Tempat Bercerita

Senin, 25 April 2016

KISAH MIRA

Sekitar jam 3 sore di sebuah kafe....

Sedikit lebih lama dari biasanya, menunggu adalah sesuatu hal yang paling membosankan bagi siapa saja, tapi entah racun apa yang aku tenggak saat itu, tidak ada kata bosan sama sekali yang aku rasakan. Aku tetap menunggunya, sampai ia tiba.


"Apakah aku ini lebih menarik diBmata perempuan dari pada diBmata lelaki, bang?" Mira berbicara dengan wajah yang terlihat murung, tidak seperti biasanya.

"Memangnya kenapa Mira? Menurutku tidak juga. Kamu selalu menarik diBmataku. Memang perempuan mana yang kamu maksud?" aku menjawab sekaligus bertanya, seolah-olah aku penasaran. Ya! aku memang selalu penasaran terhadap Mira.

"Ayo tebak siapa perempuan itu, bang? Hehe" Mira melanjutkan kata-katanya dengan tambahan pertanyaan.

"Hmmm.... Nanti aku selidiki dulu yah, hehe. ini ada dua orang dan dua kemungkinan, Wanita pertama aku mengenalnya dan yang kedua aku tidak mengenalnya sama sekali, benar?"  jawabku dengan mimik muka yang sok tau dan sedikit belagu.

percakapan itu sudah terlalu jauh, seperti biasa candaanku kepada seseorang selalu akan masuk ke 'dunianya' secara perlahan, mengetahui apa yang seharusnya tidak diketahui, Mendengar apa yang seharusnya tidak untuk didengarkan. Bukan ahliku sebenarnya menggali hati seseorang, tapi seperti biasa, aku mendapatkan satu cerita yang sedikit rumit untuk dijelaskan dari Mira.

***
Ini tentang dua perempuan yang mendapat anugerah serta mendapat musibah. Tentang seseorang yang menurutku mendapat hidayah dari Tuhan untuk selalu taat pada-Nya, mengingat-Nya dan apapun itu, maka kembali serahkanlah pada Tuhan.

Lalu apa yang terjadi dengan wanita yang mendapat musibah itu? Wanita yang mungkin sudah tidak mengingat Tuhan sama sekali atau mungkin bukan tidak mengingat Tuhan, melainkan membenciNya.

*
23 april 2016, aku bertemu dengan Mira. seperti biasa, dia terlihat anggun dengan busana muslimah trend masa kini, subhanallah. Maaf Mira, Aku selalu menyukaimu.

Sudah beberapa bulan tidak bertemu pasti akan selalu banyak kisah yang saling kami ceritakan, sedemikian kata dituangkan untuk menghilangan rasa canggung, candaan-candaan sederhana seperti biasa selalu kami lontarkan dari mulut masing-masing. Cukup lama kita berbincang, hingga sampai pada titik pembicaraan yang cukup serius itu kami lanjutkan, percakapan yang memulai awal dari sedikit kesedihan yang Mira rasakan.

"Gimana, udah ketemu belum pelakunya? Haha!" sambung Mira disela-sela kami mengobrol.

"Aku kenal gak sih sama salah satunya?" dengan tidak yakin akan jawabanku yang sudah di ujung kepala.

"Takut salah sebut nama orang, nanti su'udzon, hahaha" lanutku.

"Iya, memang kenal.. Masih belum berani sebutin namanya nih?"  jawaban sekaligus pertanyaan dari Mira yang membuatku semakin berani untuk menyebut nama perempuan yang Mira maksud.

Sebelum aku menyebutkan nama perempuan itu, malamnya aku menganalisa beberapa hal, seperti dalam buku Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, bahwa untuk mengetahui suatu kejadian maka lihatlah sekitarnya terlebih dahulu sampai mendetail. Maka akupun juga harus melakukannya.

Pertama, aku lihat pada status Facebook Mira yang cukup tersirat dan punya maksud tertentu. dan seperti apa komentar di dalamnya, apakah ada yang mencurigakan? Dan, ya, memang ada!

"Mohon maaf semoga salah ya Mira, Maafkanlah atas ke-su'udzonanku ini.. Siti 'kah, orangnya? benarkah?" (Siti = nama samaran, *suara juga disamarkan)

Tatapan serius yang aku tujukan kepada Mira, yang semoga tebakan itu adalah salah, dan semoga aku tidak disangka mau menghipnotis dia karna terlalu lama menatap.

"Boleh Mira tanya, kenapa bisa Siti jawaban nya, bang?? Curiga nya dari mana..??" Mira semakin bertanya-tanya kenapa aku bisa menebak seperti itu.

"Gini yah, ini cuma analisa aja;
  1. Dia komen duluan di status kamu, dibaca-baca sih komennya pake hati (sedikit sakit hati)
  2. Balesan komen dari mira juga cuma simblo 'smile' (ini bisa jadi pertanda juga)
  3. Dari statusnya Siti. kayaknya lagi putus asa. Lagi nyari jatidiri gitu.
  4. Dan, Semoga cuma kebetulan."

Jawaban dari analisaku kepada Mira tentang kenapa aku menebak Siti lah orang yang Mira maksud sebagai pelakunya.

"Bang? Kepekaan kamu hebat! cukup tau untuk diri sendiri aja, pura-pura gak tau aja yah. Mira kira gak bakalan ketebak." perkataan mira yang membenarkan atas dugaanku.







[BEBERAPA PARAGRAF DI BAGIAN INI TELAH DIHAPUS]






Sedikit dari apa yang Mira ceritakan:
"Mira itu bingung caranya supaya dia bisa berfikir dan menyesali semuanya, Hijrah dan kembali seperti dulu.. Bicara secara pribadi udah lakuin kewajiban mira sendiri, Tapi gak masuk-masuk ke pikiran dia.

Mungkin harus dipublikasi agar sedikit takut atas perbuatannya di masa depan nanti, jangan sampai orang lain yang kena ..Bukan main, kalau harus Mira ceritakan secara rinci, sudah gak tergambar karna ketekunannya dalam prinsip supaya hidup orang lain hancur manusia yang selalu menyembah Allah. 

Mira sebenarnya gak punya masalah sama sekali sama dia, hanya saja Mira di mata dia terlalu Patuh katanya sama Allah, kata dari dia tentang "kenapa Mira harus shalat?" Ini buat Mira teriris, bang! Ini tugas Mira juga mengembalikan dirinya, tapi sulit karna dia gak mau menerima. Mira yang gak pernah ingin memperhitungkan tapi ditusuk Kawan sendiri tanpa sebab rasanya kaya mimpi. Bukan lagi Mira yang dipermainkan.

Yang bikin geram dia berani masuk dalam keluarga mira, Hingga mamah pernah kecewa. kalau mamah masih ada, Mira ingin menceritakan yang sebenarnya, kalau laki-laki yang selama ini adalah wanita yang pernah main ke rumah, Tapi sayang Mira taunya terlambat setelah mamah pergi, rasa bersalah karna belum bisa menuntaskan semuanya.

Secara psikolog, Mira terganggu dan takut sama dia.. Mira gak terlalu kenal sama dia sebenarnya , tapi gak tau kenapa tiba-tiba dia deket sama Mira."  --Mira Susan. 








[BEBERAPA PARAGRAF DI BAGIAN INI TELAH DIHAPUS]







Waktu sudah mulai sore, kami sudah cukup lama bercerita, dan kamipun saling berpamitan, merangkul kepergian masing-masing yang entah kapan akan dipertemukan kembali.

"Miraa..!!" aku kembali memanggil Mira yang sudah disebrang jalan.

"Iya kenapa?" Mira berbalik.

"Lalu bagaimana dengan perempuan yang satunya lagi?" aku hampir melupakan perempuan kedua yang belum Mira ceritakan.

"Oke, nanti kalau ketemu Insha Allah Mira ceritain." Mira tersenyum, aku bahagia melihatnya.

"Hmm.. Baiklah.." Aku tersenyum kembali mendengar jawabnya

"Ya udah, setidaknya gak penasaran lagi kan, tanpa Mira bercerita juga pasti akan terbuka kok. Syukron ala kulli hal. Semoga apa yang Mira ceritakan tidak menjadi gibah, dan mohon maaf jika Mira lancang dalam bercerita. Sehat selalu, Bang! Dan tetap Istiqomah dalam menakapi hidup. :)"

"Iya Mira, sampai jumpa lagi.." atau "Selamat Tinggal"


PS: Kisah Mira takkan pernah tertulis lagi di sini, selamanya. -2017

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND