A Personal Blog By @dianhendrianto

Jumat, 13 Mei 2016

Yg memelukku penuh cinta


Cinta adalah dimana kamu memilikinya, bukan? Katanya cinta tak harus memiliki, benarkah? Kalian boleh memikirkan keduanya. Tapi menurut gue, cinta adalah saat kita membahagiakan, dan gue pernah 'dibahagiakan'.

Sekitar umur 4 atau 5 tahun adalah hari-hari dimana gue menemukan sosok-sosok yg selalu bikin gue bahagia, salah satunya nenek gue. Selama masa kecil gue, dia adalah orang yg paling memperhatikan gue, segala kebutuhan gue, memanjakan gue dan apapun itu yg bisa bikin gue seneng.

Nenek gue adalah tipikal perempuan jaman dulu yg kuat, bersama kakek dia saling melangkapi, mendukung satu sama lain. Keluarga gue tidak sederhana, atau serba kekuranganlah yg kami dapatkan. Gue inget cerita ibu, dulu hari dimana gue belum dilahirkan, ibu bersama kakak dan adik-adik nya (sekarang jadi paman gue), makan pun sepiring untuk bersama, bahkan nenek dan kakek gue pura-pura udah makan demi anak-anaknya, bersyukurlah kalian yg mungkin hidupnya berkecukupan.

Gue inget, ketika gue kecil, nenek gue keliling-keliling untuk jualan gorengan dan semacamnya. Untuk beberapa kali gue ikut jualan, dan ternyata jarak yg ditempuh nenek gue gak deket, beberapa kilo ditempuhnya dengan berjalan kaki. Anak muda Sekarang? Jarak aja jadi masalah.

Beberapa kali gue sering dibelikan rambutan,  kadang mainan dan semacamnya yg bisa bikin gue seneng. Sampai akhirnya gue tau kalo duit yg dibelikan itu hasil berjualannya seharian.

Suatu ketika gue sakit parah, selain ibu dan ayah, nenek gue lah yg paling khawatir. Kesana-kemari mencari tabib (waktu itu dikampung gue jarang banget ada dokter atau semacamnya). Begitu sayangnya nenek ke gue, melebihi dari orang lain. Sekarang gue sadar, kata sayang dan cinta sebenarnya bukan cuma di ucap, tapi dibuktikan. Sebesar apapun, selantang apapun kamu ngucapin cinta, tetep yg paling baik adalah dengan tindakan, pembuktian.


Kebahagiaan ternyata gak selamanya gue dapatkan, nenek gue jatuh sakit. Entah apa penyebabnya, penyakit ini seperti tidak ada obatnya, keluarga gue udah bawa nenek ke rumah sakit - rumah sakit terdekat, tapi tetap, dokter gak bisa berbuat banyak.

Nenek gue kembali dibawa pulang dan dirawat dirumah. Bukan gue bermaksud jelek, mungkin ini ada kaitanya, nenek sebelumnya nolong orang yg katanya kena guna-guna, mengantar kesana-kemari untuk kesembuhan orang tersebut, sampai suatu saat nenek gue ikut jatuh sakit. Nenek gue perutnya kembung, tidak bisa buang air besar. Ini perbuatan manusia atau takdir Tuhan? Hanya tuhan yg berhak.

Titik kesedihan keluarga gue, termasuk kepedihan dan patah hati terbesar gue selama hidup.

Beberapa minggu kemudian, sepulang sekolah gue langsung kerumah nenek, waktu itu gue masih kelas 5 SD, gue udah merasakan baper. Banyak orang-orang berkumpul di rumah nenek gue, gak kayak biasanya. Sampai ibu gue terdengar menangis, disitu gue tau ada sesuatu yg sudah terjadi. Kepulangan, kepulangan nenek kepada sang pencipta. Innalillahi.

Tidak ada kepedihan selain daripada kematian, kematian seharusnya tidak untuk ditangiskan, itu mungkin sudah takdir Tuhan, kita hanya perlu menerimanya. Ya, gue harus menerimanya? Gue memang menerima kepergian itu, tapi mata gue menolak keadaanya, air mata keluar dari mata anak kelas 5 SD, air mata seorang yg baru mengenal cinta dan kasih sayang sebenarnya. I love U grandma.

mungkin, Tuhan lebih mencintai dia, lebih-lebih cinta kami sebagai anak-cucunya. kepeedihan di dunia akan tergantikan di surga sana, do'a ini selalu untukmu nenek.

Apapun yg terjadi, ini sudah Takdir Tuhan, Sebagai manusia kita tidak bisa berbuat banyak, tidak bisa menyalahkan siapapun akan kematian. Apalagi sampai menyalahkan Tuhan. Tidak! tidak untuk menyalahkan, hidup harus tetap berlanjut, sebagaimanapun pedihnya kehilangan.
Untuk dia, yg pernah memelukku penuh cinta, nenek.

Tulisan ini diikutsertakan Giveaway -Pameran Patah Hati-

9 komentar:

  1. Makan sepiring rame-rame? Alhamdulillah, keluargaku masih melakukan kebersamaan itu. Apalagi kalau Bapak pulang abis datrngin syukuran, dia bawa makanan yang kami sebut dengan "berkat", trus kami makan rame-rame...
    huaaaaa..... itu aku udah merasa bahagia banget, Bang...

    Perihal kematian itu, ng....... wa allahu alam, ya. Hanya Allah yg tau. Tapi yang pasti, kita tau kalau semacam "gituan" memang ada.
    tapi kembali lagi ke takdir. Semua udah ditetapkan olehNya

    yang sabar ya, Bang. Jangan lupa selalu kirim doa buat Nenek di sana. :)

    BalasHapus
  2. Ga kuat bang bacanya bang
    Padahal tinggal baca dong loh tapi g kuat
    Kan bacanya engga ngangkat mobil y
    .
    Perutya kembung g bisa buang air besar ga bisa kentut juga loh
    Ayah saya juga pernah kayak gini bang pas waktu bulan puasa
    Gara2nya pas buka langsung minum soda bang
    Dibawa k rumah sakit
    Sembuh bang

    BalasHapus
  3. Lah.. Ko bisa? Kan belum bulan puasa?

    BalasHapus
  4. Ciee yang dari kecil di bahagiain sama kakek neneknya :) klo gue sih dari kecil sama orangtua :)

    BalasHapus
  5. Ini materi postingan yang udah terpikir sejak lama. Dan... gue pengen nulis juga udah sejak lama... Tapi.... Dunia belum mengizinkan. Halah.

    Gini-gini, hidup gue kurang lebihnya sama kek lo bro. Dari kecil udah sama Nenek deketnya ketimbang orang tua. Tapi, ketika Nenek Pergi untuk selamanya, gue semacam mengalami perubahan sikap mental. Arogan, pendiam dan sulit bergaul.

    Karena, sejatinya gue merindukan beliau. Syukurnya, sifat2 buruk itu perlahan kembali membaik dan gue terus berusaha bangkit dari menerima kenyataan bahwa semua orang PASTI MATI.

    BalasHapus
  6. Sedih.. jadi ingat almarhumah nenek :)

    BalasHapus
  7. secara nenek itu selalu memanjakan cucunya, aku juga suka dg nenekku, rasanay mau terus sama nenek karena apa yg kita minta pastu dikasih

    BalasHapus
  8. Aku bersyukur hidupku berkecukupan, sekedar bisa makan saja sudah bahagia, yahh walaupun kurang mendapat kasih sayang dari keluarga :')

    BalasHapus
  9. saya juga dulu waktu kecil deket banget sama nenek, nonton tivi bareng setelah pulang sekolah, beli es krim bareng juga ..

    BalasHapus

- No live Link
Gue lebih menghargai kalian yg baca meski gak komentar, daripada komentar tapi gak baca. haha becanda, yaudah sok atuh komentarnya.
salam @dianhendrianto

Kategori populer

Instagram

Copyright © dianhendrianto.com

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com