YANG BIASA AJA!

Senin, 11 Desember 2017

Curug Cileat Subang, Perjalanan 5 Kilometer


Ketika tahu ada tempat wisata lain yg dekat dari Bukit Pamoyanan di Subang, saya bersama dua teman saya pergi mengunjungi tempat tersebut tanpa harus basa-basi terlebih dahulu, setelah sebelumnya yg di mana ekspektasi untuk melihat  lautan awan di Bukit Pamoyanan yg ternyata tidak kunjung datang, dan kami berharap semoga ditempat selanjutnya yaitu Curug Cileat, bisa terobati dengan keindahan alam yg konon katanya masih alami.

Curug Cileat ini jaraknya tidak terlalu jauh dari Bukit Pamoyanan, hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam perjalanan menggunakan kendaraan  bermotor. Tapi, untuk menuju lokasi curug cileat sendiri jaraknya 5 km dari lokasi parkir, itupun harus jalan kaki, dengan jalanan yg harus hati-hati ketika melangkah, karena jalurnya yg berada di sisi bukit-bukit dan sedikit licin, jalanan setapak, maka diharapkan untuk tetap fokus ketika berjalan selama 5 km, tidak usah terlebih dahulu memikirkan mantan, itu malah menambah beban saja.

Saat pertama kali sampai di tempat parkir motor, kami bertiga, Saya Iwan dan Yudis, tidak beristriahat terlebih dahulu, kami langsung memesan karcis masuk seharga Rp. 10.000 per-orang (Meski tertulis Rp. 5000, entah mungkin dengan tambahan lain). Saat akan berangkat ke curug, kami melewati 2 orang yg sepertinya akan berangkat ke curug juga, tapi mereka masih beristirahat sambil minum kopi dan makan gorengan disebuah warung kecil.

Tiket masuk

“Istirahat dulu, kang..” Seorang ibu-ibu penjaga warung menyapa kami untuk sekedar istirahat dan mungkin agar supaya membeli jualannya. “iya bu, ini nanggung lanjut dulu..” balas saya kepada beliau. “Buru-buru amat atuh,” ibu-ibu itu masih menggoda kami dengan gaya bicaranya yg menandakan bahwa beliau adalah orang Sunda, “ini aja berdua mau ke sana kok..” lanjutnya sambil menunjuk kepada 2 orang yg sedang menikmati hidangan kopi di warung miliknya.

“Iya nanti pulangnya mampir ke sini..”  Yudis membalas sambil kami berjalan  melewati warung. Tidak lupa juga saya permisi kepada dua orang yg sedang menikmati gorengan di warung tersebut, "Duluan kang."

Ketika melewati rumah-rumah warga, kami melewati beberapa orang yg sedang panen ikan dari beberapa kolam. Sambil menyapa, saya sempat bertanya kepada salah satu orang di sana, “Punten kang, di atas ada yg jualan gak yah, warung gitu?”, tanya saya. “Gak ada, Cuma di sini aja adanya.” Balas salah satu orang yg sedang memasukan ikan ke dalam plastik besar berisi air,  yg malah telihat  seperti tabung gas oksigen.

Kemudian, daripada ada yg kurang nikmat setelah sampai di curug tujuan kami nanti, kamipun akhirnya kembali ke warung sebelumnya, membeli beberapa kopi yg sudah jadi dan dibungkus menggunakan plastik kecil agar bisa dibawa ke curug.

Saat berjalan menuju curug, 2 orang yg beristirahat di warung tadi sudah berada di belakang kami, mereka berdua, 2 pria yg tidak kami kenal ternyata yg akan menjadi anggota baru nantinya, seperti Avengers dari komik Marvel, atau Justice League dari DC, kamipun akhirnya bergabung agar supaya perjalanan itu semakin seru. (itung-itung agar ada yg menjadi tukang foto ketika kami ingin foto bertiga).

Ternyata, Curug Cileat ini, sebelum sampai, akan melewati beberapa curug terlebih dahulu, ada 5 curug jika dihitung keseluruhannya, termasuk curug cileat sendiri:

Curug Citorok
Pertama kali kami sampai ke curug yg petama, yaitu curug citorok, ternyata  jaraknya sangat tidak terjangkau, atau hanya bisa dilihat saja, tidak bisa didekati karena jaraknya yg terhalang rumput-rumput liar, susah.

Curug Citorok

Yudis yg sedang nge-Vlog

Jadi, curug citorok ini mungkin hanya sebatas penyegaran, sekedar cuci muka semata dari air yg mengalir kecil. Jadi cocok saja untuk tempat istirahat sejenak setelah perjalanan yg cukup melelahkan. Karena ini curug pertama yg akan dijumpai setelah melakukan perjalanan yg cukup melelahkan karena jalurnya yg terus menanjak.

Curug Cimuncang

Di bawah Curug Cimuncang

Dari jaraknya yg tidak terlalu jauh dari curug pertama, di Curug Cimuncang ini kami bisa berfoto-foto, karena lokasinya mendukung untuk beristirahat dan menikmati curug yg cukup tinggi sekitar 70-80 meter.

Curug Cimuncang Pasir
Untuk yg satu ini, lokasi curugnya berada agak ke dalam, tapi masih bisa diakses dari jalanan yg dilewati. Ada beberapa batu seperti anak tangga, dan saya kira ini lebih bagus dari curug sebelumnya.

Curug Cimuncang Pasir

Setelah dari curug cimuncang pasir, saya melihat tanda penunjuk arah seperti sebelumnya, saya kira tidak akan ada lagi tanda-tanda kehidupan, tapi setelah melihat penunjuk arah yg saya baca, tertulis di sana, ‘Mushola’. Sempat saya pikir bahwa curug selanjutnya bernamakan ‘Curug Mushola’.  Bahkan, ketika saya menyebut papan penunjuk arah itu dengan sebutan “Curug Mushola”, teman-teman saya malah menertawakan saya. Saya bingung, merasa terlalu pintar.

Ternyata benar saja, berjarak tidak terlalu jauh, memakan waktu sekitar 10 menit, sudah terlihat satu gubuk dengan beberapa makanan yg digantung, yg ternyata di sana adalah sebuah warung yg di sebelahnya bisa dibilang mushola dengan berlantaikan kayu. Juga tidak jauh dari tempat tersebut ada kamar mandi kecil atau WC yg cukup nyaman digunakan bagi pengunjung yg datang.

Jika dipikir-pikir lagi, rasa-rasanya kami telah dibodohi oleh orang yg panen ikan sebelumnya yg berkata bahwa tidak ada lagi warung. Hmm.. brengsek memang tukang ikan itu. Kalau memang tidak tahu, harusnya bilang saja tidak tahu, jangan mengada-ngada. “Huh!”

Yg lebih asyik lagi, di sana ada satu rumah kecil yg  dibuat dari bambu dengan ketinggian sekitar 20 meteran. Sebelum menaiki, ada botol dengan lubang kecil bertuliskan “Punten, 2.000 saja”. Menarik. Ya, kami berlimapun akhirnya mencoba menaiki rumah-rumahan tersebut, pemandangan di sana cukup bagus.

Curug Anak Cileat
Ternyata, curug yg satu ini jaraknya berdekatan dengan curug utama, curug cileat, berada disampingnya, hanya saja lokasinya susah diakses, terhalang oleh pepohonan, juga mungkin ketenarannya kalah oleh ‘sang ibu’ sih.

Curug Cileat
Setelah perjalanan dari tempat peristirahatan tadi, kami melanjutkan ke tujuan akhir kami, yaitu curug cileat, untuk sampai ke lokasi kami melewati jalan yg cukup sempit dengan sedikit licin dan melewati pohon-pohon besar, pohon bambu dan jenis-jenis pohon lainnya, tidak bisa saya sebutkan satu-persatu jenis-jenis pohonnya, nanti tulisan ini malah jadi riset tentang pohon.

Menurut yg saya baca dari beberapa sumber di internet, ketinggian curug ini melebihi dari 100 meter, ada yg bilang 150 meter, entahlah berapa ketinggian sebenarnya, saya tidak membawa alat ukur pada saat itu. Tapi yg pasti, curug ini cukup tinggi daripada ukuran tinggi badan saya. Dan entah belum tahu juga kenapa harus dinamakan Curug Cileat, saya lupa menanyakannya kepada orang-orang di sana (Terlalu menikmati keindahan).

Reaksi ketika hampir menginjak ulat bulu

Bukan kami saja yg menikmati curug ini, ada beberapa orang yg datang, kebetulan juga saat kami datang ke sana sedang libur panjang, jadi ada orang-orang yg memang pergi untuk liburan, seperti saya, seperti kami, dan tidak seperti para koruptor~ *Loh ini apa?!

Tapi yg disayangkan adalah, di curug ini, kami tidak leluasa mandi atau berenang karena area curug dipenuhi dengan bebatuan yg cukup tajam, jadi jika kalian mau ke sini, jangan harap bisa loncat dari atas air terjun, jika memaksakan loncat, niscaya kepala kalian pecah. Ok ini agak seram sih.

Saya dan teman-teman menghabiskan waktu sampai jam 2 siang di sana. Sebelum waktu pulang, ternyata ada barang saya yg hilang, bukan hilang sebenarnya, kebetulan kacamata saya dipakai oleh teman saya, Yudis, dan dibawa ke dekat curug, mungkin karena takut rusak atau hilang, dia menaruhnya di atas bebatuan, namun sayang, dia lupa menaruhnya di atas batu yg mana. Sampai saya sendiripun tidak terlalu memikirkannya, mengikhlaskannya. Namun ternyata, ketika saya sampai rumah, saya membuka salah satu video yg sempat saya rekam selama berada di curug, dan ketika Yudis menaruh kacamata di bebatuan, itu terekam di batu mana ia menaruhnya, di bebatuan bawah curug sebelah kanan. Jadi kalau ada yg ke sana setelah membaca tulisan ini, semoga saja menemukan kacamata saya (kalau belum ada orang lain yg menemukan), kacamatanya lumayan bagus, harganya lumayan.

Kacamata itu juga tidak saya beli, melainkan saya menemukannya di atas ATM saat saya hendak menarik uang tunai. Hehe.

***
Kami bergegas membereskan barang-barang, menyusuri jalanan kecil dan kembali ke salah satu gubuk yg sebelumnya kami lewati, tidak gubuk banget sih, namanya  “Paniisan Abah Danu”. Di dekat mushola yg sekaligus tempat beristirahat itu, ketika kami hendak pulang, sudah ada beberapa orang yg datang, beberapa diantara mereka sudah mendirikan tenda, kemungkinan akan camping di sana. Bahkan saya sempat berbicara dengan salah satu pengunjung  lain, pasangan suami istri dan satu anak kecil.



“Tebih curugnya?” Tanya sesorang laki-laki yg sedang mengendong anak kecil tersebut kepada salah satu rekan perjalanan saya, “Heeh.. apa katanya?” rekan kami, yg asli orang jawa kebingungan dengan apa yg ditanyakan seorang lelaki yg sedang menggendong  anak tersebut, saya yg bisa berbicara bahasa Sunda hanya cekikikan saja melihat tingkah teman baru saya itu. Kemudian  orang yg bertanya tersebut mungkin  menyadari kalau  perkataanya tidak dimengerti oleh teman saya, “Oooh.. ‘Jauh gak curugnya’ maksudnya?” kataya diperjelas.

Setelah mengobrol dengan beberapa pengunjung lain, beristirahat dengan cukup, dan ditemani alunan kecapi ‘Abah Danu’, rasa-rasanya sudah waktunya untuk kami pulang, kamipun bergegas membereskan barang-barang bawaan dan membayar  kopi dan mie yg sudah kami pesan sebelumnya. Dan semoga kami bisa lebih sering lagi menjelajah curug-curug atau air terjun di Indonesia.

Satu menit video dari saya: Curug Cileat, Subang.


Salam hangat. Kuy!

@Dianhendrianto

5 komentar:

  1. MAIIIN MULUUU.

    Hih.

    *ini ceritanya keirian seorang netizen*

    BalasHapus
  2. Jadi inget pengalaman saya bareng temen kampus ke Curug Nangka. Salah satu temen tasnya ilang pas mau pulang sehabis mainan air. Syukur aja sempet ngecek foto-foto dulu, itu terakhir gendong tas di mana. Dan ternyata sempet ditinggal di suatu gazebo ketika istirahat sebelum sampe curug dan sekalian foto-foto. Syukurnya pas turun, tasnya masih ada.

    Udahlah, nggak apa-apa kehilangan kacamata, Yan. Kan di Ragunan udah nemu duit. Lumayan nanti bisa buat beli lagi~

    BalasHapus
  3. CURUG APAAN, CURUG MUSHOLA YAWLAAAAAAA

    Enak bgt si ah lanjalan mulu:(

    BalasHapus
  4. Ini knpa bang dian serba nemu mulu dah? kacamata nemu, duit nemu.. Hmm.. Bagi tipsnya dong qaqaaaa.

    BalasHapus

Karena akhir-akhir ini banyak komentar spam yg masuk, jadi kolom komentar ini terpaksa gue moderasi. Tapi tenang aja, komentar kalian bakalan cepet-cepet gue publikasi kok. Terima kasih :) - @dianhendrianto

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND