Senin, 13 Agustus 2018

Bikin Cover Musik dan Video


Gue bareng Jamah, temen gue pas SMP dulu akhirnya bisa ketemu lagi, kami emang udah jarang banget ketemu, dan kebetulan kali ini pas ada acara kumpul-kumpul tiba-tiba kepikiran ide yang lumayan bikin repot gue. Iya, temen gue ini emang suka nyanyi, dan dia liat video-video pendek yang gue upload di Instagram, yang kemudian dia pengen lagu yang dia cover dibikinin videonya. Setelah gue jelasin kalo gue rekam dan edit video itu cuma lewat hp, tetep aja dia pengen bikin videonya. halah~

Pada hari Kamis dibulan Agustus, kami mulai merekam beberapa video, karena lokasi kami dekat dengan pantai di Cianjur Selatan, maka kami mulai merekam videonya di sana. Kalau soal lagunya, si Jamah (oke ini namanya agak gimana gitu ya, "jamah aku bang, jamaah!") dia sudah rekaman kemarin malamnya, dan rekamannya juga melalui hp samsung yang speakernya udah krebek-krebek alias hpnya kayak udah gak layak pakai, wkak~

Proses pengambilan video hanya berlangsung sebentar, kebetulan saat itu kami merekam di sore hari menggunakan hp ipun 5s milik gue, karena hari sudah sore, hasil videopun lumayan banyak semutnya.

Oke deh, gak lama-lama lagi, berikut video yang udah gue edit pake iMovie di hp dan ripuh banget ngepasin video sama lagunya, sikaaat~

Jaz - Kasmaran (Cover by Jamah Barata)


Share:

Sabtu, 30 Juni 2018

Jane


“Kita merindukannya, dan dia lebih merindukan kita”


Ayah, bisa ceritakan kembali kisah kemarin?

Tidak bosankah kau, Jane? Kalau begitu akan kuceritakan beberapa hal yang masih ayah ingat sebelum kita pergi dan melupakan semuanya, mungkin ini agak berbeda dengan yang biasa diceritakan ibumu ketika kau menjelang tidur.

Dulu, sekitar pada tahun 80-an, tentunya kau belum lahir, dan akupun masih seorang anak kecil yang sedang berbahagia dengan kehidupannya kala itu, dan belum mengetahui tempat-tempat seperti ini. Dan, dulu sekali di sana belum ada yang namanya lampu terang seperti lampu neon yg kau lihat di atas kamarmu, lampu-lampu terang di teras rumah, di pinggir jalan, dan suara-suara gaduh televisi yang masih menyala saat kau menontonnya sampai tertidur. Yang ada hanya temaram pertromak yang digantung di bilik rumah, terkadang saat tengah malam menjelang, petromak itu sudah padam terlebih dahulu, dan kau terpaksa harus menikmati gelapnya pandanganmu ketika mata masih terjaga.

Konon katanya, sekarang di sana sudah hampir berubah, semenjak ada pembangkit tenaga listrik pada tahun 1980 yg mengubah suasana kampung itu, keadaannya sampai sekarang sudah semakin lebih baik, meski di antaranya masih sama, hanya dengan penduduk yang sudah tidak kukenal lagi. Banyak orang-orang baru, mungkin karena sebagian orang menikah dengan pasangan beda kampung, kota, atau dari mana asalnya yg tiba-tiba jika aku ke sana pada tahun-tahun ini, aku hanya akan menemui anak-anak kecil yang tidak aku kenal, mungkin mereka itu buah hasil dari teman-temanku dulu yang sudah pada menikah dan menetap di sana.

Ada satu peristiwa yang masih aku ingat sampai saat ini, dulu sekali, pada tahun-tahun itu, saat listrik mulai menerangi rumah-rumah warga, di sanalah waktu-waktu paling bahagia. Aku sendiri saat itu kemungkinan berusia 4 atau 5 tahun, jelas aku ingat, karena saat itu aku sama sekali belum masuk sekolah dasar, dan harus kau tahu, dulu sekali belum ada yang namanya TK seperti sekolahmu, bisa  dibilang langsung SD.

Hal yang paling membahagiakanku saat  itu sangatlah mudah, aku dibawa kakek-nenekmu berkunjung ke tetangga yang jaraknya lumayan membuat capek ketika harus menggendongku di punggungnya. Kami  berkunjung ke rumah tetangga hanya sekedar untuk menonton televisi yang hanya berwarna hitam putih, dan rasa bahagia itu hampir sama seperti yang kau rasakan ketika aku membawamu ke bioskop untuk menonton film favoritmu. Sampai-sampai aku tidak ingin pulang sebab karena aku masih ingin menonton televisi itu, meski waktu sudah tengah malam, sampai aku tertidur, dan ketika terbangun sudah berada di rumah. Sama sepertimu yg kadang tertidur dihadapan televisi, yang kemudian aku gendong ke kamarmu, tanpa sadar.

Suasana kampung itu, ketika baru jam 7 malam, rasanya sudah sepi sekali, ketika listirk-listrik belum masuk ke desa, hanya akan merasakan kesunyian yang mungkin kau tak akan tahan jika kau baru merasakannya, sangat-sangatlah berbeda dengan suasana kota yang mulai ramai di malam hari. Di kampung itu, suara jangkrik sudah pasti terdengar, mungkin juga daun jatuhpun akan seolah berbisik di telingamu.

Dan,  ketika kau  terbangun di pagi hari, orang-orang sudah  mulai sibuk, pergi ke ladang dan sawah, karena itulah satu-satunya pekerjaan  yang menghasilkan uang,  atau sekedar untuk bertahan hidup dengan bahan pokok seadanya. Harus kau tahu, sampai sekarang keadaan tersebut hampir masih sama, tetapi juga ada banyak perbedaan lainnya.

Dan biasanya, saat sore menjelang, anak-anak seusiamu sudah bersiap untuk berangkat ke surau, karena selain mengaji, surau adalah tempat paling membahagiakan ketika aku bertemu dengan teman sebayaku, bermain apa saja  yang bisa dilakukan  di sana, sebelum suara adzan terdengar.

bahkan, aku dan ibumu sudah berteman sejak kecil, kami selalu bermain bersama, pergi ke surau, lalu bermain sepuasnya untuk menghabiskan masa kecil sebelum dewasa tiba.

ayah..
lalu bagaimana kau bisa bersama dengan ibu?

Jane, kau tahu, pertanyaanmu itu, aku ingin juga bertanya pada kakekmu tentang bagaimana dia bertemu dengan  nenek. Ha-ha

Ibumu sosok yang periang, banyak bicara, tapi bukan bicara yg omong kosong, kata-katanya selalu membuat aku semakin suka padanya, ia dewasa, memang seperti sudah seharusnya kalau seorang wanita terkadang lebih dulu dewasa dibanding laki-laki. Ibumu dan aku sebelumnya sempat tidak saling bertemu sekitar beberapa tahun, lalu, aku dan ibumu bertemu kembali di suatu tempat di Jakarta, dan kebetulan ibumu juga berada di sana, dekat dengan  tempat kerja teman ayah. Kami bertemu, lalu mengenang masa lalu, kemudian seperti ada satu tali yg mengikat kami untuk bersama. Begitulah kehidupan, selalu tidak bisa ditebak.

Apa kau merindukan ibu?

Harusnya aku sudah tidak perlu menjekaskan ini, tapi apa boleh buat, perasaanmu dan perasaanku mungkin berkata sama, kita merindukannya, Jane.

Kau lihatlah, Jane, ibumu baru pulang. Aku sangat ingin memeluknya, tubuhnya yg semakin kurus dimakan kesedihan, matanya yg terlihat sembap, hatinya yg hancur, dan aku ingin sekali menghiburnya. Padahal kita di sini, di sampingnya, tapi apa boleh buat, kita berdua hanya bisa melihat ibu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa, dan ibumupun tidak bisa melihat kita. Kita sudah menjadi sesuatu yang lain.

Aku merindukan ibu.

Kita merindukannya. Dan dia lebih dari merindukan kita.

_____

Sumber gambar: https://www.arah.com/article/6842/menurut-islam-bolehkah-ayah-mencium-anak-perempuannya.html
Share:

Senin, 25 Juni 2018

Rencana Perjalanan ke Dieng


Setelah beberapa bulan lalu gue memutuskan untuk resign dari tempat gue biasa bekerja, gue langsung merencanakan beberapa hal, salah satunya waktu berlibur, pergi ke beberapa tempat, menikmati hidup yg katanya sangatlah singkat. Mungkin bagi beberapa orang ini hanya buang-buang waktu, bukanya ngumpulin duit buat masa depan, cicil rumah, cicil kendaraan, terus pas udah  tua tinggal menikmatinya. Tapi, mungkin gue sedikit berbeda, gue hanya ingin menikmati waktu muda dengan menikmati keindahan alam, kemudian istriahat di waktu tua. Hahaha. Ya, walaupun sudah resign, gue enggak nganggur-nganggur amat lah, masih ada penghasilan meski enggak sebanding dengan gaji sewaktu bekerja.

O ya, sekitar setahun yg lalu gue juga sempat pergi berlibur ke Jogja, namun sayang waktu berlibur di Jogja tidaklah lama, hanya 3 hari, itupun dengan perjalanan pulang-pergi menggunakan kereta dari Jakarta. Jadi, waktu menikmati Jogja hanya sehari saja, selebihnya hanya istirahat setelah sampai, lalu istirahat sebelum pulang lagi ke Jakarta. Capek emang. :')

Kebetulan, tahun ini juga gue sudah merencanakan untuk pergi ke Jogja lagi bersama teman-teman  yg baru pulang dari Malaysia. Setelah dari  Jogja, rencananya kami juga akan langsung ke Dieng, kebetulan gue belum pernah da sangat ingin ke sana, sekali-kali lah boleh liburan terus, hehe.

Karena objek wisata di Dieng lumayan banyak, maka gue hanya merencanakan liburan ke beberapa tempat saja,  inilah salah satunya

Objek Wisata Alam  Bukit Sikunir Dieng

sumber: halodieng.com

Karena kemi berangkat ke sana sekitar bulan Agustus nanti, maka Alam Bukit Sikunir Dieng ini sepertinya cocok untuk didatangi, menurut beberapa sumber yg pernah ke sana, waktu terbaik menikmati sunrise adalah sekitar pada Bulan Juli-Agustus, di mana pada bulan-bulan tersebut merupakan musim kemarau sehingga langit akan tampak bersih dan tidak ada hujan. Atau mungkin kalau  datangnya siang hari cukup dengan menikmati keindahan dunia atas awan.

Tempat Wisata Alam Telaga Warna di Dieng

Sumber: dakatour.com

Telaga Warna memang sudah lebih dulu dikenal daripada tempat-tempat lain di Dieng, sudah sering gue lihat dari teman-teman gue yg lebih dulu datang ke sana. Telaga warna di Dieng Plateau ini terletak pada ketinggian 2000 mdpl, di mana pemandangan di tempat ini sangat indah. Telaga warna  Dieng memiliki keunikan tersendiri dibanding dengan telaga atau waduk lainnya di Indonesia.


 Candi Arjuna

Sumber: lifestyle.okezone.com

Setelah setahun lalu  sewaktu di Jogja gue sempat juga mengunjungi Candi Ijo, gue jadi ketagihan untuk mengunjungi candi-candi lainnya, kebetulan di Dieng ada yg Namanya Candi Arjuna, kayaknya akan gue sempatkan untuk pergi ke sana. Siapa tau nantinya wajah gue bakalan kayak arjuna juga. Wahahaha

**
Kami sempat mendiskusikan tentang transportasi mana yg akan dipakai, karena gue tipe orang pemabuk kalau naik mobil, maka gue menyarankan kepada teman-teman lain untuk menggunakan kereta, tapi setelah dipikir-pikir lagi, naik kereta juga cukup memakan waktu yg lama, alangkah baiknya kalau pergi menggunakan pesawat, jadi waktu berlibur menjadi lumayan banyak. Ya, meski harus lebih banyak lagi menguras dompet. Untunglah bukan  dompet gue kok, Ehehe.

Karena temen-temen gue baru pulang dari Malaysia sekitar sebulan lagi, mereka malah menyuruh gue yg mengatur semuanya, mulai dari hunting tiket pesawat dan booking tempat inap.  Otomatis mulai dari sekarang hari-hari gue disibukan dengan mencari-cari tiket pesawat kemudian booking hotel sekaligus, mencari sana-sini untuk membandingkan harganya.

Rata-rata tiket pesawat dan booking hotel dijual terpisah, jadi cukup menghabiskan waktu. Setelah cek harga tiket dan hotel sana-sini, gue melihat kalau Traveloka telah membuka pemesanan tiket+hotel sebagai satu paket,  gue pun langsung mencoba untuk booking tiket+hotel sekaligus.

Karena kami berangkatnya ke Jogja terlebih dahulu, gue pun memesan tiket pesawat yg langsung ke Jogja, sekaligus mencari tempat inap untuk di Dieng nantinya, kalau di Jogja sendiri tidak perlu mencari tempat inap karena sudah ada teman yg siap menampung kami selama 3 hari di sana, hehe.

Pesan paket pesawat dan hotel Traveloka caranya sangat gampang tinggal klik ikon seperti yg sudah gue kasih tanda panah di bawah ini, kemudian lanjutkan dengan memasukan tujuan


Memanfaatkan aplikasi Traveloka, gue jadi bisa memesan tiket pesawat+hotel di manapun dan kapanpun. Selanjutnya tinggal pilih kota asal dan kota tujuan, lalu klik 'Tambah Detail Penginapan' karena gue memilih paket Tiket+Hotel.


Karena tujuan kami ke Dieng adalah untuk  liburan, maka gue memilih tempat inap yg jaraknya dekat dengan lokasi wisata seperti Dieng Plateau dan Candi Arjuna.

    

Bahkan di Traveloka ini metode pembayarannya juga banyak pilihan, mulai dari transfer bank atau melalui minimarket.

   

Setelah gue bandingkan lagi ternyata kalau pesan paket pesawat+hotel secara bersamaan lebih hemat dibanding pesan terpisah, hematnya bisa sampai  20% tanpa kode promo apapun. Untuk kedepannya kalau mau pesan tiket pesawat+hotel tidak perlu repot-repot pesan satu-satu deh, sekarang lebih mudah karena di Traveloka semuanya bisa lebih praktis, mudah dan saving time.

Biasanya, sebelum ini gue sering banget pesan tiket pewasat dan booking hotel dipisahin, udah buang-buang waktu  banget, apalagi kalau lagi buru-buru, harus repot pesan satu-persatu, tapi sekarang di Traveloka jadi lebih gampang, dan juga lebih murah daripada pesan terpisah.

O ya, buat kalian yg mau pergi liburan juga, disarankan banget nih cobain pesan tiket pesawat+hotel melalui Traveloka ini, selain hemat waktu juga hemat uang karena tanpa kode promo apapun bisa hemat sampai 20%. Asik kan, sisa uangnya bisa digunakan buat wisata kuliner pas liburan.
Share:

Kamis, 24 Mei 2018

Ziarah


Pada hari Jumat dibulan Mei, sebelum ramadan tiba, gue bareng keluarga pergi ke tempat ziarah di Tasikmalaya, atau tempat tersebut biasa orang-orang menyebutnya dengan Pamijahan. Sebelum berangkat, sempat terjadi drama antara gue dengan ibu, gue yg enggak mau repot membawa barang-barang banyak, sementara ibu ribetnya pilih-pilih baju ganti, bukan hanya bajunya sendiri, tapi juga baju adek-adek. Buat yg belum tau, gue itu punya 2 adek, laki-laki semua. Makanya, tiap ada foto perempuan di hp gue, ibu selalu nanyain, “ini a, pacarnya?” padahal foto yg dilihatnya itu foto Chelsea islan, hmm.. sepertinya ibu merasa bahwa gue cocok kalau pacaran dengan Chelsea Islan kali ya, atau juga pikirnya “MASA SIH??”. Dasar si ibu, kebelet pengen punya anak perempuan ini mah!

Ketika hendak berangkat, gue berusaha meyakinkan lagi agar baju-baju yg sudah dimasukan ke dalam tas agar tidak dibawa saja, “lagian cuma semalam di sana, besok pagi juga langsung pulang lagi!” kata gue kepada ibu sambil berbisik memakai mikrofon (ya enggak lah!). Dengan kata-kata se-serius mungkin gue berusaha meyakinkan ibu, dan akhirnya baju-bajunya gak jadi dibawa. Betapa mudahnya meyakinkan hati beliau, tapi kenapa begitu susah sekali saat meyakinkan hati sang pujaan sih? Hh!

Gue berangkat mengendarai motor bersama dua adik, dan ibu juga naik motor dengan suaminya yg juga berprofesi sebagai bapak gue. Kami berangkat setelah salat jumat. Perjalanan dari Cianjur Selatan menuju Tasikmalaya jaraknya lumayan jauh, kami berangkat sekitar jam satu siang.

Ditengah-tengah perjalan, sekitar daerah wisata Puncak Guha, Garut Selatan, tiba-tiba hujan turun, kami berhenti untuk berteduh sekitar setengah jam, lalu berangkat kembali setelah hujan lumayan reda.

Drama belum berakhir. Jalanan yg tidak terlalu ramai, bahkan bisa dibilang sepi, gue melajukan kendaraan lumayan cukup kencang, lalu tiba-tiba di depan ada salah satu mahluk yg nyelongong ke tengah jalan, hati terasa deg-degan, perasaan was-was muncul antara harus berhenti mendadak tapi jatuh ke aspal atau menancap gas sekencang mungkin. Dan guepun memilih untuk melakukan gerakan kedua tadi, menancap gas dan alhamdulillah tidak terjadi apa-apa. Gue berhenti setelah melewati mahluk aneh itu, berusaha menenangkan dua adik yg sedang dibonceng, dan tentu juga untuk menenangkan diri sendiri. Beberapa warga sekitar datang menghampiri untuk menanyakan keadaan sambil berkata, “kalau di daerah ini harus hati-hati, kang, sering terjadi begini!” setelah merasa tenang, sgue melanjutkan perjalan, dan berusaha melupakan kejadian tersebut sambil berkata dalam hati, “DASAR SAPI GOBL*K!! GAK PERNAH SEKOLAH!! GAK PERNAH BELAJAR IPS!!”

Drama masih belum berakhir. Masih di sekitar Garut, hujan turun lagi, di antara kami tidak ada yg membawa jas hujan, dan gue masih berusaha menghindari tatapan ibu yg kemungkinan berkata, “APA MAMA BILANG, MAMA SELALU BENER, HARUSNYA BAWA BAJU GANTI KAAAN!!”. Tapi usaha menghindari tatapan itu sia-sia, ibu gue tetap ngedumel walaupun tidak sambil menatap. Merasa durhaka sekali ya gue ini. Huhu~

Sebuah perjalan panjang, berangkat dari jam satu siang, dan karena banyak berhenti, kami sampai di lokasi sekitar jam tujuh malam. O ya, sebenarnya kami tidak cuma berangkat sekeluarga saja, tapi  hampir sekampung, tetapi yg lain berangkat menggunakan mobil. Alasan keluarga gue gak ikut naik mobil adalah karena ibu tidak kuat pada bau seperti bensin, jadi kalau naik mobil bakalan sering mabuk-mabukan, bukan alkohol, tapi mabuk kendaraan. Terjawablah sudah kan, alasan kenapa gue tidak mau naik mobil lagi, ternyata faktor gen. Gue tukang mabuk juga. :')

Setelah salat isya, dan rombongan yg naik mobil tadi sudah datang, kami langsung melanjutkan perjalanan yg jaraknya lumayan membuat betis seperti menjadi betis pemain sepak bola karena harus jalan kaki dengan beberapa anak tangga yg lumayan cukup jauh, sejauh lagunya Caramel: Jauh kau pergi meninggalkan diriku.. di sini aku merindukan dirimu~

Ehehehehe :v

Tempat Pamijahan ini adalah lokasi ziarah ke pemakaman Syekh yg dulu menyebar Agama Islam, salah satu yg paling dikenal di sana adalah makam Syekh Abdul Muhyi. Konon katanya Syekh Muhyi ini dulunya berasal dari Gresik, lalu berangkat meninggalkan Gresik untuk mencari Gua sebagai mandat yg diterimanya dari Syeh Abdul Ra’uf, gurunya. Kalau kalian mau tau cerita lengkap tentang Syekh Abdul Muhyi, atau siapa tau kapan-kapan bisa ziarah ke pamijahan ini, bisa googling dengan kata kunci “Sejarah Waliyullah Syekh Abdul Muhyi Pamijahan”, ya.

Sebenarnya ada beberapa makam yg bisa dikunjungi, tapi kami hanya ziarah dan berdoa di satu tempat, kemudian melanjutkan lagi perjalanan yg cukup jauh untuk memasuki gua. Gua ini berada diantara kaki Gunung Mujarod, sekarang lebih dikenal dengan nama Gua Safarwadi Pamijahan, dan biasanya para peziarah sering mengunjungi gua ini setelah sebelumnya melakukan ziarah ke makam Syekh Abdul Muhyi.

Sebelum Memasuki Pintu Masuk Goa - coretan-fuad.blogspot.com

Sekitar jam 11 malam, kami sudah berada di pintu masuk gua. A Badru, ustad dari pihak rombongan kami melafalkan adzan terlebih dahulu sebelelum memasuki gua. Saat masuk, gue pikir tidak terlalu dalam, tapi ternyata di dalamnya terdapat ruang-ruang yg besar, ada tempat yg dulu katanya dijadikan sebagai masjid, ada sebagai dapur, kamar tidur, tempat mandi bahkan ada air yg terus mengalir tanpa henti, atau ada yg menyebutnya sebagai ‘air zam-zam-nya’ tempat tersebut. Luas sekali. Karena udara yg masuk tidak terlalu banyak, ditambah lampu petromak yg lumayan bikin keringetan, napas gue sampai terasa engap, tapi gue berusaha menahannya karena panas di dalam gua masih tidak ada apa-apanya dibanding panasnya ketika gua melihat elo dengan yg lain. "......."

pintu masuk - tipswisatamurah.com

Selain di dalamnya ada ruang-ruang yg udah gue sebutkan tadi, juga ada beberapa ruang seperti jalan namun ketika didekati jalan tersebut buntu, hanya dinding dari batu atau tanah. Konon katanya beberapa ruang tersebut ada jalan yg menuju Mekkah, Surabaya, Ampel dan lainnya, namun hanya orang tertentu yg bisa ‘melakukan perjalan’ dari jalan tersebut. Apakah benar ada hal seperti itu? Kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya? Kalau gue boleh mencoba, gue ingin mencoba untuk mencari jalan menuju hatimu, boleh? Hmmm.. wkwkwkwk

MINTA DIGAPLOK YA!!

di dalam gua - dok. pribadi

Jujur saja, ini baru pertama kali gue memasuki gua seluas ini, perasaan gue ketika di dalam gua tersebut seperti kembali ke ruang-ruang di masa lalu, ya, walaupun belum tentu bayangan masa lalu gue dengan kenyataanya di masa lalu itu berbeda. Tapi, menurut yg diceritakan orang yg mengantar kami, atau dalam bahasa gaulnya Guide Tour, mulai dari bagian-bagian ruang khusus dalam gua tersebut sampai seluruh ceritanya sangatlah seperti membawa gue kembali ke masa lalu. Sungguh mengagumkan kisah saat dulu Syekh Muhyi melakukan perjalanan dalam pencarian gua yg gue kunjungi saat ziarah ini.

Sekitar jam duabelas malam, kami keluar  dari dalam gua, sepanjang perjalanan mulai dari sebelum berangkat sampai keluar dari gua, sangat banyak berjejer berbagai jualan mulai dari baju, oleh-oleh, pernah-pernik dan lainnya.

sepanjang jalan banyak yg jualan - dok. pribadi

Karena tidak memungkinkan untuk melakukan perjalanan pulang di malam hari, akhirnya kami memilih untuk beristirahat di sebuah ruang umum dekat masjid, udaranya sangat dingin, kami berkumpul untuk istirahat. Dan paginya, setelah salat subuh, kami belanja oleh-oleh  khas pamijahan, kemudian setelahnya melakukan perjalanan lagi untuk pulang, ke rumah.
Share:

Rabu, 23 Mei 2018

Latihan Joget buat tanggal 24 dan 25 Mei 2018


Wohoooo!! Akhir-akhir ini gue lagi seneng latihan joget-joget sendiri di kamar, puter musik dangdut, tapi enggak pake speaker mesjid juga, cukup pakai earphone di telinga, terus joget-joget sampe badan lemes, terus minum sirup.

YA ENGGAK LAH, WKWKWK!!

Joget-joget di sini, selain dengerin musik dangdut, juga jogetnya bisa disebut joget berkah. Kebayang gimana asiknya kalo joget dapet berkah? Ini bukan joget-joget yg bikin dosa kok, kalo yg bikin dosa tuh misalnya yg jogetnya udah punya istri, biasanya mereka kan jogetnya sama biduan dangdut di kawinan tetangga sebelah, pas lagi nyanyi “Sayang.. opo koe krungu!! YO BANG, LAGI SAWERNYA BANG!!” terus istrinya  nyaut dari belakang sambil bawa gayung, “ORA MAS, ORA KRUNGUUU!!” bukan, bukan begini! Ini sih malah bikin retak rumah tangga.

Sumber: Tenor.com

Joget-joget berkah di sini adalah jogetnya sambil shake-shake Hp dari Semarak Ramadan Ekstra di Tokopedia. Kalo kalian suka banget sama belanja online (termasuk gue) karena emang kalo belanja ke pasar atau ke mal malah bikin capek, kan, mending belanja simple dari rumah, tinggal buka hp, sambil tiduran, pilih-pilih, terus nunggu kiriman dateng. Semudah itu saudara-saudara!

Nah, kebetulan juga nih, di tempat biasa gue belanja online, Tokopedia, di sana sedang mengadakan SEMARAK RAMADAN EKSTRA, bakalan ada kejutan diskon 99% pada tanggal 24 Mei 2018 nanti. Apa aja kejutan diskonnya? Ini dia:

Shake-Shake Kejutan (hadiah)


sumber: infosista.com

Nah, tadi gue udah ceritain tentang joget-joget dapet berkah, gini nih caranya, buka aplikasi Tokopedia di jam-jam tertentu dan “Shake-Shake” hp untuk kesempatan dapatkan berbagai kejutan mulai dari berbagai hadiah seru, promo menarik, dan kejutan diskon 99% untuk produk-produk terbaik pilihan. Gimana, gampang kan? Tinggal joget-jogetin hp-nya, terus dapetin tuh kejutannya!

Fashion Show by Exclusive Collaboration & Artist Perfomance
Saksikan juga countdown menuju “Ramadan Ekstra, Kejutan Belanja Online” pada 24 Mei 2018 pukul 20.30 WIB, yg disiarkan secara langsung di NET, MNC TV, dan Trans 7 dengan penampilan artis-artis papan atas Indonesia dan juga peragaan busana (fashion show). Berkolaborasi dengan brand-brand fashion ekslusif di Tokopedia. Semua produk fashion yyg diperagakan bisa dibeli secara langsung melalui aplikasi Tokopedia. Pokoknya bakalan ada kejutan juga dari Artist Perfomance deh, wajib ditungguin!

Selain di tanggal 24, kejutan RAMADAN EKSTRA juga bakalan hadir kembali di tanggal 25 Mei 2018, yg pastinya beda lagi sama kejutan sebelumnya, apa lagi? Ok, ini dia,

Shake-shake (5x dalam satu hari), diskon 99%
Caranya, boleh lakukan joget ria lagi,  jangan lupa juga sambil shake-shake lagi hp sampai 5 kali dalam sehari untuk kesempatan dapatkan berbagai kejutan mulai dari berbagai promo menarik, hingga hadiah utama Toyota Yaris yg didiskon 99%. Gokil! Lebaran bisa bawa mobil baru ke calon mertua, kan.

Flash Sale
Rebut dan jangan sampai kehabisan berbagai produk pilihan terbaik di Tokopedia dengan harga miring serba 25.000 pokoknya, untuk semua produk flash sale Tokopedia.

Save My Coupon
Nah, buat kamu yg sudah mengumpulkan kupon-kupon promo menarik di Tokopedia, saatnya gunakan “save My Coupon” buat tambahan promo Ekstra!

Promo Lainnya dan Ekclusive Brand
Selain itu, dapatkan juga berbagai promo Ekstra Cashback lainnya untuk berbagai produk di marketplace dan juga produk digital Tokopedia, serta berbagai penawaran menarik dari pilihan brand-brand ekslusif dari Trokopedia.

Tanggal 24 sama 25 Mei 2018 ini pokoknya bakalan jadi hari paling asik buat pencinta belanja online deh, udah dapet banyak kejutan, joget-joget, terus nontonin artis-artis kesayangan tampil di tv. Pokoknya jangan lewatin kejutan RAMADAN EKSTRA di tanggal 24 dan 25 Mei di Tokopedia.

Udah dulu ah, gue mau latihan joget lagi biar terkedjut! Huwoooo!

Ya Allah...ngapain si bang? :')

Share:

Sabtu, 19 Mei 2018

Anti Was-Was, Ini Daftar Jajanan Halal di Korea Selatan

Bicara tentang Korea, yg paling terkenal adalah drama-drama dan K-POP, bahkan pada tahun 2016 gue sempat kecanduan nonton Drama Korea, menunggu episode selanjutanya tayang adalah kegiatan yg membosankan, tapi tetap saja ditunggu. Ya, bagi pencinta drama korea perihal menunggu adalah bukan sesuatu yg asing lagi, sama seperti halnya menunggu gebetan yg lama jawab ungkapan cinta. Uhuk! Dari beberapa drama-drama yg gue tonton, biasanya mereka sekaligus mempromosikan beberapa hal tentang Korea Selatan itu sendiri.

Cara promosi wisata Korea Selatan selayaknya dicoba Indonesia. Mereka menyisipkan konten-konten tersebut di berbagai bidang, mulai dari membuat drama Korea bersetting tempat wisata, reality show lucu dengan tema makanan, beserta lagu-lagu yang memiliki irama sangat ramah di telinga. Tidak heran seiring promosi gencar dari Korea Selatan, kini semakin banyak warga Indonesia yang berbondong-bondong membeli paket wisata naik Korean Air ke sana. Masyarakat Korea Selatan pun menyambut kedatangan wisatawan dari negara muslim terbesar seperti Indonesia dengan pilihan jajanan versi halal yang bisa dicicipi saat traveling ke sana. Gue sendiri sangat tertarik dengan beberapa pilihan jajanan halal jika suatu hari bisa menginjakan kaki di Korea Selatan. Apa saja? Berikut diantaranya:



Bungeoppang

foto:pikeletandpie.com

Hampir di setiap sudut kuliner Korea Selatan menyajikan jajanan bungeoppang yang berbentuk seperti ikan. Dengan isian pasta kacang merah, jajanan manis ini biasanya dijual hangat-hangat untuk menemani jalan-jalan. Kalau di Indonesia, mungkin seperti pancake tapi dibentuk ikan dengan rongga di dalamnya. Kulitnya garing dipadu isian yang lumer, jajanan halal ini harganya pun murah sekali. Bisa menghemat anggaran untuk membeli tiket Korean Air pulang pergi ke Indonesia.

Kimbab

foto:beautynesia.id

Jalan-jalan ke Korea Selatan tapi tidak mencicipi kimbabnya langsung di sana? Gak usah khawatir, karena ada beberapa versi isian kimbab yang halal untuk dicoba seperti kimbab tuna. Jajanan yang bentuknya seperti sushi dari Jepang ini berisi potongan wortel, acar, daging kepiting dan alpukat yang dibungkus dengan lembaran rumput laut. Beberapa versi halal kimbab juga bisa ditemukan di minimarket dan biasanya diberi label biru, ingat jangan pilih yang pink dan ungu ya.

Tteokbokki

foto:wikipedia.org

Di tayangan drama dan acara televisi Korea Selatan, tteokbokki biasanya dibeli ketika mereka sedang jalan-jalan di pasar. Hangat mengepul, tampak merah dan pedas menggoda, cara makannya pun seperti sangat nikmat. Di negara asalnya,  Tteokbokki memang banyak ditemukan di berbagai sudut kota. Terbuat dari kue beras, bakso ikan dan kuah kaldu, yang dipadu dengan pasta cabai khas Korea Selatan. Hati-hati jangan terlalu tinggi berekspektasi saat mencobanya. Kebanyakan yang tampak merah pedas di Korea Selatan tidak sepedas citarasa cabai yang biasa dikonsumsi di Indonesia.

Bingsu

foto:pinkypiggu.com

Es kepal milo mungkin sedang meraja. Tapi Bingsu pernah menjadi favorit masyarakat Indonesia pada masanya. Es serut khas Korea Selatan ini bisa jadi jajanan halal andalan ketika kamu ke sana. Dengan porsinya yang besar serta variasi topping yang dilengkapi menu khas kacang merah manis, siapapun pasti akan susah menolaknya.

Susu Pisang

foto:wikipedia.org

Satu lagi jajanan Korea Selatan yang biasanya membuat wisatawan ketagihan, sebotol banana milk atau susu pisang. Tidak ada bahan non halal yang ditambahkan dalam kemasan banana milk ini menurut pengalaman beberapa wisatawan yang mengaku ketagihan. Beberapa merk juga sudah mendapat sertifikasi halal sehingga aman untuk diminum. Ingin membawa banana milk sebagai oleh-oleh? Pastikan dikemas rapi dan dibungkus berulangkali sebelum dimasukkan ke bagasi Korean Air.

O ya, kalau kalian ada kesempatan datang ke Korea Selatan, boleh dimasukkin daftar jajanan halal di Korea Selatan ini dalam agenda wisata kuliner kalian juga ya. Agar tidak bingung mau memilih makan apa setibanya di sana menumpang Korean Air yang nyaman. Yuk rencanakan dengan cermat rencana jalan-jalanmu ke Korea Selatan.
Share:

Selasa, 08 Mei 2018

Menggigil di Ranca Upas

Gue harap, suatu hari nanti, gak ada satu orangpun yg melarang hobi ini, entah itu hobi menulis, hobi jalan-jalan ataupun lainnya. Dan gue harap, malah gue yg bisa mengajaknya untuk menyukai hobi tersebut. Atau sudah sama-sama memiliki hobi yg sama. Aseeekkkk!



***
Pada hari Sabtu 5 Mei 2018, gue bareng 2 teman pergi mengunjungi tempat wisata atau tempat kemping di Ranca Upas, atau sering kali banyak orang menyebutnya dengan Kampung Cai Ranca Upas.

Saat pertama kali datang, kebetulan waktu itu sudah mulai sore, sudah banyak orang-orang yg mendirikan tenda, ada yg berkelompok, ada yg cuma beberapa tenda, ada yg mungkin satu desa kemping di sana, atau ada juga yg seperti kami bertiga yg hanya mendirikan satu tenda, ya! cukuplah untuk 3 orang, itupun kadang memilih untuk tidak tidur dan malah memilih untuk nongkrong di luar untuk menikmati keindahan suasana malam.

Sebenarnya ada beberapa lokasi yg bisa dijadikan tempat untuk mendirikan tenda, tapi gue bersama teman-teman lebih memilih lokasi sedikit ke ujung, tempat yg cukup luas dengan rerumputan hijau dan pemandangan yg cukup bagus.

Buat foto-foto.. :v



Karena saat itu malam Minggu, maka tidak heran kalau sudah ada banyak tenda yg sudah berdiri di sana, gue pikir, ada beberapa anak sekolah yg sedang merayakan kelulusannya dengan kemping, sambil bernyanyi dengan alat musik gitar, meski terkadang suaranya terdengar fals, tapi tidak apa-apa, tidak pentinglah suara fals di hutan begini, lagian tidak ada Ahmad Dani atau Anang di sana yg berkata “gue sih yes, gak tau kalo Anang?” mungkin kata Mas Dani demikian, yg dibalas Mas Anang “Gue sih Ogah, bagusan suara Ashanty keleus!!”.

“Ini kita bikin tendanya yg deket sama air aja, ya!” teman gue, Enda, memberikan masukan agar kami mendirikan tenda dekat air atau WC, tapi gue dan Tomi lebih memilih tempat yg agak jauh, memilih ke arah tengah yg tidak terlalu ramai, dan untunglah sebelum magrib tiba tenda itu sudah jadi.

Udara yg cukup dingin mulai terasa, kami yg terbiasa berada di daerah yg suhu udaranya lumayan panas malah kewalahan menghadapi cuaca seperti itu, otomatis kami jadi bolak-balik ke kamar kecil hanya untuk melaksanakan kewajiban hasrat ingin pipis. Bahkan, sekedar untuk menjaga wudhu dari magrib sampai isya saja tidak bisa, selalu saja hasrat ingin pipis itu muncul, atau yg lebih membuat  kesalnya lagi tiba-tiba pantat sudah mengeluarkan gas seperti bau belerang. Tidak tertahankan. Badjingan memang.

Memang, gue tidak terlalu sering melakukan kemping-kemping seperti ini, bahkan kegiatan seperti ini baru dilakukan sekitar kurang lebih satu tahunan, itupun belum pernah yg namanya kemping ke gunung-gunung, dan untuk kegiatan ‘muncak’ saja baru diwacanakan bersama teman-teman, belum tau pasti kapan dilaksanakannya. Mungkin dalam waktu dekat ini. Ah, entahlah, namanya juga hobi baru.

Kegiatan selanjutnya mungkin hanya kami lakukan seperti sebelum-sebelumnya, karena kami tidak melakukan kemping berkelompok atau kemping satu kampung, dan hanya bertiga, maka yg bisa kami lakukan hanyalah mengobrol-ngobrol soal kegitan seperti ini, tanya-jawab soal bagaimana kemping di gunung kepada yg sudah berpengalaman yaitu Tomi, dan kadang-kadang menertawakan tenda sebelah kami yg orang-orangnya asyik ngobrol menggunakan bahasa ‘Elo-gue’ tapi campur Bahasa Sunda, seperti;“iya, yg itu tea!!!” seakan-akan ingin kami teriaki, “SANGUAN BARUDAAAK!!!”


Sekitar jam 12 malam, kabut mulai muncul, sorak-sorak dari beberapa tenda mulai reda, ada yg mulai masuk tenda, ada yg masih nongkrong di depan api unggun, ada yg masih merekam video (mungkin sedang nge-vlog) dan ada yg masak-masak atau sekedar ngopi dan ada yg mulai kedinginan yg kemudian masuk ke dalam tenda yg gue pikir tidak ada gunanya, ya! yg terakhir tadi itu teman gue, Enda, katanya, “Tos mawa dua samping ti imah!” yg artinya “udah bawa dua sarung dari rumah!”. Percuma saja, suhu udara 15’C yg semakin turun/naik menjadi lebih dingin. Bahkan ada yg meneriaki candaan dari beberapa tenda yg mungkin sebenarnya bukan ditujukan kepada kami, “REK SARE MAH DI IMAH SE ATUH EUUY!!”. yg artinya “MAU TIDUR MAH DI RUMAH AJA ATUH EUY!”.


:')

Menjelang subuh, suhu udara semakin dingin, gue malah khawatir kepada si Enda, yg baru pertama  kali kemping ini, takutnya kena hipotermia, badannya menggigil, mukanya ditutup rapat sambil meringkuk, seketika gue goyang-goyangkan badannya karena takut terjadi sesuatu yg tidak diinginkan, tapi ketika gue tanya, dia malah menjawab, “Kalo dingin kayak gini takutnya mimpi basah!”

Kuingin marah~

Melampiaskaaaaaan~

Menjelang waktu subuh itu, kami bertiga tidak ada yg melanjutkan tidur, memang sebenarnya tidak ada yg tidur sejak sore, hanya meringkuk-ringkuk ria saja menikmati dinginnya udara Ranca Upas saat itu. Bahkan saat gue hendak minum air mineral dalam botol, airnya sudah seperti dimasukan ke dalam pendingin, beku. Untung saja tubuh kami bertiga tidak menjadi es balok, gak kebayang kalo jadi es balok, bisa-bisa nanti diserut terus dijadikan es kepal milo. Brengsek sih ini!

Saat menjelang pagi hari, sinar matahari mulai muncul, rasa hangat mulai terasa di badan kami, karena kebetulan juga saat itu kami sudah membuat kopi. Silahkan kalau mau berkata kasar sejenak, gue tunggu,

Hmm..

Sudah?

Baiklah mari lanjut.

Hal yg sebentar memang selalu membuat kesan tersendiri, seperti matahari terbit yg kami lihat pagi itu, rerumputan yg masih berembun, kabut yg masih terlihat, dan beberapa pasangan kekasih yg mengganggu aktifitas pagi hari. Sungguh kuingin marah lagi.

Dari tenda masing-masing semua orang mulai keluar, mulai sibuk mengambil gambar, merekam video, ada yg foto-foto untuk bekal pernikahan, ada yg seperti gue yg diam sambil menikmati kopi karena tidak mempunyai kamera yg keren, juga karena batre ponsel yg sudah 0 persen-lah alasan utamanya. Tapi, untung saja, batre ponsel milik dua teman gue masih tersisa beberapa persen, cukuplah untuk sekedar foto-foto seperti ini

                        

Setelah asik mengambil gambar dan menikmati suasana pagi, kami memutuskan untuk pulang. Gue dan Enda pergi ke arah Cianjur, sementara Tomi pergi ke arah Bandung, katanya mau jemput seseorang. Entahlah siapa orangnya, sampai sekarang tidak ada kabar sama sekali.

Hai kawan, ke manakah kau mampir?
Share:

Senin, 07 Mei 2018

Ramadan Ekstra: Tips Belanja Online Hemat Selama Bulan Ramadan


Tiap bulan Ramadan sudah dekat, biasanya di keluarga gue enggak terlalu mikirin buat beli ini-itu, mulai dari makanan, baju-baju buat lebaran nanti, atau  juga kebutuhan-kebutuhan lain. Yg akhirnya, pas ramadan tiba, pasti serba mendadak beli ini itu, harus repot-repot pergi ke supermarket atau toko baju, ngantri di kasir berjam-jam karena saking banyaknya yg beli, dan yg repotnya gue sendiri yg disuruh ngantri bersama ibu-ibu yg pada beli sayuran, resmilah gue sebagai cowok yg terlihat keren di mata mereka, mungkin sebagaian ibu-ibu itu ada yg berpikir, “wah baik banget ya anak muda ini, cocok nih jadi mantu!” atau juga ada ibu-ibu yg berpikiran, “masih muda udah belanja beginian, pasti nikah muda nih, kebablasan pacarannya, hih!!”. Tidak, tidak! gue gak kayak gitu!! T_T

Lagi ngantri malah kebelet pengen pup, ya huft!

Kayaknya, gue udah malas deh kalau harus ngantri-ngantri di kasir yg beli barang-barangnya enggak seberapa, iya kalau Ramadan tahun lalu sering kayak gitu, pergi bareng ibu ke supermarket, pulang-pulang bawain barang-barang, repot banget deh. Kalau Ramadan tahun ini, gue memutuskan untuk mengurangi belanja yg serba antri itu, gak lagi-lagi Ramadan menjadi ekstra ribet, tapi gue mau Ramadan kali ini ini menjadi ekstra simple dan harus rajin-rajin nyari diskon. Muahahaha

Berhubung Ramadan tahun ini gue sudah merencanakan untuk dijadikan Ramadan Ekstra Hemat dan gak bikin kantong kering, maka mulai dari sekarang gue merencanakan untuk belanja-belanja dari rumah saja, karena sudah banyak situs jual beli online kan?, dan gue memutuskan untuk belanja Ramadan Ekstra di Tokopedia.

O ya, kalau belanja di toko online gitu biasanya gue suka memperhatikan dulu sih, gak asal beli gitu aja. Mending gue bagikan saja kali ya tips-tips belanja online hemat kebutuhan bulan Ramadan Ekstra di Tokopedia, berikut diantaranya:

Bandingkan harga setiap toko online di Tokopedia
Memiliki banyak toko online berkualitas, Tokopedia memungkinkan kita untuk membandingkan harga berbagai produk kebutuhan dengan lebih mudah. Cukup cari produk yg dibutuhkan, ribuan produk dengan berbagai harga siap untuk dibeli. Untuk menghemat pengeluaran belanja online saat ramadan, cukup pilih produk dengan harga tepat dan spesifikasi yg pas.

Pilih produk berkualitas dari kreator lokal
Untuk membuat Ramadan Ekstra, bukan berarti harus selalu gunakan barang branded dengan harga selangit. Tokopedia, e-commerce dengan produk terlengkap memiliki  koleksi berbagai produk hasil kreasi kreator lokal maupun brand terkenal dunia. Hemat pengeluaran belanja kita di bulan Ramadan dengan memiliki produk kreasi dari kreator lokal yg hadir dengan kualitas bersaing namun dengan harga yg lebih miring.

Cari toko online terdekat
Saat berbelanja online, komponen biaya yg tak boleh terlupakan adalah biaya ongkos kirim (ongkir). Pilihlah toko online yg lokasinya paling dekat dengan lokasi kita untuk mengurangi ongkir berlebihan. Di Tokopedia, kita dapat mengetahui lokasi toko online secara detail sehingga kita dapat memilih toko online dengan lokasi terbaik.

Pilih cara pembayaran yg tepat
Salah satu kemudahan berbelanja online di Tokopedia adalah dalam hal cara pembayaran. Berbagai metode pembayaran dapat kita gunakan mulai dari Saldo Tokpedia, transfer bank, kartu kredit, cicilan, hingga pembayaran melalui minimarket. Memilih metode pembayaran yg sesuai dengan kondisi keuangan tentu dapat menghemat pengeluaran saat berbelanja online.

Pilih metode pengiriman paling efisien
Dalam melakukan pengiriman barang yg kita beli, Tokopedia memberikan beberapa alternatif pengiriman, mulai  dari pengiriman secara konvensional hingga kurir instan melalui jasa transportasi online. Dalam memilih metode pengriman ini, kita dapat membandingkan biaya ongkos kirim terbaik diantara metode pengiriman yg ada untuk menghemat belanja online kita.

Manfaatkan promo dan diskon
Promo atau diskon memberikan pengaruh yg signifikan untuk mengehmat pengeluaran kita dalam berbelanja online. Di bulan Ramadan kali ini,  Tokopedia memberikan kesempatan baru bagi pembeli dalam menikmati bulan Ramadan. Dengan rangkaian promo sepanjang bulan Ramadan yg bisa kita gunakan untuk buat ramadan kali ini makin Ekstra.

Makin Ekstra lagi, masih ada rahasia kejutan pada 25 Mei dari Tokopedia yg akan membuat RamadanEkstra menjadi lebih Ekstra! Layaknya festival belanja online “Black Friday”.

Kejutan 25 Mei!

Kejutan seperti apa sih yg bakal buat pengalaman belanja online di bulan Ramadan Ekstra ini jadi lebih spesial? Udah gak sabar rasanya nungguin tanggal 25 Mei nanti. Apakah bakalan ada diskon gede-gedean buat baju lebaran, gratis ongkir, atau dapet vocher gratis  selama bulan ramadan? Huhu, pengennya sih gitu. Kita tunggu aja ya.

O ya, tadi gue sudah memberikan beberapa tips belanja online hemat kebutuhan bulan Ramadan Ekstra di Tokopedia, kira-kira temen-temen punya tips lain gak biar belanja online di bulan ramadan makin gampang dan hemat? Kalau ada, boleh tipsnya tulis dan bagikan di kolom komentar di bawah.

____

Sumber gambar
1. http://www.bmc.com/blogs/if-it-departments-were-like-self-service-check-out-lines/
2. https://giphy.com/explore/slamet

Share:

Kamis, 03 Mei 2018

Yang Penting Ngumpul, Wkwkwk


Sejak dari dulu, ikut-ikutan organisasi adalah hal yg selalu gue hindari, menurut gu, ikut-ikutan oranisasi, komunitas, atau apapun bentuknya itu semuanya sama aja, cuma bikin capek, dan kadang buang-buang duit. Tapi pas SMA, gue coba-coba ikut salah satu organisasi, waktu itu ikut PMR, yg tugasnya gotong-gotong orang pingsan pas lagi upacara, dan kalau boleh jujur, yg gue gotong itu bukan orang pingsan beneran, cuma akal-akalan busuk saja biar bisa berteduh sambil minum teh manis. Kebetulan gue juga yg nyuruh dia buat pingsan bohongan, biar bisa neduh bareng di mushola sekolah, minum  teh manis bareng sambil ketawa-ketawa.

Di PMR, gue hanya bertahan sekitar 3 bulan, udah gitu langsung keluar bersama 3 teman lainnya, mereka bertiga dan ditambah gue yg menjadi 4 orang, keluar dari PMR karena memiliki satu kesamaan, yaitu; “kita ngapain sih ikut ginian? Bikin capek!”. Ya, sesederhana itu memang. Selain di PMR, gue juga pernah ikut organisasi keagamaan, atau sering disebut ROHIS, kebetulan mau ikut karena kegiatannya gak begitu banyak, cuma duduk, dengerin yg ceramah atau sesekali sambil solawatan, dan kadang juga gue disuruh ngaji, alhamdulillah gak ada masalah walaupun yg gue baca saat itu cuma Iqro. Dan ternyata di Rohis bertahan cukup lama, satu tahunan, kemudian tidak ikut-ikutan lagi karena udah lulus sekolah. Alhamdulillah ada manfaatnya sampai sekarang. Mantap!

Beberapa tahun kemudian, antara tahun 2015 sampai sekarang, gue mulai aktif di dunia blogging, itu loh yg nulis-nulis curhatan tentang mantan yg  sekarang udah gak jaman lagi, curhatan perjalanan, sampai curhatan masak dan segala macem sampai ditulis, ya semacam ini, curhat begini, nulis-nulis yg katanya gak jelas, tapi tetep aja asyik buat dilakukan.

Karena selain nulis tulisan yg alay, gue mulai banyak mencari tahu tentang dunia  blogging, yg katanya bisa dapet duit, yg katanya bisa jadi penulis, yg katanya harus saling blogwalking atau saling komentar di blog orang dan  masih banyak lagi. Sampai niat buat dapet duit dari blog gue urungkan, niat jadi penulis juga, sampai pada akhirnya yg bisa gue lakukan cuma bisa blogwalking ke blogger-blogger lain agar supaya bisa dikomentarin balik.

Karena seringnya blogwalking, dari sana gue sampai punya beberapa temen blogger, sampai masuk ke beberapa komunitasnya juga, dan komunitas-komunitas lain yg masih ada sangkut pautnya dengan blog, bahkan yg gak ada sangkut pautnya sama sekali.

Karena udah kenal temen-temen blog, dari sana kadang gue juga dapet duit, tentunya selain dari tawaran content placemenet yg masuk melalui email, dari temen-temen-lah yg kadang lebih banyak job-job itu datang, bahkan sampai dateng-dateng ke suatu acara yg jaraknya lumayan jauh dari tempat tinggal. Kadang kegiatan seperti ini sering gue lakukan. Selain dapet duit, juga bisa lebih banyak ketemu temen-temen blogger, pikir gue.

Makin ke sini, makin sering ketemu, makin asyik, sering meetup, jadi banyak ketemu temen-temen baru, seolah-olah membuka pikiran yg sempit ini menjadi luas, bahwa kita bisa berteman dengan siapa saja, dan soal duit, itu menjadi nomor sekian.

Benar ternyata apa yg dikatakan salah satu teman bloger, Robby Haryanto, di bio-nya berkata bahwa; “Beruntung pernah mengenal blog”, bahwa setiap hal itu memang sudah sepatutnya disyukuri, kan? gue juga merasa beruntung karena mengenal blog, selain kenal dengan penulis-penulis cerita yg keren, gue juga bisa dapet temen banyak, dan kadang-kadang dapet duit juga, o tentu urusan duit ini masih menjadi nomor sekian, sekali lagi, yg penting kumpul dulu, soal duit, itu harus sekian bayarannya. Ehehe.

Dulu, kata ‘komunitas’ sangat jauh di diri gue, tapi kali ini, gue sangat menghargai hal-hal seperti ini, komunitas itu macam-macam, tapi kita harus pilih-pilih juga masuk ke komunitas yg mana, asal jangan masuk komunitas pengedar ganja aja, itu gak baik, nanti ditangap polwan, mau?

Sejak setahun ke belakang, gue sadar, ternyata gue salah menilai tentang kelompok atau komunitas-komunitas tertentu, dulu, pikiran gue berkata bahwa; gak penting ikut-ikut kayak gitu, bikin capek aja! tapi sekarang gue ngerti, bukan soal capeknya, bukan soal duitnya atau kegiatan yg dilakukannya. Yg penting dari semua itu, gue atau kita masih bisa ketiwa-ketiwi bareng ngomongin hal-hal yg enggak jelas, hal random yg bahkan enggak ada sangkut pautnya dengan komunitas tersebut, atau secara singkatnya; “yg penting ngumpul”. oh tentu saja kalian boleh tidak sependapat dengan apa yg gue tulis ini, karena kita hidup di negara yg demokrasi, bukan? siapapun bebas berpendapat.

Tapi, hal kayak gini belum tentu selamanya akan berlangsung, kan? Hehe. Atau kalau boleh gue katakan; yg namanya temen, mereka cuma sepenggal kisah dalam hidup ini, suatu saat mereka akan pergi untuk menyelesaikan kisah hidup mereka sendiri, atau mungkin, malah kita yg pergi ninggalin duluan? Ya enggak tau lah perginya ke mana, itu urusan mereka.

Haha, ngapin si nulis begini!! Kayak orang lagi butuh duit aja ya. Bukan gitu maksudnya, gue cuma lagi pengen nulis aja, gak kurang, gak lebih, karena ada yg pernah bilang bahwa; Tulisalah apa yg ada dalam pikiranmu sekarang, gak harus secepatnya berguna, tapi siapa tau suatu hari nanti bakalan berarti. ehehehe.
Share:

Kamis, 19 April 2018

Jumat, 30 Maret 2018

Kemping di Puncak Guha Sambil Menikmati Kopi Rasa Soto


Sebenernya cerita ini terjadi sekitar awal Maret yg lalu, tapi mungkin saat itu gue lagi males-malesnya nulis, jadi baru sekarang ceritanya bisa gue tulis dan bagikan di sini. Oya! di tulisan sebelumnya gue pernah cerita kalau gue gampang gatel kalo tiap kali ketemu ulat bulu, dan sekarang, saat menulis ini, badan gue baru aja gatel-gatel karena “KAGAK TAU DARI KAPAN ITU ULAT BULU TIBA-TIBA NEMPEL DI BAJU!!”. Heuheu... gue emang cowok gampangan!! T_T

Ah udahlah, yg terjadi biarlah terjadi, sekarang mari kita lanjutkan cerita saat gue dan temen gue kemping di Garut beberapa waktu lalu. Selamat membaca...

***
Puncak Guha, Garut

Sekitar jam 4 sore di awal bulan Maret, gue bareng temen gue, Tomi namanya, dari lokasi masing-masing pergi dan menentukan titik bertemu, yg kemudian pergi ke suatu tempat yg emang beberapa hari sebelumnya udah gue datengin bareng beberapa temen yg sengaja jauh-jauh dari Jakarta buat liburan. Berlokasi di Puncak Guha, Garut Selatan, yg kebetulan  lokasinya  enggak terlalu jauh dari rumah, kira-kira hanya memakan waktu 1 jam setengah menggunakan kendaraan motor. Cianjur-Garut bukan jarak yg jauh, kebetulan gue emang tinggal di perbatasan (Cianjur Selatan), kayak Indonesia-Malaysia aja, cuma dalam bentuk daerah.

Rencana kemping ini awalnya bakalan ada 4 orang yg ikut, Gue, Tomi dan dua orang lainnya, tapi karena emang ada beberapa temen yg lagi ada kerjaan yg mungkin belum beres atau dengan kata lain emang gak niat atau dengan kata lain lagi hanyalah omong kosong belaka, jadilah yg pergi kemping hanya kami berdua, gue, Tomi dan beberapa janji palsu dari seorang teman.

Sekitar jam setengah 6 sore kami sampai di lokasi, dengan  membayar karcis 5 ribu rupiah, sudah bisa masuk dan menikmati pemandangan pantai dan senja, tapi sebelum itu, penjaga karcis mungkin curiga dengan tas yg dibawa Tomi begitu besarnya, kemudian dia bertanya,

“a, pada mau kemping?” dengan nada bicara ciri khas orang Sunda.
“i..iya..” jawab Tomi
Dengan senyuman manis penjaga karcis itu berkata lagi, “kalo gitu, satu orang jadi 10 ribu, a”

[Play: BCL – Kecewa (Skinnyfabs version)]

Dengan membayar 10 ribu per-orang, kami beserta motor masing-masing sudah bisa masuk ke area Puncak Guha, dari lokasi parkir ke lokasi hanya memakan waktu sekitar 5 menit. Dan  sepanjang perjalanan, pemandangannya bagus cooooy~ kayak di new Zealand, iya emang belum pernah ke negara tersebut, tapi pas direkam terus dibagiin ke aplikasi hypstar ada yg komen gitu, “Wah bagus ya kayak di film-film, kayak di New Zealand!”.

“TAMPAR  SAJA AKU.. TAMPAR!!”

Puncak guha ini, adalah tebing di pinggir laut, lokasinya dekat dengan Pantai Rancabuaya, Garut. Garut selatan memang banyak destinasi wisata pantai, dan Puncak Guha ini menurut gue menjadi salah satu yg lumayan banyak dikunjungi. Tempatnya asik, pemandangannya keren, bisa melihat sunset dengan damai dari atas tebing sambil menikmati suara ombak. Tapi please, kalo lagi patah hati jangan sampe dateng ke sini terus tiba-tiba loncat dari tebing, gue enggak mau tempat se-keren ini jadi sarang kuntilanak nantinya.

Bung Tomi nyantai abis~

Dan ketika kami sampai di sana, yg cukup kami sesali adalah cuaca yg sedikit mendung, matahari tenggelam tertutup awan tebal, cuma bisa menikmati sedikit cahaya senja yg kurang sempurna. Halah~

Kami buru-buru mendirikan tenda, karena sudah punya pengalaman memasang tenda sewaktu kemping di Bukit Pamoyanan, Subang, gue jadi enggak terlalu bodoh-bodoh amat buat ikut bantuin Tomi pasang tenda. Setelah beberapa menit, tenda sudah jadi, gue sama tomi langsung membuka beberapa alat masak; kompor, mie, kopi, dan gas 12 kg,

“YA KAGAK LAH!!”

Maaf-maaf, yg gas 12kg tadi cuma guyon.

Disela-sela memasak nasi, kami juga sekalian masak aer (biar mateng) untuk nanti menyeduh kopi disaat-saat santai sambil ngobrol, berdua, sesama lelaki, di malam hari, hanya ada kami berdua, tidak ada orang lain lagi, ditemani gerimis. Sebuah romantisme yg sangat-sangat menghawatirkan!

Cuaca yg lumayan dingin, gerimis dan ditemani gemuruh ombak pantai selatan, rasanya memang sudah waktunya untuk mengisi perut dengan yg hangat. Nasi yg kami masak sudah matang, karena persiapan seadanya, kami  bahkan sampai lupa membawa senter atau obor olimpiade, otomatis ponsel yg sudah 20% baterainya menjadi tumbal untuk cahaya malam saat itu. Bahkan yg kami makanpun  hanya sebatas pop mie campur nasi (biasalah orang Indonesia), mau masak sayur juga keadaan udah lumayan gelap, jadi kami memutuskan untuk makan seadanya.

Setelah makan, kami mendidihkan air untuk menyeduh kopi, dan... keadaan semakin memburuk saat di mana tidak ada yg membawa cangkir sama sekali,  mau pergi beli aqua gelas ke warung juga keadaannya malah lagi hujan, maka tercetuslah ide yg sangat brilian dari seorang Tomi, bahwa,

“AHA! KITA JADIKAN SAJA BEKAS POP MIE INI SEBAGAI CANGKIR KOPI!!!!” katanya bicara spontan, (kata  “AHA!” cuma tambahan aja biar seru.)

Tidak harus dipikir-pikir panjang, gue langsung membalasnya, “MANTAPPP!!! MANTAP JIWA WAHAI TEMANKUH, INI BARU NAMANYA FILOSOFI KOPI!” (yg aslinya cuma ngomong “MANTAPPP!!!”)

Kami ngobrol-ngobrol sambil ditemani kopi rasa soto, iya kopi rasa soto, bekas pop mie rasa soto kami jadikan sebagai cangkir kopi, ini beneran, mungkin kalian juga harus mencobanya di rumah, rasa ini takkan terlupakan. Mungkin ini juga bisa menginspirasi kalian yg suka jualan kopi di pinggir jalan untuk menawarkan ke pelanggan tentang rasa baru kopi sachet ini, rasanya sungguh luar biasa, saat meminumnya dijamin kalian akan merasakan pengalaman baru. Perasaan saat meminum kopi rasa soto ini seperti langsung membawa kalian melayang ke alam baka, tenggelam di lautan api neraka. Na'udzubillahimindzalik. Luar biasa! Cobalah sesekali~

Sekitar jam setengah sembilan malam disela-sela kami mengobrol sambil meminum kopi ajaib tadi, tiba-tiba datang beberapa motor ke arah dekat kami, kami kira mereka adalah tim begal dari salah satu stasiun televisi, tapi ternyata dugaan  kami salah. Kira-kira ada 6 motor, masing-masing membawa pasangan, entah membawa perempuan atau semuanya laki-laki, tidak telihat karena hari sudah terlalu gelap. Tapi, disela-sela obrolan mereka yg tidak sengaja kami dengar, terdengar satu suara yg cukup menjanjikan saat keadaan dingin di malam hari, “suara perempuan, bang!” kata Tomi sambil menyipitkan matanya yg kemudian tesenyum sinis. Atau lebih jelasnya tersenyum mesum, sangat mesum. Pikirannya jauh pergi melayang memikirkan perempuan berbodi gitar spanyol.

bodi gitar spanyol - sumber

Mereka yg baru datang itu, ternyata mendirikan tenda juga seperti kami, cuaca masih gerimis, dan saat mereka memasang tenda, sepertinya memang baru pertama kali melakukan kemping, tendanya gak jadi-jadi, lama. Jadi teringat sewaktu melakukan kemping pertama kali di Subang.

WKWKWWKWKWKWK...

Maaf reflek tawa.

Kami mengamati mereka yg baru datang tadi saat mendirikan tenda, jarak tenda kami dengan orang-orang tadi kira-kira hanya 10 meter, atau 10 meter kurang 2 senti, ah sabaraha wae lah panjangna mah, sabodo teuing!

“LAGIAN NGAPAIN JUGA NGITUNGIN JARAKNYA BGST!!!”

Maaf keceplosan lagi.

***
Ketika waktu sudah hampir jam 12 malam, Tomi sudah terlebih dahulu masuk ke dalam tenda, mungkin untuk tidur atau sekedar menyendiri sambil menonton video hasil download-nya  tadi siang saat medapat wifi gratisan, sementara gue lebih memilih di luar tenda, yg kebetulan gerimis sudah mulai berhenti, cahaya bulan mulai muncul, gemuruh ombak terasa membuat suasana semakin tenang. Lalu kemudian gue melepas kabel charger powerbank dari ponsel yg lumayan sudah terisi 50%, membuka pola kunci, menekan aplikasi soundcloud, lalu memutar lagu dari Float yg berjudul... Pulang.

“Bawa aku pulang rindu... bersamamu~”, cahaya bulan, gemuruh ombak, ditemani Float, sadiiis! mantap betul malam itu. Ah, andai bersama kamu di sini. Ehe~

Saking menikmati suasan tenang tersebut, tidak terasa sampai terbawa tidur, lalu terbangun di waktu subuh, menjalankan kewajiban, menyalakan  kompor, masak air kembali, membuat kopi (kalian pasti tau) sambil menunggu datangnya  matahari pagi. Pagipun terasa sempurna ketika cuaca saat itu lumayan cerah.



Setelah menikmati kopi, menikmati cahaya sunrise dan berfoto-foto, sekitar jam 7 pagi kami bergegas untuk pulang, merapikan tenda, mengumpulkan sampah bekas makanan dan menyalakan motor untuk sekedar ‘membangunkannya’  agar tidak terlalu kaget saat di-gas diperjalanan pulang nanti.

Tapi, ternyata keberuntungan masih belum berpihak kepada kami, setelah beberapa meter motor melaju, gue memperhatikan ban motornya Tomi dari belakang, dan ternyata... ban motornya kempes tak terkendali.

”Sungguh malang nasibmu kawan!”
Share: