A Personal Blog By @dianhendrianto

Sabtu, 12 Agustus 2017

Mengunjungi Pameran Lukisan "Senandung Ibu Pertiwi" di Galeri Nasional


Kalau ngomongin lukisan, maka lukisan pertama dari Indonesia yg gue ingat adalah lukisan 'Nyai Roro Kidul', rasanya lukisan tersebut adalah selalu yg menjadi fenomenal, sebuah lukisan yg menggambarkan sosok perempuan cantik penguasa laut selatan. Gue yakin sebagian orang di Indonesia pernah melihat lukisannya atau mungkin mendengar kisah-kisahnya. Well, gue sendiri gak tau siapa yg membuat lukisan tersebut, memang sebagian orang hanya menikmati hasil tanpa mau mengetahui siapa atau seperti apa prosesnya. Kayak gue ini ya, hehe. Dan beruntungnya, beberapa waktu yg lalu gue berkesempatan hadir ke pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi di Galeri Nasional Indonesia. Jadi, gue sekarang udah tau kalo pelukis lukisan 'Nyai Roro Kidul' adalah Basoeki Abdulloh, setelah datang ke pameran tersebut.

Gue beserta beberapa bloger lain mendapat undangan dari JadiMandiri untuk datang melihat-lihat pameran lukisan tersebut, sebuah kesempatan yg sepertinya sangat disayangakan jika harus dilewatkan. Dan jika harus jujur, gue memang tidak terlalu memahami 'dunia' lukis-melukis, apalagi sampai mengetahui maestro-maestro pelukis di Indonesia, adalah sebuah kesotoyan memang jika berbohong mengaku sebagai anak seni yg setiap kali ditanya lukisan malah jawabnya cuma cengengesan.

Adalah pertama kalinya juga mengunjungi pameran lukisan seperti ini, bahkan langsung dihadapkan dengan lukisan-lukisan bersejarah yg biasanya hanya disimpan sebagai koleksi istana kepresidenan saja. O ya, buat kalian yg memang berminat tentang dunia lukis-melukis, bisa datang langsung ke pameran lukisan 'Senandung Ibu Pertiwi' ini ke lokasi di Galeri Nasinal Indonesia yg beralamat di Jl. Medan Merdeka Timur No. 14 Jakarta Pusat (dekat Stasiun Gambir) dan dibuka dari jam 10.00 sampai 20.00 WIB. Pameran ini juga hanya berlangsung dari tanggal 2 sampai 30 Agustus 2017 saja.

*
Ketika pertama kali memasuki ruangan pameran tersebut, kami sudah disuguhi lukisan karya Makovsky (Pelukis kondang dari Rusia), salah satu karya yg pernah dikonservasi pada 2004 yg lalu dalam sebuah layar LED yg besar. Ya, meski hanya ditampilkan dalam bentuk digital, tapi secara keseluruhan gambarnya sangatlah mendetail. Mungkin alasan tidak menampilkan  yg asli karena susah mengangkut lukisan yg berukuran jumbo tersebut ke lokasi. Daripada rusak atau dirampok di tengah jalan, kan?

Lukisan karya Makovsky (LED) - Mernggambarkan tradisi dalam pernikahan

Kebayang gak, gue yg tidak paham sama sekali tentang lukis-melukis tiba-tiba sok keren nganguk-ngangguk di depan sebuah lukisan yg sudah bertahun-tahun dibuatnya itu? iya, persis seperti orang yg baru pertama kali pacaran, bingung mau ngapain dulu. (Loh apaan ini?!)

Beruntungnya, gak harus searching google juga, gue bisa langsung tau arti dan makna dari lukisan-lukisan yg ada di sana dengan cara bertanya langsung ke pemandu atau apalah namanya itu, yg pasti tanya aja ke orang yg berseragam merah-merah di sana. Ingat, gak usah tanya berlebihan, misalnya tanya "ini lukisan siapa? dibuat dari apa? pas ngelukisnya jam berapa ya?" sambil nyoret-nyoret lukisannya pake paku. Nanti kalian malah kena getok oleh petugas di sana.

Sedang melihat lukisan Djika Tuhan Murka karya Basoeki Abdullah

Dari sekian banyak lukisan, ada beberapa yg menjadi favorit gue, salah satunya adalah lukisan yg berjudul, 'Djika Tuhan Murka' yg ternyata masih karya dari Basoeki Abdullah. Entah kenapa, dari sekian lukisan, karya-karya beliau ini menurut gue adalah yg paling keren (selain lukisan 'Nyai roro kidul'). Gue yg selalu mengamati terlebih dahulu lukisan tersebut dan baru membaca siapa pelukisnya setelah puas melihat, selalu takjub akan karya tersebut. Lukisan  karya Basoeki Abdullah ini rasanya selalu memanjakan mata kepada setiap yg melihatnya, keindahan visual dan naturalisme yg selalu menjadi ciri khasnya. Tapi, selain karya dari Basoeki, juga banyak lagi karya-karya dari pelukis lain, seperti lukisan dari Raden Saleh Syarif Bustaman dengan judul 'Harimau Minum', Barli Sasmitawinata dengan judul 'Perempuan Berkebaya', Alimin Tamin dengan judul 'Tiga Pedanda' dan masih banyak lagi dari pelukis-pelukis lainnya.

Karena saat memasuki area pameran tidak diperbolehkan membawa kamera dan hanya diperbolehkan membawa kamera ponsel, maka gue semampunya memfoto luksian-lukisan tersebut menggunakan kamera ponsel yg gue punya, alasanya sih simple: Gue gak punya kamera yg bagus. hehe.

galeri nasional
Beberapa pengunjung yg sedang melihat-lihat lukisan

Carel Lodewijk Dake Jr.
Lukisan Pura di Atas Bukit  (Cat minyak pada panel kayu, 73 x 51 cm)

Basaoeki Abdullah
Nyai Roro Kidul, 1955 (Cat minyak pada kanvas, 160 x 120 cm)

Ada 48 lukisan dari 41 pelukis yg dipamerkan di 'Senandung Ibu Pertiwi' ini, dan satu sama lainnya saling berkaitan secara tematik: seperti Keragaman Alam, Dinamika Keseharian sampai Tradisi dan Identitas serta mitologi dan religi. Semuanya komplit mengisi setiap sudut dinding di pameran tersebut. Dari 48 lukisan tersebut, gue cuma bisa beberapa saja menampilkan di blog ini, seperti gambar di atas tadi. Kalau semuanya dimasukin, nanti blog gue malah jadi seperti feed Instagram yg tidak berfaedah. Maka datanglah ke sana ya, teman-teman.

Selain lukisan, di sana kita juga bisa melihat sejarah arsip dan dokumen tentang seni lukis pada jaman dulu. Mulai dari dokumentasi Soekarno di National Gallery O Arts - Amerika Serikat 1956, foto Soekarno beserta pemimpin besar Tiongkok Mao Zedong sedang melihat koleksi buku Soekarno, dekade 1950 dan masih banyak lagi arsip-arsip lain, salah satunya sosok "Rini" yg menjadi wanita misterius dalam karya lukis presiden Soekarno. Semuanya bisa dilihat di pameran lukisan Senandung Ibu Pertiwi.

Pengunjung sedang melihat asrip dan dokumen (fokus)

Buat kalian yg suka berkegiatan, ada beberapa jadwal yg diadakan oleh panitia di sana, salah satunya:

Workshop Melukis Tas Kanvas Bersama Komunitas Difabel
Tanggal 10 Agustus 2017

Diskusi para pakar: Menjaga Ibu Pertiwi
Tanggal 19 Agustus 2017

Lomba Lukis Kolektif Tingkat Nasional
26 Agustus 2017

Workshop Menjadi Apresiator Seni Terhebat se-Jabodetabek, dan
29 Agustus 2017

Tur Galeri
Setiap Sabtu dan Minggu jam 10.00 WIB.

*
Mungkin, 'Senandung Ibu Pertiwi' ini adalah gambaran cara pandang masa lalu tentang kehidupan, di mana cara pandang tersebut berdampak pada sejarah yg kita pelajari dikemudian hari, seperti sekarang ini. Gue beruntung, bisa datang ke pameran lukisan ini, jadi sedikit lebih paham akan arti pentingnya menjaga dan menghargai sebuah karya.

Dalam menyambut 72 tahun kemerdekaan RI ini, gue berterima kasih kepada Kementrian Sekretariat Negara yg udah menyelenggarakan pameran lukisan koleksi istana kepresidenan untuk yg kedua kalinya di GalNas ini, semoga tahun depan bisa lebih luarbisa lagi. Juga terima kasih kepada JadiMandiri yg udah repot-repot ngajakin ke Pameran Lukisan: Senandung Ibu Pertiwi.

Dan  buat temen-temen, kuy dateng ke GalNas! Ramaikan pameran lukisannya.

Bersama teman-teman bloger (tolong fokus)
_____________________

Sumber gambar:
1. Poster Pameran - http://lifestyle.bisnis.com/read/20170807/220/678634/pameran-senandung-ibu-pertiwi-inilah-satu-satunya-seniman-wanita
2. lainnya - Dokumen Pribadi
3. foto terakhir dari @jadiMandiri (diedit)

Selasa, 08 Agustus 2017

Yoga Dan Perjalanan Menuju Dunkirk



"Gue turun di mana ntar? Eh! Sudirman. Oke mandi dulu, baru otewe" Kata Dian kepadaku lewat pesan pribadi, entah kenapa rasanya aku ingin menimpuk kepalanya dengan batok kelapa, yg aku maksudkan adalah untuk bertemu di stasiun Sudimara, si Dian malah belok ke Stasiun Sudirman. "Sudimara, bedain woy!" Balasku padanya.

Pada hari Rabu, 26 Juli yg lalu, aku memutuskan untuk menemui Kang Baha di 'Tomyam Kelapa' tempat ia berjualan tomyam-nya, aku tidak pergi sendirian tentunya, bersama teman-teman bloger lain yg memang sudah niat pergi tanpa basa-basi lagi, aku bersama Dian, Adibah dan Fauzi yg jauh-jauh dari Mesir-pun ikut serta untuk pergi meetup ke Tanggerang, sekalian mempromisikan jualannya Kang Baha juga, ehehe.

O ya! sampai lupa, aku belum memperkenalkan diri, namaku Yoga. Yoga Akbar Sholihin. Mungkin kalian bingung siapa sebenarnya diriku ini, aku adalah salah satu bloger juga, bagi seorang yg berdarah 'Gemini', terkadang aku acap kali disebut sebagai bloger paling mesum pada abad ini, mungkin karena aku pernah bercerita pengalamanku tentang es krim bersama Rani, dari situ bibit-bibit cap mesum menempel dalam diri teman-teman terhadapku. Padahal, sebenarnya aku tidak seperti yg mereka kira, aku tidak mesum, aku soleh, seperti namaku; Sholihin.

Sebenarnya aku juga memiliki beberapa saudara kembar, mungkin beberapa temanku tidak ada yg tau tentang ini, karena  aku tidak mau pacarku tau, nanti dia malah pilih-pilih.
Dan Yoga lainnya, dari A-Z

Dan, harus kalain tau, dalam sebulan ini juga, aku masih seperti biasanya, masih terus berusaha konsisten menulis, bahkan sudah hampir lima tulisan yg bertengger di satu bulan arsip blog pribadiku, tentu berbanding terbalik dengan si Dian dan Adibah.

***
Sesampainya di Stasiun Sudimara, iya S-U-D-I-M-A-R-A, bukan Sudirman, aku masih harus menunggu si Dian yg berangkat jauh-jauh hari dari Bekasi. Saat aku berangkat dari rumah yg jaraknya hanya terpaut 4 stasiun untuk sampai ke Stasiun Sudimara, disaat bersamaan si Dian juga berangkat pergi setelah selesai mandi, mungkin dia butuh setengah jam dari rumahnya di Harapan Indah, Bekasi, menuju Stasiun Bekasi. Maka dari itu aku harus lebih bersabar lagi menunggu seorang lelaki tulen yg sering kali dianggap seorang perempuan cantik penggoda iman lelaki oleh teman-temannya itu, mungkin alasannya adalah karena nama yg ia miliki identik dengan perempuan; Dian Sastro Wardoyo, misalnya.

Satu jam lebih aku menunggu dua orang manusia: Dian dan Adibah. Adibah adalah seorang teman bloger juga, ia sama halnya dengan Dian, sama-sama tidak peduli akan blognya yg sudah berbulan-bulan tidak  ada tulisan baru. Mungkin karena sibuk mengurus bayi biawak.

Di sela-sela menunggu, aku duduk di antara kursi-kursi peron di stasiun Sudimara, aku melihat sekelilingku banyak orang hilir-mudik sibuk tergesa-gesa, seperti orang yg hendak bertemu dengan pacarnya yg sedang marah dan mengancam ingin segera putus jikalau tidak datang dalam waktu 5 menit, iya benar, mereka terburu-buru. Semoga segera putus, ya!

*Satu jam berlalu

"Masih lama?" tanyaku lewat pesan pribadi ke Dian.
"Masih 2 stasiun lagi. Kesel ya, haha" balasnya. Aku yakin, pasti di dalam gerbong kereta yg ia naiki, ia memilih untuk duduk atau berdiri di antara perempuan-perempuan berkacamata. Karena itulah saranku, perempuan berkacamata memang mempunyai magnet tersendiri di mata lelaki. fyuh~

Aku, Yoga Akbar Sholihin, lelaki yg pernah gondrong lebat dan terkadang memakai kacamata juga, akhirnya bisa mengangkat pantatku dari kursi besi yg ada di peron stasiun setelah melihat seseorang yg baru turun dari kereta, iya benar, dia adalah mahluk ghaib dari kawasan Bekasi, Dian Hendrianto-Seorang lelaki sejati.

Setelah pertemuan itu, kami akhirnya melanjutkan perjalanan yg memang tidak jauh lagi, hanya sekitar 700 meter.  Kami berdua berjalan keluar dari stasiun menuju jalan raya, sementara Adibah masih belum terlihat juga, bahkan memberi kabarpun hanya sesekali, apalagi si Fauzi atau biasa kami panggil Oji, entahkah kapan sampainya dia terbang dari Mesir menuju Tanggerang. Dasar, onta Firaun!

***
Sesampainya di saung 'Tomyam Kelapa', Aku, Dian dan Adibah akhirnya bertemu Kang Baha, pemilik sekaligus penjual Tomyam di sana. Aku mengenalkan satu-satu teman bloger-ku kepada kang Baha. Asal kalian tau, kang  Baha dulunya  juga seorang bloger, tapi demi mengurus bisnisnya tersebut, yaitu Tomyam kelapa, beliau lebih memilih vakum menulis untuk sementara waktu yg tidak ditentukan.

"Sudah berapa lama tidak menulis, Kang?" Tanya Adibah kepada kang Baha ketika kami sedang mengobrol.

Kang Baha-pun menjawab, "Sekitar 4 bulan yg lalu."

"......"

Sambil memakan Tomyam yg Kang Baha buat, kami bertiga banyak mengobrol, di sela-sela obrolan itu juga, aku rasa ada yg tidak beres dengan si Dian, dia merasa tidak nyaman, matanya hilir-mudik ke arah kanan dari tempat duduknya, seolah-olah sedang  ada yg menodongkan pistol ke kepalanya. Ternyata gelagatnya  itu disadari oleh Adibah, ia melihat ke arah samping kiri sambil menyenggol lenganku yg aku rasa itu terlalu berlebihan; aku kurus, aku takut terpelanting. Senggol dikit, terbang! Habislah aku.

Adibah melirikkan matanya ke sebuah tulisan di sebuah kotak kaca besar, sebuah kotak kaca pelidung makanan dari lalat-lalat brengsek, ternyata tulisan di kotak kaca tersebut adalah "Warung Nasi Ibu Dian", iya kurang lebih kalimatnya seperti itu, aku lupa lengkapnya seperti apa. Aku bersama Adibah cekikikan, sementara Dian mungkin sedang kesal, antara menyesal dan bahagia karena namanya ada di mana-mana.

Tidak lama kemudian, Oji datang, dia tidak datang sendirian, dia datang bersama oleh-oleh dari Mesir yg pastinya sangat kami nantikan. Terima  kasih, Oji, kami sangat membutuhkan seseorang teman sepertimu. Mantap!

Saat kami sedang asyik mengobrol, Kang Baha menghampiriku dan duduk di sebelah kami sambil mengatakan satu kalimat  yg sebenarnya aku tidak sukai, "Sorry ya numpang ngeroko, dulu. Gak ada yg ngerokok kan?" ucapnya sambil menyulut rokok yg sudah tertancap di mulutnya. Kalau boleh jujur, rasanya ingin sekali aku mengatakan beberapa kalimat kepada kang Baha, "Kang, mohon maaf, aku sangat tidak suka asap rokok, saat asap itu menghampiri hidungku, rasanya aku sedang mabuk ganja, kang. Perasaan itu juga sama persis seperti ketika aku naik angkot selama dua jam! Sekian dan terima kasih, kang!" Tapi kalimat-kalimat itu tidak aku sampaikan karena beberapa tomyam yg kami makan itu dikasih oleh kang Baha secara gratis.

Tapi yg aku makan malah bayar,

"Makasih, kang!"

***
Setelah cukup ngobrol-ngobrol di saung Tomyam Kelapa, kami memutuskan untuk pulang, Adibah pulang, Oji pulang, sementara aku dan  Dian memutuskan untuk pergi menonton Film  Dunkirk, dari sutradara yg sudah tidak diragukan lagi film-filmnya, yaitu Chistopher Nolan, yg aku favoritkan dari sekian filmnya adalah; The Dark Knight Trilogy (Batman). Keren! Mungkin, jika trilogi Jan Dara dibuat oleh Nolan juga, pasti akan sama kerennya.

Kami lumayan bingung karena waktu yg sudah mepet untuk menonton film, waktu sudah petang, dan film sudah mau tayang, sementara kami masih harus berjibaku dengan segerombolan orang-orang pulang kerja di dalam gerbong dari Stasiun Tanah Abang menuju Stasiun Sudirman dan transit di Stasiun Mangarai menuju tujuan akhir, Stasiun Cikini. Iya sekarang benar-benar Sudirman, bukan Sudimara lagi. Mungkin si Dian masih bingung untuk membedakannya.

Di dalam gerbong itu, aku tidak tau lagi harus berkata apa, dengan tubuhku yg kurus ini, aku dihimpit oleh badan-badan besar, di depanku ada tiang yg terbuat dari besi dan siap memangsaku kapan saja ketika aku terdorong, dan dari belakangku adalah seorang wanita berkacamata yg menempelkan tangannya ke punggungku, mungkin dia sedang berusaha melindungi payudaranya yg kenyal itu agar supaya tidak mengenai punggungku. Hmm.. sayang sekali. Punggungku malah sakit kena sikut.

Sementara si Dian sibuk sendiri mencari pegangan di antara cincin-cincin bulat besar bertali-untuk pegangan dalam gerbong yg sudah habis oleh orang lain, hah! aku yakin sebenarnya dia sedang mencari mangsa.

Sungguh, jangan lagi naik kereta bersamaan dengan pulanganya para pekerja, itu sangat menyiksa, teman-teman. Selain berdesakan, juga bau keringat dari ketek-ketek orang yg bekerja seharian penuh, juga kalau memiliki tubuh yg kecil adalah sebuah bencana, tapi tetaplah ingat satu hal: Sesungguhnya, setelah kesulitan itu ada kemudahan.

*Takbir

Setelah kereta berhenti di Stasiun Manggarai, kami harus menunggu lagi kereta yg menuju Cikini, sebenarnya satu stasiun ini bisa saja kami lalui dengan berjalan kaki, tapi mungkin setelah  sampai, filmnya malah sudah beres. Dan kami kembali pulang setelah selesai membakar bioskop.

Beruntungnya, tidak harus menunggu lama, keretapun datang, kami langsung masuk dan siap-siap untuk segera turun lagi karena jaraknya memang dekat. Dan setelah kereta berhenti, kami harus sesegera mungkin memburu waktu ke TIM (Taman Ismail Marzuki) tempat diputarnya film Dunkirk di salah satu bioskop di sana.

Kami jalan... jalan..

Belum sampai juga..

jalan..

jalan..

agak cepetan..


jalan lagi..

belum sampai juga..

Kesel, sumpah!

"Keburu gak nih, Yog?" Tanya Dian padaku.

Aku bodo amat, pokoknya jalan terus, bahkan saat tali sepatuku lepas, aku masih jalan, entah kenapa jarak yg sangat dekat saja bisa terasa jauh jika sedang mengejar waktu. Pokoknya tetap mencari jalan terbaiq~

Setelah sampai di lokasi, kami memesan tiket, benar saja, kursi-kursi sudah hampir habis, yg tersisa hanyalah beberapa bangku ke bagian depan. Kami memilih sedikit ke pojok dan menurutku itu lumayan pas.

Ternyata kami masih punya cukup waktu sebelum film dimulai, aku memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi buang air kecil, sebuah perasaan yg sudah ditahan-tahan sejak dalam perjalanan tadi, seperti pada umumnya, tempat buang air kecil pria pasti haruslah dalam posisi berdiri, aku melihat kiri-kanan, takut saja ada yg mengintip, aku buka resleting celanaku, aku keluarkan, dan.. "weeeerrrrr" Sebuah bunyi yg menandakan perasaan bahagia, "Keluar sudah kau keparat!"

Cukup segar rasanya setelah keluar dari kamar kecil, kamipun melangkah masuk ke studio 1, tempat diputarnya film Dunkirk, sampai akhirnya tersadar kalau di studio tersebut akan diputar film The Doll 2, padahal Dunkirk tayang di studio 4. Maaf, mungkin karena aku ingat Luna Maya main di film bertema setan boneka itu.

***
Saat selesai menonton, entah kenapa sepertinya aku kurang puas. Kalau boleh berpendapat, aku rasa kali ini film dari Nolan kurang mengejutkan, bahkan saat di dalam studio-pun si Dian sempat mengatakan (spoiler), "Ini ada 3 kejadian, Yog!" yg di mana aku hanya menjawab, "hmm.. iya benar!" Karena sebenarnya aku lebih terkejut lagi saat dua pasangan di sebelahku  yg sudah menyia-nyiakan uangnya demi menonton film itu tapi malah asyik geser-geser hp di tangannya. Mungkin mereka mau meng-instastory-kan film tersebut, atau mungkin juga hanya sekedar memfoto tiketnya lalu membagikan di Instagram dan Twitter agar supaya  diretwit Radityadika, Loh? Nolan Maksudnya.

Aku sempat berpikir, "ini yg mana pemeran utamanya? loh kok gini?", mungkin pertanyaan-pertanyaan itu harus aku jawab suatu saat nanti jika menonton lagi, nanti aku akan mencoba lebih teliti saat menonton film Dunkirk itu, mungkin suatu saat aku akan tersadar, bahwa Dunkirk adalah satu kisah perjuangan para Pahlawan-Dunkirk, dan setiap orang yg pernah mengalami peristiwa tersebut adalah semuanya, pemeran utama. Hmm.. Nolan kali ini memang berbeda dari biasanya.

Saat ini, aku beri rating 3/5 dulu untuk Dunkirk.

Oke baiklah, maka dengan berakhirnya film Dunkirk, aku dan Dian juga memutuskan untuk jalan kaki lagi ke stasiun Cikini sambil membahas film-film Nolan dan sekalian aku rekomendasikan ke Dian agar dia tonton. Ya, Dian adalah penggemar baru Nolan, itu karena  dia menyukai film-film yg kebanyakan twist seperti Inception, Memento dan The Prestige. Padahal film Twist Ending yg pertama dia tonton bukan karya Nolan. Adalah Shutter Island, dari sutradara Martin Scorsese. Cukup Aneh memang orang yg satu ini.

Sesampainya di Stasiun Cikini tempat kami untuk melakukan perjalanan pulang, yg di mana aku harus transit lagi dari Stasiun Manggarai, sementara si Dian masih tetap berada di kereta tersebut sampai tujuan akhir, Bekasi.

Well, sepertinya satu hari itu aku habiskan dengan cukup lucu: nungguin orang sambil ngantuk di antara kursi peron stasiun, ketemu Adibah-siluman biawak betina, dan juga bertemu untuk pertama kalinya dengan Oji. Ternyata dengan kesibukanku sebagai Freelancer masih sempat pergi main bersama teman-teman. Terimakasih.

Setelah beberapa jam berpetualang, kamipun terpisah karena beda gerbong kereta, dan sesampainya di rumah, aku selamat dengan keadaan ganteng, gak tau kalau si Dian?!

***

Tulisan Dian: Dian Berpetualang Selama 11 Jam

Sumber gambar:
http://chinafilminsider.com/christopher-nolans-dunkirk-passes-china-censorship-no-release-date-yet/ (sudah di edit)
Dunkirk -   https://i.ytimg.com/vi/8C9KffvEhLo/maxresdefault.jpg

Sabtu, 05 Agustus 2017

Sebuah Video Instagram

Mungkin karena keseringan nonton video-video keren nan kece di Instagram maupun Youtube, gue jadi kepikiran untuk membuat karya kecil yg dibuat melalui gadget seadanya, sebuah video yg gue rekam dan edit sendiri dari smartphone atau yg biasa disebut anak muda sekarang adalah, 'Gawai'.

O ya, semua video gembel ini gue edit dari aplikasi Kinemaster Pro, jadi silahkan aja kalo mau menghujat dengan kata lembut karena kualitasnya yg buruk ya, teman-teman. Siapa tau buat yg gak punya alat canggih seperti youtuber-youtuber yg "Boom!" itu, bisa coba-coba berkarya dari hal kecil dulu, atau jika punya waktu luang yg lebih, bolehlah iseng-iseng bikin video buat menghilangakan rasa bosan.

Satu
To You Alone

Video ini dibuat saat pulang ke kampung halaman gue di Cianjur, daripada berenang, kecebur terus mati nyelip di batu karang, maka lebih baik video-in temen gue sekalian, lumayan buat menambah konten instagram ala-ala anak kekinian.

Dua
Workshop

Video ini direkam sewaktu gue dan beberapa temen bloger menghadiri workshop di Jakarta sekitar bulan februari 2017 yg lalu, dari serangkaian acara yg ada, si Reza lebih memilih untuk meminta nomor telepon cewek berambut lurus dan berbaju putih (atau kuning?). Dan gagal total karena cewek tersebut ternyata sedang bersama ibunya.

Tiga
Milea

Untuk video yg satu ini, terinspirasi dari buku karya Pidi Baiq, buku trilogi Dilan yg mampu menghipnotis ciwi-ciwi dengan gombalan-gombalan ala 90-annya.

Seingat gue, video ini dibuat sehabis makan kulit ayam di salah satu restoran siap saji di kota Harapan Indah, bekasi.

Empat
T e r c y d u k

Video ini diambil secara tidak sengaja, alih-alih ingin merekam kedekatan beberapa anggota WIRDY, yg terekam malah kaki semua, bahkan dalam video ini Yoga dan Robby sedang mencari mangsa di salah satu mal di Jakarta. Kaleand  T E R C Y D U K~

Lima
Kereta Gajahwong

Video dengan hamparan gunung, sawah, pohon dan awan ini cukup menghibur selama perjalanan ke Jogja dengan posisi duduk dan memandang keluar jendela dari dalam kereta. Dengan ditemani lagunya Banda Neira, maka gue resmi menjadi penganut aliran musik folk, sementara?!

Enam
Jogja

Jika kilas balik melihat video ini, rasanya  gue pengen balik lagi ke Jogja, menikmati beberapa hal. Bahkan masih banyak beberapa tempat yg belum gue kunjungi sih. Jadi, apakabar nih yg ngajak pergi ke Jogja bareng? Uhuu..k

Tujuh
Marshmello - Summer

Video yg satu ini, gue rasa banyak kejadian kocak saat perjalannya, ini emang gak jauh, cuma pergi ke Ancol di Jakarta. Gue bareng 3 teman lainnya berangkat dari Bekasi dibawa oleh salah satu teman, Salman namanya, yg bukannya cepat sampai tujuan malah kena tilang dulu, dan yg lebih absurdnya lagi, saat asyik nongkrong-nongkrong, si Salman malah pergi ke mana-mana sendiri, ngilang gitu aja.

***
Bisa dibilang, ini adalah video cinematic versi low budget. Gue gak habis pikir mereka-mereka yg membuat video dengan durasi 1 menit dengan hasil yg keren itu, bahwa untuk proses pengambilan gambarnya harus beberapa kali dan, ya, bahkan berpindah-pindah tempat. Kalian keren!

Hmm.. gue yakin, setiap moment pasti akan  ada satu hal spesial yg akan selalu kita ingat, entah itu baik atau buruk sih, misalanya video atau foto-foto yg kita upload ke instagram, sebuah visual gambar yg B-aja bagi orang lain, mungkin bagi seseorang yg merekam mempunyai cerita tersendiri. Karena apa? Karena 'Kamu tau apa soal?'

Ngawur..

Oke oce, siapa tau mau kepoin instagram gue yg tidak berfaedah itu, atau yg mau folo-folo-an, silahkan klik link di bawah ini ehehe. Monggo,, http://instagram.com/dianhendrianto ^__^

*Kasih duit ceban.
*Lempar mangga.

Sabtu, 10 Juni 2017

Sebuah Kenangan Bersama Nenek

Sejak kecil, gue adalah contoh anak yg selalu di manja oleh orang tua, bahkan gue lebih dimanjakan lagi oleh seorang nenek, apapun yg gue minta, nenek gue selalu meladeni keinginan gue. Setiap nenek pergi ke luar kota, pulangnya dia selalu  membawa oleh-oleh buat gue, entah itu makanan atau bahkan mainan.

Ketika pulang dari sukabumi, nenek membawa satu barang yg katanya akan diberikan ke gue, sama halnya dengan anak-anak pada umunya, saat hendak diberi  hadiah maka mereka  akan senang, jingkrak-jingkrak depan pintu rumah, menyambut kedatangan  seseorang yg akan membuat dirinya senang. Namun ketika  nenek gue membuka tas miliknya, saat itu gue sadar, jingkrakan gue terlalu berlebihan, karena satu barang yg keluar dari tas nenek gue hanyalah satu boneka kucing usang yg ia bawa dari rumah saudaranya di sukabumi. Dengan mimik muka mengkerut dan bibir cemberut, gue menerima boneka tersebut, dengan terpaksa.

Yg ujung-ujungnya gue mainin boneka juga. #PernahMainBoneka #TetepCowokTulenKok

Boneka tersebut masih ada dan gue simpan sampai sekarang, tidak sempat gue foto karena ada di rumah gue di cianjur, sebuah boneka usang yg bersejarah.

Beliau adalah salah satu orang paling berharga yg pernah hadir menyempurnakan masa kecil gue,  memang bukan kepada gue saja beliau memperlakukan hal semacam itu, kepada anaknya pasti berlaku serupa, atau bahkan lebih. Gue ingat, dulu saat gue masih bocah dan belum banyak dosa seperti sekarang ini, gue selalu menulis surat bersama beliau untuk anak bungsu nenek (paman gue) di Malaysia, dibantu oleh beliau agar surat yg gue tulis benar ejaanya.

"Udah beres belum?" Tanya nenek kepada gue yg masih menulis dengan cara menutup tulisan gue dengan tangan di atas kertas.

"udah.."

Sebuah surat yg berisikan tulisan pendek, 'Mang, menta duit..'

"Hahaha.." Seketika nenek tertawa membaca surat pendek nan jelas itu.

Setelah gue memberikan surat tersebut ke nenek, waktu itu gue belum mengerti kenapa nenek gue tertawa, tapi sekarang mungkin gue sedikit mengerti, kalau saat kecil dulu gue sangatlah matre, beda sama sekarang.

Uhuk~

Gue pikir, kami berdua adalah orang terkompak dalam menulis surat, saling membantu atau lebih jelasnya gue cuma ngabisin isi tinta, ya! saat itu nenek gue masih suka menulis surat dengan menggunakan bulu angsa atau semacamnya yg dicelup ke tinta. Itu adalah momen terbaik dalam kehidupan gue; tinta dan sebuah pena berbentuk bulu, bersama nenek.

Sabtu, 03 Juni 2017

Ngomongin Baju Lebaran

Di Setiap tahun pada bulan ramadhan, setiap orang yg beragama muslim pasti selalu menanti-nantikan hari raya idul fitri atau biasa disebut dengan lebaran, hampir tiap lebaran juga, rasanya kita mempunyai rasa keharusan memiliki baju baru, sepatu baru, sarung baru, dan juga bersama pasangan baru. Eh iya, yg sabar untuk yg lebaran tahun ini sendirian yah, tenang... bukan kamu aja, kok :'))

Kita akan selalu menantikan hari lebaran tiba, apalagi bisa berkumpul bareng keluarga, itu salah satu hal yg paling spesial banget deh pokoknya. Kebayang kan pas sudah hari lebaran tiba bisa kumpul-kumpul bareng keluarga pakai baju baru semua, biasanya pada pakai baju putih-putih buat salaman dan saling  bermaaf-maafan, katanya biar terlihat  bersih nan suci, gitu. Tapi,  dibalik semua itu, terkadang ada sebagian orang yg gak bisa berkumpul bareng keluarga, ada yg tiap tahunnya cuma bisa mencium bau-bau lebaran di negeri orang lagi. Sabar kamu juga gak sendirian :'))

Kalo ngomongin baju lebaran, pas jaman gue kecil dulu, gue biasa pergi belanja bareng keluarga ke pasar-pasar terdekat, kebetulan karena rumah  gue di perkampungan, maka pasar terdekat itu jaraknya masih 5 km. Jaman  dimana belum ada online-shop kayak sekarang ini. Kebayang kan  gimana susahnya gue dulu, mau beli baju koko aja mesti pergi jauh kiloan meter.

Berangkat dari rumah pagi-pagi buta dengan  keadaan mata masih sepet-sepetnya, perjalanan gak lancar gitu aja, masih harus melawan jalan bebatuan yg emang kalo pas lagi bawa motor rasanya kayak lagi senam pantat sampe membentuk sixpack.

Bukan karena hal lain harus pergi pagi-pagi, soalnya kalau pergi siang, sebagian pedagan di pasar pasti sudah mulai pergi untuk pindah ke tempat lain untuk berjualan lagi.

Sesampainya di pasar, kami masih harus memilih-milih lagi baju-baju yg emang dijual seadanya di sana. Meski dengan seadanya, masa kecil gue bahagianya sudah lebih dari cukup, cuma dikasih baju koko baru buat dipake pas lebaran aja udah jingkrak-jingkrak, beda sama anak jaman sekarang udah tau barang bagus, mintanya bukan baju lagi, tapi gadget dengan harga jutaan rupah. Ehehe

***

Kalo di inget-inget lagi semua itu selalu gue kangenin, masa kecil yg penuh dengan kebahagiaan pas gue dibeliin baju koko di pasar oleh orang tua gue, ya meski itu cuma kebahagiaan kecil, tapi gue sudah bersyukur, bahkan ketika masih kecil, hingga dimana sudah dewasa disana kita sadar bahwa kebahagiaan selalu dimulai dari hal-hal kecil, bukan begitu? Renungkanlah, renungkanlah sodara-sodaraaa..

Nah, kebetulan  lebaran sebentar lagi, sekarang ini gue gak perlu repot-repot lagi buat pergi jauh ke pasar sekedar beli baju koko, sekarang ini udah jamannya era modern yg sudah dimanjakan dengan  teknologi. Untuk baju muslim atau biasa disebut baju koko, bisa Temukan koleksi baju koko terbaik di ZALORA sesuai dengan selera, bisa juga  buat oleh-oleh keluarga di rumah.


Dengan  koleksi baju yg banyak dan diskonnya juga banyak, gak perlu repot-repot lagi pergi jauh ke pasar atau ke toko-toko baju, tinggal buka ZALORA, scroll kiri-kanan, atas-bawah, lihat-lihat terus beli. Tenang  aja, pilihannya banyak, gampang dicari, gak kayak nyari pilihan hidup sih, banyak tapi susah. *Lalu ditabok kompor gas.

Kategori populer

Temen-temen

Copyright © dianhendrianto.com

Design by Anders Noren | Theme by NewBloggerThemes.com