Personal Blog

Selasa, 11 April 2017

Candi Ijo dan Sebuah Kebetulan

Jogja sebelumnya: Malam Suram

#PART4
Diperbarui: 05 Des 17

Di tulisan sebelumnya aku pernah bilang kalau bakalan memposting tulisan temanku yg di Jogja, yaitu Faqih, katanya sih mau cerita tentang kisah asmaranya. Tapi, kemaren dia menghubungiku sambil sedikit curhat, dan setelah aku beri 'wejangan asmara' (ahelah gaya amat), dia malah ragu-ragu kalau tulisannya itu aku posting di blog ini.

Dan lebih jelasnya, dia menyuruhku untuk tidak memposting tulisan itu. Kayaknya gara-gara sewaktu dia cerita panjang-lebar,  aku sempat bilang sesuatu ke dia seperti ini, "Kalo dia sedih karna gak bisa bareng  lo lagi, ya wajar kalo lo sedih dan menyesali  keadaan. Tapi, kalo dia udah  bahagia, ngapain juga lo sedih atau sampe nangisin orang yg lagi bahagia?"

Ngomongin dunia percintaan gak bakalan pernah  abis memang, apalagi kisah-kisah yg menyedihkan, 'pacar diracun sianida sama mantannya' misalnya. Atau kisah cinta yg kebanyakan berakhir bahagia kayak di ftv, akan selalu ada judul baru, tapi jalan ceritanya itu-itu saja, terkadang juga lokasinya juga itu-itu aja, Jogja-Bali, Jogja-Bali. Terus seperti itu, sampe Rumah Produksinya pindah ke channel lain. Dalam kenyataannya kadang juga hampir sama. Kisah asmara, patah hati, akan terus berulang, dari satu orang ke orang lain. Dejavu.

Anyway, yaudahlah ya, yg jelas, sekarang aku sedih karena  tulisan yg udah diedit sedemikian-rupa itu tidak jadi diposting di sini karena tidak boleh sama si Faqih. yaudahlah.

... Nggg

NTAR  AJA KALO DIA UDAH LUPA!

Well, sekarang aku mau melanjutkan cerita lain selama di Jogja. Selamat membaca, jangan kabur dulu, sayangi quota internet kalian! Juga jangan lupa makan. #NgingetinAjaSih

***

Setelah shalat subuh, kami bertiga merencanakan tujuan pertama jalan-jalan selama di jogja, tapi alangkah bangkenya, mereka berdua malah tidur lagi, sampe jam di dinding-rumah kakek Wartopawiro menunjukan jam 09:00 WIJDK (Waktu Indonesia Jogja Deh Kayaknya), mereka masih tidur, leyeh-leyeh gak jelas. Sesekali aku membangunkan mereka lagi, tapi yg terjadi cuma "Bentar dulu, lima menit lagi." BANGKAI!

Kami bertiga ­­memulai perjalanan  jam 10 pagi (kalo gak salah, kalo salah ya mohon dimaafkan), dengan mengendarai motor, aku bareng temen yg emang satu kerjaan, Fendi, dan Faqih yg membawa motor sendirian, kasihan, dan kesepian deh sepertinya, tapi lebih serem lagi aku sih,  boncengin laki.

Kebetulan tempat wisata di jogja dekat-dekat, seperti Candi Prambanan  dan Candi ijo misalnya, kamipun mencoba menghemat waktu dan akhirnya hanya mengunjungi beberapa lokasi saja. Kami melewati candi prambanan, tentu dengan penjelasan tuan pemandu wisata, yaitu Faqih, katanya, "nah, itu baru kelihatan luarnya saja, kalo ke dalam lagi lebih besar candi-candinya, juga lebih banyak". Aku cuma manggut-manggut mendengarnya, begitupun dengan si Fendi yg juga cuma manggut-manggut sambil aku boncengin.

"Yaudah yuk, masuk!" ajakku pada mereka berdua.

Sambil melaju pelan berkendara, Faqih menjawab, "Jangan, mahal masuknya."

"....."

Tidak ada perlawanan, aku cuma nurut aja, kebetulan saat itu aku ingat kalau numpang tidur dan makan di rumahnya, gak enak kalo maksa-maksa orang. ngahaha.

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami berhenti sebentar sekedar untuk mengisi bensin motor yg aku bawa, motor temenku lebih tepatnya, dan entah kenapa si Faqih tetap yg bayarin bensinnya, ya aku cuma diam, tidak bisa menolak sesuatu yg sangat menguntungkan itu. Traveling tanpa mengeluarkan modal banyak. Jujur, jika suatu saat si Faqih ke Jakarta, aku akan menyambutnya dengan gembira, menjadi guide tour di Jakarta dan juga Bekasi. Tentunya dengan ongkos jalan-jalan dan makan-makan dia yg nanggung sendiri, sama seperti ketika di Jogja. Bercanda.

Lokasi yg kami kunjungi selanjutnya adalah Candi Ijo, jarak dari Candi prambanan kurang-lebih sekitar 20 menit, dan kira-kira satu bulan 12 hari jika menggunakan skateboard, dari Bekasi. Lokasinya cukup strategis, cuma jalanannya naik, juga saat itu sedang ada perbaikan jalan. Sebelum sampai ke Candi ijo, akan melewati tebing yg sudah jadi objek wisata, tebing apa gitu, lupa.

(Candi Ijo terletak di Dukuh Groyokan, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Candi ini berada lereng barat sebuah bukit yang masih merupakan bagian perbukitan Batur Agung, kira-kira sekitar 4 kilometer arah tenggara Candi Ratu Boko. Posisinya berada pada lereng bukit dengan ketinggian rata-rata 425 meter di atas permukaan laut.) -Wikipedia.

Ketika sampai dilokasi, tepat di tempat parkir dekat candi ijo, ada hal yg sangat disayangkan jika dilewatkan, yaitu Lereng ijo. Sumpah, tempat itu keren abis, apalagi jika pergi ke sana disore hari, maka akan terlihat sunset yg sangat bagus (katanya), kalau tidak sedang ujan. coba deh ke sana.

Aku di lereng ijo cukup lama, memandangi pemandangan hijaunya alam, ah keren emang, Jogja. By the way, foto-foto di lereng ijo jangan dilewatkan deh pokoknya, apalagi kalo yg punya instagram, pasti insta story-nya udah penuh deh.

Dengan foto layar gelap yg bertuliskan, "Gilaaaa.. pemandangannya keren banget! suka deh di sini."

Kalo pengen lihat pemandangan kerennya, aku punya satu-dua fotonya, oke bentar, ini nih;

Lereng ijo (Lokasi yg menjanjikan untuk mengenang masa lalu) #jangandiseriusin #LemesinAjaDulu

Entah sebuah kebetulan atau apapun itu, aku ketemu 'Nam', perempuan yg dulu pernah main film bareng, film yg judulnya Crazy Little Thing Called Love. Lihat foto di bawah ini, lokasinya sama, dan aku yg fotoin dia;

Sabtu, 08 April 2017

Malam Suram

Jogja sebelumnya: "BRUUUUKK!!"

#PART3

"Bang, bangun bang!" Terdengar  suara berbisik dari telinga kanan.

Jujur saja, hal yg paling menjengkelkan di dunia adalah saat tidur pulas, tiba-tiba ada yg mengganggu. Tidur saat kelelahan adalah hal yg paling didambakan setiap orang, khususnya bagiku, tentu, apalagi kalo tidurnya itu tidak dibumbui dengan mimpi buruk, kayak mimpi basah misalnya, maksudnya mimpi kesiram air panas, kan serem.

"mmmmh", aku  menggumam kecil ketika mendengar suara tadi.

"WOOYY BANGUN!! HAHA." Teriakan kencang ditelingaku yg membuat aku langsung bangun karena kaget, ternyata si kampret Fendi sudah datang. Fendi, temen satu kerjaanku yg katanya sedang cuti ternyata menyusul menggunakan motor dari Tegal ke Jogja. Gila memang, jauh-jauh ke jogja pake motor.

Harusnya pake skateboard.

"hhh, si anjir!" aku dengan sedikit kesal.

Aku bangun, mengusap-usap muka dengan kedua tangan. Setelah melihat jam di dinding, ternyata aku sudah tertidur selama 3 jam. Dan Fendi sudah datang dua jam yg lalu. Tidur yg cukup lama untuk mimpi buruk itu benar-benar datang.

Akhir-akhir ini, aku sangat takut sekali tertidur lama, sering sekali bermimpi buruk selama sebulan terkahir. Aku takut. Mimpi-mimpi yg terkadang terhubung dengan kenyataan yg aku alami. Ah, brengsek sekali.

Ah, lebay sekali. Fvck!

Sekitar jam setengah 10 malam, badanku merasa gerah, padahal udara Jogja malam itu cukup dingin. Mungkin karena telah melakukan perjalanan jauh, badan lengket karna keringat dan debu-debu, yg harus segera dibersihkan. 'Mandi atuh coy!'

Akupun meminta izin ke Faqih untuk mandi, karna rumah kakek Wartopawiro atau rumah faqih yg kami inapi itu cukup besar, aku sama sekali tidak tau lokasi kamar mandinya berada disebelah mana, terdapat ruang-ruang dan pintu di rumah itu, bahkan jika dibandingkan dengan kontrakanku yg di Bekasi, saat pertama kali membuka pintu, maka dapur sudah terlihat. Ya iyalah!

Rumah kakek wartopawiro ini lumayan jauh dari jalan raya, sekitar 30 menitan dari Tugu Jogja untuk sampai, dan memasuki jalanan kecil. Bahkan pada saat itu suasana malam sangat sepi dan juga tepat pada malam jum'at.

"ian, lu inget cerita gue tentang orang kesurupan yg gak bisa diangkat sama sekali gak?" Tanya Fendi kepadaku, yg entah kenapa si kampret yg satu ini malah cerita mistis disaat aku hendak mandi.

"iya tau, kenapa emang?" jawabku.

sambil melihat kiri-kanan, Fendi berbicara pelan di ruang tamu yg cukup besar dan hanya ada kami bertiga, "itu kan lokasinya kayak gini; sepi, malam jum'at dan kejadiannya katanya di jogja!"

"berisik! kamprreet!! gue mau mandi", teriakku kepada mereka, yg pasti teriakan tersebut tidak sampai membangunkan orang serumah, apalagi se-kota Jogja.

Aku melangkah pergi menyusuri ruang-ruang rumah yg cukup besar dengan diantar Faqih, untuk pergi ke kamar mandi. Mungkin saat itu orang-orang di rumah sudah tertidur, hanya kami bertiga yg masih terjaga.

ketika sudah sampai di kamar mandi, ternyata lokasinya dipaling pojok belakang rumah, dan di sana ada gayung, sabun, juga tentunya air yg mengalir kecil dari sebuah kran dan juga lubang besar yg bisa langsung terlihat langit jogja yg sepertinya sedang mendung, tapi tidak hujan. Suram. Sangat disayangkan memang, rumah yg besar tapi masih terdapat kamar mandi dibelakang rumah dengan atap terbuka. Sangat tidak cocok bagi aku yg pemberani ini harus kesana tengah malam hari.

5 menit berlalu, aku kembali ke tempat sebelumnya kami berkumpul, yaitu ruang tamu.

"Kok bentar?" tanya Fendi sambil tersenyum brengsek.

"Ah jangan lama-lama, nanti airnya abis" jawabku dengan santai.

"HAHAHAHA..!" Mereka berdua tertawa jahat, seolah-olah sudah mengetahui jika cerita tadi berhasil membuatku takut. Padahal tidak begitu juga. Sudah dijelaskan kalau 'airnya takut abis'. Semoga pembaca blog ini lebih percaya padaku. Aamiin.

Kami banyak cerita, atau lebih tepatnya aku banyak bertanya tentang bagaimana kehidupan di Jogja, Karna selama yg aku tau (yaitu sekitar baru 9 jam di Jogja) bahwa jogja itu asyik, tenang, dan tempat paling pas untuk menenangkan diri, ya dibanding Jakarta, maka Jogja lebih baik, bukan membeda-bedakan, tapi ini kenyataan.

Satu jam lebih itu kami habiskan dengan mengobrol, sampai orang yg bicara kesurupan tadi memilih untuk duluan pamit tidur. Ah, enyahlah kau!

Setelah Fendi tertidur, aku selalu mendoakan semoga ia tidur dengan  mimpi buruk (sebagai balasan karna telah menakut-nakuti).

Aku dan Faqih masih mengobrol sambil bermain Winning Eleven yg ada di laptop milik Faqih, aku memainkan klub Real Madrid dan Faqih klub Barcelona. Disela-sela bermain Playstation, aku bertanya ke Faqih,

"qih, cewek-cewek jogja  gimana?"

"oh, ada rambutnya, kebanyakan  panjang." jawabnya.

"Si anjir!!" Balas aku dengan kesal, yg tiba-tiba gawang klub yg kumainkan langsung kebobolan.

"Goooll!" teriaknya pelan.

"Kalo boleh jujur, cewek jogja ngeselin sih, bang." Tangan masih memegang stik Ps ketika dia bicara, "mereka suka ninggalin cowoknya gitu aja, nikah sama orang lain" Lanjutnya.

Mendengarnya curhat sambil bermain ps, seketika aku meliriknya sambil mengernyitkan dahi sambil berkata, "Ini lo lagi curhat? dih!"

"Hahhaha!"

Setelah panjang lebar membicarakan perempuan, ternyata temen baruku ini sedang patah hati. Jadi tidak benar jika semua perempuan di Jogja itu ngeselin seperti yg diceritain Faqih tadi kok. Kecuali yg bagian 'rambut panjang'. Maafkan dia wahai warga Jogja.

***

Heran saja dengan akhir-akhir ini, begitu banyak orang patah hati di sekitarku, orang-orang banyak bercerita tentang patah hatinya. Dan yg pasti, aku gak mau kisah-kisah mereka menular kepadaku. Gak mau patah hati. Aku pikir sudah cukup, patah hati tidak harus terus menerus. Atau juga, jangan terlarut-larut menikmati patah hati, nanti malah gak mau ngerasain jatuh cinta lagi, efek sampingnya malah kayak yg dibicarakan seorang kakek tua yg banyak bercertia denganku selama di perjalanan dari jakatara menuju Jogja kemarin pagi itu,

"Jangan sampe kena zona nyaman, nyaman pas sendirian", bicaranya pelan, yg entah beliau sedang membicatakan apa saat itu.

Sekarang aku mengerti kenapa jangan sampai kena zona nyaman tersebut, nyaman pas sendirian memanglah berbahaya. Kita malah fokus ke diri sendiri, sampai lupa bahwa kita juga perlu orang lain disamping kita.

Kalau ngomongin patah hati, aku akan selalu inget lirik lagu ini;

yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Banda Neira - Yg Patah tumbuh yg Hilang Berganti.

***
Aku mencoba memahami kata-kata faqih, ia tidak lagi tertawa, dan dia bercerita. Aku mendengarkan. Kata-kata yg keluar dari mulutnya sedikit ragu, mungkin dia tidak tau harus curhat ke siapa. Ke orang terdekat, pasti malahakan menjadi aib. Dan mungkin bercerita kepada orang yg akan sebentar tinggal di Jogja adalah yg pas, yaitu padaku. Karna hanya sebentar dan akan terlupakan setelah balik ke Jakarta.

"kok bisa, kenapa emang?" tanyaku.

Faqih, lelaki tangguh, sering memakai jaket tebal, mempunyai motor supra yg sempat membawa jatuh penumpangnya dan sebagai guide tour yg baik, aku pasti mendengarkannya. Dengan sedikit ragu untuk membicarakannya, sampai akhirnya aku bujuk untuk menceritakan detailnya.

Sambil mendengarkan ia berbicara, aku menutup winning eleven yg kami mainkan tadi, dengan  skor 2-1 dan aku kalah, lalu akupun membuka blog miliku sendiri di laptopnya, "Nih, lu cerita aja di sini, tulis."

Karna waktu sudah larut malam, aku sudah tidak sanggup mendengar kisah tragis si Faqih, aku membiarkan dia menulis semaunya di blogku, dan aku sendiri lebih memilih untuk tidur, bersiap untuk besok pagi melakukan perjalanan keliling Jogja.

Sebelum tidur panjang, aku cuma berdo'a, semoga tidak mimpi buruk, semoga besok tidak hujan dan semoga blogku gak dibajak sembarangan. Aamiin.

Kalau pengen tau cerita si Faqih, tunggu postinganku selanjutnya yah :)

Btw, dapet bonus foto kami nih.

Fendi, Faqih dan siapa yah? lupa.
(maaf wajah kami penuh rahasia.)

Bersambung... PART 4

Selasa, 04 April 2017

"BRUUUUKK!!!"

Jogja sebelumnya: Berjalan Lebih Jauh

#PART2

Kereta Gajahwong melaju pelan mendekati stasiun jogja, beberapa orang bersiap-siap untuk turun. Ada yg saling membangunkan orang di sampingnya, ada yg memegang tas besarnya dan ada yg menggendong anaknya yg tertidur pulas. Atau entahlah anak siapa yg dibawanya.

Anaconda?

Ketika kereta mulai berhenti, kebetulan aku yg paling dekat dengan pintu keluar, maka bisa terlebih dulu turun dan tidak menunggu lama seperti orang-orang lain.  Aku juga membangunkan seorang perempuan yg duduk di bangku sebelah, ia terkejut, matanya melotot, dan tergesa-gesa mengambil tasnya sambil berkata,

"Yaelah mas, napa gak dibangunin dari tadi..!"

"....." Aku kesel. Sumpah!

Ingin rasanya bisa hipnotis itu orang, "Dalam hitungan  ke 3, anda akan memasuki alam bawah sadar. 3... tidur."

MAMPUS LOH, ENYAHLAH SAMPAI STASIUN BERIKUTNYA!!

***
Mulai keluar dari gerbong, yg aku lakukan adalah langsung menuju wc umum, menunggu orang lain keluar-masuk kamar mandi, menunggu giliranku yg sudah merasakan sesuatu diujung sana yg ingin segera di keluaran. Muka kucel yg terlihat ketika aku berkaca seolah-olah menandakan bahwa aku mulai lelah, padahal selama perjalanan tidak melakukan kegitan berat apapun, kecuali melihat-lihat keluar jendela, mendengarkan lagu Banda Neira, memikirkannya dan berbicara dengan seorang kakek tua.

Keluar dari wc tersebut, aku harus duduk-duduk sedikit lebih lama di bangku tunggu karena menunggu jemputan dari teman yg bahkan belum pernah bertemu sama sekali, kami baru berkomunikasi hari itu. Dia adalah Faqih, seseorang laki-laki yg kukenal dari salah satu teman kerja di Bekasi. Ya! itung-itung jadi guide tour-ku selama di jogja. Hehe.

Setengah jam aku menunggu, tidak cukup membosankan, sesekali aku bermain game, foto-foto sekitar stasiun, ber-live facebook yg kemudian langsung dihapus dan melakukan hal-hal yg konyol lainnya, seperti selfie di depan orang banyak dan menonton kartun Larva di youtube dari HP yg batrenya sudah hampir 20 persen. Memberi tanda jika aku harus segera pergi mencari colokan.

Ah, ay lop yu colokan.. Wherever you are.

Jam setengah 4 sore, Faqih menjemputku dengan motor merahnya. Ketika ada notif sms masuk yg ternyata dari Faqih, aku langsung berdiri dari bangku tunggu dan berjalan ke luar, kearah jalan raya. Ketika mulai memasuki area parkir, aku sedikit merasa risih karena banyak orang yg minta foto, minta tanda tangan, ngajak selfie bareng, minta dinikahi dan saling berebut menawarkan naik ojek, becak dan taksi-taksi yg sudah menunggu untuk mendapat penumpang. Persaingan yg lucu. Sekaligus ngeselin.

Yuk mas, jalan. hehe. (sumber)

"Aku tunggu di luar, dekat yg banyak becak-becak, bawa buntelan helm merah nih." sebuah  pesa kukirim ke nomornya. Ya, aku jauh-jauh ke jogja membawa helm yg bertuliskan Gladiator disamping kirinya. Seram  sangat memang. Ah, gak deh.

Tidak lama kemudian faqih membalas sms yg kukirim tersebut, "Ok, tunggu di situ, Aku bentar lagi nyampe." Balasnya dengan cepat.

Lima menit kemudian, ia sampai, aku langsung tahu kalau yg datang adalah faqih, karena dia melambaikan tangan kirinya sambil laju motornya yg mulai pelan sambil tersenyum dan berkata,

"Hai bang, ian yah?" Tanyanya ketika berhenti.

"iya, Faqih ya?" Yg aku jawab sambil tanya balik kepadanya. Dan tentu tidak sambil menendang pantatnya, karena dia orang satu-satunya yg pertama aku kenal di Jogja. Orang yg akan aku jadikan sebagai pemandu wisata, orang yg bisa memberikan tempat beristirahat sementara dan tentunya bisa memberi makan gratis.

...Tidak lama setelah itu, kami jadian.

YA KAGAK LAH!!

Sedikit tentang Faqih, dia orangnya asyik diajak ngobrol, sangat beruntung sekali aku bisa mendapatkan teman di tempat baru, suasana baru dan hal-hal yg baru. Di Jogja.

***

Aku mulai meninggalkan stasiun kereta bersama faqih, menikmati udara sore di jogja yg kebetulan saat itu sedang bersahabat, tidak hujan, tidak panas, sedikit mendung dan adem ayem. Jogja tidak terlalu ramai, sangat tenang menurutku yg baru pertama kali menginjakan kaki di kota yg katanya sangat istimewa itu.

"Faqih, lo udah lama tinggal di sini (jogja)?" tanyaku saat dia masih memegang stang motor bebeknya.

"Lumayan bang, aku hampir 5 tahun di sini." jawabnya.

"lah, aslinya emang dari mana?"

"Ibu asli tegal, dan ayah asli jogja, dari kecil tinggal di tegal, cuma sekarang lagi kuliah di sini, hehe." jawabnya lagi sambil mencoba fokus mengendarai motor.

Kami cukup banyak berbicara saat dalam perjalanan itu, mencoba mengakrabkan masing-masing, seolah-olah kami mencoba menjadi teman yg sudah lama tidak saling bertemu.

Aku sangat bersyukur, disaat ingin pergi jauh ke tempat yg bahkan tidak ada saudara satupun sama sekali, diwaktu yg tepat bisa mendapatkan teman baru di Jogja.

"Faqih, emang lo ngambil jurusan apa kuliahnya?" Gue mencoba mencoba melanjutkan pertanyaan kepadanya.

"Aku ngambil Akunt..."

...BRUUUUUUKK!!!

Sebelum faqih melanjutkan bicaranya, tiba-tiba mobil dari sebelah kami menyerempet dan membuat motor yg kami kendarai terjatuh ke arah kiri jalan, Faqih tersungkur ke arah depan, akupun demikian. Bermain dengan aspal jalanan jogja di sore hari.

Sebelum orang di dalam mobil tersebut keluar, Faqih berbicara sesuatu yg pelan kepadaku, "Udah, diem dulu, jangan ngaku salah."Aku cuma bengong dan melihat-lihat darah di tanganku sendiri

Seorang bapak-bapak sekitar umur 40-tahunan keluar dari samping kanan pintu mobil, "Gak apa-apa mas, mas?" tanyanya yg mungkin dia kaget juga melihat darah di tanganku. Sungguh pertanyaan yg mengesalkan, sudah tau berdarah masih ditanya 'gak apa-apa?'.

"GAK APA-APA MATA LU SOEK, BERDARAH NEEH.. AHELAH.."

Faqih sedikit berdebat dengan orang yg menyerempet kami tadi. Sebenarnya kami emang salah juga, kami akan menyalip dari arah kiri yg seharusnya dari kanan, dimana yg kebetulan mobil tersebut akan belok kiri.

Tidak ada cara lain kecuali berdamai, saling berjabat tangan. Dan aku kesal. Karena yg paling dirugikan. heuh!

Melihat luka di tangan, aku masih tidak merasakan apapun, orang-orang disekitar melihat kami yg masih berdiam diri di tengah jalan, khusunya aku yg masih terdapat darah di tangan.

Entah kenapa, aku biasa saja saat tangan sedang terluka, Faqih malah banyak meminta maaf kepadaku. Mencoba tetap tenang, aku malah tersenyum  melihat lukaku sendiri, rasanya itu belum seberapa dibanding luka-luka lain yg tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Aku  yakin itu akan cepat sembuh dengan sendirinya.

"Ah, cuma lecet.. besok pasti sembuh." Pikirku.

Setelah kejadian tersebut kami melanjutkan perjalanan pulang ke tempat tinggal faqih. Sambil laju motor yg sedikit pelan, faqih mungkin merasa tidak enak dengan kejadian tadi.

"Bang, nanti beli plester dulu yah di minimarket." Bicaranya kepadaku.

"Ah gausah lah.." jawabku karena merasa biasa saja, tidak sakit sama sekali dan lukanya tidak terlalu parah.

Cuma menghasilkan darah segayung.

Luka pertama di kota yg paling istimewa.Aku tersenyum. Dan isi kepalaku berbicara; "Ini baru namanya senyum membawa luka."

Ah, apakah Jogja tidak menerima kehadiran ku? Gak mungkin!

BGST!

***
Alasanku pergi ke Jogja adalah hal yg sederhana, aku sedang menikmati proses mendewasakan diri, proses yg biasa di bicarakan orang-orang tentang "Cara menenangkan pikiran."

Jika melihat beberapa minggu kebelakang, aku memang butuh liburan, butuh suasana baru dan butuh sendirian.

Sebut saja; A-N-J-A-Y. Anjaaay..

***

Sekitar 20 menit diperjalanan menuju rumah faqih, atau lebih tepatnya rumah kakek Wartopawiro, yg tidak lain tidak bukan adalah kakek dari Faqih sendiri. Aku mengetahui nama beliau setelah menanyakannya kepada Faqih dan tentu semakin jelas ketika masuk terdapat satu papan nama besar yg bertuliskan namanya. Kakek Wartopawiro sudah tua, dan masih sehat di usianya yg sudah renta, juga masih bersama istrinya. Ah, mereka menua bersama. Romantis. Apa jangan-jangan mereka ini Rangga dan Cinta? Pikirkan sendiri!


"Keluarga baru!" Pikir kepalaku.

Faqih izin keluar untuk menjemput salah satu temannya, yg ternyata ia temanku juga, nekat jauh-jauh dari Tegal membawa motor ke Jogja. Aku rebahan, mencoba mengistirahatkan badan, meregangkan pinggang, menggoyangkan leher ke arah kiri dan kanan  dan sedikit miring ke atas sampai terdengar suara, "Kretek!!". Ah, nikmat.

Sambil menunggu Faqih dan temanku datang, saat itulah mataku bisa terpejam, terlelap, dan dalam hitungan ketiga akan memasuki alam bawah sadar...

BOOM!!!

Mimpi buruk itupun datang kembali.

Bersambung... PART 3

Minggu, 02 April 2017

Jogja - Berjalan Lebih Jauh

#PART1

Aku menekan tombol power, membuka pola kunci di layar hp lalu menekan icon berbentuk kotak musik; play, pasang earphone di telinga dan lagu "rindu" dari Banda Neira terdengar jelas membuat tenang perjalanan di kereta Gajahwong dari Stasiun Pasar Senen menuju Jogja.

Berangkat sekitar jam 06.45 WIB, pagi hari. Duduk di bangku nomor 21-C kereta ekonomi,  membuat aku tidak nyaman saat harus berhadap-hadapan dengan orang lain, dan lebih memilih terus mendengarkan earphone di telinga, sambil memejamkan mata, tanpa tertidur. Jujur, saat itu aku hanya ingin sendirian, tanpa gangguan, tanpa perbincangan dan apapun itu yg membuat aku harus membuka sebuah kalimat basa-basi untuk saling bertukar cerita bersama  penumpang lain.

Tiga menit berlangsung, lagu 'Rindu' sudah hampir habis, kereta mulai melaju pelan, menyusuri rel-rel sepanjang pulau jawa, meninggalkan Stasiun Pasar Senen. Seketika aku membuka mata sekedar untuk melihat keluar jendela, melihat orang-orang yg tergesa-gesa, ada membawa tas besar, membawa kardus mie yg entah isi di dalamnya apa. Atau juga sekelompok orang-orang yg hendak liburan.

Setelah melihat orang belarian di luar dari dalam gerbong 2 kereta gajahwong, aku sedikit mengucap pelan sambil tersenyum, "Selamat tinggal Jakarta :)" Ah, lebay sekali pokoknya, mirip kayak orang lagi patah hati.

"Buat kamu yg lagi patah hati, jangan lama-lama patah hati. Boleh aja sih patah hati, asal jangan patah semangat sama patah tulang aja. Gitu."

Aku menutup tirai, cahaya sinar matahari sedikit menyilaukan saat itu, tidak lama kemudian, seorang kakek tua membuka perbincangan,

"Mau ke mana, mas?"

"Ke bulan, pa." jawabku dengan asal yg kemudian dilanjutkan, "ke jogja pak, hehe.."

"yah! mas, padahal saya mau ke bulan, tadinya kirain mau ke sana juga, haha" Sambung kakek tua tersebut, yg tidak saya kira beliau adalah orang yg sangat humoris. Aku tertawa mendengarnya, bukan karena terdengar lucu, tapi karena ketika beliau berbicara, giginya terlihat ompong. Tawaku hampir mirip ketika pertama kali melihat gambar Harimau Cisewu.

Sangat tidak biasa memang untuk perbincangan pertama kali dengan orang baru seperti itu. Tapi kali ini, aku kira berhadapan langsung dengan orang yg tepat. Menyenangkan.

Kami sedikit lebih lama berbicara hal-hal yg bisa membuang kebosanan selama perjalanan. Bahkan, kakek tua tersebut malah lebih banyak bercerita dibandingkan dengan aku yg malah lebih banyak mendengarkan.

Usia beliau ini sudah cukup tua, aku juga heran dia masih  kuat-kuat aja menempuh perjalanan jauh, beliau malah sering bolak-balik Jakarta-Jogja, katanya. Tapi, setelah banyak mendengar cerita beliau, aku jadi tau alasan  dibalik tubuhnya yg masih sehat-sehat saja. Beliau ini dulunya sering olahraga, sampai sekarang juga masih. Beliau ini guru olahraga, bahkan  katanya, "Saya, dalam seminggu sekali harus jalan minimal 5 kilo, jalan  kaki itu mas, gak naik gojek, anak-anak jaman sekarang kan katanya suka naik kayak gitu".

Ada satu kalimat yg aku ingat ketika  ia bercerita, beliau sempat berkata seperti ini;

Jangan sampe kena zona nyaman, nyaman yg pas sendirian - Kakek tua, 30 Maret 2017. Menuju jogja.

Hahaha~

Karena terlalu asyik bercerita, waktu yg kami lalui ternyata sudah hampir satu jam lebih. Kakek tua yg bahkan kamipun tidak mengetahui nama masing-masing tersebut terlihat mengantuk, yg kemudian ia mengucapkan beberapa kalimat pamit tidur. Aku tersenyum. Melihat gigi ompongnya, lagi. Terkadang ada saat beliau bercerita tentang masalah politik di negeri ini, kepalaku malah jadi berat, pusing.

Aku kira, perjalanan yg kurang-lebih sekitar 8 jam ini akan sangat membosankan, tapi ternyata tidak juga.

Kursi  penumpang kereta ekonomi itu saling berhadap-hadapan, masing-masing bisa diisi oleh dua orang. Sebelah kakek tadi adalah anak muda juga yg lebih memlilih tidur dari awal perjalanan, dan sebelahku seorang  perempuan seumuran yg terlihat lelah dari kantung matanya, ia tidak membuka perbincangan dari mulutnya, hanya tersenyum ketika kami saling bertatapan. Tidak lama kemudian, ia tertidur juga.

Setelah ia tertidur, sesekali aku melihatnya, ia terlelap. Yg tidak lama aku membuat puisi di buku yg sedang kupegang;

Dari balik kaca kereta
Banda Neira
Sawah dan padi yg kuning
juga sedang tidak hujan,

Perempuan yg tidak kukenal,
Namanya ataupun berasal dari mana.

Ia sedang tidur
Gak ngorok, tapi mangap
Kemungkinan ia sedang bermimpi,

Hey! jangan terlalu lama tertidur
Hati-hati, mimpipun bisa menjadi buruk.

Ah, padi yg kuning,
Ah, iler di samping,
Ah, ia terbangun,
Kemudian Hening.

Setelah orang-orang di sekitarku tertidur, ingin sekali rasanya seperti mereka, mereka bisa tidur dengan cepat. Aku tidak bisa seperti itu, mencoba pejamkan mata, memutar kembali lagu-lagu dari Banda Neira, tapi yg ada malah memikirkan seseorang yg harusnya aku lupakan, yg seharunya direlakan.

Ah, jangan merem, jangan tidur, ian! Mimpi buruk.

***

Sekitar jam 12 siang, tengah hari, rasa bosan karna terlalu lama duduk semakin menjadi-jadi, pantat terasa menjadi terbelah menjadi dua bagian.

Aku mencoba berdiri, kebetulan tidak jauh dari tempat duduk, ada wc untuk sekedar buang air kecil, aku ke sana, cuci muka (tadinya mau cuci gudang), ngaca, dan terlihat seperti orang kelelahan. Ternyata mata panda orang di sebelahku tadi bisa nular juga.

Setelah keluar dari kamar kecil tersebut, aku tidak langsung kembali ke tempat duduk, beralih ke gerbong sebelah, yg ternyata di sana bisa dibilang warung, kantin, atau warteg, yg menjual seadanya; Nasi goreng dan pecel ayam. Tidak tanggung-tanggung, satu porsinya Rp 30.000-, tanpa berpikir panjang karena kelaparan, aku membelinya.

Aku pikir, pemandangan indah diluar jendela cuma bisa dinikmatin dari tempat asalku duduk tadi, tapi ternyata, dari tempat aku makan itu bisa lebih jelas, lebih indah dan lebih nikmat. Karna sambil makan. Juga minum. Juga mikirin seseorang. Ah, sialan kau! Ada di mana-mana.
atau cek video di instagram: https://www.instagram.com/p/BSXSGEZBuVj/

Kebanyakan orang-orang lebih memilih tidur daripada melihat pemandangan luar dari dalam kereta, atau bahkan lebih banyak yg berangkat malam hari jika menuju tempat yg jauh. Bagiku, perjalanan pagi atau siang hari lebih menyenangkan. Bukan karena apa-apa, aku cuma kadang tidak bisa tidur saat  perjalanan, kemanapun itu. Juga  karena jika tertidur, takut tidurnya kelamaan, takut bermimpi, tidur lama takut mimpi yg enggak-enggak, terkadang juga jika tidur kelamaan terus bermimpi, mimpi indahpun bisa menjadi buruk. Kacau. Apalagi belum bisa menguasai Lucid  Dream. Makin kacau. Haha.

***

Sekitar jam 3 sore, Kereta Gajahwong mulai melaju pelan menuju stasiun terakhir perjalananku, Jogja.

And hi! Jogja, I'm here...


Bersambung...  PART 2

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND