun jatuhpun akan seolah berbisik di telingamu.

Dan,  ketika kau  terbangun di pagi hari, orang-orang sudah  mulai sibuk, pergi ke ladang dan sawah, karena itulah satu-satunya pekerjaan  yang menghasilkan uang,  atau sekedar untuk bertahan hidup dengan bahan pokok seadanya. Harus kau tahu, sampai sekarang keadaan tersebut hampir masih sama, tetapi juga ada banyak perbedaan lainnya.

Dan biasanya, saat sore menjelang, anak-anak seusiamu sudah bersiap untuk berangkat ke surau, karena selain mengaji, surau adalah tempat paling membahagiakan ketika aku bertemu dengan teman sebayaku, bermain apa saja  yang bisa dilakukan  di sana, sebelum suara adzan terdengar.

bahkan, aku dan ibumu sudah berteman sejak kecil, kami selalu bermain bersama, pergi ke surau, lalu bermain sepuasnya untuk menghabiskan masa kecil sebelum dewasa tiba.

ayah..
lalu bagaimana kau bisa bersama dengan ibu?

Jane, kau tahu, pertanyaanmu itu, aku ingin juga bertanya pada kakekmu tentang bagaimana dia bertemu dengan  nenek. Ha-ha

Ibumu sosok yang periang, banyak bicara, tapi bukan bicara yg omong kosong, kata-katanya selalu membuat aku semakin suka padanya, ia dewasa, memang seperti sudah seharusnya kalau seorang wanita terkadang lebih dulu dewasa dibanding laki-laki. Ibumu dan aku sebelumnya sempat tidak saling bertemu sekitar beberapa tahun, lalu, aku dan ibumu bertemu kembali di suatu tempat di Jakarta, dan kebetulan ibumu juga berada di sana, dekat dengan  tempat kerja teman ayah. Kami bertemu, lalu mengenang masa lalu, kemudian seperti ada satu tali yg mengikat kami untuk bersama. Begitulah kehidupan, selalu tidak bisa ditebak.

Apa kau merindukan ibu?

Harusnya aku sudah tidak perlu menjekaskan ini, tapi apa boleh buat, perasaanmu dan perasaanku mungkin berkata sama, kita merindukannya, Jane.

Kau lihatlah, Jane, ibumu baru pulang. Aku sangat ingin memeluknya, tubuhnya yg semakin kurus dimakan kesedihan, matanya yg terlihat sembap, hatinya yg hancur, dan aku ingin sekali menghiburnya. Padahal kita di sini, di sampingnya, tapi apa boleh buat, kita berdua hanya bisa melihat ibu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dan ibumupun tidak bisa melihat kita. Kita sudah menjadi sesuatu yang lain.

Aku merindukan ibu.

Kita merindukannya. Dan dia lebih dari merindukan kita.

_____

Sumber gambar: https://www.arah.com/article/6842/menurut-islam-bolehkah-ayah-mencium-anak-perempuannya.html

Senin, 25 Juni 2018

Rencana Perjalanan ke Dieng


Setelah beberapa bulan lalu gue memutuskan untuk resign dari tempat gue biasa bekerja, gue langsung merencanakan beberapa hal, salah satunya waktu berlibur, pergi ke beberapa tempat, menikmati hidup yg katanya sangatlah singkat. Mungkin bagi beberapa orang ini hanya buang-buang waktu, bukanya ngumpulin duit buat masa depan, cicil rumah, cicil kendaraan, terus pas udah  tua tinggal menikmatinya. Tapi, mungkin gue sedikit berbeda, gue hanya ingin menikmati waktu muda dengan menikmati keindahan alam, kemudian istriahat di waktu tua. Hahaha. Ya, walaupun sudah resign, gue enggak nganggur-nganggur amat lah, masih ada penghasilan meski enggak sebanding dengan gaji sewaktu bekerja.

O ya, sekitar setahun yg lalu gue juga sempat pergi berlibur ke Jogja, namun sayang waktu berlibur di Jogja tidaklah lama, hanya 3 hari, itupun dengan perjalanan pulang-pergi menggunakan kereta dari Jakarta. Jadi, waktu menikmati Jogja hanya sehari saja, selebihnya hanya istirahat setelah sampai, lalu istirahat sebelum pulang lagi ke Jakarta. Capek emang. :')

Kebetulan, tahun ini juga gue sudah merencanakan untuk pergi ke Jogja lagi bersama teman-teman  yg baru pulang dari Malaysia. Setelah dari  Jogja, rencananya kami juga akan langsung ke Dieng, kebetulan gue belum pernah da sangat ingin ke sana, sekali-kali lah boleh liburan terus, hehe.

Karena objek wisata di Dieng lumayan banyak, maka gue hanya merencanakan liburan ke beberapa tempat saja,  inilah salah satunya

Objek Wisata Alam  Bukit Sikunir Dieng

sumber: halodieng.com

Karena kemi berangkat ke sana sekitar bulan Agustus nanti, maka Alam Bukit Sikunir Dieng ini sepertinya cocok untuk didatangi, menurut beberapa sumber yg pernah ke sana, waktu terbaik menikmati sunrise adalah sekitar pada Bulan Juli-Agustus, di mana pada bulan-bulan tersebut merupakan musim kemarau sehingga langit akan tampak bersih dan tidak ada hujan. Atau mungkin kalau  datangnya siang hari cukup dengan menikmati keindahan dunia atas awan.

Tempat Wisata Alam Telaga Warna di Dieng

Sumber: dakatour.com

Telaga Warna memang sudah lebih dulu dikenal daripada tempat-tempat lain di Dieng, sudah sering gue lihat dari teman-teman gue yg lebih dulu datang ke sana. Telaga warna di Dieng Plateau ini terletak pada ketinggian 2000 mdpl, di mana pemandangan di tempat ini sangat indah. Telaga warna  Dieng memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan telaga atau waduk lainnya di Indonesia.


 Candi Arjuna

Sumber: lifestyle.okezone.com

Setelah setahun lalu  sewaktu di Jogja gue sempat juga mengunjungi Candi Ijo, gue jadi ketagihan untuk mengunjungi candi-candi lainnya, kebetulan di Dieng ada yg Namanya Candi Arjuna, kayaknya akan gue sempatkan untuk pergi ke sana. Siapa tau nantinya wajah gue bakalan kayak arjuna juga. Wahahaha

**
Kami sempat mendiskusikan tentang transportasi mana yg akan dipakai, karena gue tipe orang pemabuk kalau naik mobil, maka gue menyarankan kepada teman-teman lain untuk menggunakan kereta, tapi setelah dipikir-pikir lagi, naik kereta juga cukup memakan waktu yg lama, alangkah baiknya kalau pergi menggunakan pesawat, jadi waktu berlibur menjadi lumayan banyak. Ya, meski harus lebih banyak lagi menguras dompet. Untunglah bukan  dompet gue kok, Ehehe.

Karena temen-temen gue baru pulang dari Malaysia sekitar sebulan lagi, mereka malah menyuruh gue yg mengatur semuanya, mulai dari hunting tiket pesawat dan booking tempat inap.  Otomatis mulai dari sekarang hari-hari gue disibukan dengan mencari-cari tiket pesawat kemudian booking hotel sekaligus, mencari sana-sini untuk membandingkan harganya.

Rata-rata tiket pesawat dan booking hotel dijual terpisah, jadi cukup menghabiskan waktu. Setelah cek harga tiket dan hotel sana-sini, gue melihat kalau Traveloka telah membuka pemesanan tiket+hotel sebagai satu paket,  gue pun langsung mencoba untuk booking tiket+hotel sekaligus.

Karena kami berangkatnya ke Jogja terlebih dahulu, gue pun memesan tiket pesawat yg langsung ke Jogja, sekaligus mencari tempat inap untuk di Dieng nantinya, kalau di Jogja sendiri tidak perlu mencari tempat inap karena sudah ada teman yg siap menampung kami selama 3 hari di sana, hehe.

Pesan paket pesawat dan hotel Traveloka caranya sangat gampang tinggal klik ikon seperti yg sudah gue kasih tanda panah di bawah ini, kemudian lanjutkan dengan memasukan tujuan


Memanfaatkan aplikasi Traveloka, gue jadi bisa memesan tiket pesawat+hotel di manapun dan kapanpun. Selanjutnya tinggal pilih kota asal dan kota tujuan, lalu klik 'Tambah Detail Penginapan' karena gue memilih paket Tiket+Hotel.


Karena tujuan kami ke Dieng adalah untuk  liburan, maka gue memilih tempat inap yg jaraknya dekat dengan lokasi wisata seperti Dieng Plateau dan Candi Arjuna.

    

Bahkan di Traveloka ini metode pembayarannya juga banyak pilihan, mulai dari transfer bank atau melalui minimarket.

   

Setelah gue bandingkan lagi ternyata kalau pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, hematnya bisa sampai  20% tanpa kode promo apapun. Untuk kedepannya kalau mau pesan tiket pesawat+hotel tidak perlu repot-repot pesan satu-satu deh, sekarang lebih mudah karena di Traveloka semuanya bisa lebih praktis, mudah dan saving time.

Biasanya, sebelum ini gue sering banget pesan tiket pewasat dan booking hotel dipisahin, udah buang-buang waktu  banget, apalagi kalau lagi buru-buru, harus repot pesan satu-persatu, tapi sekarang di Traveloka jadi lebih gampang, dan juga lebih murah daripada pesan terpisah.

O ya, buat kalian yg mau pergi liburan juga, disarankan banget nih cobain pesan tiket pesawat+hotel melalui Traveloka ini, selain hemat waktu juga hemat uang karena tanpa kode promo apapun bisa hemat sampai 20%. Asik kan, sisa uangnya bisa digunakan buat wisata kuliner pas liburan.

Kamis, 24 Mei 2018

Ziarah


Pada hari Jumat dibulan Mei, sebelum ramadan tiba, gue bareng keluarga pergi ke tempat ziarah di Tasikmalaya, atau tempat tersebut biasa orang-orang menyebutnya dengan Pamijahan. Sebelum berangkat, sempat terjadi drama antara gue dengan ibu, gue yg enggak mau repot membawa barang-barang banyak, sementara ibu ribetnya pilih-pilih baju ganti, bukan hanya bajunya sendiri, tapi juga baju adek-adek. Buat yg belum tau, gue itu punya 2 adek, laki-laki semua. Makanya, tiap ada foto perempuan di hp gue, ibu selalu nanyain, “ini a, pacarnya?” padahal foto yg dilihatnya itu foto Chelsea islan, hmm.. sepertinya ibu merasa bahwa gue cocok kalau pacaran dengan Chelsea Islan kali ya, atau juga pikirnya “MASA SIH??”. Dasar si ibu, kebelet pengen punya anak perempuan ini mah!

Ketika hendak berangkat, gue berusaha meyakinkan lagi agar baju-baju yg sudah dimasukan ke dalam tas agar tidak dibawa saja, “lagian cuma semalam di sana, besok pagi juga langsung pulang lagi!” kata gue kepada ibu sambil berbisik memakai mikrofon (ya enggak lah!). Dengan kata-kata se-serius mungkin gue berusaha meyakinkan ibu, dan akhirnya baju-bajunya gak jadi dibawa. Betapa mudahnya meyakinkan hati beliau, tapi kenapa begitu susah sekali saat meyakinkan hati sang pujaan sih? Hh!

Gue berangkat mengendarai motor bersama dua adik, dan ibu juga naik motor dengan suaminya yg juga berprofesi sebagai bapak gue. Kami berangkat setelah salat jumat. Perjalanan dari Cianjur Selatan menuju Tasikmalaya jaraknya lumayan jauh, kami berangkat sekitar jam satu siang.

Ditengah-tengah perjalan, sekitar daerah wisata Puncak Guha, Garut Selatan, tiba-tiba hujan turun, kami berhenti untuk berteduh sekitar setengah jam, lalu berangkat kembali setelah hujan lumayan reda.

Drama belum berakhir. Jalanan yg tidak terlalu ramai, bahkan bisa dibilang sepi, gue melajukan kendaraan lumayan cukup kencang, lalu tiba-tiba di depan ada salah satu mahluk yg nyelongong ke tengah jalan, hati terasa deg-degan, perasaan was-was muncul antara harus berhenti mendadak tapi jatuh ke aspal atau menancap gas sekencang mungkin. Dan guepun memilih untuk melakukan gerakan kedua tadi, menancap gas dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Gue berhenti setelah melewati mahluk aneh itu, berusaha menenangkan dua adik yg sedang dibonceng, dan tentu juga untuk menenangkan diri sendiri. Beberapa warga sekitar datang menghampiri untuk menanyakan keadaan sambil berkata, “kalau di daerah ini harus hati-hati, kang, sering terjadi begini!” setelah merasa tenang, sgue melanjutkan perjalan, dan berusaha melupakan kejadian tersebut sambil berkata dalam hati, “DASAR SAPI GOBL*K!! GAK PERNAH SEKOLAH!! GAK PERNAH BELAJAR IPS!!”

Drama masih belum berakhir. Masih di sekitar Garut, hujan turun lagi, di antara kami tidak ada yg membawa jas hujan, dan gue masih berusaha menghindari tatapan ibu yg kemungkinan berkata, “APA MAMA BILANG, MAMA SELALU BENER, HARUSNYA BAWA BAJU GANTI KAAAN!!”. Tapi usaha menghindari tatapan itu sia-sia, ibu gue tetap ngedumel walaupun tidak sambil menatap. Merasa durhaka sekali ya gue ini. Huhu~

Sebuah perjalan panjang, berangkat dari jam satu siang, dan karena banyak berhenti, kami sampai di lokasi sekitar jam tujuh malam. O ya, sebenarnya kami tidak cuma berangkat sekeluarga saja, tapi  hampir sekampung, tetapi yg lain berangkat menggunakan mobil. Alasan keluarga gue gak ikut naik mobil adalah karena ibu tidak kuat pada bau seperti bensin, jadi kalau naik mobil bakalan sering mabuk-mabukan, bukan alkohol, tapi mabuk kendaraan. Terjawablah sudah kan, alasan kenapa gue tidak mau naik mobil lagi, ternyata faktor gen. Gue tukang mabuk juga. :')

Setelah salat isya, dan rombongan yg naik mobil tadi sudah datang, kami langsung melanjutkan perjalanan yg jaraknya lumayan membuat betis seperti menjadi betis pemain sepak bola karena harus jalan kaki dengan beberapa anak tangga yg lumayan cukup jauh, sejauh lagunya Caramel: Jauh kau pergi meninggalkan diriku.. di sini aku merindukan dirimu~

Ehehehehe :v

Tempat Pamijahan ini adalah lokasi ziarah ke pemakaman Syekh yg dulu menyebar Agama Islam, salah satu yg paling dikenal di sana adalah makam Syekh Abdul Muhyi. Konon katanya Syekh Muhyi ini dulunya berasal dari Gresik, lalu berangkat meninggalkan Gresik untuk mencari Gua sebagai mandat yg diterimanya dari Syeh Abdul Ra’uf, gurunya. Kalau kalian mau tau cerita lengkap tentang Syekh Abdul Muhyi, atau siapa tau kapan-kapan bisa ziarah ke pamijahan ini, bisa googling dengan kata kunci “Sejarah Waliyullah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan”, ya.

Sebenarnya ada beberapa makam yg bisa dikunjungi, tapi kami hanya ziarah dan berdoa di satu tempat, kemudian melanjutkan lagi perjalanan yg cukup jauh untuk memasuki gua. Gua ini berada diantara kaki Gunung Mujarod, sekarang lebih dikenal dengan nama Gua Safarwadi Pamijahan, dan biasanya para peziarah sering mengunjungi gua ini setelah sebelumnya melakukan ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi.

Sebelum Memasuki Pintu Masuk Goa - coretan-fuad.blogspot.com

Sekitar jam 11 malam, kami sudah berada di pintu masuk gua. A Badru, ustad dari pihak rombongan kami melafalkan adzan terlebih dahulu sebelelum memasuki gua. Saat masuk, gue pikir tidak terlalu dalam, tapi ternyata di dalamnya terdapat ruang-ruang yg besar, ada tempat yg dulu katanya dijadikan sebagai masjid, ada sebagai dapur, kamar tidur, tempat mandi bahkan ada air yg terus mengalir tanpa henti, atau ada yg menyebutnya sebagai ‘air zam-zam-nya’ tempat tersebut. Luas sekali. Karena udara yg masuk tidak terlalu banyak, ditambah lampu petromak yg lumayan bikin keringetan, napas gue sampai terasa engap, tapi gue berusaha menahannya karena panas di dalam gua masih tidak ada apa-apanya dibanding panasnya ketika gua melihat elo dengan yg lain. "......."

pintu masuk - tipswisatamurah.com

Selain di dalamnya ada ruang-ruang yg udah gue sebutkan tadi, juga ada beberapa ruang seperti jalan namun ketika didekati jalan tersebut buntu, hanya dinding dari batu atau tanah. Konon katanya beberapa ruang tersebut ada jalan yg menuju Mekkah, Surabaya, Ampel dan lainnya, namun hanya orang tertentu yg bisa ‘melakukan perjalan’ dari jalan tersebut. Apakah benar ada hal seperti itu? Kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya? Kalau gue boleh mencoba, gue ingin mencoba untuk mencari jalan menuju hatimu, boleh? Hmmm.. wkwkwkwk

MINTA DIGAPLOK YA!!

di dalam gua - dok. pribadi

Jujur saja, ini baru pertama kali gue memasuki gua seluas ini, perasaan gue ketika di dalam gua tersebut seperti kembali ke ruang-ruang di masa lalu, ya, walaupun belum tentu bayangan masa lalu gue dengan kenyataanya di masa lalu itu berbeda. Tapi, menurut yg diceritakan orang yg mengantar kami, atau dalam bahasa gaulnya Guide Tour, mulai dari bagian-bagian ruang khusus dalam gua tersebut sampai seluruh ceritanya sangatlah seperti membawa gue kembali ke masa lalu. Sungguh mengagumkan kisah saat dulu Syekh Muhyi melakukan perjalanan dalam pencarian gua yg gue kunjungi saat ziarah ini.

Sekitar jam duabelas malam, kami keluar  dari dalam gua, sepanjang perjalanan mulai dari sebelum berangkat sampai keluar dari gua, sangat banyak berjejer berbagai jualan mulai dari baju, oleh-oleh, pernah-pernik dan lainnya.

sepanjang jalan banyak yg jualan - dok. pribadi

Karena tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan pulang di malam hari, akhirnya kami memilih untuk beristirahat di sebuah ruang umum dekat masjid, udaranya sangat dingin, kami berkumpul untuk istirahat. Dan paginya, setelah salat subuh, kami belanja oleh-oleh  khas pamijahan, kemudian setelahnya melakukan perjalanan lagi untuk pulang, ke rumah.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND