A Personal Blog By @dianhendrianto

Selasa, 04 April 2017

"BRUUUUKK!!!"

Jogja sebelumnya: Berjalan Lebih Jauh

#PART2

Kereta Gajahwong melaju pelan mendekati stasiun jogja, beberapa orang bersiap-siap untuk turun. Ada yg saling membangunkan orang di sampingnya, ada yg memegang tas besarnya dan ada yg menggendong anaknya yg tertidur pulas. Atau entahlah anak siapa yg dibawanya.

Anaconda?

Ketika kereta mulai berhenti, kebetulan gue yg paling dekat dengan pintu keluar, maka bisa terlebih dulu turun dan tidak menunggu lama seperti orang-orang lain.  Gue membangunkan seorang perempuan yg duduk di bangku sebelah, ia terkejut, matanya melotot, dan tergesa-gesa mengambil tasnya sambil berkata,

"Yaelah mas, napa gak dibangunin dari tadi..!"

"....." Gue kesel.Sumpah.

Pengen rasanya bisa hipnotis itu orang, "Dalam hitungan  ke 3, anda akan memasuki alam bawah sadar. 3... tidur."

MAMPUS LOH, ENYAHLAH SAMPAI STASIUN BERIKUTNYA!!

***

Mulai keluar dari gerbong, yg gue lakukan adalah langsung menuju wc umum, menunggu orang lain keluar-masuk kamar mandi, menunggu giliran gue yg sudah merasakan sesuatu diujung sana yg ingin segera di keluaran. Muka kucel yg terlihat ketika gue berkaca seolah-olah menandakan bahwa gue mulai lelah, padahal selama perjalanan tidak melakukan kegitan berat apapun, kecuali melihat-lihat keluar jendela, mendengarkan lagu Banda Neira, memikirkannya dan berbicara dengan seorang kakek tua.

Keluar dari wc tersebut, gue harus duduk-duduk sedikit lebih lama di bangku tunggu karena menunggu jemputan dari teman yg bahkan belum pernah bertemu sama sekali, kami baru berkomunikasi hari itu. Dia adalah Faqih, seseorang laki-laki yg gue kenal dari salah satu teman kerja di Bekasi. Ya! itung-itung jadi guide tour gue selama di jogja. Hehe.

Setengah jam gue menunggu, tidak cukup membosankan, sesekali gue bermain game, foto-foto sekitar stasiun, ber-live facebook yg kemudian langsung dihapus dan melakukan hal-hal yg konyol lainnya, seperti selfie di depan orang banyak dan menonton kartun Larva di youtube dari HP yg batrenya sudah hampir 20 persen. Memberi tanda jika gue harus segera pergi mencari colokan.

Ah, ay lop yu colokan.. Wherever you are.

Jam setengah 4 sore, Faqih menjemput gue dengan motor merahnya. Ketika ada notif sms masuk yg ternyata dari Faqih, gue langsung berdiri dari bangku tunggu dan berjalan ke luar, kearah jalan raya. Ketika mulai memasuki area parkir, gue sedikit merasa risih karena banyak orang yg minta foto, minta tanda tangan, ngajak selfie bareng, minta dinikahi dan saling berebut menawarkan naik ojek, becak dan taksi-taksi yg sudah menunggu untuk mendapat penumpang. Persaingan yg lucu. Sekaligus ngeselin.

Yuk mas, jalan. hehe. (sumber)

"Gue tunggu di luar, dekat yg banyak becak-becak, bawa buntelan helm merah nih." sms gue kirim ke nomornya. Ya, gue jauh-jauh ke jogja membawa helm yg bertuliskan Gladiator disamping kirinya. Serem abis. Ah, gak deh.

Tidak lama kemudian faqih membalas sms gue, "Ok, tunggu di situ, Aku bentar lagi nyampe." Balasnya dengan menggunakan kata 'Aku', geli juga saat membacanya, sekaligus pengen menendang pantatnya ketika sampai.

Lima menit kemudian, ia sampai, gue langsung tahu kalau yg datang adalah faqih, karena dia melambaikan tangan kirinya sambil laju motornya yg mulai pelan sambil tersenyum dan berkata,

"Hai bang, ian yah?" Tanyanya ketika berhenti.

"iya, faqih ya?" Yg gue jawab sambil tanya balik kepadanya. Dan tentu tidak sambil menendang pantatnya, karena dia orang satu-satunya yg pertama gue kenal di Jogja. Orang yg akan gue jadikan sebagai pemandu wisata, orang yg bisa memberikan tempat beristirahat sementara dan tentunya bisa memberi makan gratis.

...Tidak lama setelah itu, kami jadian.

YA KAGAK LAH!!

Sedikit tentang Faqih, dia orangnya asyik diajak ngobrol, sangat beruntung sekali gue bisa mendapatkan teman di tempat baru, suasana baru dan hal-hal yg baru. Di Jogja.

***

Gue mulai meninggalkan stasiun kereta bersama faqih, menikmati udara sore di jogja yg kebetulan saat itu sedang bersahabat, tidak hujan, tidak panas, sedikit mendung dan adem ayem. Jogja tidak terlalu ramai, sangat tenang menurut gue yg baru pertama kali menginjakan kaki di kota yg katanya sangat istimewa itu.

"Faqih, lo udah lama tinggal di sini (jogja)?" tanya gue saat dia masih memegang stang motor bebeknya.

"Lumayan bang, aku hampir 5 tahun di sini." jawabnya.

"lah, aslinya emang dari mana?"

"Ibu asli tegal, dan ayah asli jogja, dari kecil tinggal di tegal, cuma sekarang lagi kuliah di sini, hehe." jawabnya lagi sambil mencoba fokus mengendarai motor.

Kami cukup banyak berbicara saat dalam perjalanan itu, mencoba mengakrabkan masing-masing, seolah-olah kami mencoba menjadi teman yg sudah lama tidak saling bertemu.

Gue sangat bersyukur, disaat ingin pergi jauh ke tempat yg bahkan tidak ada saudara satupun sama sekali, diwaktu yg tepat bisa mendapatkan teman baru di Jogja.

"Faqih, emang lo ngambil jurusan apa kuliahnya?" Gue mencoba mencoba melanjutkan pertanyaan kepadanya.

"Aku ngambil Akunt..."

...BRUUUUUUKK!!!

Sebelum faqih melanjutkan bicaranya, tiba-tiba mobil dari sebelah kami menyerempet dan membuat motor yg kami kendarai terjatuh ke arah kiri jalan, Faqih tersungkur ke arah depan, guepun demikian. Bermain dengan aspal jalanan jogja di sore hari.

Sebelum orang di dalam mobil tersebut keluar, Faqih berbicara sesuatu yg pelan ke gue, "Udah, diem dulu, jangan ngaku salah." Gue cuma bengong dan melihat-lihat darah di tangan gue sendiri

KAGET ATUH COOYYY!!!

Seorang bapak sekitar umur 40-tahunan keluar dari samping kanan pintu mobil, "Gak apa-apa mas, mas?" tanyanya yg mungkin dia kaget juga melihat darah di tangan gue. Sungguh pertanyaan yg mengesalkan, sudah tau berdarah masih ditanya 'gak apa-apa?'.

"GAK APA-APA MATA LU SOEK, BERDARAH NEEH.. AHELAH.."

Faqih sedikit berdebat dengan orang yg menyerempet kami tadi. Sebenarnya kami emang salah juga, kami akan menyalip dari arah kiri yg seharusnya dari kanan, dimana yg kebetulan mobil tersebut akan belok kiri.

Tidak ada cara lain kecuali berdamai, saling berjabat tangan. Dan gue kesal. Karena yg paling dirugikan. Ahelah.

Melihat luka di tangan, gue masih tidak merasakan apapun, orang-orang disekitar melihat kami yg masih berdiam diri di tengah jalan, khusunya gue yg masih terdapat darah di tangan.

Entah kenapa, gue biasa saja saat tangan gue terluka, Faqih malah banyak meminta maaf ke gue. Mencoba tetap tenang, gue malah tersenyum  melihat luka gue sendiri, rasanya itu belum seberapa dibanding luka-luka lain yg tidak bisa disembuhkan dengan cepat. Gue yakin itu akan cepat sembuh dengan sendirinya.

"Ah, cuma lecet.. besok pasti sembuh." Pikir gue.

Setelah kejadian tersebut kami melanjutkan perjalanan pulang ke tempat tinggal faqih. Sambil laju motor yg sedikit pelan, faqih mungkin merasa tidak enak dengan kejadian tadi.

"Bang, nanti beli plester dulu yah di minimarket." Bicaranya kepada gue.

"Ah gausah lah.." jawab gue karena merasa biasa saja, tidak sakit sama sekali dan lukanya tidak terlalu parah.

Cuma menghasilkan darah segayung.

Luka pertama di kota yg paling istimewa. Gue tersenyum. Dan isi kepala gue berbicara; "Ini baru namanya senyum membawa luka."

Ah, apakah Jogja tidak menerima kehadiran gue? Gak mungkin!

BGST!

***

Alasan gue pergi ke Jogja adalah hal yg sederhana, gue sedang menikmati proses mendewasakan diri, proses yg biasa di bicarakan orang-orang tentang "Cara menenangkan pikiran."

Jika melihat beberapa minggu kebelakang, gue memang butuh liburan, butuh suasana baru dan butuh sendirian.

Sebut saja; A-N-J-A-Y. Anjaaay..

***

Sekitar 20 menit diperjalanan menuju rumah faqih, atau lebih tepatnya rumah kakek Wartopawiro, yg tidak lain tidak bukan adalah kakek dari Faqih sendiri. Gue mengetahui nama beliau setelah menanyakannya kepada Faqih dan tentu semakin jelas ketika masuk terdapat satu papan nama besar yg bertuliskan namanya. Kakek Wartopawiro sudah tua, dan masih sehat di usianya yg sudah renta, juga masih bersama istrinya. Ah, mereka menua bersama. Romantis. Apa jangan-jangan mereka ini Rangga dan Cinta? Pikirkan sendiri!


"Keluarga baru!" Pikir kepala gue.

Faqih izin keluar untuk menjemput salah satu temannya, yg ternyata ia teman gue juga, nekat jauh-jauh dari tegal membawa motor ke Jogja. Gue rebahan, mencoba mengistirahatkan badan, meregangkan pinggang, menggoyangkan leher kearah kiri dan kanan  dan sedikit miring ke atas sampai terdengar suara, "Kretek!!". Ah, nikmat.

Sambil menunggu faqih dan teman gue dateng, saat itulah mata gue bisa terpejam, terlelap, dan dalam hitungan ketiga akan memasuki alam bawah sadar...

BOOM!!!

Mimpi buruk itupun datang kembali.

Bersambung... PART 3

16 komentar:

  1. Dibangunin malah marah, tau gitu gak usah 😥

    Waahh jatuh di kota yang istimewa. Masih jauh lebih baik daripada jatuh cinta pada orang yang salah, halaahh...!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo boleh tjoerhat, nyesel banguninnya juga, rum :')

      Jatuh cinta sama orang yg salah itu gimana? :')))

      Hapus
  2. Niatnya mengobati luka yang ada di Jakarta, di Jogja malah dapet luka baru. Wqwq. Duh, kalau ada temen kayak gini mah asyik. Ngirit akomodasi namanya euy! Ehehe. Makan pun bisa nebeng, yak. :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dapet jackpot deh pokoknya. Gak nyangka gue juga. Wqwq

      Hapus
  3. FAqih disini Faqih Abduh bukan ya ?

    langgeng ya kalian berdua amiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Gak tau, lupa nama panjangnya. Tapi pokoknya dia laki sih.

      Heh! Langgeng pertemanannya :)

      Hapus
  4. Itu yg minta dinikahinnya ko dicoret?
    Emang gada yg mw y

    BalasHapus
  5. cieee yang luka masa lalu nya belum sembuh ehehe

    BalasHapus
  6. Romantis banget mbak dian sama faqih. lanjut part 3!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Inikah yang dinamakan the new Rangga & Cinta?

      Hapus
  7. Gokil nih jalan-jalannya pakai ada adegan jatuh dari motor segala. Udah sembuh, Ian?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, saya juga antusias pas ada adegan jatuh. Ha ha.

      Hapus
  8. apa jadi ni kalo besok jumpa lagi sama tu cewe :D
    *Dramabanget

    BalasHapus

- No live Link
Gue lebih menghargai kalian yg baca meski gak komentar, daripada komentar tapi gak baca. haha becanda, yaudah sok atuh komentarnya.
salam @dianhendrianto

Kategori populer

Temen-temen

Copyright © dianhendrianto.com

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com