A Personal Blog By @dianhendrianto

Sabtu, 10 Juni 2017

Sebuah Kenangan Bersama Nenek

Sejak kecil, gue adalah contoh anak yg selalu di manja oleh orang tua, bahkan gue lebih dimanjakan lagi oleh seorang nenek, apapun yg gue minta, nenek gue selalu meladeni keinginan gue. Setiap nenek pergi ke luar kota, pulangnya dia selalu  membawa oleh-oleh buat gue, entah itu makanan atau bahkan mainan.

Ketika pulang dari sukabumi, nenek membawa satu barang yg katanya akan diberikan ke gue, sama halnya dengan anak-anak pada umunya, saat hendak diberi  hadiah maka mereka  akan senang, jingkrak-jingkrak depan pintu rumah, menyambut kedatangan  seseorang yg akan membuat dirinya senang. Namun ketika  nenek gue membuka tas miliknya, saat itu gue sadar, jingkrakan gue terlalu berlebihan, karena satu barang yg keluar dari tas nenek gue hanyalah satu boneka kucing usang yg ia bawa dari rumah saudaranya di sukabumi. Dengan mimik muka mengkerut dan bibir cemberut, gue menerima boneka tersebut, dengan terpaksa.

Yg ujung-ujungnya gue mainin boneka juga. #PernahMainBoneka #TetepCowokTulenKok

Boneka tersebut masih ada dan gue simpan sampai sekarang, tidak sempat gue foto karena ada di rumah gue di cianjur, sebuah boneka usang yg bersejarah.

Beliau adalah salah satu orang paling berharga yg pernah hadir menyempurnakan masa kecil gue,  memang bukan kepada gue saja beliau memperlakukan hal semacam itu, kepada anaknya pasti berlaku serupa, atau bahkan lebih. Gue ingat, dulu saat gue masih bocah dan belum banyak dosa seperti sekarang ini, gue selalu menulis surat bersama beliau untuk anak bungsu nenek (paman gue) di Malaysia, dibantu oleh beliau agar surat yg gue tulis benar ejaanya.

"Udah beres belum?" Tanya nenek kepada gue yg masih menulis dengan cara menutup tulisan gue dengan tangan di atas kertas.

"udah.."

Sebuah surat yg berisikan tulisan pendek, 'Mang, menta duit..'

"Hahaha.." Seketika nenek tertawa membaca surat pendek nan jelas itu.

Setelah gue memberikan surat tersebut ke nenek, waktu itu gue belum mengerti kenapa nenek gue tertawa, tapi sekarang mungkin gue sedikit mengerti, kalau saat kecil dulu gue sangatlah matre, beda sama sekarang.

Uhuk~

Gue pikir, kami berdua adalah orang terkompak dalam menulis surat, saling membantu atau lebih jelasnya gue cuma ngabisin isi tinta, ya! saat itu nenek gue masih suka menulis surat dengan menggunakan bulu angsa atau semacamnya yg dicelup ke tinta. Itu adalah momen terbaik dalam kehidupan gue; tinta dan sebuah pena berbentuk bulu, bersama nenek.
Beberapa tahun sudah berlalu, hampir setiap lebaran tiba nenek dan gue mendapat surat dari paman yg berada di Malaysia, terkadang ada beberapa surat atau kata-kata mutiara yg ketika dibuka berbunyi musik, ah! entahalah apa namanya itu.

Nenek gue hanyalah orang tua tipikal jaman dulu yg mengerti arti 'susah', berbekal dari cerita ibu, beliau adalah orang yg rela melakukan kerja berat hanya untuk sesuap nasi untuk anak-anaknya, bahkan saat gue lahir dan menginjak 3 tahun (kalo gak salah) itu gue sadar bahwa keluarga kami mungkin sudah lebih dari cukup, beliau terkadang masih kesana-kemari, kadang jualan gorengan atau semacamnya, beliau tidak betah jika hanya berdiam diri di rumah, mungkin dia tidak mau menjadi orang lain, atau hanya ingin menambah teman di usianya yg mulai menua, atau juga tidak mau menghilangan kebiasaanya, atau juga bisa disebut; beliau adalah sosok traveler sejati yg kesana-kemari, pergi ke luar kota dimana ia bisa menemukan saudara jauhnya. Meski terkadang saudaranya mengecewakanya hanya karena urusan uang.

Saat usia 4 atau 5 tahun (kalau tidak salah, lagi) gue pernah ikut nenek ke luar kota, yaitu sukabumi dan majalengka, pergi hanya sekedar mengunjungi saudara-saudaranya. Tidak seperti jaman sekarang yg serba instan, sekedar 'say-hai' bisa dilakukan melalui sebuah benda kecil dalam genggaman; handphone.

Ada banyak sekali kenangan yg gue ingat, dan ada banyak sekali kenangan yg mungkin hilang dari ingatan gue, memori-memori tentang beliau terlalu penuh sampai beberapanya hilang dari ingatan gue. Begitu mengesankan. Jika dipikir-pikir, benar juga seperti yg dikatakan Fiersa Besari, "Menjadi dewasa adalah jebakan. Menjadi anak kecil adalah sebuah kerinduan." Betapa masa kecil adalah hal yg paling menyengkan, belajar mengenal banyak hal.

Dalam perjalanan hidup gue, saat pertama kali merasakan patah hati adalah ketika orang yg setiap saat mengajarkan banyak hal itu tiba-tiba pergi gitu aja, pergi jauh untuk selama-lamanya dan  ditinggal pas lagi sayang-sayangnya. Sekitar tahun 2005-an (entah tahun berapa sampai lupa begini) beliau meninggal, pada saat hari tersebut datang, ibu gue paling histeris menangisi nenek, tapi gue sendiri gak bisa mengeluarkan air mata sama sekali, saat itu gue pulang sekolah sd, seolah-olah gak percaya, gue hanya diam melihat ibu yg masih tersedu-sedu air mata.

Saat itu gue pikir perasaan gue biasa saja, perasaan seorang anak sd yg meratapi kepergian seseorang yg selalu dekat dengannya. Beberapa hari setelahnya, gue menangis dalam diam, mencoba bersembunyi ketika air mata mulai turun, pergi ke rumah tetangga berpura bermain sekedar takut jika keluar air mata di depan ibu. Hanyalah tangisan seorang bocah.

Jika dipikir-pikir lagi, itu adalah patah hati terhebat gue, jika dibandingan dengan patah hati karena cinta kepada seorang yg dicintai setelah dewasa seperti sekarang, maka patah hati itu belum ada yg menandingi, dan gue harap jangan ada lagi patah hati seperti itu.

Yg gue takutkan adalah, jika kematian menjauhkan kia dari rasa cinta kepada orang yg telah tiada, di tahun-tahun pertama sering mendoakannya, tahun setelahnya hanya sekedar menyapannya, berikutnya hanya waktu lebaran tiba datang kepada sebuah batu nisan bertuliskan namanya.

Tapi, semua itu sudah terjadi, gue pikir semua orang sudah pasti akan pergi dari dunia ini. Rasa sesal, kesedihan, dan hal-hal yg membuat hidup tidak semangat hanyalah satu dari sekian sikap manusiawi. Maka, satu hal yg harus diterapkan setelah kepedihan adalah, penerimaan.

Kasih sayang; pertama-tama adalah soal kesetiaan. Kemudian kematian, keduanya tentang cara melepaskan, bukan melupakan. - Subuh, 04.39

***
sumber gambar:
http://labsky2012.blogspot.co.id/2012/09/tugas-5-perkembangan-pulpen_15.html

20 komentar:

  1. *Tos* dulu lah mas, aku juga punya boneka waktu kecil, belum aku cek kalau sekarang. Tapi, sepertinya masih ada :)
    Haha.. eta surat mani padat mun kitu mah kang.. :D

    Aku mah belum ngalamin nulis pake pena bulu gitu mas, apa itu tandanya mas Dian lebih tua dari aku ya,, #Ehh..

    Perjuangan orangtua memang luar biasa ya, Mas, dan benar-benar rela berkoarban untuk anaknya. Kadang sedih kalau lihat orang yang "kurang baik", menyia-nyiakan hidupnya disaat orangtua masih ada :(

    Memang yang namanya kematian itu tidak ada yang tau ya, Mas, dan baru saja tadi tahu kalau Jupe meninggal. Karena di IG dan portal berita banyak yang post.

    Semoga dibulan yang suci ini bisa untuk meningkatkan kebaikan. Dan tentunya berburu untuk mengumpulkan bekal pulang nanti :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ((lebih tua)) sedih sih ini, tapi bukan gitu maksudnya.. ahaha

      aamiin, semoga setiap kebaikan di diri manusia semakin meningkat.

      play, Via Vallen~

      Hapus
  2. Orang terdekat setelah orang tua adalah nenek. Kadang permintaan anehpun selalu diusahain sama beliau. itulah yang membuat hubungan cucu sama nenek sangat kuat.

    Halah umur segitu minta duit, kita samaan bro :D

    kadang selain minta duit, saya biasamerengek guling-guling di tanah buat dibeliin mainan. walau mesti berkotor-kotor ria dan kena omelan mama pasti nenek selalu rangkul kita dengan penuh kasih sayang.

    yah namanya kematian pasti akan datang bro, kita yang masih hidup cukuplah memberi doa dan menjalankan apa yang sudah beliau ajarkan semasa hidupnya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. bisa guling2 di tanah gitu, kalo guling2 pas udah gede pasti disangka orang gak bener tuh.. ehehe. apalagi gulingnya sama guling bantal. loh~

      Hapus
  3. Gue gak terlalu deket sama nenek. Sedih. Pas kecil, nenek gue udah tua (ya iyalah!). Maksudnya tua banget gitu, jadi komunikasinya nggak yang seru gitu. Apalagi ditambah jarang ketemu. Dia pake bahasa jawa, gue gak ngerti sama sekali. *curhat mode: on

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi, tiap nenek ngomong jawa, cuma manggut2 J gitu ya.. sedih~
      *curhat mode: off

      Hapus
  4. Gue sayangnya nggak begitu deket sama nenek kandung. :( Nenek yang adik dari kakek gue, yang punya rumah (tempat tinggal gue sekarang) baru itu deket. Pas meninggal 2013, gue juga mengalami kesedihan yang lu tulis. :(

    Lebih sedihnya lagi, nenek dari ibu gue, malah udah meninggal duluan sebelum gue lahir. Tiga hari sebelum gue lahir tepatnya. :( Beliau yang secara nggak langsung memberi nama Yoga. Pesan beliau ke Nyokap, "Pokoknya nanti anakmu harus punya nama depan Y."

    Duh. Tulisanmu yang ini bagus banget, Yan. Gue jadi mengenang banyak hal tentang kematian. Apalagi adek gue. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. mengenanglah, kata orang2, kenangan itu adalah kebencian yg kau rindukan. jleb!

      Hapus
  5. yakin, sekarang gak matre? hihi

    BalasHapus
  6. Asik banget jadi cucu kesayangan sang legendaris.


    Boneka, bah mantap be ee. Semoga langgeng yaa.. Hehehheeh


    Salam
    Www.aulaandika.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. hehe, harusnya bukan boneka. tapi robot (dalam bentuk boneka)

      salam di bawah tuh..

      Hapus
  7. “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan” [al-‘Ankabût/29:57]

    BalasHapus
    Balasan
    1. eh ada pak ustadz. assalamualaikum~

      Hapus
  8. Kasih sayang; pertama-tama adalah soal kesetian. Kemudian kematian, keduanya tentang cara melepaskan, bukan melupakan.

    Gue merinding bacanya bro.. Bener banget. Walaupun gue sendiri gak gitu deket sama nenek gue, tapi gue tahu rasanya kehilangan :)

    Salam, jevonlevin.com

    BalasHapus
    Balasan
    1. kenal atau gak kenal dekat atau gak dekat, biasanya akan kerasa setelah orang itu gak ada. :)

      Hapus
  9. Mengharu banget, sial :') aku jadi terbawaaaaa. Mmm... sepertinya aku harus mengunjungi nenekku di Tegal :' aku punya banyak kenangan sama beliau ketika kecil dulu :')

    BalasHapus
    Balasan
    1. kunjungilah feb, kadang kita selalu mengabaikan hal2 kecil, bahwa menemui akan lebih baik dibanding sekedar mengabari. ehehe.

      Hapus
  10. Kok jadi baper gini ya? hehheheh..
    tapi emng sih pengalaman masa kecil itu adalah masa2 penuh kebahagiaan jadi pasti banyak meninggalkan kenangan :D...

    BalasHapus
    Balasan
    1. yaps... kenangan, meski kadang kita membenci karna mengingatnya, tapi sebenarnya kebencian ktu adalah kebencian yg kita sukai.

      ...ini kenapa gue jadi sok bijak gini ya Allah 😩😬

      Hapus

- No live Link
Gue lebih menghargai kalian yg baca meski gak komentar, daripada komentar tapi gak baca. haha becanda, yaudah sok atuh komentarnya.
salam @dianhendrianto

Kategori populer

Temen-temen

Copyright © dianhendrianto.com

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com