Make a Story

Sabtu, 08 April 2017

Malam Suram

Jogja sebelumnya: "BRUUUUKK!!"

#PART3

"Bang, bangun bang!" Terdengar  suara berbisik dari telinga kanan.

Jujur saja, hal yg paling menjengkelkan di dunia adalah saat tidur pulas, tiba-tiba ada yg mengganggu. Tidur saat kelelahan adalah hal yg paling didambakan setiap orang, khususnya bagiku, tentu, apalagi kalo tidurnya itu tidak dibumbui dengan mimpi buruk, kayak mimpi basah misalnya, maksudnya mimpi kesiram air panas, kan serem.

"mmmmh", aku  menggumam kecil ketika mendengar suara tadi.

"WOOYY BANGUN!! HAHA." Teriakan kencang ditelingaku yg membuat aku langsung bangun karena kaget, ternyata si kampret Fendi sudah datang. Fendi, temen satu kerjaanku yg katanya sedang cuti ternyata menyusul menggunakan motor dari Tegal ke Jogja. Gila memang, jauh-jauh ke jogja pake motor.

Harusnya pake skateboard.

"hhh, si anjir!" aku dengan sedikit kesal.

Aku bangun, mengusap-usap muka dengan kedua tangan. Setelah melihat jam di dinding, ternyata aku sudah tertidur selama 3 jam. Dan Fendi sudah datang dua jam yg lalu. Tidur yg cukup lama untuk mimpi buruk itu benar-benar datang.

Akhir-akhir ini, aku sangat takut sekali tertidur lama, sering sekali bermimpi buruk selama sebulan terkahir. Aku takut. Mimpi-mimpi yg terkadang terhubung dengan kenyataan yg aku alami. Ah, brengsek sekali.

Ah, lebay sekali. Fvck!

Sekitar jam setengah 10 malam, badanku merasa gerah, padahal udara Jogja malam itu cukup dingin. Mungkin karena telah melakukan perjalanan jauh, badan lengket karna keringat dan debu-debu, yg harus segera dibersihkan. 'Mandi atuh coy!'

Akupun meminta izin ke Faqih untuk mandi, karna rumah kakek Wartopawiro atau rumah faqih yg kami inapi itu cukup besar, aku sama sekali tidak tau lokasi kamar mandinya berada disebelah mana, terdapat ruang-ruang dan pintu di rumah itu, bahkan jika dibandingkan dengan kontrakanku yg di Bekasi, saat pertama kali membuka pintu, maka dapur sudah terlihat. Ya iyalah!

Rumah kakek wartopawiro ini lumayan jauh dari jalan raya, sekitar 30 menitan dari Tugu Jogja untuk sampai, dan memasuki jalanan kecil. Bahkan pada saat itu suasana malam sangat sepi dan juga tepat pada malam jum'at.

"ian, lu inget cerita gue tentang orang kesurupan yg gak bisa diangkat sama sekali gak?" Tanya Fendi kepadaku, yg entah kenapa si kampret yg satu ini malah cerita mistis disaat aku hendak mandi.

"iya tau, kenapa emang?" jawabku.

sambil melihat kiri-kanan, Fendi berbicara pelan di ruang tamu yg cukup besar dan hanya ada kami bertiga, "itu kan lokasinya kayak gini; sepi, malam jum'at dan kejadiannya katanya di jogja!"

"berisik! kamprreet!! gue mau mandi", teriakku kepada mereka, yg pasti teriakan tersebut tidak sampai membangunkan orang serumah, apalagi se-kota Jogja.

Aku melangkah pergi menyusuri ruang-ruang rumah yg cukup besar dengan diantar Faqih, untuk pergi ke kamar mandi. Mungkin saat itu orang-orang di rumah sudah tertidur, hanya kami bertiga yg masih terjaga.

ketika sudah sampai di kamar mandi, ternyata lokasinya dipaling pojok belakang rumah, dan di sana ada gayung, sabun, juga tentunya air yg mengalir kecil dari sebuah kran dan juga lubang besar yg bisa langsung terlihat langit jogja yg sepertinya sedang mendung, tapi tidak hujan. Suram. Sangat disayangkan memang, rumah yg besar tapi masih terdapat kamar mandi dibelakang rumah dengan atap terbuka. Sangat tidak cocok bagi aku yg pemberani ini harus kesana tengah malam hari.

5 menit berlalu, aku kembali ke tempat sebelumnya kami berkumpul, yaitu ruang tamu.

"Kok bentar?" tanya Fendi sambil tersenyum brengsek.

"Ah jangan lama-lama, nanti airnya abis" jawabku dengan santai.

"HAHAHAHA..!" Mereka berdua tertawa jahat, seolah-olah sudah mengetahui jika cerita tadi berhasil membuatku takut. Padahal tidak begitu juga. Sudah dijelaskan kalau 'airnya takut abis'. Semoga pembaca blog ini lebih percaya padaku. Aamiin.

Kami banyak cerita, atau lebih tepatnya aku banyak bertanya tentang bagaimana kehidupan di Jogja, Karna selama yg aku tau (yaitu sekitar baru 9 jam di Jogja) bahwa jogja itu asyik, tenang, dan tempat paling pas untuk menenangkan diri, ya dibanding Jakarta, maka Jogja lebih baik, bukan membeda-bedakan, tapi ini kenyataan.

Satu jam lebih itu kami habiskan dengan mengobrol, sampai orang yg bicara kesurupan tadi memilih untuk duluan pamit tidur. Ah, enyahlah kau!

Setelah Fendi tertidur, aku selalu mendoakan semoga ia tidur dengan  mimpi buruk (sebagai balasan karna telah menakut-nakuti).

Aku dan Faqih masih mengobrol sambil bermain Winning Eleven yg ada di laptop milik Faqih, aku memainkan klub Real Madrid dan Faqih klub Barcelona. Disela-sela bermain Playstation, aku bertanya ke Faqih,

"qih, cewek-cewek jogja  gimana?"

"oh, ada rambutnya, kebanyakan  panjang." jawabnya.

"Si anjir!!" Balas aku dengan kesal, yg tiba-tiba gawang klub yg kumainkan langsung kebobolan.

"Goooll!" teriaknya pelan.

"Kalo boleh jujur, cewek jogja ngeselin sih, bang." Tangan masih memegang stik Ps ketika dia bicara, "mereka suka ninggalin cowoknya gitu aja, nikah sama orang lain" Lanjutnya.

Mendengarnya curhat sambil bermain ps, seketika aku meliriknya sambil mengernyitkan dahi sambil berkata, "Ini lo lagi curhat? dih!"

"Hahhaha!"

Setelah panjang lebar membicarakan perempuan, ternyata temen baruku ini sedang patah hati. Jadi tidak benar jika semua perempuan di Jogja itu ngeselin seperti yg diceritain Faqih tadi kok. Kecuali yg bagian 'rambut panjang'. Maafkan dia wahai warga Jogja.

***

Heran saja dengan akhir-akhir ini, begitu banyak orang patah hati di sekitarku, orang-orang banyak bercerita tentang patah hatinya. Dan yg pasti, aku gak mau kisah-kisah mereka menular kepadaku. Gak mau patah hati. Aku pikir sudah cukup, patah hati tidak harus terus menerus. Atau juga, jangan terlarut-larut menikmati patah hati, nanti malah gak mau ngerasain jatuh cinta lagi, efek sampingnya malah kayak yg dibicarakan seorang kakek tua yg banyak bercertia denganku selama di perjalanan dari jakatara menuju Jogja kemarin pagi itu,

"Jangan sampe kena zona nyaman, nyaman pas sendirian", bicaranya pelan, yg entah beliau sedang membicatakan apa saat itu.

Sekarang aku mengerti kenapa jangan sampai kena zona nyaman tersebut, nyaman pas sendirian memanglah berbahaya. Kita malah fokus ke diri sendiri, sampai lupa bahwa kita juga perlu orang lain disamping kita.

Kalau ngomongin patah hati, aku akan selalu inget lirik lagu ini;

yang patah tumbuh, yang hilang berganti

Yang hancur lebur akan terobati

Yang sia-sia akan jadi makna

Yang terus berulang suatu saat henti

Yang pernah jatuh ‘kan berdiri lagi

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti


Banda Neira - Yg Patah tumbuh yg Hilang Berganti.

***
Aku mencoba memahami kata-kata faqih, ia tidak lagi tertawa, dan dia bercerita. Aku mendengarkan. Kata-kata yg keluar dari mulutnya sedikit ragu, mungkin dia tidak tau harus curhat ke siapa. Ke orang terdekat, pasti malahakan menjadi aib. Dan mungkin bercerita kepada orang yg akan sebentar tinggal di Jogja adalah yg pas, yaitu padaku. Karna hanya sebentar dan akan terlupakan setelah balik ke Jakarta.

"kok bisa, kenapa emang?" tanyaku.

Faqih, lelaki tangguh, sering memakai jaket tebal, mempunyai motor supra yg sempat membawa jatuh penumpangnya dan sebagai guide tour yg baik, aku pasti mendengarkannya. Dengan sedikit ragu untuk membicarakannya, sampai akhirnya aku bujuk untuk menceritakan detailnya.

Sambil mendengarkan ia berbicara, aku menutup winning eleven yg kami mainkan tadi, dengan  skor 2-1 dan aku kalah, lalu akupun membuka blog miliku sendiri di laptopnya, "Nih, lu cerita aja di sini, tulis."

Karna waktu sudah larut malam, aku sudah tidak sanggup mendengar kisah tragis si Faqih, aku membiarkan dia menulis semaunya di blogku, dan aku sendiri lebih memilih untuk tidur, bersiap untuk besok pagi melakukan perjalanan keliling Jogja.

Sebelum tidur panjang, aku cuma berdo'a, semoga tidak mimpi buruk, semoga besok tidak hujan dan semoga blogku gak dibajak sembarangan. Aamiin.

Kalau pengen tau cerita si Faqih, tunggu postinganku selanjutnya yah :)

Btw, dapet bonus foto kami nih.

Fendi, Faqih dan siapa yah? lupa.
(maaf wajah kami penuh rahasia.)

Bersambung... PART 4

11 komentar:

  1. Banda Neira, memang :')

    BalasHapus
  2. PERCAYA KOK PERCAYA KALO CUMA TAKUT AIRNYA ABIS, PERCAYA! SEMOGA PEMBACA LAINNYA JUGA PERCAYA, YA.

    Yash, terlalu nyaman saat sendiri. Gue pernah ngerasain itu. Sampai malas punya hubungan lagi. Tapi akhirnya berkat lagu Terlatih Patah Hati, gue bangkit lagi.

    Itu kok Faqih kalo dari matanya mirip lu, ya? Sekilas. Hm... Jangan-jangan...

    BalasHapus
  3. Apaan sih lu yan! Masa cm karena jarak kamar mandi yg jauh aje takut -_- malu iish sama kumis


    Faqih disodoib lirik banda neira langsung kicep hahah

    BalasHapus
  4. Emang kamar mandi harusnya dimana?? Tengah, biar strategis. Apaan dah..

    Sama air aja takut abis, apalagi sama yang lain. Lah!! 😂

    BalasHapus
  5. sangat pemberani sekali ini XD
    ke kamar mandi bolak-balik cuma 5 menit..

    ya kali kalau orang-orang jaman dulu kan belum kepikiran buat "kamar mandi dalem" bang, jadi adanya kamar mandi luar hahaha

    BalasHapus
  6. (((takut airnya habis)))

    alasan yang sangat jenius!

    BalasHapus
  7. Itu mandi apaan bentar gitu? Bukannya habis mimpi basah, ya? :p

    Jangan semudah itu menilai cewek Jogja gampang ninggalin cowoknya dan nikah sama orang lain. Kalau gak salah temen gue pernah cerita, cewek Bekasi ada juga yang begitu. :|

    BalasHapus
    Balasan
    1. Coba bagian ini dibahas di grup WA ya. Thanks.

      Hapus
  8. Curhat sambil main WE masih berlaku di belahan bumi lainnya? Hahaha. Tapi kan kayak gitu ganggu konsentrasi. Gue kalo dicurhatin mulu pas main WE selalu kalah. Kuncinya: curhatin balik.

    BalasHapus
  9. Hmmmm padahal asyik nih kayaknya kalo kisah si faqih jadi diposting di blog.

    BalasHapus
  10. hahaa kasian si faqih, salah pilih orang tuk curhat **

    BalasHapus

Hai! Terimakasih telah berkomentar.

Copyright © Dian Hendrianto

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com | Edit By DND