Personal Blog

Jumat, 15 Desember 2017

Sebuah Catatan Facebook - Teman Lama

Tulisan ini pertama kali saya tulis dalam Catatan Facebook beberapa waktu lalu. Sebuah catatan yg ditulis ketika saking tidak sadarnya sudah main facebook lama, 3 jam! scroll-scroll tidak jelas, sampai akhirnya saya sadar beberapa hal. Ya, beginilah jadinya.


Teman Lama
Begitu banyak teman yg sudah hampir saya lupakan karena begitu cepatnya waktu berlalu, diantaranya mungkin hanya bisa dikenali wajahnya, sebagian namanya sudah samar-samar teringat. Terkadang, ketika bertemu dengan seseorang teman di suatu waktu, kemudian sama sekali tidak ingat namanya, itu merupakan hal yg sedikit memalukan. Tapi, ya, mau gimana lagi (?)

Kebanyakan teman yg sempat bertemu di dunia nyata, berteman  di facebook, teman sekampung, teman masa sekolah SD, SMP sampai SMA, mereka-mereka diantaranya masih hilir mudik di linimasa facebook, dan beberapa lainnya mungkin sudah memiliki kehidupan yg  berbeda, dan sudah tidak sempat bermain dengan dunia maya, ataupun  ketika mendengar kata 'facebook' mereka hanya akan berkata; "Buat apa?", kalau sudah mendapat yg di inginkan.

Saya sendiri sesekali membuka facebook, tapi sangat enggan untuk update status. Alasan satu-satunya yg saya suka dari facebook, ialah karena fitur “On This Day”, salah satu fitur yg di mana mengembalikan memori-memori  masa lalu, kenangan-kenangan manis, kenangan brengsek, dan mungkin beberapa kenangan yg tidak terlalu penting lainnya dari satu fitur bernamakan “Status di masa lalu” itu. Ya, bodoh memang ketika masih ‘melihat ke belakang’, tapi, bukankah itu baik untuk sekedar instropeksi diri? Asal jangan kebablasan saja, sih, baper, misalnya.

Beberapa kali juga, saya sempat menon-aktifkan akun facebook, dan tidak lama kemudian sangat 'gatal' begitu ingin mengaktifkannya kembali, saya berpikiran  bahwa facebook-an hanya buang-buang waktu, melihat orang-orang dengan kehidupannya yg semakin baik, upload dengan mobil baru, ada sebagian yg sedang berkeluh kesah, sedang gundah-gulana hatinya, teman yg sudah menikah, mantan yg sudah punya anak, dan berbagai macam kegiatan lain  yg mereka-mereka publikasikan. Lantas, “Kenapa  saya begini-begini saja?” Pemikiran seperti itu terkadang muncul begitu saja ketika melihat aktivitas teman-teman yg sudah lebih dulu sukses dari saya, tanpa melihat betapa jatuh bangun sebelumnya. Ya, rasa syirik memang terkadang selalu muncul di diri manusia. Salah satunya di diri saya yg kurang memperdulikan  rasa syukur.

Beberapa waktu yg lalu, ketika saya mengaktifkan lagi akun facebook milik saya, ada satu pesan dari salah satu teman lama, “kemana aja nih?” dan  berlanjut ke percakapan-percakapan lainnya. Mengenang masa-masa ketika masih sering main bersama memang menyenangkan. Waktu yg lama namun terasa singkat ketika di ingat, cukup untuk menciptakan sebuah kenangan yg akan di ingat kemudian hari. Seperti masa kini yg mengenang masa lalu.

Sebenarnya, bukan sudah bosan bercengkrama bersama teman-teman di sosial media yg katanya ‘saling berteman’ ini, hanya saja saya selalu berpikiran bahwa facebook saat ini hanya berisi orang-orang yg nyari untung, bukan nyari teman lagi.

Bahkan, seperti yg sudah-sudah, yg selalu membuat saya kesal ketika kembali membuka akun dan saling berhubungan dengan teman lama, biasanya mereka, kalau bukan menawarkan asuransi, MLM, atau yg lebih parah meminjam uang lalu sampai beberapa tahun lamanya tidak kunjung dibayar. Tidak ada kabar sama sekali, menghilang tanpa jejak seperti masuk ke lubang hitam yg entah berada di galaksi mana. Sampai pikiran-pikiran tidak waras lainnya mucul.

Tapi ternyata, dugaan saya memang berlebihan, saya lupa kalau masih ada teman baik di dunia maya ini, tidak semuanya mencari untung semata, sih. Akan tetapi mungkin semua itu memang sudah menjadi kerjaan mereka, mereka yg mencari rejeki dengan caranya masing-masing, cara yg bahkan mereka sendiri tidak suka, tapi harus dijalani karena menuhankan 'Kebutuhan/keinginan',

Mau gimana lagi?

Dan karena kita sudah tidak hidup di masa lalu, kita bukan anak sekolah lagi, kita hidup sebagai orang yg mungkin sudah dewasa, sudah saatnya bijak, tidak usah terlalu berprasangka buruk terhadap sesama. Untuk urusan rejeki, kan  sudah ada yg mengatur, tinggal kita yg mengelola nasibnya saja dengan baik, seperti perkataan salah satu teman saya, "Standar hidup orang berbeda-beda", demikianlah kenyataanya, tidak usah terlalu iri pada kehidupan orang lain, karena pada dasarnya kita menjalani hidup yg sama, hanya caranya saja yg berbeda.

Memang, yg namanya manusia, terkadang kita membenci sesuatu hal yg bahkan belum dijelaskan, dan bisa jadi kebencian terhadapnya itu salah. Jangan sampai~


Sebentar, ini kok sudah ngalor-ngidul ya tulisannya?!!

Halah, nulis apa ini! cukup sampai sini saja catatannya, kalau panjang-panjang nanti malah dikira struk belanja bulanan anak presiden. Saya hanya berdo’a dan berharap, semoga teman-teman saya dalam keadaan baik dimanapun berada, yg sudah sukses, yg masih berusaha, yg baru sarjana, yg baru menikah, yg sudah punya anak, yg tidak ada kabar, semoga semuanya dalam keadaan baik...

Teman lamaku..

Facebook, Desember 2017

Dian Hendrianto

***
Versi catatan facebook bisa dilihat di sini; Teman Lama

Senin, 11 Desember 2017

Curug Cileat Subang, Perjalanan 5 Kilometer


Ketika tahu ada tempat wisata lain yg dekat dari Bukit Pamoyanan di Subang, saya bersama dua teman saya pergi mengunjungi tempat tersebut tanpa harus basa-basi terlebih dahulu, setelah sebelumnya yg di mana ekspektasi untuk melihat  lautan awan di Bukit Pamoyanan yg ternyata tidak kunjung datang, dan kami berharap semoga ditempat selanjutnya yaitu Curug Cileat, bisa terobati dengan keindahan alam yg konon katanya masih alami.

Curug Cileat ini jaraknya tidak terlalu jauh dari Bukit Pamoyanan, hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam perjalanan menggunakan kendaraan  bermotor. Tapi, untuk menuju lokasi curug cileat sendiri jaraknya 5 km dari lokasi parkir, itupun harus jalan kaki, dengan jalanan yg harus hati-hati ketika melangkah, karena jalurnya yg berada di sisi bukit-bukit dan sedikit licin, jalanan setapak, maka diharapkan untuk tetap fokus ketika berjalan selama 5 km, tidak usah terlebih dahulu memikirkan mantan, itu malah menambah beban saja.

Saat pertama kali sampai di tempat parkir motor, kami bertiga, Saya Iwan dan Yudis, tidak beristriahat terlebih dahulu, kami langsung memesan karcis masuk seharga Rp. 10.000 per-orang (Meski tertulis Rp. 5000, entah mungkin dengan tambahan lain). Saat akan berangkat ke curug, kami melewati 2 orang yg sepertinya akan berangkat ke curug juga, tapi mereka masih beristirahat sambil minum kopi dan makan gorengan disebuah warung kecil.

Tiket masuk

“Istirahat dulu, kang..” Seorang ibu-ibu penjaga warung menyapa kami untuk sekedar istirahat dan mungkin agar supaya membeli jualannya. “iya bu, ini nanggung lanjut dulu..” balas saya kepada beliau. “Buru-buru amat atuh,” ibu-ibu itu masih menggoda kami dengan gaya bicaranya yg menandakan bahwa beliau adalah orang Sunda, “ini aja berdua mau ke sana kok..” lanjutnya sambil menunjuk kepada 2 orang yg sedang menikmati hidangan kopi di warung miliknya.

“Iya nanti pulangnya mampir ke sini..”  Yudis membalas sambil kami berjalan  melewati warung. Tidak lupa juga saya permisi kepada dua orang yg sedang menikmati gorengan di warung tersebut, "Duluan kang."

Ketika melewati rumah-rumah warga, kami melewati beberapa orang yg sedang panen ikan dari beberapa kolam. Sambil menyapa, saya sempat bertanya kepada salah satu orang di sana, “Punten kang, di atas ada yg jualan gak yah, warung gitu?”, tanya saya. “Gak ada, Cuma di sini aja adanya.” Balas salah satu orang yg sedang memasukan ikan ke dalam plastik besar berisi air,  yg malah telihat  seperti tabung gas oksigen.

Kemudian, daripada ada yg kurang nikmat setelah sampai di curug tujuan kami nanti, kamipun akhirnya kembali ke warung sebelumnya, membeli beberapa kopi yg sudah jadi dan dibungkus menggunakan plastik kecil agar bisa dibawa ke curug.

Saat berjalan menuju curug, 2 orang yg beristirahat di warung tadi sudah berada di belakang kami, mereka berdua, 2 pria yg tidak kami kenal ternyata yg akan menjadi anggota baru nantinya, seperti Avengers dari komik Marvel, atau Justice League dari DC, kamipun akhirnya bergabung agar supaya perjalanan itu semakin seru. (itung-itung agar ada yg menjadi tukang foto ketika kami ingin foto bertiga).

Ternyata, Curug Cileat ini, sebelum sampai, akan melewati beberapa curug terlebih dahulu, ada 5 curug jika dihitung keseluruhannya, termasuk curug cileat sendiri:

Curug Citorok
Pertama kali kami sampai ke curug yg petama, yaitu curug citorok, ternyata  jaraknya sangat tidak terjangkau, atau hanya bisa dilihat saja, tidak bisa didekati karena jaraknya yg terhalang rumput-rumput liar, susah.

Curug Citorok

Yudis yg sedang nge-Vlog

Jadi, curug citorok ini mungkin hanya sebatas penyegaran, sekedar cuci muka semata dari air yg mengalir kecil. Jadi cocok saja untuk tempat istirahat sejenak setelah perjalanan yg cukup melelahkan. Karena ini curug pertama yg akan dijumpai setelah melakukan perjalanan yg cukup melelahkan karena jalurnya yg terus menanjak.

Curug Cimuncang

Di bawah Curug Cimuncang

Dari jaraknya yg tidak terlalu jauh dari curug pertama, di Curug Cimuncang ini kami bisa berfoto-foto, karena lokasinya mendukung untuk beristirahat dan menikmati curug yg cukup tinggi sekitar 70-80 meter.

Curug Cimuncang Pasir
Untuk yg satu ini, lokasi curugnya berada agak ke dalam, tapi masih bisa diakses dari jalanan yg dilewati. Ada beberapa batu seperti anak tangga, dan saya kira ini lebih bagus dari curug sebelumnya.

Curug Cimuncang Pasir

Setelah dari curug cimuncang pasir, saya melihat tanda penunjuk arah seperti sebelumnya, saya kira tidak akan ada lagi tanda-tanda kehidupan, tapi setelah melihat penunjuk arah yg saya baca, tertulis di sana, ‘Mushola’. Sempat saya pikir bahwa curug selanjutnya bernamakan ‘Curug Mushola’.  Bahkan, ketika saya menyebut papan penunjuk arah itu dengan sebutan “Curug Mushola”, teman-teman saya malah menertawakan saya. Saya bingung, merasa terlalu pintar.

Ternyata benar saja, berjarak tidak terlalu jauh, memakan waktu sekitar 10 menit, sudah terlihat satu gubuk dengan beberapa makanan yg digantung, yg ternyata di sana adalah sebuah warung yg di sebelahnya bisa dibilang mushola dengan berlantaikan kayu. Juga tidak jauh dari tempat tersebut ada kamar mandi kecil atau WC yg cukup nyaman digunakan bagi pengunjung yg datang.

Jika dipikir-pikir lagi, rasa-rasanya kami telah dibodohi oleh orang yg panen ikan sebelumnya yg berkata bahwa tidak ada lagi warung. Hmm.. brengsek memang tukang ikan itu. Kalau memang tidak tahu, harusnya bilang saja tidak tahu, jangan mengada-ngada. “Huh!”

Yg lebih asyik lagi, di sana ada satu rumah kecil yg  dibuat dari bambu dengan ketinggian sekitar 20 meteran. Sebelum menaiki, ada botol dengan lubang kecil bertuliskan “Punten, 2.000 saja”. Menarik. Ya, kami berlimapun akhirnya mencoba menaiki rumah-rumahan tersebut, pemandangan di sana cukup bagus.

Curug Anak Cileat
Ternyata, curug yg satu ini jaraknya berdekatan dengan curug utama, curug cileat, berada disampingnya, hanya saja lokasinya susah diakses, terhalang oleh pepohonan, juga mungkin ketenarannya kalah oleh ‘sang ibu’ sih.

Curug Cileat
Setelah perjalanan dari tempat peristirahatan tadi, kami melanjutkan ke tujuan akhir kami, yaitu curug cileat, untuk sampai ke lokasi kami melewati jalan yg cukup sempit dengan sedikit licin dan melewati pohon-pohon besar, pohon bambu dan jenis-jenis pohon lainnya, tidak bisa saya sebutkan satu-persatu jenis-jenis pohonnya, nanti tulisan ini malah jadi riset tentang pohon.

Menurut yg saya baca dari beberapa sumber di internet, ketinggian curug ini melebihi dari 100 meter, ada yg bilang 150 meter, entahlah berapa ketinggian sebenarnya, saya tidak membawa alat ukur pada saat itu. Tapi yg pasti, curug ini cukup tinggi daripada ukuran tinggi badan saya. Dan entah belum tahu juga kenapa harus dinamakan Curug Cileat, saya lupa menanyakannya kepada orang-orang di sana (Terlalu menikmati keindahan).

Reaksi ketika hampir menginjak ulat bulu

Bukan kami saja yg menikmati curug ini, ada beberapa orang yg datang, kebetulan juga saat kami datang ke sana sedang libur panjang, jadi ada orang-orang yg memang pergi untuk liburan, seperti saya, seperti kami, dan tidak seperti para koruptor~ *Loh ini apa?!

Tapi yg disayangkan adalah, di curug ini, kami tidak leluasa mandi atau berenang karena area curug dipenuhi dengan bebatuan yg cukup tajam, jadi jika kalian mau ke sini, jangan harap bisa loncat dari atas air terjun, jika memaksakan loncat, niscaya kepala kalian pecah. Ok ini agak seram sih.

Saya dan teman-teman menghabiskan waktu sampai jam 2 siang di sana. Sebelum waktu pulang, ternyata ada barang saya yg hilang, bukan hilang sebenarnya, kebetulan kacamata saya dipakai oleh teman saya, Yudis, dan dibawa ke dekat curug, mungkin karena takut rusak atau hilang, dia menaruhnya di atas bebatuan, namun sayang, dia lupa menaruhnya di atas batu yg mana. Sampai saya sendiripun tidak terlalu memikirkannya, mengikhlaskannya. Namun ternyata, ketika saya sampai rumah, saya membuka salah satu video yg sempat saya rekam selama berada di curug, dan ketika Yudis menaruh kacamata di bebatuan, itu terekam di batu mana ia menaruhnya, di bebatuan bawah curug sebelah kanan. Jadi kalau ada yg ke sana setelah membaca tulisan ini, semoga saja menemukan kacamata saya (kalau belum ada orang lain yg menemukan), kacamatanya lumayan bagus, harganya lumayan.

Kacamata itu juga tidak saya beli, melainkan saya menemukannya di atas ATM saat saya hendak menarik uang tunai. Hehe.

***
Kami bergegas membereskan barang-barang, menyusuri jalanan kecil dan kembali ke salah satu gubuk yg sebelumnya kami lewati, tidak gubuk banget sih, namanya  “Paniisan Abah Danu”. Di dekat mushola yg sekaligus tempat beristirahat itu, ketika kami hendak pulang, sudah ada beberapa orang yg datang, beberapa diantara mereka sudah mendirikan tenda, kemungkinan akan camping di sana. Bahkan saya sempat berbicara dengan salah satu pengunjung  lain, pasangan suami istri dan satu anak kecil.



“Tebih curugnya?” Tanya sesorang laki-laki yg sedang mengendong anak kecil tersebut kepada salah satu rekan perjalanan saya, “Heeh.. apa katanya?” rekan kami, yg asli orang jawa kebingungan dengan apa yg ditanyakan seorang lelaki yg sedang menggendong  anak tersebut, saya yg bisa berbicara bahasa Sunda hanya cekikikan saja melihat tingkah teman baru saya itu. Kemudian  orang yg bertanya tersebut mungkin  menyadari kalau  perkataanya tidak dimengerti oleh teman saya, “Oooh.. ‘Jauh gak curugnya’ maksudnya?” kataya diperjelas.

Setelah mengobrol dengan beberapa pengunjung lain, beristirahat dengan cukup, dan ditemani alunan kecapi ‘Abah Danu’, rasa-rasanya sudah waktunya untuk kami pulang, kamipun bergegas membereskan barang-barang bawaan dan membayar  kopi dan mie yg sudah kami pesan sebelumnya. Dan semoga kami bisa lebih sering lagi menjelajah curug-curug atau air terjun di Indonesia.

Satu menit video dari saya: Curug Cileat, Subang.


Salam hangat. Kuy!

@Dianhendrianto

Senin, 04 Desember 2017

Ekspektasi di Bukit Pamoyanan Subang


 Iwan, Yudis dan saya di Bukit Pamoyanan

“Kang, ngecamp yuk?” Sebuah pesan masuk ke Whatsapp pribadi saya, pesan ajakan berlibur yg sangat pas bagi saya yg sedang bosan-bosannya. Pesan itu dikirim oleh Yudis, kebetulan namanya sama dengan peran yg dimainkan oleh Adipati Dolken di film Posesif, tapi sifatnya  tidak seposesif yg diperankan  kang Adipati tersebut. "Di subang" Lanjutnya.

Rencana yg dibuat pada tanggal 18 November 2017 itu dilaksanakan pada awal Desember 2017, ke Bukit Pamoyanan di Subang. Yang ikut berangkat camping kebanyakan  teman kerjanya Yudis, selanjutnya Yudis mengajak saya dan Iwan, teman saya.

Ketika waktu berangkat liburan sudah dekat, sekitar 1 hari lagi, Yudis mengabari saya kembali, “Di sana ada tempat sewa tenda gak? Kalo ada tolong sewa dulu yah, soalnya temen-temen di sini pada gak jadi ngecamp”. DHEG! Saya menjadi bingung sendiri, saya yg tidak tau-menau  tempat-tempat semacam itu,  sewa tenda atau alat-alat Outdoor lainnya. Tapi beruntung, saya memiliki teman yg sering naik gunung, jadi bisa meminta bantuan untuk mencarikan tenda untuk saya bawa esok harinya. Satu masalah selesai. Mari kita lanjut ke masalah lainnya.

Ketika hari keberangkatan tiba, Yudis mengabari saya kembali, “Kalo bisa sama kompor ya!”, So kampretoo.. Saya tidak meng-iya-kannya, karena di tempat jasa sewa tendapun hanya bisa melayani pemesanan maksimal  satu hari  sebelum pemberangkatan, tidak bisa langsung pas hari H.

Dari rumah saya di Harapan Indah, Bekasi, saya berangkat bersama Iwan dengan menggunakan motor  menuju rumah Yudis di Cikarang, lalu kami melanjutkan perjalanan hanya dua motor saja,  tidak dengan perkiraan  sebelumnya, dengan ramai-ramai pergi liburan. Hal seperti ini sudah biasa terjadi, bahkan sayapun pernah membatalkan liburan bersama teman-teman karena kondisi sedang tidak mendukung.

Menempuh perjalanan sekitar 5 jam setengah dari bekasi menuju Bukit Pamoyanan di Subang, itupun  ditambah  dengan nyasar-nyasar terlebih dahulu karena GPS  yg dipakai tidak  akurat, juga bertanya kepada orang-orangpun terkadang tidak tentu benar arahnya. Tapi, menurut saya, justru hal seperti itu yg menjadikan travelling menjadi lebih seru, menemukan tempat-tempat baru.

Sekitar  pukul 17:30 WIB, kami sampai di Bukit Pamoyanan, dengan membayar tiket masuk seharga Rp. 38.000 atau 2 Motor = Rp.20.000, 3 orang = Rp 18.000 (retribusi Desember 2017). Dari tempat penitipan motor, kami harus jalan kaki menaiki anak tangga yg cukup membuat ngos-ngosan jika kamu punya penyakit asma. Tidak sampai satu jam, barulah sampai ke bukit paling atas, tempat di mana kami akan bermalam di atas bukit, dan menyambut kabut tebal seperti yg sempat saya lihat di internet.


Tiket Masuk Bukit Pamoyan

Sesampainya di tempat, kami langsung membuka tas berisikan tenda alloy yg sudah kami sewa. Setelah dibuka dan dilihat-lihat, saya diam sejenak, Yudis dan Iwan diam juga, kebetulan diantara kami sama sekali  belum pernah memasang tenda sebelumnya, bahkan tutorial memasang tenda yg sempat saya lihat di Youtube sebelumnyapun ternyata beda jenisnya dengan yg kami bawa. Akhirnya kami mengamati tenda-tenda yg sudah jadi di sekitar, mengamati siapa tau saja ada yg sama, tapi ternyata berbeda semua. Hmm.. sesuatu banget sob!

Akhirnya, dengan insting seadanya yg kami miliki, tendapun dipasang dengan seadanya saja, seperti apa yg terpikir dari kepala kami bertiga, daripada hanya dilihat dan waktu sudah mulai gelap, kami pasrah dengan keadaan, tinggal berdo’a saja semoga tidak turun hujan dimalam hari. Tapi, seperti diperkirakan sebelumnya, pasti diwaktu malam tidak akan bisa tidur dengan nyenyak seperti tidur-tidur biasanya. Ternyata benar, Yudis dan Iwan tetap di luar menikmati malam, sedangkan saya, di dalam, menggunakan sleepingbag, tidur dengan nyenyak seperti biasa. Dan orang-orang di tenda lain semakin ramai, ada yg bermain gitar sambil bernyanyi, atau melakukan hal-hal sesuka mereka.


Seperti halnya bukit Bintang di Bandung, di Bukit Pamoyanan Subang inipun tidak kalah cantiknya ketika malam hari, lampu-lampu rumah yg ada di bawah bukitpun terlihat memanjakan mata, kami menikamti malam itu dengan sebungkus gorengan, segelas kopi, dan sebatang rokok gudang garam filter bagi mereka yg biasa menikmatinya. “Nikmat Tuhan mana yg kau dustakan, kawan!” Ucap dua teman saya sambil mengeluarkan asap dari dalam mulutnya. Juga ditemani api unggun yg kayunya kami dapat dari bapak-bapak penjual nasi bungkus, “Kalo kayu, di sini harus beli, dek!” ucap seorang nenek-nenek dengan muka sedikit kesal kepada kami karena mendapat kayu dengan secara gratis. Mantap!

Iwan dengan kopi dan rokok gudang garam filternya

Sekitar jam 2 pagi, dari dalam tenda sesekali saya menengok keluar, kabut-kabut mulai terlihat, 2 teman saya masih asyik mengobrol di luar tenda, saya kembali menutup tenda, menunggu sekitar jam 5 pagi yg konon katanya kabut tebal akan terlihat penuh. “Lautan awan” Terdengar bisik-bisik seseorang ditenda sebelah, atau “Cuma bisa tersenyum ketika melihat ciptaan Allah swt... #bukitpamoyanan” dalam salah satu caption instagram ketika saya sedang melihat-lihat gambar di hastag #BukitPamoyanan

Namun, ekspektasi saya bersama teman-teman ternyata tidak sepeti realita yg ada, begitupun dengan orang-orang di tenda sebelah yg berharap sama, kabut tebal tersebut tidak hadir dipagi itu, hanya mendung yg kemudian berlanjut ke cuaca cerah, bahkan matahari terbitpun tidak berhasil diabadikan, kekecewaan  diantara orang-orang muncul, ucapan-ucapan  kesal terdengar dari setiap sudut. Rasanya saya ingin berkata kasar kepada orang-orang yg memasang foto dengan kabut tebalnya di instagram. “Lautan kekesalan.” Kabut tebal dibulan Agustus ternyata berbeda dengan yg ada dibulan Desember, atau mungkin, waktu kami saja yg tidak tepat, mungkin besok kabut tersebut akan datang. Nyatanya, hanya kebetulan yg menentukan.

Karena melihat lautan awan tidak tercapai, sekitar jam 8 pagi kami bergegas membongkar tenda, begitupun orang-orang di sebelah kami, sepertinya mereka cenderung mengikuti.


Sebelum melanjutkan ke lokasi lain di Subang, kami menyempatkan  untuk berfoto-foto terlebih dahulu, merekam video, menikmati udara segar, lalu moyan atau jika dalam Bahasa Indonesia artinya Berjemur. Jadi jika diartikan, Pamoyanan adalah Tempat Berjemur.

Cek video instagramhttps://www.instagram.com/p/BcN_G6nhUdA/?taken-by=dianhendrianto
Klik link jika video tidak bisa diputar: https://www.youtube.com/watch?v=b_Gz0sfczmU&feature=youtu.be

Meski kami tidak berhasil melihat Lautan awan, tapi pemandangan dari atas bukit cukup sedikit mengobati rasa sesal, karena di sana sudah ada beberapa spot untuk berfoto, seperti rumah pohon, perahu pinggir tebing, dan  beberapa spot lainnya, juga tidak jauh dari lokasi ada warung untuk sekedar ngopi-ngopi, dan juga sudah ada WC umum.

Lokasi Bukit Pamoyanan:
Desa Kawungluwuk, Kec. tanjung Siang, Subang, Jawa Barat.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND