Personal Blog

Jumat, 15 Desember 2017

Sebuah Catatan Facebook - Teman Lama

Tulisan ini pertama kali saya tulis dalam Catatan Facebook beberapa waktu lalu. Sebuah catatan yg ditulis ketika saking tidak sadarnya sudah main facebook lama, 3 jam! scroll-scroll tidak jelas, sampai akhirnya saya sadar beberapa hal. Ya, beginilah jadinya.


Teman Lama
Begitu banyak teman yg sudah hampir saya lupakan karena begitu cepatnya waktu berlalu, diantaranya mungkin hanya bisa dikenali wajahnya, sebagian namanya sudah samar-samar teringat. Terkadang, ketika bertemu dengan seseorang teman di suatu waktu, kemudian sama sekali tidak ingat namanya, itu merupakan hal yg sedikit memalukan. Tapi, ya, mau gimana lagi (?)

Kebanyakan teman yg sempat bertemu di dunia nyata, berteman  di facebook, teman sekampung, teman masa sekolah SD, SMP sampai SMA, mereka-mereka diantaranya masih hilir mudik di linimasa facebook, dan beberapa lainnya mungkin sudah memiliki kehidupan yg  berbeda, dan sudah tidak sempat bermain dengan dunia maya, ataupun  ketika mendengar kata 'facebook' mereka hanya akan berkata; "Buat apa?", kalau sudah mendapat yg di inginkan.

Saya sendiri sesekali membuka facebook, tapi sangat enggan untuk update status. Alasan satu-satunya yg saya suka dari facebook, ialah karena fitur “On This Day”, salah satu fitur yg di mana mengembalikan memori-memori  masa lalu, kenangan-kenangan manis, kenangan brengsek, dan mungkin beberapa kenangan yg tidak terlalu penting lainnya dari satu fitur bernamakan “Status di masa lalu” itu. Ya, bodoh memang ketika masih ‘melihat ke belakang’, tapi, bukankah itu baik untuk sekedar instropeksi diri? Asal jangan kebablasan saja, sih, baper, misalnya.

Beberapa kali juga, saya sempat menon-aktifkan akun facebook, dan tidak lama kemudian sangat 'gatal' begitu ingin mengaktifkannya kembali, saya berpikiran  bahwa facebook-an hanya buang-buang waktu, melihat orang-orang dengan kehidupannya yg semakin baik, upload dengan mobil baru, ada sebagian yg sedang berkeluh kesah, sedang gundah-gulana hatinya, teman yg sudah menikah, mantan yg sudah punya anak, dan berbagai macam kegiatan lain  yg mereka-mereka publikasikan. Lantas, “Kenapa  saya begini-begini saja?” Pemikiran seperti itu terkadang muncul begitu saja ketika melihat aktivitas teman-teman yg sudah lebih dulu sukses dari saya, tanpa melihat betapa jatuh bangun sebelumnya. Ya, rasa syirik memang terkadang selalu muncul di diri manusia. Salah satunya di diri saya yg kurang memperdulikan  rasa syukur.

Beberapa waktu yg lalu, ketika saya mengaktifkan lagi akun facebook milik saya, ada satu pesan dari salah satu teman lama, “kemana aja nih?” dan  berlanjut ke percakapan-percakapan lainnya. Mengenang masa-masa ketika masih sering main bersama memang menyenangkan. Waktu yg lama namun terasa singkat ketika di ingat, cukup untuk menciptakan sebuah kenangan yg akan di ingat kemudian hari. Seperti masa kini yg mengenang masa lalu.

Sebenarnya, bukan sudah bosan bercengkrama bersama teman-teman di sosial media yg katanya ‘saling berteman’ ini, hanya saja saya selalu berpikiran bahwa facebook saat ini hanya berisi orang-orang yg nyari untung, bukan nyari teman lagi.

Bahkan, seperti yg sudah-sudah, yg selalu membuat saya kesal ketika kembali membuka akun dan saling berhubungan dengan teman lama, biasanya mereka, kalau bukan menawarkan asuransi, MLM, atau yg lebih parah meminjam uang lalu sampai beberapa tahun lamanya tidak kunjung dibayar. Tidak ada kabar sama sekali, menghilang tanpa jejak seperti masuk ke lubang hitam yg entah berada di galaksi mana. Sampai pikiran-pikiran tidak waras lainnya mucul.

Tapi ternyata, dugaan saya memang berlebihan, saya lupa kalau masih ada teman baik di dunia maya ini, tidak semuanya mencari untung semata, sih. Akan tetapi mungkin semua itu memang sudah menjadi kerjaan mereka, mereka yg mencari rejeki dengan caranya masing-masing, cara yg bahkan mereka sendiri tidak suka, tapi harus dijalani karena menuhankan 'Kebutuhan/keinginan',

Mau gimana lagi?

Dan karena kita sudah tidak hidup di masa lalu, kita bukan anak sekolah lagi, kita hidup sebagai orang yg mungkin sudah dewasa, sudah saatnya bijak, tidak usah terlalu berprasangka buruk terhadap sesama. Untuk urusan rejeki, kan  sudah ada yg mengatur, tinggal kita yg mengelola nasibnya saja dengan baik, seperti perkataan salah satu teman saya, "Standar hidup orang berbeda-beda", demikianlah kenyataanya, tidak usah terlalu iri pada kehidupan orang lain, karena pada dasarnya kita menjalani hidup yg sama, hanya caranya saja yg berbeda.

Memang, yg namanya manusia, terkadang kita membenci sesuatu hal yg bahkan belum dijelaskan, dan bisa jadi kebencian terhadapnya itu salah. Jangan sampai~


Sebentar, ini kok sudah ngalor-ngidul ya tulisannya?!!

Halah, nulis apa ini! cukup sampai sini saja catatannya, kalau panjang-panjang nanti malah dikira struk belanja bulanan anak presiden. Saya hanya berdo’a dan berharap, semoga teman-teman saya dalam keadaan baik dimanapun berada, yg sudah sukses, yg masih berusaha, yg baru sarjana, yg baru menikah, yg sudah punya anak, yg tidak ada kabar, semoga semuanya dalam keadaan baik...

Teman lamaku..

Facebook, Desember 2017

Dian Hendrianto

***
Versi catatan facebook bisa dilihat di sini; Teman Lama

Senin, 11 Desember 2017

Curug Cileat Subang, Perjalanan 5 Kilometer


Ketika tahu ada tempat wisata lain yg dekat dari Bukit Pamoyanan di Subang, saya bersama dua teman saya pergi mengunjungi tempat tersebut tanpa harus basa-basi terlebih dahulu, setelah sebelumnya yg di mana ekspektasi untuk melihat  lautan awan di Bukit Pamoyanan yg ternyata tidak kunjung datang, dan kami berharap semoga ditempat selanjutnya yaitu Curug Cileat, bisa terobati dengan keindahan alam yg konon katanya masih alami.

Curug Cileat ini jaraknya tidak terlalu jauh dari Bukit Pamoyanan, hanya membutuhkan waktu kurang lebih setengah jam perjalanan menggunakan kendaraan  bermotor. Tapi, untuk menuju lokasi curug cileat sendiri jaraknya 5 km dari lokasi parkir, itupun harus jalan kaki, dengan jalanan yg harus hati-hati ketika melangkah, karena jalurnya yg berada di sisi bukit-bukit dan sedikit licin, jalanan setapak, maka diharapkan untuk tetap fokus ketika berjalan selama 5 km, tidak usah terlebih dahulu memikirkan mantan, itu malah menambah beban saja.

Saat pertama kali sampai di tempat parkir motor, kami bertiga, Saya Iwan dan Yudis, tidak beristriahat terlebih dahulu, kami langsung memesan karcis masuk seharga Rp. 10.000 per-orang (Meski tertulis Rp. 5000, entah mungkin dengan tambahan lain). Saat akan berangkat ke curug, kami melewati 2 orang yg sepertinya akan berangkat ke curug juga, tapi mereka masih beristirahat sambil minum kopi dan makan gorengan disebuah warung kecil.

Tiket masuk

“Istirahat dulu, kang..” Seorang ibu-ibu penjaga warung menyapa kami untuk sekedar istirahat dan mungkin agar supaya membeli jualannya. “iya bu, ini nanggung lanjut dulu..” balas saya kepada beliau. “Buru-buru amat atuh,” ibu-ibu itu masih menggoda kami dengan gaya bicaranya yg menandakan bahwa beliau adalah orang Sunda, “ini aja berdua mau ke sana kok..” lanjutnya sambil menunjuk kepada 2 orang yg sedang menikmati hidangan kopi di warung miliknya.

“Iya nanti pulangnya mampir ke sini..”  Yudis membalas sambil kami berjalan  melewati warung. Tidak lupa juga saya permisi kepada dua orang yg sedang menikmati gorengan di warung tersebut, "Duluan kang."

Ketika melewati rumah-rumah warga, kami melewati beberapa orang yg sedang panen ikan dari beberapa kolam. Sambil menyapa, saya sempat bertanya kepada salah satu orang di sana, “Punten kang, di atas ada yg jualan gak yah, warung gitu?”, tanya saya. “Gak ada, Cuma di sini aja adanya.” Balas salah satu orang yg sedang memasukan ikan ke dalam plastik besar berisi air,  yg malah telihat  seperti tabung gas oksigen.

Kemudian, daripada ada yg kurang nikmat setelah sampai di curug tujuan kami nanti, kamipun akhirnya kembali ke warung sebelumnya, membeli beberapa kopi yg sudah jadi dan dibungkus menggunakan plastik kecil agar bisa dibawa ke curug.

Saat berjalan menuju curug, 2 orang yg beristirahat di warung tadi sudah berada di belakang kami, mereka berdua, 2 pria yg tidak kami kenal ternyata yg akan menjadi anggota baru nantinya, seperti Avengers dari komik Marvel, atau Justice League dari DC, kamipun akhirnya bergabung agar supaya perjalanan itu semakin seru. (itung-itung agar ada yg menjadi tukang foto ketika kami ingin foto bertiga).

Ternyata, Curug Cileat ini, sebelum sampai, akan melewati beberapa curug terlebih dahulu, ada 5 curug jika dihitung keseluruhannya, termasuk curug cileat sendiri:

Curug Citorok
Pertama kali kami sampai ke curug yg petama, yaitu curug citorok, ternyata  jaraknya sangat tidak terjangkau, atau hanya bisa dilihat saja, tidak bisa didekati karena jaraknya yg terhalang rumput-rumput liar, susah.

Curug Citorok

Yudis yg sedang nge-Vlog

Jadi, curug citorok ini mungkin hanya sebatas penyegaran, sekedar cuci muka semata dari air yg mengalir kecil. Jadi cocok saja untuk tempat istirahat sejenak setelah perjalanan yg cukup melelahkan. Karena ini curug pertama yg akan dijumpai setelah melakukan perjalanan yg cukup melelahkan karena jalurnya yg terus menanjak.

Curug Cimuncang

Di bawah Curug Cimuncang

Dari jaraknya yg tidak terlalu jauh dari curug pertama, di Curug Cimuncang ini kami bisa berfoto-foto, karena lokasinya mendukung untuk beristirahat dan menikmati curug yg cukup tinggi sekitar 70-80 meter.

Curug Cimuncang Pasir
Untuk yg satu ini, lokasi curugnya berada agak ke dalam, tapi masih bisa diakses dari jalanan yg dilewati. Ada beberapa batu seperti anak tangga, dan saya kira ini lebih bagus dari curug sebelumnya.

Curug Cimuncang Pasir

Setelah dari curug cimuncang pasir, saya melihat tanda penunjuk arah seperti sebelumnya, saya kira tidak akan ada lagi tanda-tanda kehidupan, tapi setelah melihat penunjuk arah yg saya baca, tertulis di sana, ‘Mushola’. Sempat saya pikir bahwa curug selanjutnya bernamakan ‘Curug Mushola’.  Bahkan, ketika saya menyebut papan penunjuk arah itu dengan sebutan “Curug Mushola”, teman-teman saya malah menertawakan saya. Saya bingung, merasa terlalu pintar.

Ternyata benar saja, berjarak tidak terlalu jauh, memakan waktu sekitar 10 menit, sudah terlihat satu gubuk dengan beberapa makanan yg digantung, yg ternyata di sana adalah sebuah warung yg di sebelahnya bisa dibilang mushola dengan berlantaikan kayu. Juga tidak jauh dari tempat tersebut ada kamar mandi kecil atau WC yg cukup nyaman digunakan bagi pengunjung yg datang.

Jika dipikir-pikir lagi, rasa-rasanya kami telah dibodohi oleh orang yg panen ikan sebelumnya yg berkata bahwa tidak ada lagi warung. Hmm.. brengsek memang tukang ikan itu. Kalau memang tidak tahu, harusnya bilang saja tidak tahu, jangan mengada-ngada. “Huh!”

Yg lebih asyik lagi, di sana ada satu rumah kecil yg  dibuat dari bambu dengan ketinggian sekitar 20 meteran. Sebelum menaiki, ada botol dengan lubang kecil bertuliskan “Punten, 2.000 saja”. Menarik. Ya, kami berlimapun akhirnya mencoba menaiki rumah-rumahan tersebut, pemandangan di sana cukup bagus.

Curug Anak Cileat
Ternyata, curug yg satu ini jaraknya berdekatan dengan curug utama, curug cileat, berada disampingnya, hanya saja lokasinya susah diakses, terhalang oleh pepohonan, juga mungkin ketenarannya kalah oleh ‘sang ibu’ sih.

Curug Cileat
Setelah perjalanan dari tempat peristirahatan tadi, kami melanjutkan ke tujuan akhir kami, yaitu curug cileat, untuk sampai ke lokasi kami melewati jalan yg cukup sempit dengan sedikit licin dan melewati pohon-pohon besar, pohon bambu dan jenis-jenis pohon lainnya, tidak bisa saya sebutkan satu-persatu jenis-jenis pohonnya, nanti tulisan ini malah jadi riset tentang pohon.

Menurut yg saya baca dari beberapa sumber di internet, ketinggian curug ini melebihi dari 100 meter, ada yg bilang 150 meter, entahlah berapa ketinggian sebenarnya, saya tidak membawa alat ukur pada saat itu. Tapi yg pasti, curug ini cukup tinggi daripada ukuran tinggi badan saya. Dan entah belum tahu juga kenapa harus dinamakan Curug Cileat, saya lupa menanyakannya kepada orang-orang di sana (Terlalu menikmati keindahan).

Reaksi ketika hampir menginjak ulat bulu

Bukan kami saja yg menikmati curug ini, ada beberapa orang yg datang, kebetulan juga saat kami datang ke sana sedang libur panjang, jadi ada orang-orang yg memang pergi untuk liburan, seperti saya, seperti kami, dan tidak seperti para koruptor~ *Loh ini apa?!

Tapi yg disayangkan adalah, di curug ini, kami tidak leluasa mandi atau berenang karena area curug dipenuhi dengan bebatuan yg cukup tajam, jadi jika kalian mau ke sini, jangan harap bisa loncat dari atas air terjun, jika memaksakan loncat, niscaya kepala kalian pecah. Ok ini agak seram sih.

Saya dan teman-teman menghabiskan waktu sampai jam 2 siang di sana. Sebelum waktu pulang, ternyata ada barang saya yg hilang, bukan hilang sebenarnya, kebetulan kacamata saya dipakai oleh teman saya, Yudis, dan dibawa ke dekat curug, mungkin karena takut rusak atau hilang, dia menaruhnya di atas bebatuan, namun sayang, dia lupa menaruhnya di atas batu yg mana. Sampai saya sendiripun tidak terlalu memikirkannya, mengikhlaskannya. Namun ternyata, ketika saya sampai rumah, saya membuka salah satu video yg sempat saya rekam selama berada di curug, dan ketika Yudis menaruh kacamata di bebatuan, itu terekam di batu mana ia menaruhnya, di bebatuan bawah curug sebelah kanan. Jadi kalau ada yg ke sana setelah membaca tulisan ini, semoga saja menemukan kacamata saya (kalau belum ada orang lain yg menemukan), kacamatanya lumayan bagus, harganya lumayan.

Kacamata itu juga tidak saya beli, melainkan saya menemukannya di atas ATM saat saya hendak menarik uang tunai. Hehe.

***
Kami bergegas membereskan barang-barang, menyusuri jalanan kecil dan kembali ke salah satu gubuk yg sebelumnya kami lewati, tidak gubuk banget sih, namanya  “Paniisan Abah Danu”. Di dekat mushola yg sekaligus tempat beristirahat itu, ketika kami hendak pulang, sudah ada beberapa orang yg datang, beberapa diantara mereka sudah mendirikan tenda, kemungkinan akan camping di sana. Bahkan saya sempat berbicara dengan salah satu pengunjung  lain, pasangan suami istri dan satu anak kecil.



“Tebih curugnya?” Tanya sesorang laki-laki yg sedang mengendong anak kecil tersebut kepada salah satu rekan perjalanan saya, “Heeh.. apa katanya?” rekan kami, yg asli orang jawa kebingungan dengan apa yg ditanyakan seorang lelaki yg sedang menggendong  anak tersebut, saya yg bisa berbicara bahasa Sunda hanya cekikikan saja melihat tingkah teman baru saya itu. Kemudian  orang yg bertanya tersebut mungkin  menyadari kalau  perkataanya tidak dimengerti oleh teman saya, “Oooh.. ‘Jauh gak curugnya’ maksudnya?” kataya diperjelas.

Setelah mengobrol dengan beberapa pengunjung lain, beristirahat dengan cukup, dan ditemani alunan kecapi ‘Abah Danu’, rasa-rasanya sudah waktunya untuk kami pulang, kamipun bergegas membereskan barang-barang bawaan dan membayar  kopi dan mie yg sudah kami pesan sebelumnya. Dan semoga kami bisa lebih sering lagi menjelajah curug-curug atau air terjun di Indonesia.

Satu menit video dari saya: Curug Cileat, Subang.


Salam hangat. Kuy!

@Dianhendrianto

Senin, 04 Desember 2017

Ekspektasi di Bukit Pamoyanan Subang


 Iwan, Yudis dan saya di Bukit Pamoyanan

“Kang, ngecamp yuk?” Sebuah pesan masuk ke Whatsapp pribadi saya, pesan ajakan berlibur yg sangat pas bagi saya yg sedang bosan-bosannya. Pesan itu dikirim oleh Yudis, kebetulan namanya sama dengan peran yg dimainkan oleh Adipati Dolken di film Posesif, tapi sifatnya  tidak seposesif yg diperankan  kang Adipati tersebut. "Di subang" Lanjutnya.

Rencana yg dibuat pada tanggal 18 November 2017 itu dilaksanakan pada awal Desember 2017, ke Bukit Pamoyanan di Subang. Yang ikut berangkat camping kebanyakan  teman kerjanya Yudis, selanjutnya Yudis mengajak saya dan Iwan, teman saya.

Ketika waktu berangkat liburan sudah dekat, sekitar 1 hari lagi, Yudis mengabari saya kembali, “Di sana ada tempat sewa tenda gak? Kalo ada tolong sewa dulu yah, soalnya temen-temen di sini pada gak jadi ngecamp”. DHEG! Saya menjadi bingung sendiri, saya yg tidak tau-menau  tempat-tempat semacam itu,  sewa tenda atau alat-alat Outdoor lainnya. Tapi beruntung, saya memiliki teman yg sering naik gunung, jadi bisa meminta bantuan untuk mencarikan tenda untuk saya bawa esok harinya. Satu masalah selesai. Mari kita lanjut ke masalah lainnya.

Ketika hari keberangkatan tiba, Yudis mengabari saya kembali, “Kalo bisa sama kompor ya!”, So kampretoo.. Saya tidak meng-iya-kannya, karena di tempat jasa sewa tendapun hanya bisa melayani pemesanan maksimal  satu hari  sebelum pemberangkatan, tidak bisa langsung pas hari H.

Dari rumah saya di Harapan Indah, Bekasi, saya berangkat bersama Iwan dengan menggunakan motor  menuju rumah Yudis di Cikarang, lalu kami melanjutkan perjalanan hanya dua motor saja,  tidak dengan perkiraan  sebelumnya, dengan ramai-ramai pergi liburan. Hal seperti ini sudah biasa terjadi, bahkan sayapun pernah membatalkan liburan bersama teman-teman karena kondisi sedang tidak mendukung.

Menempuh perjalanan sekitar 5 jam setengah dari bekasi menuju Bukit Pamoyanan di Subang, itupun  ditambah  dengan nyasar-nyasar terlebih dahulu karena GPS  yg dipakai tidak  akurat, juga bertanya kepada orang-orangpun terkadang tidak tentu benar arahnya. Tapi, menurut saya, justru hal seperti itu yg menjadikan travelling menjadi lebih seru, menemukan tempat-tempat baru.

Sekitar  pukul 17:30 WIB, kami sampai di Bukit Pamoyanan, dengan membayar tiket masuk seharga Rp. 38.000 atau 2 Motor = Rp.20.000, 3 orang = Rp 18.000 (retribusi Desember 2017). Dari tempat penitipan motor, kami harus jalan kaki menaiki anak tangga yg cukup membuat ngos-ngosan jika kamu punya penyakit asma. Tidak sampai satu jam, barulah sampai ke bukit paling atas, tempat di mana kami akan bermalam di atas bukit, dan menyambut kabut tebal seperti yg sempat saya lihat di internet.


Tiket Masuk Bukit Pamoyan

Sesampainya di tempat, kami langsung membuka tas berisikan tenda alloy yg sudah kami sewa. Setelah dibuka dan dilihat-lihat, saya diam sejenak, Yudis dan Iwan diam juga, kebetulan diantara kami sama sekali  belum pernah memasang tenda sebelumnya, bahkan tutorial memasang tenda yg sempat saya lihat di Youtube sebelumnyapun ternyata beda jenisnya dengan yg kami bawa. Akhirnya kami mengamati tenda-tenda yg sudah jadi di sekitar, mengamati siapa tau saja ada yg sama, tapi ternyata berbeda semua. Hmm.. sesuatu banget sob!

Akhirnya, dengan insting seadanya yg kami miliki, tendapun dipasang dengan seadanya saja, seperti apa yg terpikir dari kepala kami bertiga, daripada hanya dilihat dan waktu sudah mulai gelap, kami pasrah dengan keadaan, tinggal berdo’a saja semoga tidak turun hujan dimalam hari. Tapi, seperti diperkirakan sebelumnya, pasti diwaktu malam tidak akan bisa tidur dengan nyenyak seperti tidur-tidur biasanya. Ternyata benar, Yudis dan Iwan tetap di luar menikmati malam, sedangkan saya, di dalam, menggunakan sleepingbag, tidur dengan nyenyak seperti biasa. Dan orang-orang di tenda lain semakin ramai, ada yg bermain gitar sambil bernyanyi, atau melakukan hal-hal sesuka mereka.


Seperti halnya bukit Bintang di Bandung, di Bukit Pamoyanan Subang inipun tidak kalah cantiknya ketika malam hari, lampu-lampu rumah yg ada di bawah bukitpun terlihat memanjakan mata, kami menikamti malam itu dengan sebungkus gorengan, segelas kopi, dan sebatang rokok gudang garam filter bagi mereka yg biasa menikmatinya. “Nikmat Tuhan mana yg kau dustakan, kawan!” Ucap dua teman saya sambil mengeluarkan asap dari dalam mulutnya. Juga ditemani api unggun yg kayunya kami dapat dari bapak-bapak penjual nasi bungkus, “Kalo kayu, di sini harus beli, dek!” ucap seorang nenek-nenek dengan muka sedikit kesal kepada kami karena mendapat kayu dengan secara gratis. Mantap!

Iwan dengan kopi dan rokok gudang garam filternya

Sekitar jam 2 pagi, dari dalam tenda sesekali saya menengok keluar, kabut-kabut mulai terlihat, 2 teman saya masih asyik mengobrol di luar tenda, saya kembali menutup tenda, menunggu sekitar jam 5 pagi yg konon katanya kabut tebal akan terlihat penuh. “Lautan awan” Terdengar bisik-bisik seseorang ditenda sebelah, atau “Cuma bisa tersenyum ketika melihat ciptaan Allah swt... #bukitpamoyanan” dalam salah satu caption instagram ketika saya sedang melihat-lihat gambar di hastag #BukitPamoyanan

Namun, ekspektasi saya bersama teman-teman ternyata tidak sepeti realita yg ada, begitupun dengan orang-orang di tenda sebelah yg berharap sama, kabut tebal tersebut tidak hadir dipagi itu, hanya mendung yg kemudian berlanjut ke cuaca cerah, bahkan matahari terbitpun tidak berhasil diabadikan, kekecewaan  diantara orang-orang muncul, ucapan-ucapan  kesal terdengar dari setiap sudut. Rasanya saya ingin berkata kasar kepada orang-orang yg memasang foto dengan kabut tebalnya di instagram. “Lautan kekesalan.” Kabut tebal dibulan Agustus ternyata berbeda dengan yg ada dibulan Desember, atau mungkin, waktu kami saja yg tidak tepat, mungkin besok kabut tersebut akan datang. Nyatanya, hanya kebetulan yg menentukan.

Karena melihat lautan awan tidak tercapai, sekitar jam 8 pagi kami bergegas membongkar tenda, begitupun orang-orang di sebelah kami, sepertinya mereka cenderung mengikuti.


Sebelum melanjutkan ke lokasi lain di Subang, kami menyempatkan  untuk berfoto-foto terlebih dahulu, merekam video, menikmati udara segar, lalu moyan atau jika dalam Bahasa Indonesia artinya Berjemur. Jadi jika diartikan, Pamoyanan adalah Tempat Berjemur.

Cek video instagramhttps://www.instagram.com/p/BcN_G6nhUdA/?taken-by=dianhendrianto
Klik link jika video tidak bisa diputar: https://www.youtube.com/watch?v=b_Gz0sfczmU&feature=youtu.be

Meski kami tidak berhasil melihat Lautan awan, tapi pemandangan dari atas bukit cukup sedikit mengobati rasa sesal, karena di sana sudah ada beberapa spot untuk berfoto, seperti rumah pohon, perahu pinggir tebing, dan  beberapa spot lainnya, juga tidak jauh dari lokasi ada warung untuk sekedar ngopi-ngopi, dan juga sudah ada WC umum.

Lokasi Bukit Pamoyanan:
Desa Kawungluwuk, Kec. tanjung Siang, Subang, Jawa Barat.

Senin, 23 Oktober 2017

Museum


Kau tahu perihal berjanji? Aku tidak ingin mengecewakan lagi, sebelumnya aku pernah beberapa kali berjanji untuk datang tepat waktu, dan aku malah selalu telat setengah jam, bahkan lebih (biasanya ketika berjanji dengan seorang teman). Saat itu hari jum'at dibulan Oktober, aku berangkat jam sembilan pagi dari rumah menuju stasiun kereta di Bekasi, aku mengejar waktu untuk shalat jum'at di masjid dekat stasiun tujuan terakhir, Kota Tua, Jakarta.

Sesampainya di sana, beruntung karena tidak terlambat, ya meski sedikit kesal karena kereta cukup lama berhenti di Stasiun Manggarai. Aku bergegas menuju pintu  keluar, aku menuju tempat wudhu.. Sebentar! apakah jika menuliskan hal seperti ini akan mengurangi pahalaku? Ah biarlah.

Setelah selesai shalat jum'at, aku mengabari seseorang yg akan menjadi Tour guide-ku nanti, bahwa aku akan menunggu di dekat pintu keluar stasiun. Untung saja saat itu aku membawa satu buku yg dibeli beberapa bulan lalu, buku dari Pidi Baiq; Drunken Mama. Sambil menunggu, aku bersandar di salah satu tiang yg ada di sana, dengan memakai sweater dan masker (Seperti orang-orang korea yg pernah kulihat di Youtube), aku membacanya sambil sesekali tertawa, mungkin jika tidak memakai masker aku sudah dianggap sebagai orang gila oleh orang-orang yg berlalu-lalang di sana, orang-orang yg sok sibuk dengan kehidupannya. Ah, mungkin ini alasan aku menunda membaca buku setelah membelinya pada waktu itu.

Kalau tidak salah, aku menunggunya sekitar setengah jam, tidak menjengkelkan bagiku menunggu selama itu, aku pikir lagi karena pernah beberapa kali membuat orang lain menunggu karenaku, haha, aku brengsek sekali, bukan?

Entah karena sangat menikmati bagian pertama di buku Drunken Mama tersebut atau karena apapun itu, rasanya aku tidak pernah bosan bersandar di tiang tersebut, sampai beberapa saat kemudian, dari arah belakang ada seseorang menyapaku,

"Hai! Baca buku apa?" Tanya seseorang yg sejak tadi aku tunggu.

Aku hanya tersenyum lalu memasukan buku itu ke dalam tas selempang milikku, biar saja tidak ku jawab, biar dia penasaran.

Dia datang bersama dua orang temannya, karena aku sudah biasa membiasakan diri ketika bertemu orang baru, maka temannya aku anggap sebagai temanku juga. Kami melanjutkan memasuki kota tua. Sebelumnya aku mau mengkonfirmasi dulu, bahwa aku sudah beberapa kali bermain ke Kota Tua di Jakarta ini, tapi bodohnya sama sekali belum pernah masuk ke salah satu museum di sana, ha ha. Aku juga bingung kenapa belum pernah masuk sama sekali. Dulu, saat beberapa kali itu, aku pernah bersama beberapa teman yg salah satunya sudah mem-block akun sosial mediaku karena alasan yg sekarang baru kutahu karena wanita yg ia sukai malah menyukaiku (padahal jadian saja tidak). Pergi ke sana pada siang hari, dan yg saat itu kami lakukan hanyalah duduk-duduk di lantai luar, berkeliling, mencari-cari kesenangan yg malah bikin capek, entahlah apa yg sebenarnya dilakukan, kami hanya duduk lalu kemudian berbincang tidak jelas dan memberi beberapa koin receh kepada para pengamen yg memaksa kami untuk mendengarkan mereka bernyanyi dengan lirik yg sedikit menjengkelkan, "(bernyanyi) Seribu saja~ tidak akan membuat miskin~ jangan sombong, Tuan~"

***
Setelah memasuki  area kota tua, kami menyempatkan untuk mencari makan terlebih dahulu, tapi, saat pertama kali bertemu sampai saat makan, kupikir ada yg aneh dengan salah satu orang yg pergi bersama kami, dari pertama bertemu di pintu keluar stasiun, temannya temanku ini diam saja, bahkan saat aku sapa "Hai!" saja malah seperti menghindar, pura-pura melihat HP, padahal aku yakin tidak ada satupun notif yg masuk saat itu. Aku mencoba bertanya, "Itu temen kamu kenapa?", dan dia pun membalas pertanyaanku, "Aku juga gak kenal dia! Dia itu temen dari temennya temenku!", "ha ha"

Aku bingung. Kemudian orang yg kami bicarakan tersebut pamit pergi. Entahlah ke mana.

Setelah kejadian absurd tersebut, kami melanjutkan pergi untuk masuk ke salah satu museum di sana,  Museum Fatahillah,  dan itu pertama kali bagiku. di sana aku merasakan kembali cerita-cerita yg pernah aku dengar dan baca ketika masih sekolah, cerita-cerita tentang sejarah kerajaan di Indonesia, dia menjelaskan setiap benda-benda yg dimuseumkan  di sana, dan disambung dengan perkataan, "Aku ngomong ada yg dengerin gak sih?"

Setelah cukup lama mondar-mandir melihat benda-benda bersejarah itu, kami berjalan ke arah dalam lagi, sampai pada permintaan yg sudah biasa aku dengar dari setiap orang itupun muncul kembali menghampiriku, "Fotoin dong, ehe ehe." Sampai beberapa perkataan-perkataan yg lainnya muncul, "Yg ini gendutan, ganti!"

Aku melanjutkan ke area dalam lagi, melihat ke Penjara Bawah Tanah, kalau kalian pernah ke sana, mungkin yg pernah memasuki tempat yg dulu dijadikan sebagai penjara tersebut,  akan merasa sangat sesak. Bayangkan  saja, dalam sebuah  ruangan kecil, kalian ditumpuk dengan beberapa orang, dengan kaki di ikat bola besi, tanpa lampu, tanpa wifi dan tanpa colokan listrik. Matilah kau!


Akupun mencoba memasuki ke dalam ruangan tersebut, saat aku berdiri di dalam, kepalaku sudah mentok tembok. Kalau tidak salah, katanya Cut Nyak Dien pernah dipenjara di sana, aku tidak kenal beliau, belum pernah bertemu, hanya tahu saja sedikit tentang sejarahnya sewaktu sekolah dan juga sering melihat lukisannya di bilik rumah nenekku di kampung halaman, lukisan tahun '90-an. Ah! mungkin sekarang beliau sudah beristirahat dengan nyaman di tempat peristirahatannya.

Selain Museum Fatahillah, aku juga mengunjungi museum lain, Museum Wayang. Sebenarnya bukan wayang saja yg ada di museum itu, ada boneka-boneka juga, dari beberapa daerah bahkan bonek dari Negara lain: Rusia, Thailand, India dan masih banyak lagi.

Boneka  tampan (Aku sendiri yg menamainya)

Di museum wayang itu, juga banyak anak-anak sekolah SMA yg mungkin sedang mengerjakan tugas sejarah, karena yg kulihat ada dua orang berseragam sekolah sedang duduk berdua di pojokan, mesra sekali. 'Tugas sekolah jaman now'.

Saking menikmati suasana nyaman di museum wayang itu, di lantai atas, sesekali aku tiduran, duduk-duduk sambil memakan roti yg dibawa oleh temanku, yg dimana kulihat kalau roti tersebut seperti diolesi sabun colek. Kalau diberi, ya dimakan saja.

Beberapa saat kemudian, kami dihampiri petugas, "Mohon maaf, jangan tiduran di sini yah, apalagi sambil makan-makan." Ternyata, tanpa sadar, aku sudah tiduran sambil makan di bawah cctv yg menghadap ke arah yg kujadikan sebagai tempat tidur tadi. Aku terciduk, kau tahu, itu memalukan.

**
Sebenarnya aku sudah sejak lama ingin main ke museum-museum di Kota Tua, tapi entah kenapa pada saat-saat itu tidak jadi terus. Tapi, beruntung saja, ada yg mengerti dan mau meladeni ajakanku sekaligus jadi tour guide. Jadi, Terima kasih banyak dan, jangan bosan. Wuahaha.

4.15 pm
Setelah puas di museum-museum Kota Tua, mereka melanjutkan ke tempat lain, ke tempat yg jaraknya tidak terlalu jauh dari kota tua.

*Bonus:
Pose cowok ketika belum siap untuk difoto

*Pesan moral dari tulisan ini; bikin  saja sendiri, aku malas mikir.

Senin, 28 Agustus 2017

Hal Yang Dipikirkan Ketika Berkendara

Setiap kali dalam perjalanan pulang dan mengendarai motor, entah kenapa pikiran gue selalu tidak fokus kalau ada hal yg belum terselesaikan, seperti masalah kerjaan atau pertanyaan-pertanyaan yg belum sempat terjawab. Setelah dipikir-pikir lagi, beberapa tulisan  di blog ini juga 50%-nya adalah hasil dari pemikiran saat mengendarai motor. Bisa gitu ya?

Gue sendiri sebenarnya sangat menghawatirkan hal-hal seperti ini, jalanan-jalanan di Bekasi atau jalan lainnya yg sering gue lewati itu banyak banget mobil-mobil besar, moge, taksi online, penjual tahu gejrot atau semacamnya yg bisa aja kalau gue lagi gak fokus, kemudian kena srempet dari belakang, atau gue malah masuk jalur cepat yg dikhususkan untuk roda empat akibat ketidak-fokusan itu sendiri. Pas masuk, kena tilang, "dua juta rupiah, mas!" Mantap! langsung jatuh miskin.

Seperti beberapa waktu yg lalu, saat gue ketemu temen-temen di salah satu restoran siap saji di sekitar Jakarta. Saat berbincang-bincang dengan temen-temen, pasti bakalan ada aja yg menceritakan banyak hal, tentang kerjaan, kuliah, ngomongin jualan produk terbarunya atau mungkin sekalian ngomongin kisah asmara yg lagi pahit-pahitnya. Ya! namanya juga sama temen, pasti bakalan banyak banget topik hangat yg 'wajib' diomongin, mungkin sampai ada yg nangis gara-gara habis curhat kalau dia di-PHP-in cowok gebetannya setelah beberapa tahun jalan bareng, gak ditembak-tembak, kasihan. Atau mungkin juga sampai diusir gara-gara kelamaan nongkorong tapi beli makanannya sekali doang.

Sampai pada akhirnya basa-basi itu datang kepada gue, dengan beberapa pertanyaan dari temen-temen yg saat itu belum bisa gue jawab. Pertanyaan-pertanyaan yg cerita dasarnya mereka sudah tau, tapi tetap saja masih menimbulkan pertanyaan-pertanyaan tambahan soal kelanjutan cerita kampret yg pernah gue alami.

"Sekarang kamu gimana?"

"Kamu sekarang sama siapa?"

Yg tentu saja gue jawab "Masih sendiri" dibumbui dengan senyuman manis dari mulut yg sudah kesal akan pertanyaan-pertanyaan tambahan lainnya. Dan saat masih banyak pertanyaan lain yg belum bisa atau gak mau gue jawab, saat itu gue cuma bilang,  "INI BISA DIHIPNOTIS AJA GAK NIH!!?" Atau kalo bisa tadinya mau pura-pura kesurupan sambil jambakin rambut satu-satu, "AARRGH.. ARRGHH AING MACAN..  MACAN CISEWUU!!"

..."itu harimau, kak :)"

Tapi, saat itu gue masih menimbang-nimbang antara harus gue jawab atau tidak, karna yg gue tau, mereka hanya penasaran akan cerita-cerita gue itu, dan kemudian mungkin akan ditertawakan kemudian hari, meski  diantara temen-temen lainya ada yg peduli mungkin. Ya namanya juga kisah-kisah receh seperti yg ada di FTV, gue yakin pasti hampir setiap orang yg udah gede pernah mengalami yg namanya patah hati. Meski tingkat patah hatinya baru sampai level 'gebetannya ditikung'.

Setelah selesai ngobrolin banyak hal yg sebenarnya malah bikin risih orang lain di meja sebelah, kamipun pulang ke tujuan masing-masing, dan gue pulang mengendarai motor sendirian dari Jakarta menuju Bekasi, jaraknya yg lumayan jauh, sekitar satu-jam-kurang dengan kecepatan yg lumayan... macet.

Dengan  memakai helm yg kacanya sudah dilepas gara-gara sering naik-turun gak jelas, gue mulai memikirkan obrolan-obrolan saat di restoran siap saji sebelumnya. Pikiran itu muncul begitu saja mengalahkan suara klakson mobil dan motor di saat lampu merah, seolah-olah sedang ada yg berbisik keras di dekat telinga kanan dan kiri. Seperti ada banyak sekali pertanyaan yg masuk ke dalam kepala, yg padahal inti dari pertanyaan mereka hanyalah ada satu, tapi dibuat menjadi ribuan pertanyaan, mulai dari satu orang dan merembet ke orang lain  yg masih penasaran akan  kelanjutan kisahnya.

Saat dalam perjalanan pulang sambil mengendarai motor itu, gue masih membayangkan wajah-wajah mereka yg sempat berebut saling bertanya, seperti sedang menanyai pelaku penipuan travel umroh, ada yg sudah lebih dulu tau, ada yg baru setengah tau, dan bahkan ada yg sama sekali belum tau dan memaksa gue untuk menceritakannya dari awal. Dan pada saat itu, gue hanya menjawab seadanya, masih lengkap dengan senyuman seperti biasanya. Seperti ini,

:)

Sebuah senyuman yg jika digambarkan akan menjadi senyuman yg komplit dengan cengengesan.

Tapi jujur, gue bukan orang yg mudah cerita kepada setiap orang, apalagi curhat langsung kepada sekumpulan orang banyak, sumpah! gue gak biasa. Ya, walapun pernah curhat di grup Whatsapp dan malah menimbulkan keributan masal, itu juga cukup gue sesali, tapi 50% gue bersyukur gak memendam apa yg sedang gue rasakan sendirian. Karena pada dasarnya, memendam perasaan itu gak baik, dan curhat itu sangatkah penting bagi kelangsungan hidup bermasyarakat, eaa~. Eehehe (tampol pake botol  kecap).

Gue pikir, apa yg terjadi kepada setiap orang, itu adalah hak mereka antara mau menjawab atau tidak, sama halnya dengan gue sendiri, cukup dengan memberi tau seadanya tanpa panjang lebar, tanpa menceritakan dengan lengkap apa yg telah terjadi, itu sudah cukup. Biarkan saja mereka-mereka yg sedikit tau itu berpendapat sesuai isi kepalanya masing-masing, dan biarkan sebagian cerita yg pernah gue alami itu gue simpan untuk diri sendiri, disimpan rapat-rapat sebagai arsip kenangan. Lagian kalo dihapus juga kayaknya gak mungkin.

**
O ya! kalian pernah gak, punya orang yg kalian sayang meninggal? terus setiap ada temen yg ketemu nanyain mulu atau memberi ucapan belasungkawa. Gimana perasaanya? Iya kira-kira seperti itu contoh kecilnya, bagaimana kita akan merelakan orang lain, saat masih ada yg mengingatkan kita tentangnya. Itu memang wajar-wajar aja sih, artinya masih ada orang yg peduli tentang kita, dan tinggal bagaimana kita menyikapinya.

Eh bentar, itu hanya gambaran aja tentang bagaimana perasaan seseorang saat kehilangan, kalo yg gue alami itu beda lagi, lagian orangnya masih ada kok, dan kami masih baik-baik aja, masih berkomunikasi meski tidak sesering dulu lagi. Terkadang juga masih menertawakan ketika gue sedang mencoba untuk melucu, meski gue akui sebenarnya yg gue omongin gak ada lucunya sama sekali. Seperti, "Eh itu gelas yah?" sambil menunjuk ke tong sampah.

Tulisan ini tidak bisa dilanjutkaadkadnkadbba.nfef74g7rtruiehoiDINIENawdhwiDIdhinkan.

**
Jadi, apa cuma gue aja yg sering mendapat pikiran-pikiran tidak wajar saat berkendara? Kalian gimana? Atau kalau boleh tau, ide menulis biasanya didapat saat lagi ngapain? Coba kasih tau di kolom komentar.

gak apa-apa kalo fotonya gak nyambung sama tulisan. yg penting ada motornya :(

*
A&W Harapan Indah, Bekasi
28 Agustus 2017
Sudah menghabiskan dua porsi kentang goreng.

Kamis, 24 Agustus 2017

Keren! Gue Dapet Tips Ini Dari Brilio

@KomunitasISB di #BrilioCorner

Terkadang gue masih bingung sama orang-orang yg suka nyebar berita bohong atau istilah kerennya: hoax, kayaknya hidup mereka itu waktu luangnya sangatlah banyak banget, bisa sampe 45 jam lebih 67 menit. Padahal kalau mereka mau, bisa aja mereka menyebarkan hal lain, seperti menyebar kebahagiaan, menyebar berita yg bermanfaat atau menyebar duit recehan semilyar-rupiah dari helikopter.

Seperti jamannya Generasi Milenial saat ini, pasti bakalan gampang banget di tipu-tipu sama berita-berita hoax yg belum jelas sumbernya, oke mungkin gak semuanya gampang tertipu gitu aja, mungkin yg lainnya hanya tertipu oleh gombalan cinta, abis digombalin  terus ditinggalin. Wah parah banget itu, minta digampar pake gitar Zimbabwe.

Gue juga kadang kesel sendiri  tiap buka sosial media, temen gue malah nyebarin berita atau info yg enggak-enggak, apalagi pas waktu rame-ramenya pemilihan presiden, media sana-sini saling menjatuhkan, ditambah temen gue ikutan juga nyebarin link gak jelas di beranda pesbuknya, alasannya sih simple, dia gak mau kalo gue yg jadi presiden Republik Rakyat Cina. (lah?)

Kayaknya, setelah kejadian-kejadian yg bikin warganet di Indonesia jadi gampang emosian itu, gue jadi kepikiran, 'Gimana kalo gue yg jadi penulis sumber informasi yg gak ada hoax-nya aja?' Apakah bakalan masih ada yg mau baca? Atau gue jadi CEO brilio.net sekalian? biar jutaan anak muda di Indonesia ini pada pinter, gak gampang emosian, gak gampang mutusin pacarnya. Malah lebih gampang nyari selingkuhan.

Iya, kayaknya kalau gue jadi CEO brilio.net, warganet Indonesia bukannya langgeng menjaga hubungan dari tips cinta ala Brilio, malah jadi playboy yg tiap bulan ganti pacar. "Mantap! kamu harus coba tips ala playboy ini, dijamin gebetan kamu klepek-klepek.". Iya, kayaknya gue belum bisa nulis-nulis yg bermanfaat bagi khalayak umum kayak gitu, tapi seenggaknya gue bisa bikin tulisan yg bermanfaat buat gue sendiri dulu deh, curhat misalnya. "Duh.."

Kayak pas gue ikut Sharing Session dari Brilio.net (#BrilioCorner) beberapa waktu lalu di kantor Brilio di Jakarta, gue jadi sedikit tau hal-hal atau ide-ide apa yg harus gue tulis, ada banyak banget ilmu yg bisa gue terapkan tentang ide-ide di kepala yg sebenernya bisa dengan mudah ditumpahkan kepada tulisan. Yg tentunya tulisan-tulisan  yg berdampak positif bagi anak muda jaman sekarang ini,

Subhanallah~

Di Sharing session tersebut, gue dan temen-temen bloger lain diberi tips-tips agar konten yg ditulis bisa semakin menarik, disukai pembaca, unik dan lucu, dan juga masih banyak tips lain, salah satunya:

Bersahabat dengan media sosial

Ini paling ampuh sih sebenernya, seenggaknya kita harus punya minimal 3 akun sosmed buat share tulisan kita. Yg artinya adalah bahwa sekarang ini kita udah hidup berdampingan dengan teknologi, di mana-mana setiap orang udah hampir buka sosial media-nya hampir tiap 10 menit sekali. Pas di dalam angkot, buka hp, pas nyupir angkot, buka hp, pas buka lembaran baru, buka hp. Sedih sih ini. Ya, kira-kira seperti itu gambaran tentang masa kini, semua informasi begitu mudahnya tersebar. Jadi patut hati-hati juga sih ini, jejak digital kadang susah hilangnya. Yg penting kita bisa gunain sosial media dengan bener, gunakan dengan bijak. Jangan sampe jadi sumber gaji Lambe  Turah aja sih intinya :)

Melihat sisi lain dari sebuah peristiwa

Kayaknya hal ke-dua ini gue punya contoh yg gue alami sendiri deh, waktu gue dateng ke sharing session Brilio Corner di kantor Brilio, gue langsung naik beberapa anak tangga-yg jika dipikir-pikir lagi kalo seandainya pas gue naik, terus pas nyampe lantai atas tiba-tiba inget kalo ada yg ketinggalan di lantai bawah, dan gue turun lagi, maka kemungkinan badan gue udah kayak cowok yg ada di iklan "trust me! it work" itu, jadi kotak-kotak. Dan baru sadar setelah lihat samping kiri ada lift. Kan kesel.

Naik tangga, it work!

Sisi lain dari peristiwa yg gue alami itu, bisa jadi buat orang lain yg dateng gak kepikiran hal semacam tadi, mungkin bisa aja mereka menuliskan peristiwa-peristiwa yg lebih penting dari cerita yg gue ceritakan tadi. Seperti kehebohan selama acara berlangsung misalnya, atau serunya sesi makan-makan mungkin.

Meme, meme dan meme

Gue sendiri memang setuju sama poin yg satu ini, beberapa tahun  kebelakang, meme sangat disukai anak-anak muda jaman sekarang, melalui hal-hal 'receh', setidaknya viewers bisa nambah lah sekitar sejuta-an. Lihat salah satu contoh meme berikut,


Contoh gambar meme


Memahami kenyataan bahwa anak muda terobsesi dengan kehidupan pesohor

Atau bahasa gaulnya, obsesi tersebut adalah KEPO, "Milenial itu kepo!". Hal-hal yg berkaitan dengan dunia yg mereka sukai, seperti dunia para artis idolanya, pasti setiap informasi artis tersebut akan selalu mereka cari. Contohnya seperti kabar Ayu Ting-Ting, Rafi Ahmad, Kabar gue mungkin, atau kabar pesohor bloger yg satu ini,

BlogToday: Icha

**
Sebenernya masih ada banyak tips dan keseruan selama Sharing Session Brilio Corner berlangsung, mungkin ada yg pernah baca di blog temen-temen yg lainnya. Mungkin buat temen-temen yg pengen ikutan, bisa tunggu di Brilio Corner selanjutnya, cari-cari info aja. :D

Buat yg masih penasaran dengan keseruannya gimana, kalian bisa cek hastag #BrilioCorner di Twitter, Instagram atau juga Pesbuk. Atau bisa juga cek di Instagram gue, @dianhendrianto


Sebuah kiriman dibagikan oleh Dian Hendrianto (@dianhendrianto) pada

Sabtu, 12 Agustus 2017

Mengunjungi Pameran Lukisan "Senandung Ibu Pertiwi" di Galeri Nasional

Bersama temen-temen bloger

Kalau ngomongin lukisan, maka lukisan pertama dari Indonesia yg gue ingat adalah lukisan 'Nyai Roro Kidul', rasanya lukisan tersebut adalah selalu yg menjadi fenomenal, sebuah lukisan yg menggambarkan sosok perempuan cantik penguasa laut selatan. Gue yakin sebagian orang di Indonesia pernah melihat lukisannya atau mungkin mendengar kisah-kisahnya. Well, gue sendiri gak tau siapa yg membuat lukisan tersebut, memang sebagian orang hanya menikmati hasil tanpa mau mengetahui siapa atau seperti apa prosesnya. Kayak gue ini ya, hehe. Dan beruntungnya, beberapa waktu yg lalu gue berkesempatan hadir ke pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi di Galeri Nasional Indonesia. Jadi, gue sekarang udah tau kalo pelukis lukisan 'Nyai Roro Kidul' adalah Basoeki Abdulloh, setelah datang ke pameran tersebut.

Gue beserta beberapa bloger lain mendapat undangan dari JadiMandiri untuk datang melihat-lihat pameran lukisan tersebut, sebuah kesempatan yg sepertinya sangat disayangakan jika harus dilewatkan. Dan jika harus jujur, gue memang tidak terlalu memahami 'dunia' lukis-melukis, apalagi sampai mengetahui maestro-maestro pelukis di Indonesia, adalah sebuah kesotoyan memang jika berbohong mengaku sebagai anak seni yg setiap kali ditanya lukisan malah jawabnya cuma cengengesan.

Adalah pertama kalinya juga mengunjungi pameran lukisan seperti ini, bahkan langsung dihadapkan dengan lukisan-lukisan bersejarah yg biasanya hanya disimpan sebagai koleksi istana kepresidenan saja. O ya, buat kalian yg memang berminat tentang dunia lukis-melukis, bisa datang langsung ke pameran lukisan 'Senandung Ibu Pertiwi' ini ke lokasi di Galeri Nasinal Indonesia yg beralamat di Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat (dekat Stasiun Gambir) dan dibuka dari jam 10.00 sampai 20.00 WIB. Pameran ini juga hanya berlangsung dari tanggal 2 sampai 30 Agustus 2017 saja.

*
Ketika pertama kali memasuki ruangan pameran tersebut, kami sudah disuguhi lukisan karya Makovsky (Pelukis kondang dari Rusia), salah satu karya yg pernah dikonservasi pada 2004 yg lalu dalam sebuah layar LED yg besar. Ya, meski hanya ditampilkan dalam bentuk digital, tapi secara keseluruhan gambarnya sangatlah mendetail. Mungkin alasan tidak menampilkan  yg asli karena susah mengangkut lukisan yg berukuran jumbo tersebut ke lokasi. Daripada rusak atau dirampok di tengah jalan, kan?

Lukisan karya Makovsky (LED) - Mernggambarkan tradisi dalam pernikahan

Kebayang gak, gue yg tidak paham sama sekali tentang lukis-melukis tiba-tiba sok keren nganguk-ngangguk di depan sebuah lukisan yg sudah bertahun-tahun dibuatnya itu? iya, persis seperti orang yg baru pertama kali pacaran, bingung mau ngapain dulu. (Loh apaan ini?!)

Beruntungnya, gak harus searching google juga, gue bisa langsung tau arti dan makna dari lukisan-lukisan yg ada di sana dengan cara bertanya langsung ke pemandu atau apalah namanya itu, yg pasti tanya aja ke orang yg berseragam merah-merah di sana. Ingat, gak usah tanya berlebihan, misalnya tanya "ini lukisan siapa? dibuat dari apa? pas ngelukisnya jam berapa ya?" sambil nyoret-nyoret lukisannya pake paku. Nanti kalian malah kena getok oleh petugas di sana.

Sedang melihat lukisan Djika Tuhan Murka karya Basoeki Abdullah

Dari sekian banyak lukisan, ada beberapa yg menjadi favorit gue, salah satunya adalah lukisan yg berjudul, 'Djika Tuhan Murka' yg ternyata masih karya dari Basoeki Abdullah. Entah kenapa, dari sekian lukisan, karya-karya beliau ini menurut gue adalah yg paling keren (selain lukisan 'Nyai roro kidul'). Gue yg selalu mengamati terlebih dahulu lukisan tersebut dan baru membaca siapa pelukisnya setelah puas melihat, selalu takjub akan karya tersebut. Lukisan  karya Basoeki Abdullah ini rasanya selalu memanjakan mata kepada setiap yg melihatnya, keindahan visual dan naturalisme yg selalu menjadi ciri khasnya. Tapi, selain karya dari Basoeki, juga banyak lagi karya-karya dari pelukis lain, seperti lukisan dari Raden Saleh Syarif Bustaman dengan judul 'Harimau Minum', Barli Sasmitawinata dengan judul 'Perempuan Berkebaya', Alimin Tamin dengan judul 'Tiga Pedanda' dan masih banyak lagi dari pelukis-pelukis lainnya.

Karena saat memasuki area pameran tidak diperbolehkan membawa kamera dan hanya diperbolehkan membawa kamera ponsel, maka gue semampunya memfoto luksian-lukisan tersebut menggunakan kamera ponsel yg gue punya, alasanya sih simple: Gue gak punya kamera yg bagus. hehe.

galeri nasional
Beberapa pengunjung yg sedang melihat-lihat lukisan

Carel Lodewijk Dake Jr.
Lukisan Pura di Atas Bukit  (Cat minyak pada panel kayu, 73 x 51 cm)

Basaoeki Abdullah
Nyai Roro Kidul, 1955 (Cat minyak pada kanvas, 160 x 120 cm)

Ada 48 lukisan dari 41 pelukis yg dipamerkan di 'Senandung Ibu Pertiwi' ini, dan satu sama lainnya saling berkaitan secara tematik: seperti Keragaman Alam, Dinamika Keseharian sampai Tradisi dan Identitas serta mitologi dan religi. Semuanya komplit mengisi setiap sudut dinding di pameran tersebut. Dari 48 lukisan tersebut, gue cuma bisa beberapa saja menampilkan di blog ini, seperti gambar di atas tadi. Kalau semuanya dimasukin, nanti blog gue malah jadi seperti feed Instagram yg tidak berfaedah. Maka datanglah ke sana ya, teman-teman.

Selain lukisan, di sana kita juga bisa melihat sejarah arsip dan dokumen tentang seni lukis pada jaman dulu. Mulai dari dokumentasi Soekarno di National Gallery O Arts - Amerika Serikat 1956, foto Soekarno beserta pemimpin besar Tiongkok Mao Zedong sedang melihat koleksi buku Soekarno, dekade 1950 dan masih banyak lagi arsip-arsip lain, salah satunya sosok "Rini" yg menjadi wanita misterius dalam karya lukis presiden Soekarno. Semuanya bisa dilihat di pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi.

Pengunjung sedang melihat asrip dan dokumen (fokus)

Buat kalian yg suka berkegiatan, ada beberapa jadwal yg diadakan oleh panitia di sana, salah satunya:

Workshop Melukis Tas Kanvas Bersama Komunitas Difabel
Tanggal 10 Agustus 2017

Diskusi para pakar: Menjaga Ibu Pertiwi
Tanggal 19 Agustus 2017

Lomba Lukis Kolektif Tingkat Nasional
26 Agustus 2017

Workshop Menjadi Apresiator Seni Terhebat se-Jabodetabek, dan
29 Agustus 2017

Tur Galeri
Setiap Sabtu dan Minggu jam 10.00 WIB.

*
Mungkin, 'Senandung Ibu Pertiwi' ini adalah gambaran cara pandang masa lalu tentang kehidupan, di mana cara pandang tersebut berdampak pada sejarah yg kita pelajari dikemudian hari, seperti sekarang ini. Gue beruntung, bisa datang ke pameran lukisan ini, jadi sedikit lebih paham akan arti pentingnya menjaga dan menghargai sebuah karya.

Dalam menyambut 72 tahun kemerdekaan RI ini, gue berterima kasih kepada Kementrian Sekretariat Negara yg udah menyelenggarakan pameran lukisan koleksi istana kepresidenan untuk yg kedua kalinya di GalNas ini, semoga tahun depan bisa lebih luarbisa lagi. Juga terima kasih kepada JadiMandiri yg udah repot-repot ngajakin ke Pameran Lukisan: Senandung Ibu Pertiwi.

Dan  buat temen-temen, kuy dateng ke GalNas! Ramaikan pameran lukisannya.
_____________________

Sumber gambar:
1. foto dari @jadiMandiri
2. lainnya - Dokumen Pribadi

Selasa, 08 Agustus 2017

Yoga Dan Perjalanan Menuju Dunkirk



"Gue turun di mana ntar? Eh! Sudirman. Oke mandi dulu, baru otewe" Kata Dian kepadaku lewat pesan pribadi, entah kenapa rasanya aku ingin menimpuk kepalanya dengan batok kelapa, yg aku maksudkan adalah untuk bertemu di stasiun Sudimara, si Dian malah belok ke Stasiun Sudirman. "Sudimara, bedain woy!" Balasku padanya.

Pada hari Rabu, 26 Juli yg lalu, aku memutuskan untuk menemui Kang Baha di 'Tomyam Kelapa' tempat ia berjualan tomyam-nya, aku tidak pergi sendirian tentunya, bersama teman-teman bloger lain yg memang sudah niat pergi tanpa basa-basi lagi, aku bersama Dian, Adibah dan Fauzi yg jauh-jauh dari Mesir-pun ikut serta untuk pergi meetup ke Tanggerang, sekalian mempromisikan jualannya Kang Baha juga, ehehe.

O ya! sampai lupa, aku belum memperkenalkan diri, namaku Yoga. Yoga Akbar Sholihin. Mungkin kalian bingung siapa sebenarnya diriku ini, aku adalah salah satu bloger juga, bagi seorang yg berdarah 'Gemini', terkadang aku acap kali disebut sebagai bloger paling mesum pada abad ini, mungkin karena aku pernah bercerita pengalamanku tentang es krim bersama Rani, dari situ bibit-bibit cap mesum menempel dalam diri teman-teman terhadapku. Padahal, sebenarnya aku tidak seperti yg mereka kira, aku tidak mesum, aku soleh, seperti namaku; Sholihin.

Sebenarnya aku juga memiliki beberapa saudara kembar, mungkin beberapa temanku tidak ada yg tau tentang ini, karena  aku tidak mau pacarku tau, nanti dia malah pilih-pilih.
Dan Yoga lainnya, dari A-Z

Dan, harus kalain tau, dalam sebulan ini juga, aku masih seperti biasanya, masih terus berusaha konsisten menulis, bahkan sudah hampir lima tulisan yg bertengger di satu bulan arsip blog pribadiku, tentu berbanding terbalik dengan si Dian dan Adibah.

***
Sesampainya di Stasiun Sudimara, iya S-U-D-I-M-A-R-A, bukan Sudirman, aku masih harus menunggu si Dian yg berangkat jauh-jauh hari dari Bekasi. Saat aku berangkat dari rumah yg jaraknya hanya terpaut 4 stasiun untuk sampai ke Stasiun Sudimara, disaat bersamaan si Dian juga berangkat pergi setelah selesai mandi, mungkin dia butuh setengah jam dari rumahnya di Harapan Indah, Bekasi, menuju Stasiun Bekasi. Maka dari itu aku harus lebih bersabar lagi menunggu seorang lelaki tulen yg sering kali dianggap seorang perempuan cantik penggoda iman lelaki oleh teman-temannya itu, mungkin alasannya adalah karena nama yg ia miliki identik dengan perempuan; Dian Sastro Wardoyo, misalnya.

Satu jam lebih aku menunggu dua orang manusia: Dian dan Adibah. Adibah adalah seorang teman bloger juga, ia sama halnya dengan Dian, sama-sama tidak peduli akan blognya yg sudah berbulan-bulan tidak  ada tulisan baru. Mungkin karena sibuk mengurus bayi biawak.

Di sela-sela menunggu, aku duduk di antara kursi-kursi peron di stasiun Sudimara, aku melihat sekelilingku banyak orang hilir-mudik sibuk tergesa-gesa, seperti orang yg hendak bertemu dengan pacarnya yg sedang marah dan mengancam ingin segera putus jikalau tidak datang dalam waktu 5 menit, iya benar, mereka terburu-buru. Semoga segera putus, ya!

*Satu jam berlalu

"Masih lama?" tanyaku lewat pesan pribadi ke Dian.
"Masih 2 stasiun lagi. Kesel ya, haha" balasnya. Aku yakin, pasti di dalam gerbong kereta yg ia naiki, ia memilih untuk duduk atau berdiri di antara perempuan-perempuan berkacamata. Karena itulah saranku, perempuan berkacamata memang mempunyai magnet tersendiri di mata lelaki. fyuh~

Aku, Yoga Akbar Sholihin, lelaki yg pernah gondrong lebat dan terkadang memakai kacamata juga, akhirnya bisa mengangkat pantatku dari kursi besi yg ada di peron stasiun setelah melihat seseorang yg baru turun dari kereta, iya benar, dia adalah mahluk ghaib dari kawasan Bekasi, Dian Hendrianto-Seorang lelaki sejati.

Setelah pertemuan itu, kami akhirnya melanjutkan perjalanan yg memang tidak jauh lagi, hanya sekitar 700 meter.  Kami berdua berjalan keluar dari stasiun menuju jalan raya, sementara Adibah masih belum terlihat juga, bahkan memberi kabarpun hanya sesekali, apalagi si Fauzi atau biasa kami panggil Oji, entahkah kapan sampainya dia terbang dari Mesir menuju Tanggerang. Dasar, onta Firaun!

***
Sesampainya di saung 'Tomyam Kelapa', Aku, Dian dan Adibah akhirnya bertemu Kang Baha, pemilik sekaligus penjual Tomyam di sana. Aku mengenalkan satu-satu teman bloger-ku kepada kang Baha. Asal kalian tau, kang  Baha dulunya  juga seorang bloger, tapi demi mengurus bisnisnya tersebut, yaitu Tomyam kelapa, beliau lebih memilih vakum menulis untuk sementara waktu yg tidak ditentukan.

"Sudah berapa lama tidak menulis, Kang?" Tanya Adibah kepada kang Baha ketika kami sedang mengobrol.

Kang Baha-pun menjawab, "Sekitar 4 bulan yg lalu."

"......"

Sambil memakan Tomyam yg Kang Baha buat, kami bertiga banyak mengobrol, di sela-sela obrolan itu juga, aku rasa ada yg tidak beres dengan si Dian, dia merasa tidak nyaman, matanya hilir-mudik ke arah kanan dari tempat duduknya, seolah-olah sedang  ada yg menodongkan pistol ke kepalanya. Ternyata gelagatnya  itu disadari oleh Adibah, ia melihat ke arah samping kiri sambil menyenggol lenganku yg aku rasa itu terlalu berlebihan; aku kurus, aku takut terpelanting. Senggol dikit, terbang! Habislah aku.

Adibah melirikkan matanya ke sebuah tulisan di sebuah kotak kaca besar, sebuah kotak kaca pelidung makanan dari lalat-lalat brengsek, ternyata tulisan di kotak kaca tersebut adalah "Warung Nasi Ibu Dian", iya kurang lebih kalimatnya seperti itu, aku lupa lengkapnya seperti apa. Aku bersama Adibah cekikikan, sementara Dian mungkin sedang kesal, antara menyesal dan bahagia karena namanya ada di mana-mana.

Tidak lama kemudian, Oji datang, dia tidak datang sendirian, dia datang bersama oleh-oleh dari Mesir yg pastinya sangat kami nantikan. Terima  kasih, Oji, kami sangat membutuhkan seseorang teman sepertimu. Mantap!

Saat kami sedang asyik mengobrol, Kang Baha menghampiriku dan duduk di sebelah kami sambil mengatakan satu kalimat  yg sebenarnya aku tidak sukai, "Sorry ya numpang ngeroko, dulu. Gak ada yg ngerokok kan?" ucapnya sambil menyulut rokok yg sudah tertancap di mulutnya. Kalau boleh jujur, rasanya ingin sekali aku mengatakan beberapa kalimat kepada kang Baha, "Kang, mohon maaf, aku sangat tidak suka asap rokok, saat asap itu menghampiri hidungku, rasanya aku sedang mabuk ganja, kang. Perasaan itu juga sama persis seperti ketika aku naik angkot selama dua jam! Sekian dan terima kasih, kang!" Tapi kalimat-kalimat itu tidak aku sampaikan karena beberapa tomyam yg kami makan itu dikasih oleh kang Baha secara gratis.

Tapi yg aku makan malah bayar,

"Makasih, kang!"

***
Setelah cukup ngobrol-ngobrol di saung Tomyam Kelapa, kami memutuskan untuk pulang, Adibah pulang, Oji pulang, sementara aku dan  Dian memutuskan untuk pergi menonton Film  Dunkirk, dari sutradara yg sudah tidak diragukan lagi film-filmnya, yaitu Chistopher Nolan, yg aku favoritkan dari sekian filmnya adalah; The Dark Knight Trilogy (Batman). Keren! Mungkin, jika trilogi Jan Dara dibuat oleh Nolan juga, pasti akan sama kerennya.

Kami lumayan bingung karena waktu yg sudah mepet untuk menonton film, waktu sudah petang, dan film sudah mau tayang, sementara kami masih harus berjibaku dengan segerombolan orang-orang pulang kerja di dalam gerbong dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Sudirman dan transit di Stasiun Mangarai menuju tujuan akhir, Stasiun Cikini. Iya sekarang benar-benar Sudirman, bukan Sudimara lagi. Mungkin si Dian masih bingung untuk membedakannya.

Di dalam gerbong itu, aku tidak tau lagi harus berkata apa, dengan tubuhku yg kurus ini, aku dihimpit oleh badan-badan besar, di depanku ada tiang yg terbuat dari besi dan siap memangsaku kapan saja ketika aku terdorong, dan dari belakangku adalah seorang wanita berkacamata yg menempelkan tangannya ke punggungku, mungkin dia sedang berusaha melindungi payudaranya yg kenyal itu agar supaya tidak mengenai punggungku. Hmm.. sayang sekali. Punggungku malah sakit kena sikut.

Sementara si Dian sibuk sendiri mencari pegangan di antara cincin-cincin bulat besar bertali-untuk pegangan dalam gerbong yg sudah habis oleh orang lain, hah! aku yakin sebenarnya dia sedang mencari mangsa.

Sungguh, jangan lagi naik kereta bersamaan dengan pulanganya para pekerja, itu sangat menyiksa, teman-teman. Selain berdesakan, juga bau keringat dari ketek-ketek orang yg bekerja seharian penuh, juga kalau memiliki tubuh yg kecil adalah sebuah bencana, tapi tetaplah ingat satu hal: Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.

*Takbir

Setelah kereta berhenti di Stasiun Manggarai, kami harus menunggu lagi kereta yg menuju Cikini, sebenarnya satu stasiun ini bisa saja kami lalui dengan berjalan kaki, tapi mungkin setelah  sampai, filmnya malah sudah beres. Dan kami kembali pulang setelah selesai membakar bioskop.

Beruntungnya, tidak harus menunggu lama, keretapun datang, kami langsung masuk dan siap-siap untuk segera turun lagi karena jaraknya memang dekat. Dan setelah kereta berhenti, kami harus sesegera mungkin memburu waktu ke TIM (Taman Ismail Marzuki) tempat diputarnya film Dunkirk di salah satu bioskop di sana.

Kami jalan... jalan..

Belum sampai juga..

jalan..

jalan..

agak cepetan..


jalan lagi..

belum sampai juga..

Kesel, sumpah!

"Keburu gak nih, Yog?" Tanya Dian padaku.

Aku bodo amat, pokoknya jalan terus, bahkan saat tali sepatuku lepas, aku masih jalan, entah kenapa jarak yg sangat dekat saja bisa terasa jauh jika sedang mengejar waktu. Pokoknya tetap mencari jalan terbaiq~

Setelah sampai di lokasi, kami memesan tiket, benar saja, kursi-kursi sudah hampir habis, yg tersisa hanyalah beberapa bangku ke bagian depan. Kami memilih sedikit ke pojok dan menurutku itu lumayan pas.

Ternyata kami masih punya cukup waktu sebelum film dimulai, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi buang air kecil, sebuah perasaan yg sudah ditahan-tahan sejak dalam perjalanan tadi, seperti pada umumnya, tempat buang air kecil pria pasti haruslah dalam posisi berdiri, aku melihat kiri-kanan, takut saja ada yg mengintip, aku buka resleting celanaku, aku keluarkan, dan.. "weeeerrrrr" Sebuah bunyi yg menandakan perasaan bahagia, "Keluar sudah kau keparat!"

Cukup segar rasanya setelah keluar dari kamar kecil, kamipun melangkah masuk ke studio 1, tempat diputarnya film Dunkirk, sampai akhirnya tersadar kalau di studio tersebut akan diputar film The Doll 2, padahal Dunkirk tayang di studio 4. Maaf, mungkin karena aku ingat Luna Maya main di film bertema setan boneka itu.

***
Saat selesai menonton, entah kenapa sepertinya aku kurang puas. Kalau boleh berpendapat, aku rasa kali ini film dari Nolan kurang mengejutkan, bahkan saat di dalam studio-pun si Dian sempat mengatakan (spoiler), "Ini ada 3 kejadian, Yog!" yg di mana aku hanya menjawab, "hmm.. iya benar!" Karena sebenarnya aku lebih terkejut lagi saat dua pasangan di sebelahku  yg sudah menyia-nyiakan uangnya demi menonton film itu tapi malah asyik geser-geser hp di tangannya. Mungkin mereka mau meng-instastory-kan film tersebut, atau mungkin juga hanya sekedar memfoto tiketnya lalu membagikan di Instagram dan Twitter agar supaya  diretwit Radityadika, Loh? Nolan Maksudnya.

Aku sempat berpikir, "ini yg mana pemeran utamanya? loh kok gini?", mungkin pertanyaan-pertanyaan itu harus aku jawab suatu saat nanti jika menonton lagi, nanti aku akan mencoba lebih teliti saat menonton film Dunkirk itu, mungkin suatu saat aku akan tersadar, bahwa Dunkirk adalah satu kisah perjuangan para Pahlawan-Dunkirk, dan setiap orang yg pernah mengalami peristiwa tersebut adalah semuanya, pemeran utama. Hmm.. Nolan kali ini memang berbeda dari biasanya.

Saat ini, aku beri rating 3/5 dulu untuk Dunkirk.

Oke baiklah, maka dengan berakhirnya film Dunkirk, aku dan Dian juga memutuskan untuk jalan kaki lagi ke stasiun Cikini sambil membahas film-film Nolan dan sekalian aku rekomendasikan ke Dian agar dia tonton. Ya, Dian adalah penggemar baru Nolan, itu karena  dia menyukai film-film yg kebanyakan twist seperti Inception, Memento dan The Prestige. Padahal film Twist Ending yg pertama dia tonton bukan karya Nolan. Adalah Shutter Island, dari sutradara Martin Scorsese. Cukup Aneh memang orang yg satu ini.

Sesampainya di Stasiun Cikini tempat kami untuk melakukan perjalanan pulang, yg di mana aku harus transit lagi dari Stasiun Manggarai, sementara si Dian masih tetap berada di kereta tersebut sampai tujuan akhir, Bekasi.

Well, sepertinya satu hari itu aku habiskan dengan cukup lucu: nungguin orang sambil ngantuk di antara kursi peron stasiun, ketemu Adibah-siluman biawak betina, dan juga bertemu untuk pertama kalinya dengan Oji. Ternyata dengan kesibukanku sebagai Freelancer masih sempat pergi main bersama teman-teman. Terimakasih.

Setelah beberapa jam berpetualang, kamipun terpisah karena beda gerbong kereta, dan sesampainya di rumah, aku selamat dengan keadaan ganteng, gak tau kalau si Dian?!

***

Tulisan Dian: Dian Berpetualang Selama 11 Jam

Sumber gambar:
http://chinafilminsider.com/christopher-nolans-dunkirk-passes-china-censorship-no-release-date-yet/ (sudah di edit)
Dunkirk -   https://i.ytimg.com/vi/8C9KffvEhLo/maxresdefault.jpg

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND