A Personal Blog By @dianhendrianto

Selasa, 08 Agustus 2017

Yoga Dan Perjalanan Menuju Dunkirk



"Gue turun di mana ntar? Eh! Sudirman. Oke mandi dulu, baru otewe" Kata Dian kepadaku lewat pesan pribadi, entah kenapa rasanya aku ingin menimpuk kepalanya dengan batok kelapa, yg aku maksudkan adalah untuk bertemu di stasiun Sudimara, si Dian malah belok ke Stasiun Sudirman. "Sudimara, bedain woy!" Balasku padanya.

Pada hari Rabu, 26 Juli yg lalu, aku memutuskan untuk menemui Kang Baha di 'Tomyam Kelapa' tempat ia berjualan tomyam-nya, aku tidak pergi sendirian tentunya, bersama teman-teman bloger lain yg memang sudah niat pergi tanpa basa-basi lagi, aku bersama Dian, Adibah dan Fauzi yg jauh-jauh dari Mesir-pun ikut serta untuk pergi meetup ke Tanggerang, sekalian mempromisikan jualannya Kang Baha juga, ehehe.

O ya! sampai lupa, aku belum memperkenalkan diri, namaku Yoga. Yoga Akbar Sholihin. Mungkin kalian bingung siapa sebenarnya diriku ini, aku adalah salah satu bloger juga, bagi seorang yg berdarah 'Gemini', terkadang aku acap kali disebut sebagai bloger paling mesum pada abad ini, mungkin karena aku pernah bercerita pengalamanku tentang es krim bersama Rani, dari situ bibit-bibit cap mesum menempel dalam diri teman-teman terhadapku. Padahal, sebenarnya aku tidak seperti yg mereka kira, aku tidak mesum, aku soleh, seperti namaku; Sholihin.

Sebenarnya aku juga memiliki beberapa saudara kembar, mungkin beberapa temanku tidak ada yg tau tentang ini, karena  aku tidak mau pacarku tau, nanti dia malah pilih-pilih.
Dan Yoga lainnya, dari A-Z

Dan, harus kalain tau, dalam sebulan ini juga, aku masih seperti biasanya, masih terus berusaha konsisten menulis, bahkan sudah hampir lima tulisan yg bertengger di satu bulan arsip blog pribadiku, tentu berbanding terbalik dengan si Dian dan Adibah.

***
Sesampainya di Stasiun Sudimara, iya S-U-D-I-M-A-R-A, bukan Sudirman, aku masih harus menunggu si Dian yg berangkat jauh-jauh hari dari Bekasi. Saat aku berangkat dari rumah yg jaraknya hanya terpaut 4 stasiun untuk sampai ke Stasiun Sudimara, disaat bersamaan si Dian juga berangkat pergi setelah selesai mandi, mungkin dia butuh setengah jam dari rumahnya di Harapan Indah, Bekasi, menuju Stasiun Bekasi. Maka dari itu aku harus lebih bersabar lagi menunggu seorang lelaki tulen yg sering kali dianggap seorang perempuan cantik penggoda iman lelaki oleh teman-temannya itu, mungkin alasannya adalah karena nama yg ia miliki identik dengan perempuan; Dian Sastro Wardoyo, misalnya.

Satu jam lebih aku menunggu dua orang manusia: Dian dan Adibah. Adibah adalah seorang teman bloger juga, ia sama halnya dengan Dian, sama-sama tidak peduli akan blognya yg sudah berbulan-bulan tidak  ada tulisan baru. Mungkin karena sibuk mengurus bayi biawak.

Di sela-sela menunggu, aku duduk di antara kursi-kursi peron di stasiun Sudimara, aku melihat sekelilingku banyak orang hilir-mudik sibuk tergesa-gesa, seperti orang yg hendak bertemu dengan pacarnya yg sedang marah dan mengancam ingin segera putus jikalau tidak datang dalam waktu 5 menit, iya benar, mereka terburu-buru. Semoga segera putus, ya!

*Satu jam berlalu

"Masih lama?" tanyaku lewat pesan pribadi ke Dian.
"Masih 2 stasiun lagi. Kesel ya, haha" balasnya. Aku yakin, pasti di dalam gerbong kereta yg ia naiki, ia memilih untuk duduk atau berdiri di antara perempuan-perempuan berkacamata. Karena itulah saranku, perempuan berkacamata memang mempunyai magnet tersendiri di mata lelaki. fyuh~

Aku, Yoga Akbar Sholihin, lelaki yg pernah gondrong lebat dan terkadang memakai kacamata juga, akhirnya bisa mengangkat pantatku dari kursi besi yg ada di peron stasiun setelah melihat seseorang yg baru turun dari kereta, iya benar, dia adalah mahluk ghaib dari kawasan Bekasi, Dian Hendrianto-Seorang lelaki sejati.

Setelah pertemuan itu, kami akhirnya melanjutkan perjalanan yg memang tidak jauh lagi, hanya sekitar 700 meter.  Kami berdua berjalan keluar dari stasiun menuju jalan raya, sementara Adibah masih belum terlihat juga, bahkan memberi kabarpun hanya sesekali, apalagi si Fauzi atau biasa kami panggil Oji, entahkah kapan sampainya dia terbang dari Mesir menuju Tanggerang. Dasar, onta Firaun!

***
Sesampainya di saung 'Tomyam Kelapa', Aku, Dian dan Adibah akhirnya bertemu Kang Baha, pemilik sekaligus penjual Tomyam di sana. Aku mengenalkan satu-satu teman bloger-ku kepada kang Baha. Asal kalian tau, kang  Baha dulunya  juga seorang bloger, tapi demi mengurus bisnisnya tersebut, yaitu Tomyam kelapa, beliau lebih memilih vakum menulis untuk sementara waktu yg tidak ditentukan.

"Sudah berapa lama tidak menulis, Kang?" Tanya Adibah kepada kang Baha ketika kami sedang mengobrol.

Kang Baha-pun menjawab, "Sekitar 4 bulan yg lalu."

"......"

Sambil memakan Tomyam yg Kang Baha buat, kami bertiga banyak mengobrol, di sela-sela obrolan itu juga, aku rasa ada yg tidak beres dengan si Dian, dia merasa tidak nyaman, matanya hilir-mudik ke arah kanan dari tempat duduknya, seolah-olah sedang  ada yg menodongkan pistol ke kepalanya. Ternyata gelagatnya  itu disadari oleh Adibah, ia melihat ke arah samping kiri sambil menyenggol lenganku yg aku rasa itu terlalu berlebihan; aku kurus, aku takut terpelanting. Senggol dikit, terbang! Habislah aku.

Adibah melirikkan matanya ke sebuah tulisan di sebuah kotak kaca besar, sebuah kotak kaca pelidung makanan dari lalat-lalat brengsek, ternyata tulisan di kotak kaca tersebut adalah "Warung Nasi Ibu Dian", iya kurang lebih kalimatnya seperti itu, aku lupa lengkapnya seperti apa. Aku bersama Adibah cekikikan, sementara Dian mungkin sedang kesal, antara menyesal dan bahagia karena namanya ada di mana-mana.

Tidak lama kemudian, Oji datang, dia tidak datang sendirian, dia datang bersama oleh-oleh dari Mesir yg pastinya sangat kami nantikan. Terima  kasih, Oji, kami sangat membutuhkan seseorang teman sepertimu. Mantap!

Saat kami sedang asyik mengobrol, Kang Baha menghampiriku dan duduk di sebelah kami sambil mengatakan satu kalimat  yg sebenarnya aku tidak sukai, "Sorry ya numpang ngeroko, dulu. Gak ada yg ngerokok kan?" ucapnya sambil menyulut rokok yg sudah tertancap di mulutnya. Kalau boleh jujur, rasanya ingin sekali aku mengatakan beberapa kalimat kepada kang Baha, "Kang, mohon maaf, aku sangat tidak suka asap rokok, saat asap itu menghampiri hidungku, rasanya aku sedang mabuk ganja, kang. Perasaan itu juga sama persis seperti ketika aku naik angkot selama dua jam! Sekian dan terima kasih, kang!" Tapi kalimat-kalimat itu tidak aku sampaikan karena beberapa tomyam yg kami makan itu dikasih oleh kang Baha secara gratis.

Tapi yg aku makan malah bayar,

"Makasih, kang!"

***
Setelah cukup ngobrol-ngobrol di saung Tomyam Kelapa, kami memutuskan untuk pulang, Adibah pulang, Oji pulang, sementara aku dan  Dian memutuskan untuk pergi menonton Film  Dunkirk, dari sutradara yg sudah tidak diragukan lagi film-filmnya, yaitu Chistopher Nolan, yg aku favoritkan dari sekian filmnya adalah; The Dark Knight Trilogy (Batman). Keren! Mungkin, jika trilogi Jan Dara dibuat oleh Nolan juga, pasti akan sama kerennya.

Kami lumayan bingung karena waktu yg sudah mepet untuk menonton film, waktu sudah petang, dan film sudah mau tayang, sementara kami masih harus berjibaku dengan segerombolan orang-orang pulang kerja di dalam gerbong dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Sudirman dan transit di Stasiun Mangarai menuju tujuan akhir, Stasiun Cikini. Iya sekarang benar-benar Sudirman, bukan Sudimara lagi. Mungkin si Dian masih bingung untuk membedakannya.

Di dalam gerbong itu, aku tidak tau lagi harus berkata apa, dengan tubuhku yg kurus ini, aku dihimpit oleh badan-badan besar, di depanku ada tiang yg terbuat dari besi dan siap memangsaku kapan saja ketika aku terdorong, dan dari belakangku adalah seorang wanita berkacamata yg menempelkan tangannya ke punggungku, mungkin dia sedang berusaha melindungi payudaranya yg kenyal itu agar supaya tidak mengenai punggungku. Hmm.. sayang sekali. Punggungku malah sakit kena sikut.

Sementara si Dian sibuk sendiri mencari pegangan di antara cincin-cincin bulat besar bertali-untuk pegangan dalam gerbong yg sudah habis oleh orang lain, hah! aku yakin sebenarnya dia sedang mencari mangsa.

Sungguh, jangan lagi naik kereta bersamaan dengan pulanganya para pekerja, itu sangat menyiksa, teman-teman. Selain berdesakan, juga bau keringat dari ketek-ketek orang yg bekerja seharian penuh, juga kalau memiliki tubuh yg kecil adalah sebuah bencana, tapi tetaplah ingat satu hal: Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.

*Takbir

Setelah kereta berhenti di Stasiun Manggarai, kami harus menunggu lagi kereta yg menuju Cikini, sebenarnya satu stasiun ini bisa saja kami lalui dengan berjalan kaki, tapi mungkin setelah  sampai, filmnya malah sudah beres. Dan kami kembali pulang setelah selesai membakar bioskop.

Beruntungnya, tidak harus menunggu lama, keretapun datang, kami langsung masuk dan siap-siap untuk segera turun lagi karena jaraknya memang dekat. Dan setelah kereta berhenti, kami harus sesegera mungkin memburu waktu ke TIM (Taman Ismail Marzuki) tempat diputarnya film Dunkirk di salah satu bioskop di sana.

Kami jalan... jalan..

Belum sampai juga..

jalan..

jalan..

agak cepetan..


jalan lagi..

belum sampai juga..

Kesel, sumpah!

"Keburu gak nih, Yog?" Tanya Dian padaku.

Aku bodo amat, pokoknya jalan terus, bahkan saat tali sepatuku lepas, aku masih jalan, entah kenapa jarak yg sangat dekat saja bisa terasa jauh jika sedang mengejar waktu. Pokoknya tetap mencari jalan terbaiq~

Setelah sampai di lokasi, kami memesan tiket, benar saja, kursi-kursi sudah hampir habis, yg tersisa hanyalah beberapa bangku ke bagian depan. Kami memilih sedikit ke pojok dan menurutku itu lumayan pas.

Ternyata kami masih punya cukup waktu sebelum film dimulai, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi buang air kecil, sebuah perasaan yg sudah ditahan-tahan sejak dalam perjalanan tadi, seperti pada umumnya, tempat buang air kecil pria pasti haruslah dalam posisi berdiri, aku melihat kiri-kanan, takut saja ada yg mengintip, aku buka resleting celanaku, aku keluarkan, dan.. "weeeerrrrr" Sebuah bunyi yg menandakan perasaan bahagia, "Keluar sudah kau keparat!"

Cukup segar rasanya setelah keluar dari kamar kecil, kamipun melangkah masuk ke studio 1, tempat diputarnya film Dunkirk, sampai akhirnya tersadar kalau di studio tersebut akan diputar film The Doll 2, padahal Dunkirk tayang di studio 4. Maaf, mungkin karena aku ingat Luna Maya main di film bertema setan boneka itu.

***
Saat selesai menonton, entah kenapa sepertinya aku kurang puas. Kalau boleh berpendapat, aku rasa kali ini film dari Nolan kurang mengejutkan, bahkan saat di dalam studio-pun si Dian sempat mengatakan (spoiler), "Ini ada 3 kejadian, Yog!" yg di mana aku hanya menjawab, "hmm.. iya benar!" Karena sebenarnya aku lebih terkejut lagi saat dua pasangan di sebelahku  yg sudah menyia-nyiakan uangnya demi menonton film itu tapi malah asyik geser-geser hp di tangannya. Mungkin mereka mau meng-instastory-kan film tersebut, atau mungkin juga hanya sekedar memfoto tiketnya lalu membagikan di Instagram dan Twitter agar supaya  diretwit Radityadika, Loh? Nolan Maksudnya.

Aku sempat berpikir, "ini yg mana pemeran utamanya? loh kok gini?", mungkin pertanyaan-pertanyaan itu harus aku jawab suatu saat nanti jika menonton lagi, nanti aku akan mencoba lebih teliti saat menonton film Dunkirk itu, mungkin suatu saat aku akan tersadar, bahwa Dunkirk adalah satu kisah perjuangan para Pahlawan-Dunkirk, dan setiap orang yg pernah mengalami peristiwa tersebut adalah semuanya, pemeran utama. Hmm.. Nolan kali ini memang berbeda dari biasanya.

Saat ini, aku beri rating 3/5 dulu untuk Dunkirk.

Oke baiklah, maka dengan berakhirnya film Dunkirk, aku dan Dian juga memutuskan untuk jalan kaki lagi ke stasiun Cikini sambil membahas film-film Nolan dan sekalian aku rekomendasikan ke Dian agar dia tonton. Ya, Dian adalah penggemar baru Nolan, itu karena  dia menyukai film-film yg kebanyakan twist seperti Inception, Memento dan The Prestige. Padahal film Twist Ending yg pertama dia tonton bukan karya Nolan. Adalah Shutter Island, dari sutradara Martin Scorsese. Cukup Aneh memang orang yg satu ini.

Sesampainya di Stasiun Cikini tempat kami untuk melakukan perjalanan pulang, yg di mana aku harus transit lagi dari Stasiun Manggarai, sementara si Dian masih tetap berada di kereta tersebut sampai tujuan akhir, Bekasi.

Well, sepertinya satu hari itu aku habiskan dengan cukup lucu: nungguin orang sambil ngantuk di antara kursi peron stasiun, ketemu Adibah-siluman biawak betina, dan juga bertemu untuk pertama kalinya dengan Oji. Ternyata dengan kesibukanku sebagai Freelancer masih sempat pergi main bersama teman-teman. Terimakasih.

Setelah beberapa jam berpetualang, kamipun terpisah karena beda gerbong kereta, dan sesampainya di rumah, aku selamat dengan keadaan ganteng, gak tau kalau si Dian?!

***

Tulisan Dian: Dian Berpetualang Selama 11 Jam

Sumber gambar:
http://chinafilminsider.com/christopher-nolans-dunkirk-passes-china-censorship-no-release-date-yet/ (sudah di edit)
Dunkirk -   https://i.ytimg.com/vi/8C9KffvEhLo/maxresdefault.jpg

26 komentar:

  1. Jadi kalian tukeran tempat share?? Yoga mesumnya gak ilang2 ya 😂. . Gue kan cewe kacamata, berarti gue cewe yang uwuwuw dong #^_^

    BalasHapus
    Balasan
    1. kacamatanya dipakai di atas kepala?

      Hapus
  2. Wqwqwq taik bener yang mbak-mbak nyikut punggung itu segala ditulis.

    Yoga Akbar Sholihin euy. Pakai "H" sebelum o. Kenapa nama gue sering salah tulis atau ketik terus, sih? :(

    Jan Dara yang bikin Nolan mah bukannya nafsu malah puyeng, Pak. -___-

    BalasHapus
  3. PEN NONTON DUNKRIKKKKKKK.... tapi nggak pernah ada waktu. jadwal keluar asramanya cuman pas weekend doang, jadi bisa di bilang hidup diasrama selama seminggu. Mana asramanya lumayan jauh lagi dari pusat kota -_- itupun pas libur weekend, keluar asrama cuman buat ngerjain semua tugas dosen sama instruktur. JADI KAPAN BISA NONTONNYA ??

    well mungkin beberapa orang bakalan nilai filmnya sebenarnya biasa aja, termasuk temen temen saya yang udah nonton filmnya yang notabenenya nggak antusias sama film perang. Tapi kalau saya film perang keluaran apa saja yang penting filmnya menceritakan kisah world war 2 itu bakalan saya anggap keren.
    maklum om saya pencinta pelem world war 2

    BalasHapus
    Balasan
    1. buset dah, anak asrama ya, haha. semangat dong demi mengejar film dunkirk.. hahha.

      Hapus
  4. ((BAYI BIAWAK))

    (ONTA FIRAUN))

    ((CUKUP LUCU))

    Taek hahahaha. Di sini keliatan bet ya kalau Yoga itu tetap jadi lelaki yang hobi nyasar sampe akhir hayat. Sempat salah studi anjer. Wkaakakakaka.

    Yeaaah. Kali ini aku tambah percaya kalau Yoga nggak mesum. Buktinya dia tidak merusak makhluk imut nan gemay seperti Mbak Dian. Baik ketika di dalam kereta, di toilet, maupun pas di dalam bioskop. Kecuali kalau Mbak Dian pake kacamata sih. Mungkin bakal dirusak. HAHAHAHA.

    BalasHapus
  5. Yoga sama Dian so sweet yaaa...
    Semoga langgeng yahh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. pertemanan akan selalu langgeng, insya allah, bang ucup.

      Hapus
  6. ".. Perempuan berkacamata memang mempunyai magnet tersendiri di mata lelaki.."

    Nah! Tapi kalo yang make mimi peri agak gimana gitu ya.

    Berduaan mulu, awas yang ketiga setan. Langgeng ya...

    BalasHapus
    Balasan
    1. kan mimi peri pake cematanya di mata kaki. jadi masih tetep bisa dibedakan.

      Hapus
  7. Mungkin Vika kalok tau Yoga jalan berdua sama Dian, apalagi nonton bioskop malem-malem, bakalan njerit, "SIAPA DIAN? SIAPAAAAA?"

    Gak taunya Dian Hendrianto. Wkwkwk. :p

    BalasHapus
    Balasan
    1. jaeab aja, "oh, temen".

      Selesai. Ngahahaha

      Hapus
  8. Bayi biawak lucu ya?? 😂😂

    "Warung Bu Dian" 😂😂
    Kalo namaku sering juga di pake bisnis "kusuma jaya, kusuma agro wisata, dan kusuma yang lain"

    Akhirnya setelah perjalanan panjang gakvtwlat telat juga nontonnya 😁

    BalasHapus

- No live Link
Gue lebih menghargai kalian yg baca meski gak komentar, daripada komentar tapi gak baca. haha becanda, yaudah sok atuh komentarnya.
salam @dianhendrianto

Kategori populer

Temen-temen

Copyright © dianhendrianto.com

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com